<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959</id><updated>2012-02-16T00:48:07.540-08:00</updated><category term='Teori Sastra'/><category term='Kritik Teks'/><category term='Sosiologi Sastra'/><category term='Kritik Sastra'/><category term='Sastra Bandingan'/><category term='Stilistika'/><category term='Filsafat Sastra'/><category term='Pembelajaran'/><category term='Sastra Lisan'/><category term='Sosiolinguistik'/><category term='Semiotik'/><category term='Filologi'/><category term='Dialektologi'/><category term='Apresiasi Puisi'/><category term='Analisis Wacana'/><category term='Fonologi'/><category term='Penelitian Filologi'/><category term='Bahasa'/><title type='text'>Uman Rejo, S.S</title><subtitle type='html'>Peluang: Jangan pernah menutup mata saat terpuruk  dalam kegelapan kegagalan, karena selalu ada cahaya terang selama kita berusaha. (Jadi jangan putus asa saat apa yang kita coba belum berhasil, karena kita tahu: “Orang yang berhasil, menganggap kegagalan adalah keberuntungan”</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-6883006474745541337</id><published>2011-03-08T21:33:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T21:33:22.677-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian Filologi'/><title type='text'>Penelitian Filologi</title><content type='html'>Pengertian Teori&lt;br /&gt;1.Secara Teori&lt;br /&gt;Teori berasal dari kata “theoria” bahasa latin. Secara etimologi, teori berarti kontemplasi terhadap kosmos dan realita. Dalam hubungan dengan dunia keilmuan, teori berarti perangkat pengertian, konsep, proposisi yang memiliki korelasi, dan telah teruji kebenarannya.&lt;br /&gt;2.Secara Praktis&lt;br /&gt;Teori selalu dipertentangkan dengan praktik. Seharusnya setelah ilmu pengetahuan berhasil mengabstraksikan keseluruhan konsepnya ke dalam suatu rumusan ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, yaitu dari teori itu sendiri maka teori itu dapat dioperasionalkan secara praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Teori&lt;br /&gt;Teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Teori selalu bertentangan dengan praktiknya. Teori jika diuji akan menghasilkan suatu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan Teori&lt;br /&gt;Fokkema dan Kunne-ibseh (1997: 175) menyatakan bahwa penelitian terhadap KS pada umumnya memanfaatkan teori-teori yang telah ada. Tradisi seperti ini dianggap memiliki kelemahan sebagai akibat penyederhanaan, eklektisisme, dan penyimpulan yang salah. Keuntungan yang diperoleh jelas bahwa peneliti diberikan kemudahan, peneliti tinggal menguji kembali dan menyesuaikan dengan sifat-sifat objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Penggunaan Teori&lt;br /&gt;Dalam menggunakan teori yang sudah ada, keuntungan peneliti adalah:&lt;br /&gt;1.Teori yang sudah ada dengan sendirinya sudah teruji yaitu melalui kritik sepanjang sejarahnya&lt;br /&gt;2.Teori dianggap unsure yang sangat penting lebih dari semata-mata alat&lt;br /&gt;3.Belum terciptanya sikap percaya diri atas hasil penemuan sendiri khususnya dalam bidang teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Pemilihan Teori&lt;br /&gt;Proses penelitian teori dilakukan dengan dua cara, yaitu:&lt;br /&gt;1.Peneliti menggunakan teori terdahulu atau teori formal, yang bersifat deduksi dan apriori&lt;br /&gt;2.Peneliti memanfaatkan teori yang ditemukan sendiri, teori itu diperoleh dari hasil penelitian tersebut, hal itu disebut teori substansi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Formal&lt;br /&gt;Vredenbreght (1983: 2-3) menyatakan bahwa ia memandang pemanfaatan teori-teori formal sebagai langkah yang tepat. Teori dan penelitian harus dibentuk suatu kerangka ilmiah yang koheren. Teori formal artinya teori yang sudah teruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaharuan Teori&lt;br /&gt;Ada beberapa teori yang telah diperbaharui seperti:&lt;br /&gt;1.Strukturalisme genetik (Goldman)&lt;br /&gt;2.Semiotik (Saussure, Pierce)&lt;br /&gt;3.Resepsi (Jauss, Rifaterre, Culler)&lt;br /&gt;4.Interteks (Kristeva)&lt;br /&gt;5.Dekonstruksi (Derrida)&lt;br /&gt;6.Poststrukturalisme (Genette, Chatman, Bakhtin, White Ete, Foucault, Lyotard, dsb)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Teori dan Metode&lt;br /&gt;Teori dan metode berfungsi untuk membantu menjelaskan hubungan dua gejala atau lebih, sekaligus meramalkan model hubungan yang terjadi. Sebagai cara kerja teori dan metode terdiri atas konsep, proposisi dan kerangka kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi Naskah&lt;br /&gt;1.Memaparkan bagian-bagian naskah (kondisi naskah, kapan naskah itu ditulis), bagian-bagian yang menjelaskan tentang bagian teks, yaitu manggala/kolofon.&lt;br /&gt;2.Dikatakan manggala karena pemaparan itu dipaparkan didepan teks sedangkan dikatakan kolofon karena diakhir teks. Ada juga yang diluar teks misalnya nama pengarang itu letaknya di sampul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Naskah  Nama Naskah&lt;br /&gt;Beberapa alternatif untuk menentukan judul naskah, antaralain:&lt;br /&gt;1.Penonjolan pelaku utama&lt;br /&gt;2.Penonjolan tema cerita&lt;br /&gt;3.Penonjolan isi cerita dan&lt;br /&gt;4.Penonjolan setting (Hutomo, 1984)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh deskripsi:&lt;br /&gt;Naskah Cariyos Sri Sadana berkode PB A 65 memiliki beberapa alternatif untuk menentukan judul diantaranya: &lt;br /&gt;1.Nomer Katalog, di Museum Sanabudaya Yogyakarta Cariyos Sri Sadana PB A 65, dalam bentuk naskah carik/manuskrip. Judul tersebut terdapat dalam catalog Behrend (1990: 406)&lt;br /&gt;2.Pihak museum memberi judul Sri Sadana Punggung. Judul tersebut terdapat dalam daftar catalog museum, dalam bentuk ketikan manual.&lt;br /&gt;3.Penulis (penyalin) member judul lelampahnya Dewi Sri lan Sadana. Judul tersebut terdapat dalam naskah, pada manggala, yaitu bait pembuka yang berisi keterangan naskah salah satu diantaranya informasi tentang judul atau nama naskah. Judul tersebut terdapat pada kutipan P.I.2, berikut:&lt;br /&gt;Manggala:&lt;br /&gt;1.Methik saking caritanireki&lt;br /&gt;2.Pusstakaraja jilidan tiga&lt;br /&gt;3.Sri jayabaya yasane&lt;br /&gt;4.Mamenang narendra gung&lt;br /&gt;5.Ingkang kinon anganggit&lt;br /&gt;6.Nama Empu Kalagyan&lt;br /&gt;7.Pinuju ing taun&lt;br /&gt;8.Wolungatus pitung dasa&lt;br /&gt;9.Langkung sanga lelampahnya Dewi Sri&lt;br /&gt;10.Lan ari Dyan Sadana (P.I.2)&lt;br /&gt;Kolofon:&lt;br /&gt;1.Sampun titi tamat caritanireki&lt;br /&gt;2.Sri lawan Sadana&lt;br /&gt;3.Ingiket tinrapken mungging&lt;br /&gt;4.Sekar myang tembang macapat&lt;br /&gt;(P. XIX.48)&lt;br /&gt;Penulis Naskah:&lt;br /&gt;1.Duk manitra ari soma manis&lt;br /&gt;2.Tanggal kaping sangalikur rajab&lt;br /&gt;3.Mangsa astha paringkelane&lt;br /&gt;4.Mawulu wuku tolu&lt;br /&gt;5.Ing taun dal den sengkalam&lt;br /&gt;6.Tri nembah ngesthi tunggal&lt;br /&gt;7.Kang mangrenggeng kidung&lt;br /&gt;8.Rahaden pancakertarta&lt;br /&gt;9.Kadipaten palwalaman nagari&lt;br /&gt;………………………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Kajian Naskah&lt;br /&gt;1.Naskah merupakan objek penelitian filologi. Naskah adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau.&lt;br /&gt;2.Sastra sebagai dokumen sosiobudaya mengungkapkan berbagai informasi dan nilai-nilai yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;3.Cariyos Sri Sadana merupakan karya sastra Jawa yang memiliki nilai mitologis cukup kuat di hati masyarakat, khususnya kalangan petani. Terdapat dalam sastra tulis, sastra lisan, pentas dan tradisi. Tokoh Dewi Sri dipuja dan dimitoskan sebagai dewi kesuburan dan Dewi Sandang pangan. Dalam sastra tulis terdapat versi Hindu dan versi Islam dalam bentuk naskah dan lontar.&lt;br /&gt;4.Naskah koleksi perpustakaan Museum Sanabudaya Yogyakarta No. PB A 65 diangkat sebagai materi penelitian ini karena memuat berbagai tradisi masyarakat yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi tersebut berupa mitos, legenda, sesaji, selametan, jagong bayi, tilik bayi, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Naskah&lt;br /&gt;1.Analisis terhadap  naskah digunakan teori filologi. Filologi adalah ilmu yang dengan naskah. Dalam naskah, memuat informasi yang berkaitan dengan teks. Studi filologi selain menelaah tentang naskah juga berusaha membahas teks-teks yang tertuang di dalam naskah.&lt;br /&gt;2.Dalam istila filologi, teks itu isi yang tekandung di dalam naskah.&lt;br /&gt;3.Filologi berkaitan dengan naskah lama, yang berkaitan dengan teks sastra.&lt;br /&gt;4.Filologi merupakan salah satu bagian dari bidang sastra, utamanya sastra lama.&lt;br /&gt;5.Filologi identik dengan studi kebudayaan berdasarkan teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Filologi&lt;br /&gt;1.Pengertian filologi dari segi istilah&lt;br /&gt;Kata filologi kali pertama digunakan oleh sekelompok ahli sastra dari Iskandariyah abad ke-3 untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu yang berratus-ratus tahun yang lalu. Salah satu ahli yang melontarkan istilah filologi yaitu Eratosthenes.&lt;br /&gt;2.Istilah filologi menurut Eratosthenes:&lt;br /&gt;a.Filologi sebagai ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Tulisan zaman kuna mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang pada zamannya sangat bermanfaat. Filologi merupakan tulisan yang mengandung ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;b.Filologi sebagai ilmu bahasa&lt;br /&gt;Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi. Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi, unsure pertama yang terdapat di dalamnya ialah unsure bahasa. Filologi terkait dengan ilmu bahasa.&lt;br /&gt;c.Filologi sebagai ilmu sastra tinggi&lt;br /&gt;Tulisan masa lalu yang bernilai tinggi merupakan hasil tulisan yang disebut karya sastra.&lt;br /&gt;d.Filologi sebagai studi teks&lt;br /&gt;Yang mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalamnya&lt;br /&gt; (Barried, 1994: 3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang timbulnya ilmu filologi:&lt;br /&gt;a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan&lt;br /&gt;b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang&lt;br /&gt;c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang&lt;br /&gt;d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini&lt;br /&gt;e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuan ilmu filologi:&lt;br /&gt;A.Tujuan Umum&lt;br /&gt;1.Mengungkapkan produk masa lampau melalui peninggalan tulisan&lt;br /&gt;2.Mengungkapkan fungsi peninggalan tulisan kepada masyarakat penerimaannya, baik pada masa lampau maupun masa kini&lt;br /&gt;3.Mengungkapkan nilai-nilai budaya masa lampau&lt;br /&gt;Tujuan umum tersebut bersifat universal untuk semua kajian filologi, baik di Indonesia maupaun di luar Indonesia seperti kajian filologi Negara-negara ASEAN.&lt;br /&gt;B.Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1.Untuk mengungkapkan bentuk mula teks atau naskah yang tersimpan dalam peninggalan masa lampau&lt;br /&gt;2.Mengungkapkan sejarah perkembangan teks&lt;br /&gt;3.Mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang penerimaannya&lt;br /&gt;4.Menyajikan teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian Sastra Klasik&lt;br /&gt;1.Kajian filologi lebih banyak pada tulisan yang beupa karya sastra klasik. Pendekatan tradisional terhadap KS yang bisa digunakan adalah pendekatan pragmatic, mimetic, ekspresif, dan objektif (Abrams, 1953)&lt;br /&gt;2.Penelitian ini mengacu pada pendekatan objektif, yaitu pendekatan berdasarkan KS.&lt;br /&gt;Mimetik   tiruan masyarakat&lt;br /&gt;Pragmatik  resepsi/pembaca/pendapat pembaca&lt;br /&gt;Ekspresif  bagaimana si pengarang menuangkan karyanya dalam karya itu&lt;br /&gt;objektif   struktur KS itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-6883006474745541337?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/6883006474745541337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/penelitian-filologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6883006474745541337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6883006474745541337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/penelitian-filologi.html' title='Penelitian Filologi'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-4477204512192767794</id><published>2011-03-08T21:31:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T21:31:51.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kritik Teks'/><title type='text'>Kritik Teks</title><content type='html'>Teori Filologi:&lt;br /&gt;1.Pengertian filologi dari segi etimologi:&lt;br /&gt;Barried (1994: 2) kata filologi berasal dari bahasa yunani “philos” dan “logos”. “philos” artinya tema dan “logos” artinya pembicaraan. Filologi dari segi etimologi dapat ditafsirkan sbb: filologi ialah teman pembicaraan.&lt;br /&gt;2.Kata philologia dalam bahasa yunani: berarti “senang berbicara” atau “senang kepada tulisan-tulisan”. Filologi memunyai pengertian senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi seperti KS yang bersifat kuna. &lt;br /&gt;3.Lahirnya filologi dilatarbelakang oleh beberapa factor:&lt;br /&gt;a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan&lt;br /&gt;b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang&lt;br /&gt;c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang&lt;br /&gt;d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini&lt;br /&gt;e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah:&lt;br /&gt;1.Pengertian filologi dari segi istilah&lt;br /&gt;Kata filologi kali pertama digunakan oleh sekelompok ahli sastra dari Iskandariyah abad ke-3 untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu yang berratus-ratus tahun yang lalu. Salah satu ahli yang melontarkan istilah filologi yaitu Eratosthenes.&lt;br /&gt;2.Istilah filologi mempunyai:&lt;br /&gt;a.Filologi sebagai ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Tulisan zaman kuna mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang pada zamannya sangat bermanfaat. Filologi merupakan tulisan yang mengandung ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;b.Filologi sebagai ilmu bahasa&lt;br /&gt;Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi. Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi, unsure pertama yang terdapat di dalamnya ialah unsure bahasa. Filologi terkait dengan ilmu bahasa.&lt;br /&gt;c.Filologi sebagai ilmu sastra tinggi&lt;br /&gt;Tulisan masa lalu yang bernilai tinggi merupakan hasil tulisan yang disebut karya sastra.&lt;br /&gt;d.Filologi sebagai studi teks&lt;br /&gt;Yang mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalamnya&lt;br /&gt; (Barried, 1994: 3-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang timbulnya ilmu filologi:&lt;br /&gt;a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan&lt;br /&gt;b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang&lt;br /&gt;c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang&lt;br /&gt;d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini&lt;br /&gt;e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan ilmu filologi:&lt;br /&gt;A.Tujuan Umum&lt;br /&gt;1.Mengungkapkan produk masa lampau melalui peninggalan tulisan&lt;br /&gt;2.Mengungkapkan fungsi peninggalan tulisan kepada masyarakat penerimaannya, baik pada masa lampau maupun masa kini&lt;br /&gt;3.Mengungkapkan nilai-nilai budaya masa lampau&lt;br /&gt;Tujuan umum tersebut bersifat universal untuk semua kajian filologi, baik di Indonesia maupaun di luar Indonesia seperti kajian filologi Negara-negara ASEAN.&lt;br /&gt;B.Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1.Untuk mengungkapkan bentuk mula teks atau naskah yang tersimpan dalam peninggalan masa lampau&lt;br /&gt;2.Mengungkapkan sejarah perkembangan teks&lt;br /&gt;3.Mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang penerimaannya&lt;br /&gt;4.Menyajikan teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan filologi dengan ilmu lain:&lt;br /&gt;Linguistic, bahasa asing, bahasa nusantara, paleografi, sastra, agama, kebudayaan, folklore (filologi lisan), antropologi, sosiologi, dan prasasti.&lt;br /&gt;Tahapan penelitian filologi (suntingan teks)&lt;br /&gt;1.Inventarisasi naskah&lt;br /&gt;2.Perbandingan naskah&lt;br /&gt;3.Penetapan naskah yang akan diteliti&lt;br /&gt;4.Deskripsi naskah&lt;br /&gt;5.Transliterasi&lt;br /&gt;6.Terjemahan&lt;br /&gt;7.Naskah siap dianalisis sesuai tujuan yang dikemukakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian naskah: prosedur kajian naskah&lt;br /&gt;Jenis tujuan kerja filologi terkait dengan bidang masing-masing. Seperti kajian filologi untuk mengkaji unsure kebahasaan, unsure kesasteraan, unsure kebudayaan, unsure teknologi, unsure adat istiadat, dan sebagainya. Adat istiadat merupakan salah satu bagian yang terdapat dalam naskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur penelitian filologi:&lt;br /&gt;1.Inventarisasi naskah&lt;br /&gt;Mencari naskah dibeberapa perpustakaan, dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;2.Perbandingan naskah&lt;br /&gt;Membandingkan beberapa naskah untuk mencari silsilah naskah.&lt;br /&gt;3.Penetapan naskah yang akan diteliti&lt;br /&gt;Menentukan naskah yang akan dijadikan bahan penelitian.&lt;br /&gt;4.Deskripsi naskah&lt;br /&gt;Memerikan keadaan naskah, seperti: jenis, penulis naskah, keadaan naskah, saat penulisan, dsb.&lt;br /&gt;5.Transliterasi&lt;br /&gt;Alih tulisan dari aksara Jawa ke aksara latin.&lt;br /&gt;6.Terjemahan&lt;br /&gt;Menterjemahkan teks dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;7.Naskah siap dianalisis sesuai tujuan yang dikemukakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa metode kritik teks:&lt;br /&gt;1.Metode stema&lt;br /&gt;Metode yang digunakan untuk menentukan silsilah naskah yang akan di teliti.&lt;br /&gt;2.Metode diplomatis dan kritis&lt;br /&gt;Metode ini digunakan untuk menentukan jenis transliterasi naskah yang digunakan.&lt;br /&gt;3.Metode intuitif&lt;br /&gt;Metode kritik teks yang berupaya menentukan naskah dengan perbandingan akal sehat.&lt;br /&gt;4.Metode objektif&lt;br /&gt;Metode kritik teks dengan mengadakan perbandingan naskah.&lt;br /&gt;5.Metode gabungan&lt;br /&gt;Metode kritik teks dengan perbandingan dengan gabungan teks yang dianggap baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kritik teks&lt;br /&gt;Pengertian:&lt;br /&gt;Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani “krites” artinya “seorang hakim”. Krinein artinya “menghakimi”. kriterion artinya “dasar penghakiman”. Kritik teks adalah memberikan evaluasi terhadap teks, meneliti, dan menempatkan teks pada tempat yang tepat (Barried, 1994: 61).&lt;br /&gt;Tujuan:&lt;br /&gt;Kritik teks bertujuan untuk menghasilkan teks yang sedekat-dekatnya dengan teks aslinya atau constitution textus (Barried, 1994: 61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah kritik teks:&lt;br /&gt;1.Perbandingan teks&lt;br /&gt;Teks banyak disalin, sehingga banyak teks. Teks yang frekuensinya penyalinan banyak, artinya disenangi. Untuk itu dilakukan perbandingan. Untuk mencari teks mendekati asli.&lt;br /&gt;2.Menemukan teks yang benar&lt;br /&gt;Hasil perbandingan teks adalah ingin menemukan teks yang mendekati teks asli.&lt;br /&gt;3.Penyuntingan teks&lt;br /&gt;Beberapa teks yang dianggap mendekati asli disunting untuk mendapatkan teks yang dianggap benar.&lt;br /&gt;4.Rekonstruksi teks&lt;br /&gt;Teks yang telah dipugar dijadikan teks yang dianggap paling benar.&lt;br /&gt;(Barried, 1994: 62-63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau teksnya hanya satu, itu ada perlakuan khusus, itu namanya teks yang unik, tapi kalau banyak itu menjadi perbandingan teks, nanti akan muncul dua kemungkinan yaitu:&lt;br /&gt;1.Teks asli&lt;br /&gt;2.Teks suntingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transliterasi&lt;br /&gt;Pengertian:&lt;br /&gt;Transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf dari abjad yang satu kepada abjad yang lain. Istilah ini dipakai bersama-sama dengan istilah transkripsi dengan pengertian yang sama pada jenis penggantian tulisan naskah.&lt;br /&gt;Penggantian jenis tulisan pada prasasti disebut transkripsi.&lt;br /&gt;Penggantian jenis tulisan pada naskah disebut transliterasi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-4477204512192767794?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/4477204512192767794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/kritik-teks.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4477204512192767794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4477204512192767794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/kritik-teks.html' title='Kritik Teks'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1042587372418542109</id><published>2011-03-08T21:21:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T21:21:50.391-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra Bandingan'/><title type='text'>Sastra Bandingan</title><content type='html'>Sastra bandingan menurut sejarahnya dibedakan menjadi dua aliran, yaitu:&lt;br /&gt;1.Aliran Perancis = membandingkan dua KS dari dua Negara yang berbeda&lt;br /&gt;2.Aliran Amerika = a. membandingkan dua KS dari dua Negara yang berbeda&lt;br /&gt;                   b. membandingkan dua KS dengan bidang ilmu atau seni yang lain&lt;br /&gt;Syarat sastra bandingan menurut Maman S. Mahayana yaitu:&lt;br /&gt;1.Perbedaan bahasa&lt;br /&gt;2.Perbedaan wilayah&lt;br /&gt;3.Perbedaan politik&lt;br /&gt;Fungsi Sastra bandingan  untuk meneliti pertalian sastra antar bangsa&lt;br /&gt;Sastra bandingan menurut Rene Wellek dan Austin Warren:&lt;br /&gt;1.Istilah sastra bandingan kali pertama dipakai untuk studi sastra lisan, cerita rakyat, dan migrasinya, bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik.&lt;br /&gt;2.Istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Sastra bandingan di sini disamakan dengan studi sastra menyeluruh.&lt;br /&gt;3.Sastra Dunia merupakan sastra nasional yang diberi peluang meletakkan dirinya dalam lingkungan sastra di dunia dengan kriteria tertentu.&lt;br /&gt;Perbedaan antara Sastra Nasional, Sastra Bandingan, dan Sastra Umum:&lt;br /&gt;1.Sastra nasional hadir dalam satu lingkungan atau terbatas pada satu Negara&lt;br /&gt;2.Sastra bandingan hadir diluar lingkungan untuk melibatkan dua sastra yang berlainan&lt;br /&gt;3.Sastra umum hadir di atas lingkungan sejumlah Negara yang lebih luas yang dikelompokkan kedalam unit-unit.&lt;br /&gt;Objek kajian Sastra Bandingan menurut Suripan Sadi Hutomo:&lt;br /&gt;1.Membandingkan dua KS dari dua Negara yang bahasanya benar-benar berbeda&lt;br /&gt;2.Membandingkan dari dua Negara yang berbeda dalam bahasa yang sama&lt;br /&gt;3.Membandingkan karya awal seorang pengarang di Negara asalnya dengan karya setelah berpindah kewarganegaraannya&lt;br /&gt;4.Membandingkan karya seorang pengarang yang telah menjadi warga suatu Negara tertentu dengan karya seorang pengarang dari Negara lain&lt;br /&gt;5.Membandingkan karya seorang pengarang Indonesia dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia&lt;br /&gt;6.Membandingkan dua KS dari dua orang pengarang berwarga Negara Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang berbeda&lt;br /&gt;7.Membandingkan KS seorang pengarang yang berwarga Negara asing di suatu Negara dengan karya pengarang dari Negara yang ditinggalinya (kedua KS ini ditulis dalam bahasa yang sama)&lt;br /&gt;Menurut Sapardi Djoko Damono:&lt;br /&gt;1.Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri&lt;br /&gt;2.Uraian yang dilaksanakan dalam sastra bandingan berlandaskan asas banding-membandingkan&lt;br /&gt;Menurut Remak: &lt;br /&gt;  sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah Negara dan kajian&lt;br /&gt;      hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan (seni) yang lain.&lt;br /&gt;Menurut Nada:&lt;br /&gt;1.Sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu bangsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling memengaruhi antara satu dengan lainnya, apa yang telah diambil suatu sastra, dan apa pula yang telah di sumbangkannya&lt;br /&gt;2.Perbedaan bahasa merupakan salah satu syarat utama bagi sastra bandingan&lt;br /&gt;3.Dia membuat studi mengenai proses perpindahan sastra dari suatu daerah ke daerah lain: tipe (genre), diksi, dan gaya.&lt;br /&gt;Menurut Bassnet:&lt;br /&gt;1.Sastra bandingan adalah studi teks lintas budaya, berciri antar disiplin dan berkaitan dengan pola hubungan dalam kesusastraan lintas ruang dan waktu (Bassnet, 1993: 1)&lt;br /&gt;2.Sastra bandingan adalah tentang relasi (hubungan dari kedua KS itu), bukan tentang esensi (isi) (Manneke Budiman, Kalam, 7)&lt;br /&gt;3.Sastra bandingan adalah kajian interdisipliner atas teks-teks secara lintas budaya yang terfokus pada pola-pola hubungan dalam sastra-sastra yang berbeda baik yang bersifat lintas ruang maupun lintas waktu. Dikatakan minimalis karena ada banyak praktik kajian sastra yang melibatkan lebih satu teks, tetapi tidak dilakukan secara lintas budaya, lintas ruang, dan lintas waktu (Bassnet: Manneke Budiman, Kalam, 7)&lt;br /&gt;4.Apabila terpisah dari persoalan utama budaya dan identitas kebangsaan, kesusastraan bandingan kehilangan tujuan (Bassnet: 41/64)&lt;br /&gt;Menurut Budi Darma:&lt;br /&gt;Sastra bandingan lahir dari kesadaran bahwa sastra tidak tunggal, namun perbedaannya kesamaan terjadi karena masalah manusia, sebagaimana yang plural, dan bahkan semua sastra ada kesamaan-kesamaan dan perbedaan terekam dalam sastra, pada hakikatnya universal, dan perbedaan-perbedaan terjadi karena mau tidak mau sastra didominasi oleh situasi dan kondisi tempatan (Darma, 2007: 53)&lt;br /&gt;Biasanya masalah yang dihadapi oleh manusia yang tertuang dalam KS diantaranya masalah kemiskinan, cinta, kesenjangan social, kondisi social setiap orang itu berbeda-beda, perbedaan sikap manusia menhadapi masalah, kemiskinan dihadapi secara individu, masalah di sini adalah masalah universal. Misal, masyarakat Madura dan Surabaya umumnya berbeda. Biasanya orang yang dari daerah tandus itu orang yang suka bekerja keras.&lt;br /&gt;Bahwa subjek ini (sastra bandingan) berkembang dan meluas di banyak tempat di dunia di mana ia dengan jelas dihubungkaitkan dengan persoalan budaya dan jati diri bangsa (Bassnet, 1993: 8).&lt;br /&gt;Orang Malaysia adalah orang yang menghormati agama, jadi di Malaysia itu sangat damai. Meningkatkan rasa nasionalisme  yang sangat tinggi. Tahun 70-90 an banyak tenaga guru dari Indonesia yang dikontrak untuk mengajar di Malysia. Negara dan jati diri bangsa di injak-injak oleh Malaysia.&lt;br /&gt;Menurut Sahlan Moh. Saman, unsure-unsur yang dibandingkan dalam sastra bandingan yaitu:&lt;br /&gt;1.Kritik dan teori kesusastraan&lt;br /&gt;2.Gerakan kesusastraan&lt;br /&gt;3.Kajian tema&lt;br /&gt;4.Kajian bentuk (genre)&lt;br /&gt;5.Hubungan kesusastraan dengan: sejarah, sejarah falsafah, kesan perbuahan, sumber dan pengaruh, masyarakat, disiplin sains, dan disiplin seni yang lain &lt;br /&gt;(Saman dalam Ahmad, 1994: 20)&lt;br /&gt;Contoh: Sastra bandingan yang dilakukan oleh HB Jassin yaitu membandingkan angkatan 60-an dan angkatan 70-an. Misal tentang tema, tema novel di Indonesia pada saat-saat ini banyak didominasi dengan tema-tema masalah keagamaan, contoh: ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Menurut Clements (dalam bukunya Sapardi Djoko Damono), pendekatan dalam sastra bandingan:&lt;br /&gt;1.Tema/mitos&lt;br /&gt;2.Genre dan bentuk&lt;br /&gt;3.Gerakan atau zaman&lt;br /&gt;4.Hubungan sastra sebagai bahan bagi berkembangnya teori yang terus-menerus bergulir&lt;br /&gt;Menurut Jost (dalam bukunya Sapardi Djoko Damono):&lt;br /&gt;1.Pengaruh dan analogi&lt;br /&gt;2.Gerakan dan kecenderungan&lt;br /&gt;3.Genre dan bentuk&lt;br /&gt;4.Motif, tipe, dan tema&lt;br /&gt;Motif  dalam dongeng ada banyak motif yang digunakan, misalnya: lutung, biawak, dan kesenderungan kesemuanya itu banyak kesamaan.&lt;br /&gt;Tujuan sastra bandingan:&lt;br /&gt;1.Menghapus pandangan sempit sastra nasional, dan untuk menghilangkan anggapan baha sastra nasional yang satu lebih baik dari sastra nasional yang lain.&lt;br /&gt;2.Untuk melihat perkembangan buah pikiran dalam kehidupan manusia, bagaimana buah pikiran tersebut muncul dan meluas ke berbagai tempat dan bangsa di dunia ini. &lt;br /&gt;Sifat kajian:&lt;br /&gt;1.Kajian bersifat komparatif&lt;br /&gt;Menitikberatkan pada penelaahan teks KS yang dibandingkan, misalnya: studi pengaruh, afinitas, dan intertekstualitas.&lt;br /&gt;2.Kajian bersifat historis&lt;br /&gt;Memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi antara KS dengan karya lainnya.&lt;br /&gt;3.Kajian bersifat teoritis&lt;br /&gt;Menggambarkan tentang konsep, criteria, batasan, atau aturan-aturan berbagai bidang kesusastraan seperti aliran, genre, bentuk, teori pendekatan, kritik sastra, dsb.&lt;br /&gt;4.Kajian bersifat antar disiplin&lt;br /&gt;Kajian sastra dengan disiplin ilmu yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1042587372418542109?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1042587372418542109/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/sastra-bandingan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1042587372418542109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1042587372418542109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2011/03/sastra-bandingan.html' title='Sastra Bandingan'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-3465894790875673644</id><published>2010-12-31T01:50:00.001-08:00</published><updated>2010-12-31T01:50:46.325-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Sastra'/><title type='text'>Sosiologi Sastra</title><content type='html'>Sosiologi berasal dari bahasa Yunani sosio atau socious yang berarti masyarakat dan kata logi atau logos yang berarti ilmu. Jadi sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional dan empiris (Ratna, 2003: 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swingewood dalam Faruk (1999: 1) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial, sedangkan Ritzer dalam (Faruk, 1999: 2) menganggap sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang multi paradigma. Maksudnya, di dalam ilmu tersebut dijumpai beberapa paradigma yang saling bersaing satu sama lain dalam usaha merebut hegemoni dalam lapangan sosiologi secara keseluruhan. Paradigma itu sendiri diartikannya sebagai satu citra fundamental mengenai pokok persoalan dalam suatu ilmu pengetahuan, yaitu: paradigma fakta-fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono, 1978: 6). Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat dengan di dalamnya terdapat usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakat ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra (Damono, 1978: 6).&lt;br /&gt;Istilah sosiologi sastra pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologis atau sosiokultur terhadap sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap sastra, yaitu: 1) Pendekatan yang berdasarkan anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor luar sastra untuk membicarakan sastra; 2) Pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui lebih dalam lagi gejala di luar sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi pada zaman karya sastra itu ditulis yaitu masyarakat yang melingkupi penulis, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat lepas darinya. Pendekatan sosiologi bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat, melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalam karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri yang merupakan anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wellek dan Warren dalam Damono (1978:3) mengemukakan tiga klasifikasi yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan adalah dasar ekonomi, produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Sosiologi karya sastra. Masalah yang dibahas mengenai isi karya sastra, tujuan atau amanat, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan berkaitan dengan masalah sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Sosiologi pembaca. Membahas masalah pembaca dan pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren tidak jauh berbeda dengan klasifikasi kajian sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Ian Watt dalam eseinya yang berjudul “Literatur Society” (Damono 1978: 3-4) yang membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, yaitu antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Konteks sosial pengarang.&lt;br /&gt;Konteks sosial pengarang ada hubungannya dengan posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan dan isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan: sejauh mana pengarang itu menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang dalam hubungan antara pengarang dan masyarakat, sebab masyarakat yang dituju sering mempengaruhi bentuk dan isi karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Sastra sebagai cermin masyarakat (Mimetik):&lt;br /&gt;Sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, yang terutama mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, (b) sifat lain dari yang lain seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan penampilan faktor-faktor sosial dalam karyanya, (c) genre sastra merupakan sikap sosial kelompok tertentu, bahkan sikap sosial seluruh masyarakat, (d) sastra berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak dipercaya sebagai cermin pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Fungsi sosial sastra.&lt;br /&gt;Hal yang perlu dipertanyakan adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial. Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu sudut pandang ekstrinsik kaum Romantik, sastra bertugas sebagai penghibur adanya kompromi dapat dicapai dengan meninjau slogan klasik bahwa sastra harus menggunakan sesuatu dengan cara menghibur (Damono 1978: 3-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sejauh ini teori yang telah diakui relevansinya terhadap analisis sosiologi sastra adalah strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann (Damono, 1978: 40-48). Menurut Goldmann dalam Endraswara (2003: 57) karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Sehingga karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan kejadiannya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia pengarang dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik. Oleh karena itu, muncullah teori yang disebut dengan Strukturalisme Genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strukturalisme Genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, Strukturalisme Genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar, tetap dianggap penting bagi pemahaman karya sastra (Endraswara, 2003: 60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*DAFTAR RUJUKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra (Sebuah Pengantar Ringkas). Jakarta: Depdikbud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra (Dari Strukturalisme Genetik sampai Posmo Modernism). Jakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-3465894790875673644?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/3465894790875673644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/sosiologi-sastra_31.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3465894790875673644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3465894790875673644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/sosiologi-sastra_31.html' title='Sosiologi Sastra'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-4424634534123871267</id><published>2010-12-19T04:01:00.001-08:00</published><updated>2010-12-19T04:01:12.629-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Apresiasi Puisi'/><title type='text'>Menafsirkan sebuah Puisi</title><content type='html'>Lempar kata ini&lt;br /&gt;Sebelum dituntut kembali&lt;br /&gt;(Subagio Sastrowardojo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. Dalam kegiatan tersebut pembaca berusaha memahami makna, pesan, dan keindahan puisi. Untuk itu pembaca harus melakukan analisis terhadap puisi.&lt;br /&gt;Seperti halnya jenis sastra yang lain, puisi merupakan sebuah dunia simbol. Oleh karena itu untuk memahami makna, pesan, dan keindahan puisi, pembaca harus menafsirkan puisi itu. Tak salah kiranya bila puisi itu dianggap sebagai dunia interpretatif dan sekaligus dunia alternatif. Penafsiran itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna.&lt;br /&gt;Interpretasi terhadap puisi berarti pemberian makna terhadap teks puisi. Sebagai sebuah pemberian maka besar-kecil dan dangkal-dalam penafsiran tersebut sangat bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. Oleh karena itu bisa terjadi sebuah puisi akan ditafsirkan berbeda antara pembaca A dan pembaca B karena pengalaman mereka yang saling berbeda.&lt;br /&gt;Puisi merupakan dunia sekunder, sementara pembaca berada di wilayah dunia primer. Hal itulah yang membuat banyak pembaca tidak mampu memahami puisi karena saat menafsirkan makna puisi mereka tidak dapat melepaskan diri dari dunia primernya. Bahkan banyak pula yang berharap bahwa puisi sebagai sebuah dunia sekunder janganlah terlalu menyimpang dari dunia primernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tentang Tiga Kode&lt;br /&gt;Menurut A.Teeuw (1991:12) proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks tertentu adalah proses yang memerlukan pengetahuan sistem kode yang cukup rumit, kompleks dan aneka ragam.&lt;br /&gt;Kode pertama yang harus kita kuasai untuk menanfsirkan atau memberi makna puisi ialah kode bahasa. Mari kita simak puisi berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUANG PUBLIK &amp; PUISI&lt;br /&gt;Ketika –&lt;br /&gt;IMB &amp; Lotus bersekutu melawan Microsof dalam&lt;br /&gt;perang komputer&lt;br /&gt;7,7 triliun rupiah bergeser, beredar, mengorak pasar&lt;br /&gt;saham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika –&lt;br /&gt;Berlusconi &amp; Murdoch, dua hulubalang&lt;br /&gt;dengan gemerincing mesin cetak ulang&lt;br /&gt;bertarung di Eropa berebut tahta kekaisaran media&lt;br /&gt;peluru-peluru produksinya berdesingan&lt;br /&gt;akan sampai pula di ruang-ruang kita paling pribadi&lt;br /&gt;kamar tidur bahkan sel otak&lt;br /&gt;lewat perabot mati bersama televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika –&lt;br /&gt;AS, Korsel &amp; Korut berkubang di Kualalumpur&lt;br /&gt;merumuskan orde baru: nuklir untuk perang atau&lt;br /&gt;damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis-&lt;br /&gt;Depan hidung Tokyo sedang perang dunia lawan&lt;br /&gt;Washington&lt;br /&gt;bab pokok pasal dagang&lt;br /&gt;yendeka membetot naik daftar harga&lt;br /&gt;kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka-&lt;br /&gt;Di Surabaya, Balai Pemuda &amp; Taman Budaya&lt;br /&gt;di ruang publik ini&lt;br /&gt;dunia batin, kerajaan absolut sang puisi&lt;br /&gt;diudarkan jadi atmosfer kebebasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Akhudiat, 15 Juni 1995)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi memakai bahasa sebagai media ekspresinya. Oleh karena itu wawasan mengenai bahasa yang dipakai penyair untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan itu mutlak harus dimiliki oleh seorang apresiator. Pembaca atau apresiator harus memiliki pemahaman terhadap bahasa tersebut baik dari segi kosa kata dan makna, tata bentukan, tata kalimat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Misalnya saja frase ruang publik dalam puisi Akhudiat di atas. Bagaimanakah konstruksi sebenarnya bentukan tersebut: ruang untuk publik, ruang milik publik, ruang dari publik, ataukah ruang tentang publik? Untuk memahami makna konstruksi tersebut mau tak mau kita harus memahami kaidah fraseologis atau kaidah komposisi dalam bahasa Indonesia. Penafsiran secara kurang benar atas konstruksi ruang publik itu tentu akan mempengaruhi penafsiran makna keseluruhan (total of meaning) puisi tersebut.&lt;br /&gt;Misalnya lagi konstruksi diudarkan jadi atmosfer kebebasan. Apa makna kata diudarkan yang kebetulan kata dasar udar dipinjam dari bahasa Jawa? Apakah ia bermakna dibuka, diuraikan, ditelanjangi, disebarkan, dikemukakan atau lainnya? Lalu bagaimana kaitan logika antara diudarkan dan menjadi atmosfer kebebasan. Mungkinkah kata kerja udar bisa melahirkan suatu fenomena bentukan? Nah, tanpa memahami bahasa tidak mungkin kita memaknai atau menafsirkan puisi.&lt;br /&gt;Ternyata memahami kode bahasa tidaklah cukup, kita harus pula memahami kode budaya. Budaya yang dimaksudkan ialah hal-hal, peristiwa, benda-benda, cara berpikir, dan sebagainya yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Untuk memahami puisi Akhudiat tersebut kita mesti tahu IBM, Lotus, Microsof, perang komputer, dan mengorak pasar saham. Tanpa memahami konteks budaya komputer dan seluk beluknya kita tak akan sampai pada makna yang dalam. Demikian pula tanpa memahami relasi Berlusconi dan Murdoch, kita tak bisa mendekati makna yang dikehendaki penyairnya. Lalu apa maksud AS, Korsel dan Korut berkubang di Kualalumpur? Untuk itu kita mesti memiliki pengetahuan peristiwa sejarah yang sudah dan sedang berlangsung.&lt;br /&gt;Suatu misal kita sudah memahami kode bahasa dan sekaligus kode budaya mampukah kita memahami makna baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita? Ternyata tetap saja tidak mudah menafsirkan makna baris tersebut.&lt;br /&gt;Puisi memiliki kekhasan ekspresi. Dia memiliki kode-kode tertentu yang membedakannya dengan cerita pendek, teks drama, maupun esei. Puisi merupakan ekspresi yang padat. Puisi dibangun oleh kata yang berkonotasi tinggi dan memanfaatkan potensi bahasa dalam rupa majas dan irama. Baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita hendaknya kita dudukkan pada koridor estetik dan puitik, penuh simbol dan metafor-metafor. Jadi kita mesti memahami perihal kode sastra, dalam hal ini kode puisi, untuk mampu menafsirkan makna sebuah puisi. Kerikil dalam puisi di atas jelas merupakan metafor dari pengertian lain yang mesti kita tafsirkan. Mungkin saja dalam konteks bahasa sehari-hari orang tidak mengucapkan kalimat seperti dalam baris itu, tetapi dalam puisi ungkapan semacam itu dengan pelbagai ragam dan variasinya sering terjadi.&lt;br /&gt;Nah, akhirnya dapat kita simpulkan bahwa untuk menafsirkan makna sebuah puisi seorang apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penafsiran Puisi&lt;br /&gt;Ada bebrapa hal yang mesti dicermati saat kita berkehendak menafsirkan makna sebuah puisi. Sebelum kita mempelajari hal-hal itu simaklah terlebih dahulu puisi berikut ini.&lt;br /&gt;APA KAU TELAH DAPAT GANTI RUGI&lt;br /&gt;Apa kau telah dapat ganti rugi&lt;br /&gt;Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami&lt;br /&gt;Apa kau telah dapat ganti rugi&lt;br /&gt;Apakah kau hanya dibohongi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materai dan kertas berhuruf kanji&lt;br /&gt;Tak seindah bunga bakung di tepi kali&lt;br /&gt;Meterai dan kertas yang digores belati&lt;br /&gt;Tak seindah jerami menoreh pasir di bumi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ditebang pohon kedondong dan maoni&lt;br /&gt;Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi&lt;br /&gt;Telah ditebang pohon-pohon pakisaji&lt;br /&gt;Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebagai saksi&lt;br /&gt;Aku semut yang bersarang di daun pakisaji&lt;br /&gt;Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi&lt;br /&gt;Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau telah dapat ganti rugi&lt;br /&gt;Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami&lt;br /&gt;Apa kau telah dapat ganti rugi&lt;br /&gt;Apakah kau hanya dibohongi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebagai saksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Suripan Sadi Hutomo, 27 Mei 1990)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memahami judul&lt;br /&gt;Sebuah puisi pada umumnya memiliki judul. Dalam sebuah puisi judul bukan sekedar tanda, tetapi gerbang untuk menuju ke kedalaman puisi tersebut. Judul menjadi semacam lorong yang mengarahkan pembaca kepada pusat makna.&lt;br /&gt;Memahami judul menjadi sangat penting karena dengan memahami judul kita memasuki wilayah wacana dengan lebih terbatas, lebih memusat, tidak begitu menyebar atau tidak begitu membias.&lt;br /&gt;Puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berjudul Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi. Judul tersebut bernada tanya, si aku lirik bertanya kepada seseorang perihal apakah orang itu telah mendapatkan ganti rugi (atas tanahnya yang telah diserahkan kepada pemerintah demi pembangunan). Pertanyaan tersebut lahir dari kenyataan bahwa banyak rakyat yang tidak mendapatkan ganti rugi atau andaikan mendapatkannya tanah itu dihargai sangat murah. Judul itu telah mengarahkan kita pada makna atau persoalan tertentu.&lt;br /&gt;Dengan memahami judul kita lebih mudah memahami baris-baris yang terdapat dalam puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memahami latar&lt;br /&gt;Latar ialah piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah dan sebagainya yang menempatkan puisi ke dalam matra tertentu. Puisi sebagai perwujudan kepekaan penyair dalam membaca lingkungan sekitarnya tak dapat dilepaskan dari matra ruang, waktu, zaman, sejarah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas. Baris Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami terpancar kesan industrialisasi: dari kultur agraris diarahkan menjadi kultur industri, dari tanah menjadi pabrik. Perubahan latar sosial semacam itu, disadari atau tidak, akan berdampak pada tata kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;Materai dan kertas berhuruf kanji menempatkan kita pada latar tertentu, latar yang amat asing bagi penduduk desa (yang buta huruf). Kertas behuruf kanji membawa kita untuk membayangkan suatu kekuasaan asing di bidang ekonomi, yakni Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Telah kita jual tanah kita kepada pemiliki modal asing, dan jadilah rakyat Indonesia buruh di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;Nilai-nilai tradisional yang adiluhung pun kikis oleh dinamika pembangunan dan modernisasi pohon kedondong dan maoni, daun pakisaji, hijau trembesi, dan sebagainya sebagai perwujudan latar tradisional tiba-tiba telah menjadi masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memahami kata ganti&lt;br /&gt;Menurut Harimurti Kridalaksana (1983:138) kata ganti atau pronomina ialah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pronomina demonstratif yaitu kata yang dipakai untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang, benda atau peristiwa, misalnya ini atau itu. Di samping itu dikenal pula pronomina persona yaitu kata yang menggantikan kategori deiksis yang berhubungan dengan partisipan dalam sebuah situasi bahasa, misalnya saya, ia, mereka, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Siapakah kau dalam baris Apa kau telah dapat ganti rugi? Jawabannya ialah ia yang tanahnya dibuat pabrik jerami. Dengan demikian kau ialah orang-orang tak berdaya yang harus merelakan tanahnya dijual dengan harga murah demi pembangunan.&lt;br /&gt;Siapakah aku yang terdapat dalam baris pertama bait keempat? Semut, ulat, dan burung pelatukkah aku tersebut? Ataukah justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis?&lt;br /&gt;Andaikan aku itu ialah semut, ulat, dan burung pelatuk maka saksi atas tindakan perampasan tanah rakyat itu justru para binatang yang bukan manusia. Terjadilah sindiran yang amat tajam atas perilaku manusia: saat manusia tidak memiliki rasa kemanusiaan, justru binatanglah yang bisa merasakan kepedihan hati manusia karena tanahnya yang dirampas itu.&lt;br /&gt;Andaikan aku itu justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis maka puisi di atas menjadi semacam suara yang lahir dari kejujuran seseorang yang peduli terhadap lingkungannya. Kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran yang semakin pudar itu ternyata masih bisa lahir dari suara-suara penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memahami majas&lt;br /&gt;Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik.&lt;br /&gt;Secara umum terdapat majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Personifikasi, metafora, asosiasi, metonimia, simbolik, tropen, litotes, eufemisme, hiperbola, sinekdok, alusio, dan perifrasis tergolong majas perbandingan. Sedangkan pleonasme, repetisi, tautologi, paralelisme, simetri, klimaks, antiklimaks, inversi, retoris, dan eksklamasio termasuk majas penegasan. Yang dikategorikan majas sindiran ialah ironi, sinisme, dan sarkasme. Sedangkan yang tergolong majas pertentangan ialah paradoks, kontradiksio in terminis, dan antitesis.&lt;br /&gt;Menganalisis majas dalam puisi berarti kita menanyakan: (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi; (2) alasan penyair memilih majas tersebut; dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas itu.&lt;br /&gt;Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas.&lt;br /&gt;Pada bait pertama puisi tersebut ada baris Apakah kau hanya dibohongi? Baris tersebut bermajas retoris. Mengapa demikian? Sebenarnya pernyataan tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena pertanyaannya tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena jawabannya sudah amat jelas bahwa pemilik tanah itu memang dibohongi. Pertanyaan di atas semakin mempertegas posisi si lemah dan posisi si kuat.&lt;br /&gt;Dalam bait ketiga terdapat majas paralelisme anafora yaitu perulangan frase telah ditebang pada awal setiap baris. Perulangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan kesan intensitas tinggi terhadap frase telah ditebang itu. Itu berarti bahwa sudah begitu banyak yang ditebang dan dipangkas atas nama pembangunan yang justru menyengsarakan sebagian besar rakyat. Paralelisme semacam itu juga mampu menciptakan irama tertentu karena kemerduan bunyi yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;Penegasan itu juga terdapat pada majas klimaks yang terdapat pada bait ketiga tersebut. Perhatikan urutan telah ditebang pohon kedondong dan maoni, pohon-pohon hijau trembesi, pohon-pohon pakisaji, dan puncaknya ialah telah ditebang jiwa manusia.&lt;br /&gt;Bentuk telah ditebang pohon kedondong dan maoni juga bermajas inversi karena predikat terletak di depan subjek. Meletakkan predikat (dalam hal ini frase telah ditebang) pada awal baris jelas untuk memberikan tekanan pada frase tersebut. Mengapa demikian? Karena persoalan kesewenang-wenangan semacam itu amatlah terlihat dan menonjol pada saat puisi itu disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memahami baris dan bait&lt;br /&gt;Baris merupakan ciri visual puisi, sedangkan bait merupakan perwujudan kesatuan makna dalam puisi. Fungsi bait mirip fungsi paragraf dalam karangan paparan. Setiap bait mengandung satu pokok pikiran.&lt;br /&gt;Bait pertama puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berisi sebuah pertanyaan apakah tanah milik rakyat yang dijual demi pembangunan itu telah mendapatkan ganti rugi secara layak atau justru tidak mendapatkannya sama sekali.&lt;br /&gt;Bait kedua mengandung gagasan bahwa persekutuan kita dengan orang-orang asing yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu justru hanya akan menyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;Bait ketiga menegaskan bahwa rakyat telah ditebang kemanusiaannya, juga jiwanya.&lt;br /&gt;Bait keempat menunjukkan justru alamlah, justru binatanglah yang telah menjadi saksi kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia. Hati manusia telah beku untuk saling peduli.&lt;br /&gt;Bait kelima menanyakan sekali lagi secara sinis bahwa benarlah rakyat telah mendapatkan ganti rugi atas tanahnya yang dikorbankan dalam pembangunan.&lt;br /&gt;Bait keenam secara sunyi penyair menegaskan bahwa ia siap menjadi saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memahami tipografi dan enjambemen&lt;br /&gt;Tipografi ialah ukiran bentuk, artinya ialah bagaimana puisi itu diungkapkan secara grafis oleh penyairnya. Pemakaian huruf kapital dan tanda baca juga merupakan bagian dari ikhwal tipografi.&lt;br /&gt;Baris-baris puisi Suripan Sadi Hutomo itu selalu dimulai dengan huruf kapital dan tanpa titik pada setiap akhir baris, kecuali tanda tanya pada akhir baris Apakah kau hanya dibohongi?&lt;br /&gt;Mengapa Suripan menulis grafis puisinya semacam itu? Bisa jadi huruf kapital pada awal baris menandai bahwa kehidupan (rakyat) itu sebenarnya telah dimulai dengan langkah atau program yang serba pasti. Lalu mengapa tidak diakhiri dengan tanda titik? Karena hari esok tetap saja merupakan teka-teki, muara kehidupan mereka belumlah jelas.&lt;br /&gt;Puisi tersebut dikemas dengan pola kwatren (puisi empat seuntai). Pola semacam itu mengingatkan kita pada pola-pola klasik. Akibatnya ada kesan lama dan amat tradisional. Kesan semacam itu sengaja dibangun oleh Suripan Sadi Hutomo untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat miskin. Nah, itulah hubungan tipografi dengan makna puisi.&lt;br /&gt;Sedangkan enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi, dan hubungan antarbaris dalam puisi itu.&lt;br /&gt;Suripan Sadi Hutomo dalam puisinya di atas memang tidak melakukan pemenggalan yang tak berdasarkan kaidah bahasa. Pemenggalan yang terdapat pada baris Apa kau telah dapat ganti rugi/ Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami merupakan pemenggalan secara fraselogis. Keliaran tidak terdapat dalam puisi Suripan Sadi Hutomo itu karena, sekali lagi, Suripan dalam konteks masyarakat tradisional dalam puisi di atas ingin menunjukkan bahwa masyarakat itu pada umumnya amatlah patuh dan taat pada aturan yang telah disepakati bersama, pada konvensi yang berlaku. Bandingkan dengan puisi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGEMBARAKAN RUH&lt;br /&gt;Seharusnya aku kembarakan ruhku&lt;br /&gt;Di rimba-rimba angkasa. Rambahi&lt;br /&gt;Rumput luntas segar dan mata air&lt;br /&gt;Mencari ganti air susu ibu&lt;br /&gt;Sebelum kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik, kenalilah namaku ini&lt;br /&gt;Perahlah isi ruhku setibaku kembara&lt;br /&gt;Dan kita menghisap payudara laut&lt;br /&gt;Sambil membaca lintasan kabut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Leres Budi Santoso, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan pemenggalan yang dilakukan Leres dalam puisinya. Simak saja bait apertama: Kalimat seharusnya aku kembarakan ruhku di rimba-rimba angkasa dipenggal menjadi seharusnya aku kembarakan ruhku/ di rimba-rimba. Dan kalimat Rambahi rumput luntas segar dan mata air dipenggal manjadi rambahi/ rumput luntas segar dan mata air. Untuk apa itu semua? Untuk menonjolkan unsur bahasa yang dianggap penting karena makna dan pesannya yaitu unsur di rimba-rimba dan unsur rumput luntas segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memahami makna dan amanat&lt;br /&gt;Berdasarkan analisis kita terhadap judul, latar, kata ganti, majas, baris dan bait, serta tipografi dan enjambemen barulah kita dapat menyimpulkan makna dan amanat puisi.&lt;br /&gt;Sebagai contoh kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo.&lt;br /&gt;Puisi Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi di atas menempatkan si aku lirik (bisa penyair atau pribadi lain yang peduli terhadap lingkungan masyarakat tertindas) bersama dengan alam menjadi saksi atas korban pembangunan. Penebangan kemanusiaan sangat memprihatinkan, tetapi anehnya terus berlangsung tanpa putus-putusnya. Itulah kurang lebih makna puisi tersebut. Lalu apa amanatnya, yaitu pesan penyair yang secara implisit terkandung dalam puisi itu? Tentu saja kita diharapkan untuk lebih memperhatikan nasib masyarakat kecil yang dengan dalih pembangunan tanah sedikit yang mereka miliki tergusur tanpa ganti rugi yang pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Contoh Penafsiran Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH KEMATIAN ISTRI&lt;br /&gt;Oleh Tengsoe Tjahjono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrir Latif adalah penyair kelahiran Silungkang Sumatera Barat, 3 Juni 1940. Saat istrinya wafat ia amat kehilangan. Kesedihannya ia tuliskan dalam beberapa puisinya. Berikut ini salah satu puisi yang ditulisnya.&lt;br /&gt;SENJA PERTAMA SETELAH KAU BERANGKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas lohor, siang tadi, kau berangkat ke Karet (1)&lt;br /&gt;Aku mengantarmu ke ujung jalan (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu senja lampu-lampu menyala (3)&lt;br /&gt;Masih seperti sediakala (4)&lt;br /&gt;Lalu, azan magrib (5)&lt;br /&gt;Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah (6)&lt;br /&gt;Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana (7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Syahril Latif, 1978)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Latif ini berjudul Senja Pertama Setelah Kau Berangkat. Ada dua hal yang perlu ditanyakan atas judul itu, pertama: siapa kau dalam judul itu; kedua: kau itu berangkat ke mana.&lt;br /&gt;Dalam baris (1) ada kalimat kau berangkat ke Karet. Karet adalah kuburan di Jakarta. Jadi, tampaknya kau berangkat ke pemakaman, atau kau dimakamkan karena sudah meninggal. Lalu siapa kau? Pada baris (6) terbaca kalimat Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah. Ungkapan ini tampak ditujukan pada seseorang yang tidak ada di antara mereka ialah istri bagi aku lirik atau ibu bagi anak-anak mereka. Dengan demikian judul di atas mengisyaratkan perihal suasana hati aku lirik sehari setelah istrinya menghadap Sang Khaliq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Kehilangan dan Syukur&lt;br /&gt;Puisi Latif ini terkesan amat bersahaja. Kebersahajaan itu tampak pada pemilihan kata, majas, dan tipografinya. Kesederhanaan ini menjadikan puisi itu hanya berupa deskripsi perasaan aku lirik terhadap kematian istrinya.&lt;br /&gt;Puisi ini terdiri atas dua bait, bait pertama merekam keadaan lepas lohor saat sang istri diberangkatkan ke pemakaman; bait kedua menuliskan suasana senja saat aku lirik shalat berjamaah bersama anak-anaknya. Pada bait pertama sang istri hadir sebagai jenasah yang akan dimakamkan, pada bait kedua sang istri hadir dalam bentuk bayangan dalam kenangan.&lt;br /&gt;Ada dua latar waktu yang memiliki sugesti suasana berbeda yaitu: lepas lohor dan senja. Lepas lohor memberikan suasana saat matahari mulai tergelincir menuju ufuk barat. Matahari baru saja terik. Artinya, sang istri aku lirik wafat pada usia yang masih amat produktif. Matahari sedang terang-terangnya memberikan cahayanya kepada bumi. Kepergian matahari atau sang istri yang begitu tiba-tiba tentu amat menyedihkan.&lt;br /&gt;Latar waktu yang lain ialah senja. Pergeseran dari sore ke malam. Suasananya cenderung remang dan lembut. Saat itu manusia mulai istirahat. Bahkan, saat itu dengan sholat magrib manusia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang diterimanya hari itu. Senja memberikan sugesti romantis dan sekaligus religius. Dalam konteks kematian sang istri tampaknya aku lirik pada akhirnya menerima takdir itu dengan syukur. Dia menyadari bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.&lt;br /&gt;Betapa sederhananya ungkapan Waktu senja lampu-lampu menyala. Tampaknya lampu bukan sekadar bermakna alat penerangan, tetapi bisa jadi Cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa aku lirik saat ditinggal mati istrinya. Mirip ungkapan Amir Hamzah tentang Tuhan: Kaulah kandil kemerla/ pelita jendela di malam gelap.&lt;br /&gt;Ungkapan Aku mengantarmu ke ujung jalan juga amat sederhana. Ujung jalan bukan sekadar bermakna bagian ujung dari sebuah jalan, tetapi peristiwa kematian itu sendiri, akhir hayat. Aku lirik terkesan setia mendampingi sang istri saat sakit bahkan sampai saat sang maut menjemput. Aku lirik terkesan selalu memberikan motivasi kepada sang istri, memberikan semangat kepada sang istri apa pun yang akan menimpanya. Puisi ini, banyak memakai metafora-metafora sederhana.&lt;br /&gt;Kesederhanaan itu juga tampak dalam penggarapan irama. Penyair membangun irama puisinya dengan mengulang bunyi /a/ berkali-kali, amat linear. Jarang muncul bunyi-bunyi kontras yang melahirkan kejutan-kejutan irama. Hal itu tampak misalnya dalam baris-baris: Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah/Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana. Perulangan bunyi /a/ memberikan nuansa pasrah dan berserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHAN PELATIHAN&lt;br /&gt;1. Sebagai sebuah dunia lambang puisi menewarkan pelbagai kemungkinan makna. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.&lt;br /&gt;2. Mampukah pembaca atau apresiator menafsirkan makna puisi sesuai dengan makna yang diharapkan oleh penyair? Jelaskan!&lt;br /&gt;3. Untuk mampu memahami puisi, pembaca atau apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Jelaskan maksud pernyataan itu!&lt;br /&gt;4. Apakah maksud pernyataan bahwa judul merupakan lorong untuk menuju makna puisi?&lt;br /&gt;5. Mengapa kia perlu memahami latar yang terdapat dalam puisi saat kita menafsirkan puisi?&lt;br /&gt;6. Tanpa memahami kata ganti yang terdapat dalam puisi apresiator dapat terjebak pada penafsiran yang kurang tepat. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;7. Bait merupakan kesatuan makna. Bagaimana dengan puisi yang hanya terdiri atas satu baris saja?&lt;br /&gt;8. Analisislah puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIMENSI SAMUDRA&lt;br /&gt;Ikan paling besar makan yang besar&lt;br /&gt;ikan besar makan yang kecil&lt;br /&gt;ikan kecil makan yang terkecil&lt;br /&gt;sedang yang terkecil lebih siap dimakan&lt;br /&gt;daripada cari makan&lt;br /&gt;(Saiful Hadjar, 1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Analisislah pula puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANSKAP KESEDIHAN&lt;br /&gt;Tak kuingat bagaimana hari kemarin bermula&lt;br /&gt;dirimu hanyut dalam kepekatan,&lt;br /&gt;lumpur yang menggila&lt;br /&gt;dan perasaan hidup seperti padang pasir kering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tersisa dari keheningan,&lt;br /&gt;pisau-pisau menghunus pada wajahmu,&lt;br /&gt;betapa bayang-bayang tubuh terkoyak kemunafikan&lt;br /&gt;Di jantungmu, isyarat-isyarat yang kugemakan&lt;br /&gt;tumbuh dan terhancurkan,&lt;br /&gt;anganku gagal melawan pusaran angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas terbunuh oleh lagu-lagu keajaiban,&lt;br /&gt;tentang kenangan lekuk tubuh dan kecantikanmu,&lt;br /&gt;kini hanya sebuah kamar kosong,&lt;br /&gt;semua bendera masa lalu membakar fantasiku&lt;br /&gt;pada bukit-bukit keinginan&lt;br /&gt;menjadi matahari yang buta dan terasing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa maut datang dengan keagungannya,&lt;br /&gt;monumen-monumen ganjil dari semua jalan raya,&lt;br /&gt;karena hari esok adalah sampah dari pikiran,&lt;br /&gt;menjadi pembunuh atau yang terbunuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mengapa pisau tak bermakna,&lt;br /&gt;kekejaman tak terucapkan lewat kata-kata,&lt;br /&gt;hari-hari kemarin yang kugali&lt;br /&gt;kini menjadi pintu-pintu yang tertutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kupejamkan mata, angan-anganku&lt;br /&gt;bersayap&lt;br /&gt;menuju angkasa kelam&lt;br /&gt;sebuah ketakutan yang nyaris runtuh,&lt;br /&gt;siang hari seperti burung-burung di langit lepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukekalkan gairah dalam surga&lt;br /&gt;betapa semua kesedihan kini terkepung&lt;br /&gt;oleh lolong-lolong anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(W.Haryanto, 1997-1998)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-4424634534123871267?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/4424634534123871267/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/menafsirkan-sebuah-puisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4424634534123871267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4424634534123871267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/menafsirkan-sebuah-puisi.html' title='Menafsirkan sebuah Puisi'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-4511765650640005686</id><published>2010-12-19T01:18:00.001-08:00</published><updated>2010-12-19T01:18:44.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Biografi Prof. H. Budi Darma, M.A, Ph.D</title><content type='html'>Budi Darma lahir tanggal 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Karena pekerjaan ayahnya, Budi darma sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya, antara lain di bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Diana (lahir di Banyuwangi, 15 Mei 1969), Guritno (lahir di Banyuwangi, 4 Februari 1972), dan Hannato Widodo (lahir di Surabaya, 3 Juni 1974).Setamat SMA, Budi Darma meneruskan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1963. Pada tahun 1970---1971 ia mendapat beasiswa dari East West Centre untuk belajar ilmu budaya dasar (basic humanities) di Universitas Hawai, Honolulu, Amerika Serikat. Pada tahun 1975 meraih gelar M.A. dari Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, yang judul tesisnya adalah Tha Death and The Alive, dan tahun 1980 di universitas yang sama ia meraih gelar Ph.D. dengan judul disertasinya Character and Moral Jugment in Jane Austin’s Novel. Setelah tamat dari Jurusan Satra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, (1963) sampai sekarang, Budi Darma mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) (dahulu IKIP Surabaya). Selain sebagai dosen, Budi Darma juga pernah menjabat Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), dan Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Budi Darma juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Hasil karya Budi Darma berbentuk cerita pendek, novel, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Budi Darma dianggap memelopori penggunaan teknik kolase, yaitu teknik penempelan potongan iklan bioskop dan tiket pertunjukan dalam karya-karyanya, seperti Orang-Orang Bloomington dan Olenka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-4511765650640005686?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/4511765650640005686/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/biografi-prof-h-budi-darma-ma-phd.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4511765650640005686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/4511765650640005686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/biografi-prof-h-budi-darma-ma-phd.html' title='Biografi Prof. H. Budi Darma, M.A, Ph.D'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-3010680179218060533</id><published>2010-12-17T23:37:00.002-08:00</published><updated>2010-12-17T23:37:55.238-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Sastra'/><title type='text'>Fenomenologi</title><content type='html'>Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.&lt;br /&gt;Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728 - 1777), seorang filsuf Jerman. Dalam bukunya Neues Organon (1764). ditulisnya tentang ilmu yang tak nyata.&lt;br /&gt;Dalam pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami. G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl adalah dua tokoh penting dalam pengembangan pendekatan filosofis ini.&lt;br /&gt;Menurut the oxford english dictionary, yang dimaksud dengan fenomenologi adalah&lt;br /&gt;• the science of phenomena as distict from being (ontology)&lt;br /&gt;• division of any science which describes and classifies its phenomena&lt;br /&gt;Jadi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena yang dibedakan dari sesuatu yang sudah menjadi, atau disiplin, atau disiplin ilmu yang menjelaskan dan mengklasifikasikan fenomena, atau studi tentang fenomena. Dengan kata lain, fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan bagaimana penampakannya.&lt;br /&gt;Tujuan&lt;br /&gt;Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas.&lt;br /&gt;Sejarah fenomenologi&lt;br /&gt;Ahli matematika Jerman Edmund Husserl, dalam tulisannya yang berjudul Logical Investigations (1900) mengawali sejarah fenomenologi. Fenomenologi sebagai salah satu cabang filsafat, pertama kali dikembangkan di universitas-universtas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl, yang kemudian di lanjutkan oleh Martin Heidehher dan yang lainnya, seperti Jean Paul Sartre. Selanjutnya Sartre, Heidegger, dan Merleau-Ponty memasukkan ide-ide dasar fenomenologi dalam pandangan eksistensialisme. Adapun yang menjadi fokus dari eksistensialisme adalah eksplorasi kehidupan dunia mahluk sadar, atau jalan kehidupan subjek-subjek sadar.&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa fenomenologi tidak dikenal setidaknya sampai menjelang abad ke-20. Abad ke-18 menjadi awal digunakannya istilah fenomenologi sebagai nama teori tentang penampakan, yang menjadi dasar pengetahuan empiris (penampakan yang diterima secara inderawi). Istilah fenomenologi itu sendiri diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert, pengikut Christian Wolff. Sesudah itu, filosof Immanuel Kant mulai sesekali menggunakan istilah fenomenologi dalam tulisannya, seperti halnya Johann Gottlieb Fichte dan G.W.F.Hegel. Pada tahun 1889, Franz Brentano menggunakan fenomenologi untuk psikologi deskriptif. Dari sinilah awalnya Edmund Hesserl mengambil istilah fenomenologi untuk pemikirannya mengenai “kesengajaan”.&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh Fenomenologi&lt;br /&gt;1. Edmund Husserl (1859-1938)&lt;br /&gt;• Fenomenologi adalah ilmu yang fundamental dalam berfilsafat.&lt;br /&gt;• Fenomenologi adalah ilmu tentang hakikat dan bersifat a priori.&lt;br /&gt;• Bagi Husserl fenomena mencakup noumena (pengembangan dari pemikiran Kant).&lt;br /&gt;• Kesadaran lebih bersifat terbuka.&lt;br /&gt;• Pengamatan Husserl mengenai struktur intensionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yang inheren dalam kesadaran, yaitu (1) objektifikasi (2) identifikasi (3) korelasi (4) konstitusi.&lt;br /&gt;• Fenomenologi Husserl pada prinsipnya bercorak idealistik, karena menyerukan untuk kembali kepada sumber asli pada diri subjek dan kesadaran. Konsepsi Husserl tentang “aku transedental” dipahami sebagai subjek absolut, yang seluruh aktivitasnya adalah menciptakan dunia.&lt;br /&gt;• Pokok-pokok pemikiran Husserl:&lt;br /&gt;1.Fenomena adalah realitas sendiri yang tampak.&lt;br /&gt;2.Tidak ada batas antara subjek dengan realitas&lt;br /&gt;3.Kesadaran bersifat intensional.&lt;br /&gt;4.Terdapat interaksi antara tindakan kesadaran (neosis) dengan objek yang disadari&lt;br /&gt;  ( neoma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Martin Heidegger&lt;br /&gt;• Konsep “destuksi fenomenologis”, menyerukan agar kembali pada realitas yang sesungguhnya atau “gejala pertama dan yang sebenarnya”.&lt;br /&gt;• Cara kita terhubung dengan sesuatu itu, seperti palu yang memasukkan paku. Fenomenologi berfungsi sebagai alat pembuka berkenaan dengan situasi yang kita hadapi, tentu saja dalam konteks sosial.&lt;br /&gt;• Fenomenologi didefinisikan sebagai pengetahuan dan keterampilan membiarkan sesuatu seperti apa adanya.&lt;br /&gt;• Pemikirannya yang paling inovatif, adalah mencari “cara untuk menjadi” lebih penting ketimbang mempertanyakan apa yang ada di sekitar kita. Pemahaman mengenai “menjadi” didapatkan dengan fenomenologi.&lt;br /&gt;3. Jean Paul Satre&lt;br /&gt;• Kesadaran adalah kesadaran akan objek, hal ini sejalan dengan pemikiran Husserl. Dalam model kesengajaan versi Satre, pemain utama dari kesadaran adalah fenomena. Kejadian dalam fenomena adalah kesadaran dari objek. Sebatang pohon hanyalah satu fenomena dalam kesadaran, semua hal yang ada di dunia adalah fenomena, dan di balik sesuatu itu ada “sesuatu yang menjadi. Kesadaran adalah menyadari “sesuatu di balik demikian, “aku” bukanlah apa-apa, melainkan hanya sebuah bagian dari tindakan sadar, termasuk bebas untuk memilih.&lt;br /&gt;• Metode dapat dilihat dari gaya penulisan dalam deskripsi interpretatif mengenai tipe-tipe pengalaman dalam situasi yang relevan.&lt;br /&gt;4. Maurice Merleau Ponty&lt;br /&gt;• Berfokus pada “body image”, yakni pengalaman akan tubuh kita sendiri dan bagaimana pengalaman itu berpengaruh pada aktivitas yang kita lakukan.&lt;br /&gt;• Body image bukanlah bidang mental, juga bukan bidang fisik mekanis, melainkan sesuatu yang terikat tindakan, di mana ada penerimaan terhadap kehadiran orang lain di dalamnya. Ia membahas mengenai peranan perhatian dalam lapangan pengalaman, pengalaman tubuh, ruang dalam tubuh, gerakan tubuh, tubuh secara seksual, orang lain, dan karakteristik kebebasan.&lt;br /&gt;5. Max Scheler (1874-1928)&lt;br /&gt;• Menerapkan metode fenomenologi dalam penyelidikan hakikat teori pengenalan, etika, filsafat kebudayaan, keagamaan, dan nilai.&lt;br /&gt;• Secara skematis, pandangan Scheler mengenai fenomenologi dibedakan ke dalam tiga bagian, yakni:&lt;br /&gt;1.Penghayatan (erleben), atau pengalaman intuitif yang langsung menuju ke “yang diberikan”. Setiap manusia menghadapi sesuatu dengan aktif, bukan dalam bentuk penghayatan yang pasif.&lt;br /&gt;2.Perhatian kepada “apanya” (washiet, whatness, esensi), dengan tidak                                                                memperhatikansegi eksistensi dari sesuatu. Hasserl menyebut hal ini dengan “reduksi transedental”.&lt;br /&gt;3.Perhatian kepada hubungan satu sama lain (wesenszusammenhang) antar esensi. Hubungan ini bersifat a priori (diberikan) dalam institusi, sehingga terlepas dari kenyataan. Hubungan antar esensi ini dapat bersifat logis maupun non logis.&lt;br /&gt;• Berdasarkan pemahaman fenomenologi-nya, Scheler menggolongkan nilai ke dalam empat kelompok, yaitu:&lt;br /&gt;1.Nilai meterial, atau nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan. Misalnya kenikmatan yang bersifat lahiriah dan inderawi, seperti rasa enak, pahit, manis, dsb.&lt;br /&gt;2.Nilai vital, atau nilai yang menyangkut kesehatan. Misalnya perasaan lelah, segar, stress, dsb.&lt;br /&gt;3.Nilai rohani atau nilai estetis, seperti nilai benar dan salah. Nilai rohani ini biasanya berhubungan dengan pengetahuan murni atau pengetahuan yang dijalankan tanpa pamrih.&lt;br /&gt;4.Nilai kudus atau nilai yang menyangkut objek-objek absolut yang terdapat dalam bidang religius. Misalnya nilai kitab suci, utusan Tuhan, dosa, dsb.&lt;br /&gt;• Kemudian Scheler mengemukakan lima kriteria untuk menentukan hierarki dari nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah kriteria tersebut:&lt;br /&gt;1.Berdasarkan lamanya nilai itu dirasakan. Nilai kebahagian dipandang lebih tinggi daripada nilai kenikmatan.&lt;br /&gt;2.Berdasarkan dapat dibagi atau tidaknya suatu nilai. Misalnya barang seni akan dipandang lebih bernilai ketimbang makanan, karena barang seni tidak bisa dibagi-bagi.&lt;br /&gt;3.Berdasarkan ketergantungannya pada nilai yang lain. Sesuatu akan kembali tinggi bila ia tidak bergantung pada yang lain.&lt;br /&gt;4.Berdasarkan kepuasan yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;5.Berdasarkan pengalaman organisme subjek.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-3010680179218060533?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/3010680179218060533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/fenomenologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3010680179218060533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3010680179218060533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/fenomenologi.html' title='Fenomenologi'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-6948977927933952666</id><published>2010-12-17T23:37:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T23:37:25.909-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Teori Belajar Humanistik</title><content type='html'>Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. \proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.&lt;br /&gt; Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah :&lt;br /&gt;1. Proses pemerolehan informasi baru,&lt;br /&gt;2. Personalia informasi ini pada individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl Rogers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Arthur Combs (1912-1999)&lt;br /&gt;Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.&lt;br /&gt; Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.&lt;br /&gt; Combs memberikan lukisan persepsi dir dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Maslow&lt;br /&gt;Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :&lt;br /&gt;(1) suatu usaha yang positif untuk berkembang&lt;br /&gt;(2) kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.&lt;br /&gt;Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.&lt;br /&gt;Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).&lt;br /&gt; Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Carl Rogers&lt;br /&gt;Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.&lt;br /&gt; Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun 1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy.&lt;br /&gt;Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:&lt;br /&gt;1. Kognitif (kebermaknaan)&lt;br /&gt;2. experiential ( pengalaman atau signifikansi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru menghubungan pengetahuan akademik ke  dalam pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek yang membekas pada siswa.&lt;br /&gt; Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.&lt;br /&gt;2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa&lt;br /&gt;3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.&lt;br /&gt;4. Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah :&lt;br /&gt;a. Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.&lt;br /&gt;b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.&lt;br /&gt;c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.&lt;br /&gt;d. Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.&lt;br /&gt;e. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.&lt;br /&gt;f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.&lt;br /&gt;g. Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.&lt;br /&gt;h. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.&lt;br /&gt;i. Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.&lt;br /&gt;j. Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.&lt;br /&gt;Salah satu model pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai kemampuan para guru untuk menciptakan kondidi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan umpan balik positif.  Ciri-ciri guru yang fasilitatif adalah :&lt;br /&gt;1. Merespon perasaan siswa&lt;br /&gt;2. Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan interaksi yang sudah dirancang&lt;br /&gt;3. Berdialog dan berdiskusi dengan siswa&lt;br /&gt;4. Menghargai siswa&lt;br /&gt;5. Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan&lt;br /&gt;6. Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa (penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)&lt;br /&gt;7. Tersenyum pada siswa&lt;br /&gt;Dari penelitian itu diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi Teori Belajar Humanistik&lt;br /&gt;a. Guru Sebagai Fasilitator&lt;br /&gt; Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):&lt;br /&gt;1. Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas&lt;br /&gt;2. Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.&lt;br /&gt;3. Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.&lt;br /&gt;4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.&lt;br /&gt;5. Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.&lt;br /&gt;6. Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok&lt;br /&gt;7. Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.&lt;br /&gt;8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa&lt;br /&gt;9. Dia harus tetap waspada terhadap ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama belajar&lt;br /&gt;10. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt; Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.&lt;br /&gt; Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :&lt;br /&gt;1. Merumuskan tujuan belajar yang jelas&lt;br /&gt;2. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.&lt;br /&gt;3. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri&lt;br /&gt;4. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran secara mandiri&lt;br /&gt;5. Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;6. Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.&lt;br /&gt;7. Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai dengan kecepatannya&lt;br /&gt;8. Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan perolehan prestasi siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;1. Psikologi Belajar: Dr. Mulyati, M.Pd&lt;br /&gt;2. Psikologi Belajar: Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Widodo Supriyono&lt;br /&gt;3. Psikologi Pendidikan: Sugihartono,dkk&lt;br /&gt;4. Psikologi Pendidikan: Rochman Natawidjaya dan Moein Moesa&lt;br /&gt;5. Landasan Kependidikan: Prof. Dr. Made Pidarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-6948977927933952666?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/6948977927933952666/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/teori-belajar-humanistik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6948977927933952666'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6948977927933952666'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/teori-belajar-humanistik.html' title='Teori Belajar Humanistik'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-6252001194445415386</id><published>2010-12-17T23:31:00.000-08:00</published><updated>2010-12-17T23:31:25.446-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Sastra'/><title type='text'>Hermeutika dan Interpretasi Sastra</title><content type='html'>Pengantar&lt;br /&gt;Kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpreatasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra--terutama dalam prosesnya--pasti melibatkan peranan konsep hermeneutika. Oleh karena itu, hermeneutika menjadi hal yang prinsip dan tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutika perlu diperbincangkan secara komprehensif guna memperleh pemahaman yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan ini, mula-mula perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu "menembus kedalaman makna" yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, interpreter (si penafsir) mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil-tidaknya interpreter untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya hermeneutika adalah penafsiran terhadap kitab-kitab suci. Namun, dalam kurun berikutnya, lingkupnya berkembang dan mencakup masalah penafsiran secara menyeluruh (Eagleton, 1983: 66). Dalam perkembangan hermeneutika, berbagai pandangan terutama datang dari para filsuf yang menaruh perhatian pada soal hermeneutika. Ada beberapa tokoh yang dapat disebutkan di sini, di antaranya: F.D.E. Schleirmacher, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger, Husserl, Emilio Betti, Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, dan Jacques Derrida. Pada prinsipnya, di antara mereka ada beberapa kesamaan pemikiran yang dimiliki, terutama dalam hal bagimana hermeneutika jika dikaitkan dengan studi sastra khususnya dan ilmu-ilmu humaniora dan sosial pada umumnya. Di samping itu, terdapat pula perbedaan dalam cara pandang dan aplikasinya. Terjadinya perbedaan tersebut pada dasarnya karena mereka menitik-beratkan pada hal yang berbeda atau beranjak dari titik tolak yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itulah berbagai pemikiran dan cara aplikasi hermeneutika tersebut perlu dibahas secara khusus. Dalam hal ini ada berbagai pemikiran dari empat pemikir yang akan digunakan untuk mengkajinya. Beberapa pemikir termaksud adalah Andre Lefevere (1977), Terry Eagleton (1983), M.J. Valdes (1987), dan G.B. Madison (1988).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari empat pemikir itulah pembahasan ini akan berupaya mengetengahkan kembali hasil pemahaman secara komprehensif tentang hermeneutika. Di samping itu, juga diupayakan menjelaskan pembahasan apakah hermeneutika dalam interpretasi sastra sebagai konsep metodologis atau ontologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Dasar Kemunculan Hermeneutika&lt;br /&gt;Hermeneutika sebenarnya merupakan topik lama, namun kini muncul kembali sebagai sesuatu yang baru dan menarik, apalagi dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sastra sebagai bagian ilmu humaniora merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan konsep hermeneutika ini. Dengan demikian, hermeneutika seakan-akan bangkit kembali dari masa lalu dan dianggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami substansi hermeneutika, sebenarnya dapat dikembalikan kepada sejarah filsafat dan teologi, karena hermeneutika tampak dikembangkan dalam kedua disiplin tersebut. Selanjutnya, perkembangan pemikiran tentang hermeneutika secara lambat laun merebak ke berbagai area disiplin lainnya, termasuk juga pada disiplin sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ditelusuri perihal sejarah perkembangan hermeneutika, khususnya hermeneutika teks-teks, pada awalnya tampak dalam sejarah teologi, dan lebih umum lagi dalam sejarah permikiran teologis Yudio-Krisitiani. Lefevere (1977: 46) menyebutnya sebagai sumber-sumber asli, yakni yang bersandarkan pada penafsiran dan khotbah Bibel agama Protestan (bdk. Eagleton, 1983: 66). Secara lebih umum, hermeneutika di masa lampau memiliki arti sebagai sejumlah pedoman untuk pemahaman teks-teks yang bersifat otoritatif, seperti dogma dan kitab suci. Dalam konteks ini, dapatlah diungkapkan bahwa herme-neutika tidak lain adalah menafsirkan berdasarkan pemahaman yang sangat mendalam. Dengan perkataan lain, menggunakan sesuatu yang "gelap" ke sesuatu yang "terang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, kemunculan hermeneutika dalam ilmu-ilmu sosial merupakan perkembangan yang menarik. Berbagai anggapan muncul mewarnai pertanyaan mengapa hermeneutika berkembang dalam ilmu-ilmu sosial. Sehubungan dengan itu, Eagleton (1983: 60) melihat bahwa kemunculannya itu lebih dilatarbelakangi oleh adanya krisis ideologi di Eropa, yang pada masa itu ilmu semakin menjadi positivisme yang mandul karena subjektivisme yang sulit dipertahankan. Konsekuensinya, muncullah beberapa tokoh yang mencoba menawarkan alternatif, di antaranya adalah Husserl. Ia menolah sikap yang terlalu ilmiah (Eagleton, 1983: 60-61).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan itu, Madison (1988: 40) juga mengatakan bahwa masalah status epistemologi ilmu-ilmu sosial atau kemanusiaan menjadi bahan pembahasan secara terus-menerus selama beberapa dekade. Namun, yang paling prinsip diungkapkannya di sini adalah bagaimana sumbangan Husserl tentang "penjelasan" dan "pemahaman" dalam hermeneutika. Dua konsep ini kemudian dipertegas oleh M.J. Valdes (1987: 56-57) dengan mengemukakan teori relasional tentang sastra dan menolak validitas dari semua klaim terhadap berbagai interpretasi yang definitif. Mereka memandang pentingnya subjek dalam posisi respons, sehingga karya sastra klasik tidak diinterpreasi secara definitif melainkan terus-menerus. Karya-karya klasik seperti karya Aristoteles, Dante, Shakespeare, Goethe, Keats, Proust, dan sebagainya, tidak cukup diinterpretasi sekali, tetapi perlu diinterpretasi secara berkesinambungan dari generasi ke generasi.,p&gt; Hermeneutika dikatakan Dilthey diterapkan pada objek geisteswissen-schaften (ilmu-ilmu budaya), yang menganjurkan metode khusus yaitu pemahaman (verstehen)(1). Perlu dikemukakan bahwa konsep "memahami" bukanlah menjelaskan secara kausal, tetapi lebih pada membawa diri sendiri ke dalam suatu pengalaman hidup yang jauh, sebagaimana pengalamaan pengobjektifan diri dalam dokumen, teks (kenangan tertulis), dan tapak-tapak kehidupan batin yang lain, serta pandangan-pandangan dunia (welstancauunganen) (Madison, 1988: 41). Dalam dunia kehidupan sosial-budaya, para pelaku tidak bertindak menurut pola hubungan subjek-objek, tetapi berbicara dalam language games (permainan bahasa) yang melibatkan unsur kognitif, emotif, dan visional manusia. Keseluruhan unsur tersebut bertindak dalam kerangka tindakan komunikatif, yaitu tindakan untuk mencapai pemahaman yang timbal balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Lefevere tentang Hermeneutika dalam Interpretasi Sastra&lt;br /&gt;Lefevere (1977: 46-47) memandang bahwa ada tiga varian hermeneutika yang pokok. Dari ketiga varian tersebut, tidak satu pun dapat melepaskan diri sepenuhnya dari sumber asalnya, yakni penafsiran terhadap kitab-kitab suci. Konsekuensinya, gaya tulisan menjadi berbelit-belit dan hampir tidak pernah jelas, dan ini menjadi ciri khas berbagai tulisan hermeneutika. Permainan kata yang bertele-tele dan ungkapan khusus turut membuat hermeneutika membosankan. Kenyataan ini dapat mengaburkan substansi hermeneutika yang sesungguhnya sangat bernilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang menyadari bahwa tulisan yang hermeneutis kebanyakan dibuat dalam gaya seperti itu, orang akan sedikit memahami mengapa dialog nyata antar para penganut aliran hermeneutika dan positivis logis begitu sulit untuk diprakarsai. Kendati demikian, dalam kehidupan akademik saat ini, tentunya asumsi-sumsi itu tidak relevan dengan perma-inan kata, yang di dalamnya kita turut ambil bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga varian yang dimaksudkan Lefevere adalah: pertama, hermeneutika tradisional (romantik); kedua, hermeneutika dialektik; dan ketiga, hermeneutika ontologis. Perlu dikemukakan, di satu sisi, ketiga varian itu sepakat dengan pendefinisian sastra sebagai objektivisasi jiwa manusia, yang pada dasarnya bisa diamati, dijelaskan, dan dipahami (verstehen). Di sisi lain, ketiga varian hermeneutika itu berbeda dalam menginterpretasi verstehen-nya. Untuk itu, selanjutnya perlu dijelaskan bagaimana ketiga varian hermeneutika itu dalam kerangka kajian sastra, mulai hermeneutika tradisional, dialektik, hingga ontologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika Tradisional&lt;br /&gt;Refleksi kritis mengenai hermeneutika mula-mula dirintis oleh Friedrich Schleiermacher, kemudian dilanjutkan Wilhelm Dilthey. Hermeneutika yang mereka kembangkan kemudian dikenal dengan "hermeneutika tradisional" atau "romantik". Mereka berpandangan, proses versetehen mental melalui suatu pemikiran yang aktif, merespons pesan dari pikiran yang lain dengan bentuk-bentuk yang berisikan makna tertentu (Lefevere, 1997: 47). Pada konteks ini dapat diketahui bahwa dalam menafsirkan teks, Schleiermacher lebih menekankan pada "pemahaman pengalaman pengarang" atau bersifat psikologis, sedangkan Dilthey menekankan pada "ekspresi kehidupan batin" atau makna peristiwa-peristiwa sejarah. Apabila dicermati, keduanya dapat dikatakan memahami hermeneutika sebagai penafsiran reproduktif. Namun, pandangan mereka ini diragukan oleh Lefevere (1977: 47) karena dipandang sangat sulit dimengerti bagaimana proses ini dapat diuji secara inter-subjektif. Keraguannya ini agaknya didukung oleh pandangan Valdes (1987: 58) yang menganggap proses seperti itu serupa dengan teori histori yang didasarkan pada penjelasan teks menurut konteks pada waktu teks tersebut disusun dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diapresisasi secara lebih jauh, Lefevere tampak juga ingin menyatakan adanya cara-cara pemahaman yang berbeda pada ilmu-ilmu alam (naturwissen schaften). Baginya, ilmu-ilmu alam lebih mendekati objeknya dalam erklaren (2), dan ilmu-ilmu sosial serta humanistis (geisteswissenschaften) lebih mendekati objeknya dengan versetehen. Selain itu, perlu dikatakan bahwa cara kerja ilmu-ilmu alam lebih banyak menggunakan positivisme logis dan kurang menggunakan hermeneutika. Cara semacam itu tentu saja sangat sulit diterapkan pada ilmu-ilmu sosial dan humaniora (1977: 48), apalagi secara spesifik dalam karya sastra karena menurut Eagleton (1983) "dunia" karya sastra bukanlah suatu kenyataan yang objektif, tetapi Lebenswelt (bahasa Jerman), yakni kenyataan seperti yang sebenarnya tersusun dan dialami oleh seorang subjek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lefevere, varian hermeneutika tradisional ini juga menganut pemahaman yang salah tentang penciptaan. Varian ini agaknya cenderung mengabaikan kenyataan bahwa antara pengamat dan penafsir (pembaca) tidak akan terjadi penafsiran yang sama karena pengalaman atau latar belakang masing-masing tidak pernah sama. Dengan demikian, teranglah di sini bahwa varian ini tidak mempertimbangkan audience (pembacanya). Peran subjek pembaca sebagai pemberi respon dan makna diabaikan (1977: 47-48); Eagleton, 1983: 59; Valdes, 1987: 57; Madison, 1988: 41). Yang jelas, varian ini terlalu berasumsi bahwa semua pembaca memiliki pengetahuan dan penafsiran yang sama terhadap apa yang diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemaham yang ditampakkan dalam varian hermeneutika tradisional, sebagaimana diungkapkan oleh Lefevere, karena berpegang pada cara berpikir kaum positivis yang menganggap hermeneutika (khususnya versetehen) hanya "menghidupkan kembali" (mereproduksi). Sejalan dengan Betti, Lefevere membenarkan bahwa interpretasi tidak mungkin identik dengan penghidupan kembali, melainkan identik dengan rekonstruksi struktur-struktur yang sudah objektif, dan perbedaan interpretasi merupakan suatu hal yang dapat terjadi. Maksudnya, penafsir dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim menurut pesan yang dmunculkan oleh objek tersebut kepadanya (Lefevere, 1977: 49). Hal ini menurut Lefevere merupakan soal penting yang harus dilakukan dalam penafsiran teks sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika Dialektik&lt;br /&gt;Varian hermeneutika dialektik ini sebenarnya dirumuskan oleh Karl Otto Apel. Ia mendefinisikan versetehen tingkah laku manusia sebagai suatu yang dipertentangkan dengan penjelasan berbagai kejadian alam. Apel mengatakan bahwa interpretasi tingkah laku harus dapat dipahami dan diverifikasi secara intersubjektif dalam konteks kehidupan yang merupakan permainan bahasa (Lefevere, 1977: 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan hal itu, lebih jauh Lefevere (1977: 49) menilai bahwa secara keseluruhan hermeneutika dialektik yang dirumuskan Apel sebenarnya cenderung mengintegrasikan berbagai komponen yang tidak berhubungan dengan hermeneutika itu sendiri secara tradisional. Apel tampakanya mencoba memadukan antara penjelasan (erklaren) dan pemahaman (verstehen); keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat memahami sesuatu (verstehen) tanpa pengetahuan faktual secara potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, pandangan Apel tersebut sebenarnya mengandung dualitas. Di satu sisi, tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial. Di sisi lain, sekaligus tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial tanpa pemahaman intersubjektif. Dalam hal ini teranglah bahwa "penjelasan" dan pemahaman" dibutuhkan, baik pada ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (geistewissenschaften) maupun ilmu-ilmu alam (naturwissen-shacften) (Lefevere, 1977: 49). Pandangan Apel itu dapat dinilai sebagai pikiran modern, karena dia mencoa mempertemukan kedua kutub tersebut sebagaimana yang juga diakui oleh Madison (1988: 40). Secara umum, soal ini dipertimbangkan sebagai masalah dalam filsafat ilmu (filsafat pengetahuan). Masalah inilah yang banyak dikupas secara panjang lebar oleh Madison. Dia mengungkapkan bagaimana pandangan Apel dan sumbangan Husserl. Pada intinya, Madison menyatakan bahwa penjelasan bukanlah sesuatu yang berlawanan dengan pemahaman (1988: 47-48). Selanjutnya, dalam sudut pandang hermeneutika, Madison mengatakan bahwa penjelasan bukanlah suatu yang secara murni atau semata-mata berlawanan dengan pemahaman, dan bukan pula merupakan suatu yang bisa menggantikan pemahaman secara keseluruhan. Penjelasan lebih merupakan tatanan penting dan sah dalam pemahaman yang tujuan akhirnya adalah pemahaman diri (Madison, 1988: 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti varian hermeneutika dialektik tersebut-yang tidak mempertentangkan "penjelasan" dengan "pemahaman"-sejalan dengan pandangan Valdes. Dalam pandangannya, bagaimana ia menganggap penting "penjelasan" dan "pemahaman" untuk menjelaskan prinsip interpretasi dalam beberapa teori utamanya, yakni teori historis, formalis, hermeneutika filosofis, dan poststrukturalis atau dekonstruksi (1987: 57-59).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam varian hermeneutika dialektik ini, definisi verstehen yang dikemukakan Apel mengimplikasikan pengertian bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan ilmuwan. Jika ilmuwan mencoba memahami fenomena tertentu, ia akan menghubungkan dengan latar belakang aturan-atuaran yang diverifikasi secara intersubjektif sebagaimana yang dikodifikasi pada hukum-hukum dan teori-teori. Pengalaman laboratorium pun turut mempengaruhi ilmuwan dalam memahami apa saja yang tengah ditelitinya. Dengan demikian, jelaslah bahwa verstehen pada dasarnya berfungsi untuk memahami objek kajiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan itu, Gadamer (Lefevere, 1977: 50) mengatakan bahwa semua yang mencirikan situasi penetapan dan pemahaman dalam suatu percakapan memerlukan hermeneutika. Begitu pun ketika dilakukan pemahaman terhadap teks. Namun, dalam hal ini menarik jika mencermati pandangan Lefevere. Ia menyatakan bahwa suatu pemahaman yang hanya berdasar pada analogi-analogi dan metafor-metafor dapat menimbulkan kesenjangan. Atas dasar itulah Lefevere berpandangan bahwa verstehen tidak dapat dipakai sebagai metode untuk mendekati sastra secara tuntas. Pandangannya ini dapat dimaklumi, mengingat dalam memahami sastra, pemahaman tidak dapat dilakukan hanya dengan berpijak pada teks semata, tetapi seharusnya juga konteks dan subjek penganalisisnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa realitas teks adalah realitas yang sangat kompleks yang tidak cukup dipahami dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika Ontologis&lt;br /&gt;Varian yang terakhir adalah hermeneutika ontologis. Aliran hermeneutika ini digagas oleh Hans-Georg Gadamer. Dalam mengemukakan deskripsinya, ia bertolak dari pemikiran filosof Martin Heidegger. Sebagai penulis kontemporer dalam bidang hermeneutika yang sangat terkemuka, Gadamer tidak lagi memandang konsep verstehen sebagai kosep metodologis, melainkan memandang verstehen sebagai pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verstehen, menurut Gadamer, merupakan jalan keberadaan kehidupan manusia itu sendiri yang asli. Varian hermeneutika ini menganggap dirinya bebas dari hambatan-hambatan konsep ilmiah yang bersifar ontologis (Lefevere, 1977: 50). Dalam hal ini, agaknya Gadamer menolak konsep hemeneutika sebagi metode. Kendatipun menurutnya hermeneutika adalah pemahaman, dia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sudut pandang Gadamer, masalah hermeneutika merupakan ma-salah aplikasi yang berhenti pada semua verstehen. Kendatipun memperlihatkan kemajuan pandang yang luar biasa, pandangan Gadamer juga masih tidak lepas dari kritikan yang diajukan Lefevere. Lefevere (1977: 50) menganggap bahwa varian ketiga ini masih mencampuradukkan kritik dengan interpretasi. Dalam hal ini Lefevere sepertinya menganggap perlu menentukan batas kritik dengan interpretasi. Bagi Lefevere, dalam varian ini tampak Gadamer lebih mementingkan "rekreasi". Maksudnya, ia tidak memandang proses pemahaman makna terhadap teks itu sebagai jalan "reproduktif", tetapi sebagai jalan "produktif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda halnya dengan apresiasi Lefevere, Valdes justru melihat bahwa apa yang dikembangkan Gadamer dalam Hermenetika filosofis itu dianggap menjadi basis kritik sastra yang lebih memuaskan. Dialektika dari hermeneutika filosofis dipandang merupakan inti yang menyatukan semua kelompok teori yang dilontarkan oleh para pemikir yang berbeda-beda, seperti Gadamer, Habermas, dan Ricoeur (1987: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep hermeneutika ontologis Gadamer, yang bertitik tolak pada teks, didukung sepenuhnya dalam kata-kata Ricoeur. Ia menyatakan bahwa teks merupakan sesuatu yang bernilai, jauh melebihi sebuah kasus tertentu dari komunikasi intersubjektif. Teks memainkan sebuah karakteristik yang fundamental dari satu-satunya historisitas pengalaman manusia, yakni teks merupakan komunikasi dalam dan melalui jarak (Valdes, 1987: 61-62; Madison, 1988: 45). Oleh karena itu, tampak di sini Gadamer mengikuti filsafat Heidegger yang berusaha mencari hubungan dengan fenomena. Dengan demikian, dalam varian ini Gadamer mengembalikan peran subjek pembaca selaku pemberi makna-yang hal ini dinaifkan dalam hermeneutika tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika dan Interpretasi Sastra&lt;br /&gt;Hermeneutika yang berkembang dalam interpretasi sastra sangat berkait dengan perkembangan pemikiran hermeneutika, terutama dalam sejarah filsafat dan teologi karena pemikiran hermeneutika mula-mula muncul dalam dua bidang tersebut, sebagaimana dikemukakan. Untuk memahami hermeneutika dalam interpretasi sastra, memang diperlukan pemahaman sejarah hermeneutika, terutama megenai tiga varian hermeneutika seperti yang dikemukakan Lefevere (hermeneutika tradisional, dialektik, dan ontologis). Yang jelas, dengan pemahaman tiga varian hermeneutika tersebut, niscaya akan lebih memungkinkan adanya pemahaman yang memadai tentang hermeneutika dalam sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, hermeneutika merupakan salah satu model pamahaman yang paling representatif dalam studi sastra, karena hakikat studi sastra itu sendiri sebenarnya tidak dari interpretasi teks sastra berdasar pemahaman yang mendalam. Namun, sebagaimana dikatakan Lefevere (1977: 51), hermeneutika tidak mempunyai status khusus dan bukan merupakan model pemahaman yang secara khusus begitu saja diterapkan dalam sastra, karena sastra merupakan objektivitas jiwa manusia. Beranjak dari apa yang dikatakan Lefevere jelaslah bahwa sesungguhnya diperlukan pengkhususan jika hermeneutika mau diterapkan dalam sastra, mengingat objek studi sastra itu adalah karya estetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan teoriteori sastra kontemporer juga terlihat bahwa ada kecenderungan yang kuat untuk meletakkan pentingnya peran subjek pembaca (audience) dalam menginterpretasi makna teks. Kecenderungan itu sangat kuat tampak pada hermeneutika ontologis yang dikembangkan oleh Gadamer, yang pemahamannya didasarkan pada basis filsafat fenomenologi Heidegger, Valdes (1987: 59-63) menyebut hal ini sebagai hermeneutika fenomenologi, dan terkait dengan nama-nama tokoh Heidegger, Gadamer, dan Ricoeur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, jika kita menerima hermeneutika sebagai sebuah teori interpretasi reflektif, hermenetuika fenomenologis merupakan sebuah teori interpretasi reflektif yang didasarkan pada perkiraan filosofis fenomenologis. Dasar dari hermeneutika fenomenologis adalah mempertanyakan hubungan subjek-objek dan dari pertanyaan inilah dapat diamati bahwa ide dari objektivitas perkiraan merupakan sebuah hubungan yang mencakup objek yang tersembunyi. Hubungan ini bersifat mendasar dan fundamental (being-in-the-world) (Eagleton, 1983: 59-60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan tersebut, perlu pula disebut seorang tokoh bernama Paul Rocoeur. Ia dalah seorang tokoh setelah Gadamer yang dalam perkembangan mutakhir banyak mengembangkan hermeneutika dalam bidang sastra dan meneruskan pemikiran filosofi fenomenologis. Menariknya, dalam hermeneutika fenomenologis, ia menyatakan bahwa setiap pertanyaan yang dipertanyakan yang berkenaan dengan teks yang akan diinterpretasi adalah sebuah pertanyaan tentang arti dan makna teks (Valdes, 1987: 60). Arti dan makna teks itu diperoleh dari upaya pencarian dalam teks berdasarkan bentuk, sejarah, pengalaman membaca, dan self-reflection dari pelaku interpretasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, pernyataan Ricoeur tersebut tampak mengarah pada suatu pandangan bahwa interpretasi itu pada dasrnya untuk mengeksplikasi jenis being-in-the-world (Dasein) yang terungkap dalam dan melalui teks. Ia juga menegaskan bahwa pemahaman yang paling baik akan terjadi manakala interpreter berdiri pada self-understanding. Bagi Ricoeur, membaca sastra melibatkan pembaca dalam aktivitas refigurasi dunia, dan sebagai konsekuensi dari aktivitas ini, berbagai pertanyaan moral, filosofis, dan estetis tentang dunia tindakan menjadi pertanyaan yang harus dijawab (Valdes, 1987: 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada satu hal prinsip lagi yang perlu diperhatikan sehubungan dengan pemahaman-khususnya dalam pemahaman terhadap teks sastra-adalah gagasan "lingkaran hermeneutika" yang dicetuskan oleh Dilthey dan yang diterima oleh Gadamer. Dalam studi sastra, gerak melingkar dari pemahaman ini amat penting karena gagasan ini menganggap bahwa untuk memahami objek dibatasi oleh konteks-konteks. Misalnya, untuk memahami bagian-bagian harus dalam konteks keseluruhan dan sebaliknya, dalam memahami keseluruhan harus memahami bagian per bagian. Dengan demikian, pemahaman ini berbentuk lingkaran. Dengan perkataan lain, untuk memahami suatu objek, pembaca harus memiliki suatu pra-paham, kemudian pra-paham itu perlu disadari lebih lanjut lewat makna objek yang diberikan. Pra-paham yang dimiliki untuk memahami objek tersebut bukanlah suatu penjelasan, melainkan suatu syarat bagi kemungkinan pemahaman. Lingkaran pemahaman ini merupakan "lingkaran produktif." Maksudnya, pemahaman yang dicapai pada masa kini, di masa depan akan menjadi pra-paham baru pada taraf yang lebih tinggi karena adanya pengayaan proses kognitif. Oleh karena itulah penafsiran terhadap teks dalam studi sastra pada prinsipnya terjadi dalam prinsip yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Keberadaan konsep hermeneutika sangat signifikan dalam interpretasi sastra. Dikatakan demikian karena hermeneutika memberikan model pemahaman -dan cara pemaknaan-yang sangat mendalam dan memacu interpreter pada pemahaman yang substansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Lefevere bahwa hermeneutika tidak dapat dipakai sebagai dasar ilmiah studi sastra atau sebagai metode pemahaman teks sastra yang utuh, sebenarnya cukup beralasan karena dalam kenyataannya sastra membutuhkan pemahaman yang kompleks-yang berkaitan dengan teks, konteks, dan kualitas pembaca (interpreter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga varian hermeneutika (tradisional, dialektik, dan ontologis), masing-masing memiliki kelemahan. Dalam hubungan ini, sebetulnya yang terpenting bagi interpreter adalah bagaimana hermeneutika itu dapat diterapkan secara kritis agar tidak ketinggalan zaman. Dalam konteks ini, barangkali interpreter perlu menyadari bahwa sebuah pemahaman dan interpretasi teks pada dasarnya bersifat dinamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah interpretasi dalam teks sastra bukanlah merupakan interpretasi yang bersifat definitif, melainkan perlu dilakukan terus-menerus, karena interpretasi terhadap teks itu sebenarnya tidak pernah tuntas dan selesai. Dengan demikian, setiap teks sastra senantiasa terbuka untuk diinterpretasi terus-menerus. Proses pemahaman dan interpretasi teks bukanlah merupakan suatu upaya menghidupkan kembali atau reproduksi, melainkan upaya rekreatif dan produktif. Konsekuensinya, maka peran subjek sangat menentukan dalam interpretasi teks sebagai pemberi makna. Oleh karena itu, kiranya penting menyadari bahwa interpreter harus dapat membawa aktualitas kehidupannya sendiri secara intim menurut pesan yang dimunculkan oleh objek tersebut kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, dapatlah dinyatakan bahwa hermeneutika memang dapat diterapkan dalam interpretasi sastra. Dalam interpretasi sastra, hermeneutika tidak lagi hanya diletakkan dalam kerangka metodologis, tetapi ia sudah mengikuti pemikiran hermeneutika mutakhir yang berada dalam kerangka ontologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Istilah verstehen diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati produk-produk budaya, yakni menemukan dan memahami makna di dalamnya yang dapat dilakukan dengan menempatkannya dalam konteks.&lt;br /&gt;    Istilah erklaren ini mula-mula juga diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati objek ilmu-ilmu alam, yakni menjelaskan suatu kejadian menurut penyebabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Eagleton, T. 1983. Literary Theory: An Introduction. London: Basil Blackwell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lefevere, A. 1977. Literary Knowledge: A Polemical and Programmatic Essay on Its Nature, Growth, Relevance and Transmition. Amsterdam: Van Gorcum, Assen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madison, G.B. 1988. The Hermeneutics of Postmodernity: Figures and Themes. Bloomington and Indianapolis: Indiana University Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valdes, M.J. 1987. Phenomenological Hermeneutical Hermeneutics and the Study of Literature. London: University of Toronto Press.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-6252001194445415386?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/6252001194445415386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/hermeutika-dan-interpretasi-sastra.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6252001194445415386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6252001194445415386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/hermeutika-dan-interpretasi-sastra.html' title='Hermeutika dan Interpretasi Sastra'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-242868717843293832</id><published>2010-12-17T23:28:00.001-08:00</published><updated>2010-12-17T23:28:40.205-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Penggunaaan Pendekatan Pragmatik pada Novel Pengakuan Pariyem</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menganalisis karya sastra berdasarkan teori dan kritik sastra, hendaknya menganalisis karya sastra dengan tidak hanya melihat dari satu norma saja, jangan subjektif melainkan harus objektif dan tidak memihak, mestilah ada pertimbangan baik buruk karya sastra berdasarkan kenyataannya, sehingga, dapat menunjukkan hal-hal yang baru pada karya sastra yang dikritik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam menganalisis suatu karya sastra sehingga sesuai dengan teori dan kritik sastra, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendekatan Mimetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendekatan Objektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendekatan Ekspresif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pendekatan Pragmatik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di makalah ini kami mencoba untuk menganalisis suatu karya sastra dengan menggunakan satu pendekatan saja, yaitu Pendekatan Pragmatik. Adapun karya yang akan kami analisis adalah Prosa Lirik Pengakuan Pariyem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui, pendekatan pragmatik adalah pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sesuatu yang dibangun untuk mencapai efek-efek tertentu pada audience (pembaca atau pendengar), baik berupa efek kesenangan estetik ataupun ajaran/pendidikan maupun efek-efek yang lain. Pendekatan ini cenderung menilai karya sastra berdasarkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan tersebut. Selain itu, pendekatan ini menekankan strategi estetik untuk menarik dan mempengaruhi tanggaan-tanggapan pembacanya kepada masalah yang dikemukakan dalam karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditilik dari pendekatan pragmatik, maka karya sastra Prosa Lirik Pengakuan Pariyem akan memiliki citra yang berbeda-beda dari tiap-tiap pembaca. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pandangan antara pembacasatu dan pembaca lain, adakalanya pembaca memandang dari sudut estetika. Para pembaca yang memandang karya Prosa Lirik Pengakuan Pariyem dari sudut pandang ini akan mengutarakan pendapatnya secara objektif dan mengacu pada interpretasinya sendiri sehingga terkadang akan muncul pendapat bahwa karya sastra Prosa Lirik Pengakuan Pariyem ini adalah suatu karya satra yang indah, diihat dari struktur penyampaian atau penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan jika pembaca itu melihat karya sastra Prosa Lirik Pengakuan Pariyem ini berdasarkan pelajran/pendidikan, apa yang dia (pembaca) terima, maka pembaca akan cenderung menganggap karya ini adalah karya sastra yang kurang baik, karena adanya penyimpangan nilai norma/moral yang ada di masyarakat, misal: Pariyem yang dengan mudah memberikan kesuciannya kepada lelaki yang bukan suaminya secara sah. Hal ini disebabkan latar kebudayaan yang menjadi setting dalam karya ini, yaitu kebudayaan jawa yang melarang keras perbuatan seperti apa yang telah Pariyem itu lakukan, akan tetapi tokoh utama seakan tidak mengindahkan norma dan hukum dari kebudayaan yang ada itu. hal ini juga yang menyebabkan karya Prosa Lirik Pengakuan Pariyem tidak memperoleh citra baik dari pembaca yang melihat karya ini dari sudut pandang pendidikan/edukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, pandangan-pandangan pembaca ini seharusnya tidak menjatuhkan karya sastra Prosa Lirik Pengakuan Pariyem, melainkan makin memperkaya pandangan kita terhadap suatu karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari struktur penulisannya yang menggunakan bentuk prosa lirik membuat para pembaca susah untuk menafsirkannya, hal ini juga membuat pembaca menafsirkan karya ini dengan beragam. Selain itu, penggunaan kosakata dari bahasa tertentu (bahasa jawa) membuat para pembaca yang bukan orang jawa asli merasa kesulitan untuk mengerti apa yang dimaksud oleh penulis. Namun anehnya, beberapa orang (kritikus) menganggap bahwa kesuliatn dalam memahami karya ini merupakan suatu keistimewaan atau keindahan dari karya sastra Prosa Lirik Pengakuan Pariyem tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Prosa Lirik Pengakuan Pariyem jika dianalisis atau ditinjau dari segi pendekatan pragmatik, karya ini akan menciptakan persepsi yang beragam. Oleh karena itu, dala menilai suatu karya sastra kita tidak dapat menggunakan pendekatan pragmatik saja, akan tetapi harus juga menggunakan pendekatan yang lain, sehingga, akan dapat menghasilkan analisis yang sempurna (bagus).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-242868717843293832?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/242868717843293832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penggunaaan-pendekatan-pragmatik-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/242868717843293832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/242868717843293832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penggunaaan-pendekatan-pragmatik-pada.html' title='Penggunaaan Pendekatan Pragmatik pada Novel Pengakuan Pariyem'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-2821717227836772527</id><published>2010-12-17T23:25:00.001-08:00</published><updated>2010-12-17T23:25:44.252-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Penerapan Teori Psikoanalisis dalam Karya Sastra</title><content type='html'>Psikoanalisis dalam sastra memiliki empat kemungkinan pengertian. Yang pertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yang kedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.Yang keempat adalah mempelajari dampak sastra pada pembaca. Namun, yang digunakan dalam psikoanalisis adalah yang ketiga karena sangat berkaitan dalam bidang sastra.&lt;br /&gt;Asal usul dan penciptaan karya sastra dijadikan pegangan dalam penilaian karya sastra itu sendiri. Jadi psikoanalisis adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH TEORI PSIKOANALISIS SASTRA&lt;br /&gt;Munculnya pendekatan psikologi dalam sastra disebabkan oleh meluasnya perkenalan sarjana-sarjana sastra dengan ajaran-ajaran Freud yang mulai diterbitkan dalam bahasa Inggris. Yaitu Tafsiran Mimpi ( The Interpretation of Dreams ) danThree Contributions to A Theory of Sex atau Tiga Sumbangan Pikiran ke Arah Teori Seks dalam dekade menjelang perang dunia. Pembahasan sastra dilakukan sebagai eksperimen tekhnik simbolisme mimpi, pengungkapan aliran kesadaran jiwa, dan pengertian libido ala Freud menjadi semacam sumber dukungan terhadap pemberontakan sosial melawan Puritanisme(kerohanian ketat) dan tata cara Viktorianoisme(pergaulan kaku).Dahulu kejeniusan sastrawan selalu menjadi bahan pergunjingan. Sejak zaman Yunani, kejeniusan dianggap kegilaan(madness) dari tingkat neurotik sampai psikosis. Penyair dianggap orang yang kesurupan (possessed). Ia berbeda dengan yang lainnya, dan dunia bawah sadarnya yang disampaikan melalui karyanya dianggap berada di bawah tingkat rasional. Namun, pengarang tidak sekedar mencatat gangguan emosinya ia juga mengolah suatu pola arketipnya, seperti Dostoyevsky dalam karyanya The Brother Kamarazov atau suatu pola kepribadian neurotik yang sudah menyebar pada zaman itu. Kemudian, ilmu tentang emosi dan jiwa itu berkembang dalam penilaian karya sastra.(Psikoanalisis Sastra)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGUNAAN PSIKOANALISIS SASTRA&lt;br /&gt;Psikologi atau psikoanalisis dapat mengklasifikasikan pengarang berdasar tipe psikologi dan tipe fisiologisnya. Psikoanalasisis dapat pula menguraikan kelainan jiwa bahkan alam bawah sadarnya. Bukti-bukti itu diambil dari dokumen di luar karya sastra atau dari karya sastra itu sendiri. Untuk menginteprestasikan karya sastra sebagai bukti psikologis, psikolog perlu mencocokannya dengan dokumen-dokumen di luar karya sastra.&lt;br /&gt;Psikoanalisis dapat digunakan untuk menilai karya sastra karena psikologi dapat menjelaskan proses kreatif. Misalnya, kebiasaan pengarang merevisi dan menulis kembali karyanya. Yang lebih bermanfaat dalam psikoanalisis adalah studi mengenai perbaikan naskah, koreksi, dan seterusnya. Hal itu, berguna karena jika dipakai dengan tepat dapat membantu kita melihat keretakan ( fissure ), ketidakteraturan, perubahan, dan distorsi yang sangat penting dalam suatu karya sastra.Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis secara psikologis tokoh-tokoh dalam drama dan novel. Terkadang pengarang secara tidak sadar maupun secara sadar dapat memasukan teori psikologi yang dianutnya. Psikoanalisis juga dapat menganalisis jiwa pengarang lewat karya sastranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TOKOH-TOKOH PSIKOANALISIS SASTRA&lt;br /&gt;1. Sigmund Freud, seorang yang sangat berbudaya dan beliau mendapatkan dasar pendidikan Austria yang menghargai karya Yunani dan Jerman Klasik.&lt;br /&gt;2. T.S Elliot&lt;br /&gt;3. Carl.G.Jung.&lt;br /&gt;4. Ribot, psikolog Perancis&lt;br /&gt;5. L.Russu&lt;br /&gt;6. Wordsworth yang menggunakan psikologi sebagai uraian genetik tentang puisi.&lt;br /&gt;7. Tatengkeng, Pujangga Baru. Menyatakan bahwa untuk menulis puisi yang baik penyair harus dalam keadaan jiwa tertentu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN PSIKOANALISIS DI INDONESIA&lt;br /&gt;Dalam sastra Indonesia pendekatan psikologi berkembang sejak tahun enam puluhan, antara lain oleh Hutagalung dan Oemarjati dalam buku pembahasan masing-masing atas Jalan Tak Ada Ujung dan Atheis. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan pertolongan agar dapat membaca drama atau novel secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APLIKASI PSIKOANALISIS DALAM KARYA SASTRA&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh dalam Drama dan Novel dinilai benar tidaknya secara psikologis. Situasi dan plot menjadi perhatian khusus dalam hal ini. Tokoh dalam cerita harus serasi dengan ceritanya, contoh :&lt;br /&gt;Lily Campbel Mengatakan bahwa tokoh Hamlet cocok dengan Tipe “periang dan optimis yang mengalami tekanan melankolik”. Yakni tipe yang dikenal dalam teori psikologi zaman Elizabeth.&lt;br /&gt;Oscar Campbell Berusaha menunjukan tokoh Jaques dalam drama William Shakespears “As You Like It” adalah kasus melankolik yang timbul akibat tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pustaka,&lt;br /&gt;Wellek, Rene dan Austin Warren.1995. Teori Kesusastraan. Terj. Melani&lt;br /&gt;Budianta. Jakarta : Gramedia.&lt;br /&gt;Hardjana, Andre. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta : Gramedia.&lt;br /&gt;Pengarang juga dianalisis berdasar kondisi jiwanya ketika menulis sebuah karya sastra.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-2821717227836772527?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/2821717227836772527/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penerapan-teori-psikoanalisis-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/2821717227836772527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/2821717227836772527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penerapan-teori-psikoanalisis-dalam.html' title='Penerapan Teori Psikoanalisis dalam Karya Sastra'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-7861093833881026456</id><published>2010-12-16T23:08:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T23:08:30.116-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Sastra'/><title type='text'>PERANAN TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL LASMI KARYA NUSYA KUSWANTIN (Kajian Sosiologi Feminisme)</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Berbagai anggapan terhadap perempuan telah mengakar di masyarakat umum, misalnya: perempuan itu lemah, mudah emosi, dan bisanya hanya di dapur. Namun tampaknya para perempuan sudah mulai berusaha memperjuangkan haknya agar disamakan dengan laki-laki. Perjuangan perempuan untuk mendapatkan haknya ini dilakukan melalui berbagai cara, mulai gerakan besar maupun perorangan dengan berbagai media.&lt;br /&gt;Di dalam dunia sastra, banyak sekali karya sastra yang mengangkat tema feminisme, sehingga munculah aliran kritik sastra baru yang disebut kritik sastra feminis. Dalam perkembangan karya sastra, perempuan sering dimunculkan sebagai focus pembicaraan. Akhirnya sebuah karya sastra, khususnya yang berupa novel dapat mengenalkan kehidupan perempuan dengan segala tantanngan dan permasalahan yang ada di lingkungan. Dalam kenyataannya realita kehidupan telah membuka tabir bahwa unsur feminisme telah terkotak sebagai dasar pembagian fungsi antara jenis kelamin dalam berbagai segi. Dengan anggapan tersebut akhirnya kaum perempuan bangkit dan timbulah suatu gerakan yang disebut feminisme yang menghendaki kesamaan hak dan kewajiban (Endrasanti, 2006:1).&lt;br /&gt;Dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin dapat dilihat bahwa pengarang berusaha menyampaikan gagasan-gagasan feminisme. Kisah Lasmi diceritakan melalui tuturan Tikno, suami Lasmi yang berprofesi sebagai guru, sedangkan Lasmi sendiri di mata suaminya adalah wanita yang cerdas dan berpikiran progresif. Kegemarannya membaca buku membuat dirinya memiliki wawasan berpikir yang luas, berani melawan arus, berjuang dalam hal kesetaraan perempuan dan pria, dan memiliki cita-cita luhur untuk memajukan pendidikan dan pengatahuan warga kampungnya.&lt;br /&gt;Pada mulanya Lasmi berjuang sendiri dengan mendirikan TK dan sekolah menjahit, namun ketika akhirnya ia mencari seorang guru jahit, ia bertemu dengan Sumaryani seorang kader Gerwani. Melalui Sumaryani lah akhirnya Lasmi ikut menjadi kader Gerwani karena di mata Lasmi Gerwani adalah organisasi perempuan yang mempunyai cita-cita luhur seperti dirinya yaitu berjuang demi kesetaraan perempuan. Tokoh Lasmi dalam novel karya Nusya Kuswantin tersebut digambarkan memiliki peranan yang cukup penting di berbagai bidang, terutama di bidang pendidikan dan politik.&lt;br /&gt;Penulis memilih novel Lasmi karya Nusya Kuswantin ini dengan alasan bahwa isi yang terkandung di dalam novel tersebut mengangkat tema ketidakadilan gender dan  anggapan-anggapan negatif yang telah mengakar di masyarakat tentang perempuan. Penulis juga berusaha menjelaskan bahwa sesungguhnya peran perempuan di berbagai bidang sudah tidak dapat diragukan lagi. &lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang peranan perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin. Sedangkan teori yang digunakan yaitu teori sosiologi feminisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;a. Bagaimana tokoh dan penokohan tokoh perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin?&lt;br /&gt;b. Bagaimana peran perempuan di bidang pekerjaan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin?&lt;br /&gt;c. Bagaimana peran perempuan di bidang pendidikan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin?&lt;br /&gt;d. Bagaimana peran perempuan di bidang keluarga dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;a. Mendeskripsikan tokoh dan penokohan tokoh perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin.&lt;br /&gt;b. Mendeskripsikan peran perempuan di bidang pekerjaan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin.&lt;br /&gt;c. Mendeskripsikan peran perempuan di bidang pendidikan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin.&lt;br /&gt;d. Mendeskripsikan peran perempuan di bidang keluarga dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;1.4.1 Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;a. Memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.&lt;br /&gt;b. Memberikan pandangan-pandangan tentang teori pengkajian sastra terhadap karya sastra di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.2 Manfaat Praktis&lt;br /&gt;a. Penelitian ini bermanfaat untuk memperluas khasanah keilmuan bidang kritik sastra di masyarakat dan dapat memberikan inspirasi bagaimana seharusnya kaum laki-laki bersikap terhadap kaum perempuan.&lt;br /&gt;b. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan penulis tentang sosiologi feminisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan&lt;br /&gt;Telah banyak penelitian-penelitian sebelumnya yang membahas tentang feminisme, diantaranya: Suwarti (2009) penelitiannya berjudul “Ketidakadilan Gender dalam Novel Perempuan Kembang Jepun Karya Lan Fang: Kajian Feminis”. Hasil penelitiannya  adalah marginalisasi perempuan, subordinasi perempuan, stereotipe perempuan, kekerasan terhadap perempuan serta jender dan beban kerja. Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, tetapi juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat, atau kultur dan bahkan negara. Subordinasi perempuan terjadi karena Anggapan bahwa perempuan itu irasional atau emosional sehingga perempuan tidak dapat tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Stereotipe terhadap perempuan karena adanya anggapan bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami. Kekerasan terhadap perempuan terjadi adalah bentuk pemerkosaan terhadap perempuan termasuk pemerkosaan dalam perkawinan, tindakan pemukulan atau serangan fisik yang terjadi dalam rumah tangga, pelecehan terhadap perempuan, dan kekerasan terselubung. Adapun jender dan beban kerja adalah adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai jenis pekerjaan perempuan, seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan laki-laki, serta dikategorikan sebagai bukan produktif sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara.&lt;br /&gt;  Marfika Santiasih Isma (2005) dengan judul penelitiannya Pandangan Tiga Tokoh Utama Wanita tentang Emansipasi dalam Novel Tiga Orang Perempuan Karya Maria A. Sardjono. Hasil penelitian ini membahas tiga tokoh utama wanita memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang emansipasi. Ada yang mendukung ada pula yang kurang mendukung. Tokoh Nenek kurang mendukung karena latar belakang budaya/adat. Tokoh Ibu mendukung emansipasi karena latar belakang pangalaman masa lalu semasa beliau masih kecil.Tokoh Gading mendukung emansipasi wanita karena latar belakang lingkungan keluarganya yang demokratis dan berwawasan modern. Kedua tokoh, Ibu dan Gading, sama-sama mendukung emansipasi wanita karena alasan bahwa wanita berhak untuk maju dan memperoleh hak yang sama seperti kaum laki-laki.&lt;br /&gt; Tri Handayani (2006) dengan judul penelitiannya Peranan Tokoh “Candi” dalam novel Biru Karya Fira Basuki. Hasil penelitiannya yaitu a). Tokoh Candy digambarkan sebagai wanita mandiri yang mampu mencukupi keluarganya tanpa bergantung pada orang lain. b). Tokoh Candy menampilkan stereotipe yang memenuhi atau tidak memenuhi sistem patriarkal. Stereotipe yang ditampilkan oleh pengarang dalam masyarakat yaitu mempunyai peranan sebagai wanita kariryang berfprofesi sebagai model dan sebagai penghibur laki-laki yang keduanya digambaran memiliki sikap, tindakan, dan pemikiran berbeda dengan nilai baku masyarakat.&lt;br /&gt; Heri Aprilianto (2005) dengan judul penelitiannya  Tokoh Utama Wanita, dalam Pandangan Gender pada Novel Wajah Sebuah Vagina  Karya Naning Pranoto. Hasil penelitiannya yaitu: a). Tokoh utama wanita dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto adalah Sumirah. Sumirah memiliki sifat mudah tergoda atau dirayu, tidak mudah melupakan kebaikan orang lain, menghargai orang lain, dan tidak ingin orang lain khawatir atau sedih, takut menyinggung perasaan orang lain, dan pekerja keras. b).Jenis gender tokoh utama wanita dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto meliputi sebagai berikut. (1) Gender difference, seperti terlihat pada saat Sumirah menjadi penjual bir di hotel karena disuruh oleh suaminya. (2) Gender gap yaitu adanya perbedaan dalam hubungan berpolitik dan bersikap antara laki-laki dan perempuan, seperti terlihat pada saat Sumirah diperlakukan semena-mena oleh lurah di desanya. (3) Genderization, seperti terlihat pada saat Sumirah menjadi penjual bir di hotel, karena sebagai seorang wanita mempunyai sifat yang ulet, terampil dan teliti, maka oleh suaminya ia di suruh menjual bir di hotel. (4) Gender identity, seperti terlihat pada saat Sumirah merasa bersalah karena belum bisa membantu Totti memasak dan membersihkan rumah. Sebagai seorang perempuan ia mempunyai peran domestik yaitu memasak dan membersihkan rumah. c) Ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama wanita dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto adalah: ketidakadilan yang berupa stereotip, marginalisasi perempuan, kekerasan terhadap perempuan dan subordinasi pekerjaan perempuan. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Landasan Teori&lt;br /&gt;2.2.1 Feminisme dan Sastra&lt;br /&gt;Perjuangan emansipasi wanita saat ini masih aktif diperjuangkan oleh sebagian wanita. Mereka memperjuangkan emansipasi wanita karena masih merasakan ketidakadilan gender dengan kaum laki-laki. Gerakan perjuangan ketidakadilan gender ini sering disebut dengan gerakan feminisme.&lt;br /&gt;Ratna (2007, 184) berpendapat bahwa feminisme adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun dalam kehidupan sosial pada umumnya.&lt;br /&gt;Feminisme dalam dunia sastra menghasilkan representasi mengenai perbedaan gender yang memberi sumbangan pada pandangan sosial bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang berbeda. Perempuan sering menjadi feminis dengan menjadi sadar akan, dan mengkritik, kekuasaan misrepresentasi simbolis atas perempuan. Jackson &amp; Jones (2009: 332).&lt;br /&gt;Karya sastra berupa novel, puisi, maupun cerpen dapat dikaji menggunakan pendekatan feminisme, asalkan ada tokoh wanitanya. Kita akan mudah menggunakan pendekatan ini jika tokoh wanita itu dikaitkan dengan tokoh laki-laki. Tidaklah menjadi soal apakah mereka berperan sebagai tokoh utama atau tokoh protagonis, atau tokoh bawahan (Djajanegara, 2000: 51).&lt;br /&gt;Dalam proses pengkajian sastra feminis, ada beberapa pendekatan feminisme yang dapat digunakan untuk menunjang penelitiannya. Gross menguraikan lima hal yang membuat teori-teori tentang persamaan sebelumnya. Pertama, Wanita menjadi subyek dan objek ilmu pengetahuan. Dengan menciptakan ilmu pengetahuan menjadi absah. Kedua, semua metode, prosedur, anggapan, dan teknik teori-teori sebelumnya dipertanyakan. Ketiga, dengan mempergunakan teori otonomi, kaum feminis tidak Cuma mengembangkan perspektif-perspektif mengenai wanita dan isu-isunya, tetapi juga tentang sederet topik yang luas, dengan memasukkan teori-teori lain. Keempat, teori-teori feminis tidak hanya menegaskan alternatif-alternatif, tetapi berkarya melalui teks-teks patriarkis. Teori-teori itu tidak lagi menyalahkan atau menerima tulisan-tulisan yang disampaikan. Tulisan-tulisan yang ada tersebut kini dianalisis, diuji, dan dipertanyakan. Pada akhirnya, teori feminis menekankan institusi-instistusi sosial dan tindakan sosial, dengan memberikan kerangka-kerangka alternatif (Gross dalam Jane &amp; Helen, 2002: 20-21).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2  Beberapa Pendekatan Feminisme&lt;br /&gt; Beberapa pendekatan dalam kerangka feminisme meliputi pendekatan feminisme liberal, feminisme marxis, feminisme radikal, dan feminisme sosialis. Namun ada juga konsep-konsep lebih baru yang memisahkan diri dari pendekatan-pendekatan sebelumnya namun tetap terfokus pada ketidakadilan gender, yaitu konsep feminisme kultural dan feminisme pasca struktural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2.1 Feminisme Liberal&lt;br /&gt;Dalam tradisi feminisme-liberal, penyebab penindasan wanita dikenal sebagai kurangnya kesempatan dan pendidikan mereka secara individual atau kelompok. Cara pemecahan untuk mengubahnya, yaitu menambah kesempatan-kesempatan bagi wanita, terutama melalui institusi-institusi pendidikan dan ekonomi. Landasan sosial bagi teori ini muncul selama masa revolusi Prancis dan masa pencerahan di Eropa barat. Perubahan-perubahan sosial besar-besaran tersebut menyediakan baik argumen-argumen politik maupun moral, untuk gagasan-gagasan mengenai “kemajuan, kontrak, sifat dasar, dan alasan” yang memutuskan ikatan-ikatan dan norma-norma tradisional (Kandal, 1985:5). Asumsinya, apabila wanita diberi akses yang sama untuk bersaing, mereka akan berhasil. Kaum feminis liberal secara khusus mengabaikan suatu analisis yang sistematis mengenai faktor-faktor struktural, dan menganggap bahwa rintangan-rintangan sosial dapat diatasi oleh usaha-usaha individual dan campur tangan pemerintah. Mereka juga mengabaikan cara-cara bagaimana diskriminasi sosial dan institusional bisa mempengaruhi pilihan-pilihan individual, sehingga menciptakan pola ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2.2 Feminisme Marxis&lt;br /&gt;Kaum feminisme Marxis tradisional mencari asal penindasan terhadap wanita dari permulaan pemilikan kekayaan pribadi. Penyebab penindasan wanita dihubungkan dengan tipe organisasi sosial, khususnya tatanan perekonomian. Sistem kelas yang berdasarkan pemilikan pribadi, secara inheren bersifat menindas, dan kaum lelaki kulit putih mempunyai kedudukan-kedudukan istimewadi dalamnya. Unsur kunci yang membedakan feminisme Marxis dariteori-teori feminis lain terletak pada anggapannya, bahwa kapitalisme atau penindasan kelas merupakan penindasan utama. Penindasan kelas khususnya dikaitkan dengan cara kapitalisme menguasai wanita dalam kedudukan-kedudukan yang direndahkan. Di dalam sistem-sistem kapitalisme, wanita telah dipergunakan sebagai suatu cadangan tenaga kerja yang tidak dibayar di rumah-rumah, wanita menyediakan suatu pelayanan gratis untuk para kapitalis yang menjadi pajak tersembunyi bagi upah yang diterima kaum pekerja. Lagipula, wanita melakukan reproduksi angkatan kerja di dalam rumah sebagai ruang pribadi tersebut. Wanita juga merupakan konsumenyang membeli produk-produk kapitali; dengan cara demikian, memperkuat terhadap mereka sendiri&lt;br /&gt;Wanita ditekan karena adanya struktur ekonomi. Kaum feminis Marxis beranggapan, bahwa hanya setelah penindasan ekonomi dipecah-pecahkan, penindasan patriarkis bisa dihapuskan. Karena itu, agar masyarakat berubah, dituntut perubahan radikal dalam struktur ekonomi dan penghancuran ketidaksamaan yang berdasarkan kelas. Fokusnya di sini ialah pada faktor-faktor struktural mengenai penindasan sebagai lawan dari kesempatan-kesempatan individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2.3 Feminisme Radikal&lt;br /&gt;Di dalam perspektif feminisme radikal, digambarkan bahwa wanita ditindas oleh sistem-sistem sosial patriarkis, yaknipenindasan-penindasan yang paling mendasar. Penindasan berganda seperti rasisme, eksploitasi jasmaniah, heteroseksisme, dan kelas-isme terjadi secara signifikan dalam hubungannya dengan penindasan patriarkis. Agar wanita terbebas dari penindasan, perlu mengubah masyarakat yang berstruktur patriarkis.&lt;br /&gt;Unsur pokok patriarki dalam analisis feminis radikal, adalah kontrol terhadap wanita melalui kekerasan. Carole Shefield (dalam Jane &amp; Helen, 2002: 28) menegaskan bahwa kekerasan dan ancaman kekerasan terhadap wanita oleh laki-laki, menggambarkan kebutuhan sistem patriarki untuk meniadakan kontrol wanita atas tubuh dan kehidupan mereka sendiri. Kekerasan ini terjadi dalam bentuk-bentuk serangan seksual, incest, pemukulan dan pelecehan seksual terhadap wanita oleh laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2.4 Feminisme Sosialis&lt;br /&gt;Di kalangan feminisme sosialis, baik patriarki maupun kelas dianggap merupakan penindasan utama. Suatu bentuk penindasan tidaklah mencontoh penindasan lain sebelumnya. Feminisme sosialis meliputi:&lt;br /&gt;Pemusatan dan pengarahan kembali, oleh feminisme terhadap pendekatan historis Marxian...untuk memahami struktur penindasan wanita, terutama dalam kaitannya dengan struktur jenis kelamin, keluarga, dan hierarki pembagian kerja seksual. (Eisenstein dalam Jane &amp; Helen, 2002: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kerangka feminis sosialis cara-carapemecahan masalah untuk perubahan, meliputi perubahan-perubahan sosial radikal intuisi-instuisi masyarakat. Buku Juliet Mitchel, women’s Estate (1971), telah meletakkan dar-dasar untuk feminisme sosialis. Di dalamnya, iamenggambarkan politik-politik penindaan sebagai suatu konsekuensi, baik dari penindasan patriarkat maupun penindasan kelas. Ia memperkenalkan konsepsi-konsepsi inti feminis sosialis, untuk menganalisis dimensi-dimensi penindasan, seperti produksi, reproduksi, sosialisasi, dan seksualitas.&lt;br /&gt;Heidi Hartman (1981), feminis terkemuka lainnya di dala kerngka sosialis, menyataka bahwa basis patriarki adalah pembagian kerja seksual, yang benar-benar ada pada semua masyarakat. Basis material patriarki –kontrol atas buruh wanita—membuat laki-laki bisa mengontrol akses wanita kepada sumber-sumber produktif. Sebagai memelihara anak, wanita memproduksi hubungan-hubungan sosial matriarkat, termasuk hubungan antar generasi laki-laki/perempuan. Melalui proses sosialisasi keluarga ini, kemitraan patriarki dan kapitalisme diabsahkan. Kapitalisme menjalin kekuatan dengan patriarki untuk mendominasi buruh wanita dan seksualitas, melalui penguatan dan pengembangan ideologi yang merasionalisasikan penindasan wanita.&lt;br /&gt;Ada kemungkinan bahwa feminisme sosialis itu “tak kurang dari pertemuan  aliran-aliran feminisme Marxis, feminisme radikal, dan pemikiran psikoanalisis yang lebih kuat” (Tong, 1989:73). Mitchell dan Hartmann mengajukan suatu pendekaan sistem-dwi rangkap (a dual systems approach), untuk menganalisis kesejajaran penindasan patriarki dan kapitalisme. Jagger (1983) menjebatani wawasan pengertian Marxis dan persepektif-persepektif radikal, melalui konsep alienasi. Kaum Marxis berpendapat bahwa pekerjaan merupakan aktifitas sentral manusia yang menjadi teralienasi di bawah kapitalisme, saat buruh dipisahkan dari kontrol atas pekerjaan mereka. Alienasi tersebut meluas pada pekerjaan spesifik berdasarkan jenis kelamin yang dipengaruhi baik patriarki maupun kapitalisme. Wanita teralienasi dari tubuh-tubuh mereka, pekerjaan reproduksi mereka dan peran-peran keibuan mereka. (Jane &amp; Helen, 2002: 21-31).&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan sosiologi dan feminisme. Teori-teori feminisme baik feminisme liberal, feminisme Marxis, feminisme radikal, dan feminisme sosialis yang dianggap mendukung, digunakan untuk menunjang penelitian ini. Suatu teori integratif mengenai penindasan wanita sebaiknya diambil dari menyambung-nyambungkan potongan-potongan kecil dengan mengingat keterampilan tradisional wanita. Potongan-potongan kecil seperti itu merupakan konsep-konsep yang bermanfaat bagi model-model feminis yang mempersatukannyasehingga menjadi suatu susunan teoritis yang kuat (Jane &amp; Helen, 2002: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3 Sosiofeminis&lt;br /&gt;Dalam Sofia (2009: 22), kritik sastra sosiofeminis menekankan peran-peran yang diberikan untuk perempuan di masyarakat. Hal ini dapat dipahami bahwa perempuan memiliki peran-peran tertentu dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai bidang.  Soekamto (2002:243) menjelaskan bahwa hubungan-hubungan sosial pada masyarakat, merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat. Sementara Mosse (2002:5) menyatakan bahwa dalam setiap masyarakat, kaum pria dan wanita memiliki peran gender yang berbeda. Terdapat perbedaan pekerjaan yang dilakukan mereka di dalam masyarakat disebabkan oleh berbagai macam faktor, mulai dari lingkungan alam, hingga cerita dan mitos-mitos yang digunakan untuk memecahkan teka-teki perbedaan jenis kelamin. Mengapa perbedaan itu tercipta dan bagaimana dua orang berlainan jenis dapat berhubungan baik satu dengan yang lainnya dan dengan sumber daya alam sekitarnya.&lt;br /&gt;Penelitian peranan perempuan ini merupakan penerapan dari wacana images of women (citra perempuan). Images of women merupakan suatu jenis sosiologi yang menganggap teks-teks sastra dapat digunakan sebagai bukti adanya berbagai jenis peranan perempuan. Penelitian images of women dilakukan untuk dua kegunaan yang berbeda. Di satu pihak penelitian images of women digunakan untuk mengungkap hakikat representasi stereotipe yang menindas yang diubah ke dalam model-model peran serta menawarkan pandangan yang sangat terbatas dari hal-hal yang diharapkan oleh seorang perempuan. Di pihak lain, penelitian images of women digunakan untuk memberikan peluang berpikir tentang perempuan untuk membandingkan bagaimana perempuan telah direpresentasikan dan bagaimana seharusnya perempuan dipresentasikan (Ruthven dalam Sofia, 2009:22-23). &lt;br /&gt;Peranan perempuan dapat dilihat melalui pencitraan. Citra merupakan sebuah gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran berbagai pengalaman sensoris yang dibangkitkan oleh kata-kata. Sementara itu, pencitraan merupakan kumpulan citra (the colection of images) yang dipergunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi harfiah maupun secara kias ( Abrams dalam Sofia, 2009:24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.4 Peranan Perempuan&lt;br /&gt;Perempuan harus punya peran ganda yaitu dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, kedua peran wanita tersebut harus dijalankan secara seimbang. Hal tersebut tidak bisa lepas dari kodrat dan kultur yang ada.&lt;br /&gt;Saat ini pekerjaan tidak lagi didominasi oleh laki-laki, namun kaum perempuan sudah banyak yang merambah pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Misalnya saja sopir busway di Jakarta, ada beberapa kaum perempuan yang bekerja di sini. &lt;br /&gt;Tiga hal yang mencangup peranan, yaitu:&lt;br /&gt;a).  Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.&lt;br /&gt;b).  Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.&lt;br /&gt;c).  Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.&lt;br /&gt; Perlu disinggung perihal fasilitas-fasilitas bagi peranan individu (role-facilities). Masyarakat biasanya memberikan fasilitas-fasilitas kepada individu untuk dapat menjalankan peranan (Soekamto dalam Handayani, 2006: 17-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.4.1 Teori tentang Peran Wanita dalam Pekerjaan &lt;br /&gt;Peran-peran pengasuhan bagi wanita merupakan dimensi-dimensi yang tumpang tindih, baik pekerjaan yang dibayar maupun tak dibayar. Sebagai juru rawat, juru rawat pembantupekerja sosial, guru pertama masa kanak-kanak dan pekerjaan pengasuh anak, sebagai ibu dan sebagai anak perempuan, wanita memikul tanggung jawab atas pemeliharaan emosi dan fisik orang-orang lain. Para periset kualitatif telah menguraikan, “lipatan kehidupan wanita bergerak dari pengasuh di dalam rumah mereka ke pengasuh ke dalam angkatan kerja atau sukarela. “kehidupan wanita tidaklah terdiri atas susunan yang mudah dilihat, bagian-bagian ruangan tersendiri”, tetapi lebih merupakan jalinan aktivitas yang saling tergantung ( Jane &amp; Helen, 2002: 112-113)&lt;br /&gt;Corley dan Mauksch memeriksa status dan peranan juru rawat berijasah, serta menyimpulkan, “ kehadiran juru rawat secara sosial akan disangkutpautkan dengan pada jenis kelamin perempuan” (1988:135). Mereka mengaitkan perawatan dengan stereotipe wanita yang memiliki komitmen tinggi terhadap pelayanan dan perawatan pasien, disertai komitmen yang rendah terhadap karir. Mereka menguji gagasan mengenai komitmen di kalangan juru rawat meningkat, tanggung jawab pihak-pihak lain, termasuk dokter, administrasi, dan sebagainya berkurang. Bagi juru rawat, komitmen merupakan suatu gagasan yang diromantisasi, yang membebaskan hal-hal lainnya dari kesalahan-kesalahan atas upah yang rendah (wanita melakukan hal ini karena mereka ingin melakukannya, atau kesalahan atas perlakuan klien (merupakan tanggung jawab juru rawat untuk memelihara emosi dan aspek-aspek sosial perawatan kesehatan, atau juru rawat dapat memenuhi perbandingan-perbandinganperawat/pasien atau dokter/pasien). (Jane &amp; Helen, 2002:113).&lt;br /&gt;Selain pekerjaan-pekerjaan yang dibayar, para wanita juga ikut berpartisipasi dalam dunia pekerjaan sukarela (volunter). Doris Gold (dalam  Jane &amp;Helen, 2002: 122) mengenai pekerjaan volunter. Ia menilai sebab-sebab yang sadar dan tak sadar bagi wanita, untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitassemacam itu, yang berasal dari pengkondisian sosial, diskriminasi struktural, serta kisah panjang pelayanan wanita di dalam gerejadan keluarga tanpa imbalan ekonomi atau otoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.4.2 Teori tentang Peran Wanita dalam Pendidikan &lt;br /&gt;Pendidikan sekolah merupakan suatu proses pembelajaran dimana ada pendidik dan peserta didik yang bertujuan untuk memanusiakan manusia dan mendewasakan manusia tanpa adanya diskriminasi gender. Dalam setiap situasi pendidikan sekolah tersebut, murid-murid wanita dan pria terbuka pada buku-buku teks, bahan-bahan dan sikap guru secara halus dapat mempengaruhi pemikiran mereka tentang diri mereka sendiri serta masyarakat mereka. Sebagai pendidik, wanita juga melakukan beragam peran sebagai administrator dan guru yang mencerminkan pola-pola feminisasi. (Jane &amp; Helen, 2002: 144).&lt;br /&gt;Wanita memiliki sikap yang lebih lemah lembut daripada laki-laki, hal ini membuat wanita bisa diterima karena dianggap mampu memberikan pengajaran di sekolah. Ketika wanita memasuki profesi pengajaran, kesesuaian peran-peran tersebut menyebabkan diterimanya wanita sebagai pekerja pendidikan (Jane &amp; Helen, 2002:159).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.4.3 Teori tentang Peran Wanita dalam Keluarga&lt;br /&gt; Fakih (2001:11) memaparkan bahwa kaum perempuan memiliki peran gender dalam mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah tangga adalah konsruksi cultural dalam suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, boleh jadi urusan mendidik anak dan merawat kebersihan rumah tangga bisa bisa dilakukan oleh kaum laki-laki. Oleh karena jenis pekerjaan itu bisa dipertukarkan dan tidak bersifat universal, apa yang sering disebut sebagai “kodrat wanita” dalam kasus mendidik anak dan mengatur kebersihan rumah tangga, sesungguhnya adalah gender.&lt;br /&gt; Menurut kondisi normatif, pria dan wanita mempunyai status atau kedudukan dan peranan (hak dan kewajiban) yang sama, akan tetapi menurut kondisi objektif, wanita mengalami ketertinggalan yang lebih besar dari pada pria dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan. Kondisi objektif ini tidak lain disebabkan oleh norma sosial dan nilai sosial budaya yang masih berlaku di masyarakat. Norma social dan nilai sosial budaya tersebut, di antaranya di satu pihak, menciptakan status dan peranan wanita di sektor domestik yakni berstatus sebagai ibu rumah tangga dan melaksanakan pekerjaan urusan rumah tangga, sedangkan di lain pihak, menciptakan status dan peranan pria di sektor publik yakni sebagai kepala keluarga atau rumah tangga dan pencari nafkah.&lt;br /&gt;Laki-laki dan perempuan dalam berumah tangga dapat saling tukar-menukar pekerjaan rumah sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Perempuan dapat menggantikan pekerjaan laki-laki dalam hal tertentu. Misalnya membantu mengetikkan tugas kantor suami. Sebaliknya, suami dapat menggantikan peran istri dengan memasak di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Pendekatan Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini menggunakan pendekatan Sosiologi Feminisme dengan metode analisis, interpretatif, dan deskriptif. Metode analisis digunakan untuk menganalisis novel dan mencari data. Kemudian data tersebut diinterpretasikan. Metode interpretatif digunakan untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam karya sastra tersebut (Aminudin, 1991:123). Penelitian deskriptif mencoba untuk memaparkan konsep-konsep pemikiran tentang perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Sumber Data dan Data Penelitian&lt;br /&gt;Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data tertulis berupa novel Lasmi karya Nusya Kuswantin yang diterbitkan oleh Kaki Langit Kencana tahun 2009. Novel ini berjumlah 232 halaman dengan ukuran 11,5 x 19 cm, dengan sampul depan berwarna merah dengan gambar abstrak seorang wanita yang sedang duduk.&lt;br /&gt;Data yang dipakai dalam penelitian ini berupa paparan bahasa, kata, atau kalimat yang terdapat di dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin. Data merupakan data penting yang diambil dari isi novel sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu dengan mengumpulkan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang berkaitan dengan tujuan penelitian. Adapun proses pengumpulan data penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Membaca teks sastra (dalam hal ini adalah novel Lasmi karya Nusya Kuswantin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Menganalisis dan mengklarifikasikan peran perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin &lt;br /&gt;3.   Membuat kesimpulan hasil analisis novel Lasmi karya Nusya Kuswantin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4 Teknik Analisis Data&lt;br /&gt;Teknik analisis data yang digunakan dalam menganalisis data pada novel Lasmi karya Nusya Kuswantin adalah teknik analisis deskriptif. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mengolah data yang telah dikelompokkan berdasarkan tujuan penelitian  dan mendeskripsikan teks-teks yang bermuatan peran perempuan dalam novel Lasmi karya Nusya Kuswantin, kemudian disusul dengan analisis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuswantin, Nusya. 2009. Lasmi. Jakarta: Kaki Langit Kencana&lt;br /&gt;Sofia, Adib. 2009. Aplikasi Kritik Sastra Feminis, Perempuan dalam Karya-karya Kuntowijoyo. Yogyakarta: Citra Pustaka&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme, diakses pada tanggal 1 Mei 2010&lt;br /&gt;Djajanegara, Soenarjati. 2003. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka.&lt;br /&gt;Wiyatmi. 2009. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher&lt;br /&gt;Handayani, Tri. 2006. Peranan Tokoh “Candi” dalam Novel Biru Karya Fira Basuki (Kajian Feminisme). Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JBSI UNESA.&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Ollenburger, C. Jane dkk. 2002. Sosiologi Wanita. Jakarta: Rineka Cipta&lt;br /&gt;Jackson, Stevi dkk. 1998. Pengantar Teori-teori Feminis Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-7861093833881026456?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/7861093833881026456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/peranan-tokoh-perempuan-dalam-novel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/7861093833881026456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/7861093833881026456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/peranan-tokoh-perempuan-dalam-novel.html' title='PERANAN TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL LASMI KARYA NUSYA KUSWANTIN (Kajian Sosiologi Feminisme)'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-657104041143610290</id><published>2010-12-16T23:07:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T23:07:18.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semiotik'/><title type='text'>ANALISIS SEMIOTIK DALAM LIRIK LAGU SHOUTUL KHILAFAH</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;A.   Latar Belakang&lt;br /&gt;Lirik lagu dapat dimasukkan kedalam genre puisi dalam karya sastra. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan kemiripan unsur-unsur antara puisi dengan lirik lagu. Pada puisi terdapat kadar kepadatan dan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosa (Pradopo, 1995:11). Dan pada lirik lagu juga memiliki hal yang sama yakni kadar kepadatan dan konsentrasi yang tinggi. Menurut Pradopo (1995:7) puisi itu menggekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Dari pendapat Pradopo tersebut lirik lagu juga memiliki hal yang sama dengan puisi. Dengan persamaan antara unsur-unsur puisi dan lirik lagu maka dalam perkembangan karya sastra terdapat pementasan dengan menampilkan pembacaan puisi yang disebut musikalisasi puisi. Dengan demikian lirik lagu dapat dikaji menggunakan teori dan metode yang sama dengan puisi.&lt;br /&gt;Lirik lagu merupakan susunan dari bahasa dengan kandungan gagasan yang dikombinasikan dengan estetika dan irama dalam pelantunannya Gagasan yang akan disampaikan dalam lirik lagu memiliki keistiwewahan tersendiri. Hal tersebut dikarenakan lirik lagu memiliki beragam fungsi didalamnya, antara lain (a) fungsi pengungkapan emosi, (b) fungsi pengungkapan rasa estetik (c) fungsi hiburan (d) fungsi reaksi jasmani (g) fungsi penyelenggara norma-norma sosial (h) fungsi pengesahan lembaga sosial dan (i) fungsi pengitegrasihan sosial  (Eriam, dalam Susanto 2008:2). keistimewahan tersebut bisa dijelaskan bahwa penyampaian gagasan dalam lirik lagu akan lebih berpengaruh karena didukung oleh fungsi-fungsi didalamnya.&lt;br /&gt;Lirik lagu senantiasa terkait dengan gagasan yang ingin disampaikan oleh  penuturnya untuk mempengaruhi objek. Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan komunikasi manusia memiliki tujuan yang diinginkannya. Begitu halnya dengan lirik lagu Shoutul Khilafah merupakan media untuk untuk mengusung ide dari organisasi masyarakat yang dikenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia dalam interaksinya dengan masyarakat. &lt;br /&gt;Ide yang ingin disampaikan melalui Lirik Lagu dapat diwujudkan dalam bentuk tanda, baik itu berupa Icon, Indeks, Simbol dan bentuk tanda yang lain. Dengan tanda-tanda tersebut objek dapat memahami makna lirik lagu yang didalamnya telah ditanam ide tertentu oleh pencipta lagu tersebut. Pengeksplorasian tanda yang terdapat dalam lirik lagu dapat dilakukan dengan menggunakan pisau analisis semiotik sebagai ilmu tentang interpretasi tanda (Paul Cobley dan Litza Janz, dalam Khuta Ratna (2004:97).&lt;br /&gt;Muatan dalam lirik lagu Shoutul Khilafah cenderung kepada hukum-hukum islam yang ingin diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Lirik lagu ini juga digunakan dalam acara-acara yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, baik seminar, Ring back tone, talk show ataupun aksi turun jalan. Penggunaan lirik lagu tersebut dalam kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dimaksudkan untuk menyampaikan ide hukum-hukum islam untuk diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Dengan demikian muatan lirik yang sengaja ditanami ideologi tentu berpotensi untuk dianalisis dengan semiotik kemudian tanda yang terdapat dalam lirik lagu tersebut dapat diinterpretasi.&lt;br /&gt;Shoutul Khilafah diambil untuk dianalisis karena memiliki keunikan bila dibandingkan dengan lagu islami yang lain. Adapun keunikan tersebut diantaranya :&lt;br /&gt;1. Merupakan lagu dengan tema kekhilafahan islam yakni berkaitan dengan penyeruhan penegakan hukum-hukum islam dalam Pemerintahan Islam. Tema yang terkategori perpolitikan tersebut menjadi pembeda dari tema lirik lagu lain yang berkutat pada tataran ibadah ritual dengan Tuhannya dan akhlak semata.&lt;br /&gt;2. Shoutul Khilafah dilantunkan oleh HTI ketika mereka mengadakan aksi turun jalan (Demo) sebagai media penyampaian ide juga sebagai penyemangat peserta aksi ketika berada di jalan. Dengan begitu lagu ini begitu penting untuk ditelaah karena memiliki aspek interaksi sosial dengan masyarakat.&lt;br /&gt;3. Shoutul Khilafah memiliki relevensi kuat dengan kehidupan nyata masyarakat. Karena lagu ini memberikan solusi alternatif dalam setiap permasalahan kehidupan dengan islam, dan solusi tersebut bersifat praktis yakni penerapan pemerintahan islam, Khilafah Islamiyah.&lt;br /&gt;4. Lagu ini pertama kali dilantunkan dalam acara Konfrensi Khilafah Internasional pada 12 Agustus 2007 di GLORA Bung Karno dan dihadiri 100.000 peserta dari indonesia dan internasional. Selain sebagai pembentuk opini publik tentu lagu ini menjadi sorotan dunia pada saat itu, karena mengungkapkan tujuannya untuk mengganti sistem kehidupan kapitalis saat ini menjadi sistem islam.&lt;br /&gt;Dengan demikian dari beberapa argumen diatas dapat ditunjukkan keunikan lirik lagu Shoutul Khilafah yang berpotensi untuk menghasilkan tanda-tanda yang bisa dicari maknanya dengan semiotik. Olehkarena itu lirik lagu tersebut layak untuk dijadikan sebagai objek penelitian semiotik.&lt;br /&gt;Mengamati potensi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah diatas peneliti memutuskan untuk meneliti lebih dalam tanda yang berkaitan dengan idiologi islam dengan kajian semiotik.  Kajian semiotik dalam penelitian yang berjudul ANALISIS SEMIOTIK DALAM LIRIK LAGU SHOUTUL KHILAFAH diharapkan memberikan kejelasan makna lirik lagu dan fungsi-fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah. &lt;br /&gt;C. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berawal dari pemahaman latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka peneliti merumuskan masalah penelitian tersebut antaralain: &lt;br /&gt;1) Bagaimanakah makna lirik lagu Shoutul Khilafah melalui kajian semiotik Charles Sanders Peirce?&lt;br /&gt;2) Bagaimanakah Fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah?&lt;br /&gt;D. Tujuan&lt;br /&gt;Memahami permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1) Memperoleh deskripsi makna lirik lagu Shoutul Khilafah melalui kajian semiotik Charles Sanders Peirce?&lt;br /&gt;2) Memperoleh deskripsi fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah?&lt;br /&gt;E. Manfaat&lt;br /&gt;1) Manfaat teoritis&lt;br /&gt;Penelitian ini memberikan manfaat terhadap pengaplikasihan teori semiotik. Aplikasi teori semiotik dalam penelitian ini akan memperkaya contoh-contoh penerapannya. Penerapan teori semiotik Charles Sanders Peirce terutama untuk hubungan objek dengan tanda (trikotomi pertama) akan semakin nampak sebagai aplikasi teori tersebut dalam mengupas lirik lagu Shoutul Khilafah. &lt;br /&gt;2) Manfaat praktis&lt;br /&gt;Harapan dari penelitian ini adalah mampu memberikan referensi bagi pembelajar semiotik dalam memahami lirik lagu untuk mengetahui makna yang terkandung di dalamnya secara semiotik.. Bagi dosen penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh aplikasi semiotik Charles Sanders Pierce yang berkaitan dengan hubungan objek dengan tanda. Bagi mahasiswa dapat memetik manfaat dalam kasanah teori semiotik Charles Sanders Pierce dan mengetahui cara penerapannya dalam karya sastra dan bisa digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya dalam sudut pandang yang lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;Landasan Teori&lt;br /&gt;2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan&lt;br /&gt;Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini yakni Penelitian Mansurudin berjudul “perlawanan dalam lirik pengamen jalanan; kajian semiotik”, sebuah tesis. Teori semiotik Charles Sanders Pierce digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tersebut. Teori semiotik Charles Sanders Pierce yang digunakan ditekankan pada konsep representamen yang mengerucut pada ikon, indeks dan simbol. &lt;br /&gt;Teori Marx yakni teori perlawanan, digunakan untuk mengkaji representasi lirik pengamen. Dan didukung pula dengan kajian teori perlawanan, yang merujuk pada konsep “ekonomi politik” poplin serta “perlawanan kelas” yang dikembangkan oleh Scott.&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan Mansurudin memfokuskan penelitannya pada sarat sistem tanda sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Makna dalam lirik lagu pengamen jalanan&lt;br /&gt;a. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui ikon&lt;br /&gt;b. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui indeks&lt;br /&gt;c.  Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui simbol&lt;br /&gt;2. Bentuk-bentuk perlawanan dalam lirik pengamen jalanan&lt;br /&gt;3. Sasaran yang dikritik berdasarkan teks lirik pengamen jalanan&lt;br /&gt;4. Klasifikasi pengamen dan tema lirik pengamen jalanan.&lt;br /&gt;Penelitian diatas berbeda dengan penelitian ini walaupun memiliki relevansi untuk memperkaya kajian dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Mansurudin tersebut memfokuskan pada perlawanan pengamen dengan menggunakan kajian semiotik dan diperdalam dengan teori idiologi sosialis dengan tokohnya karl marx. Akan tetapi Penelitian “Analisis Semiotik dalam Lirik Lagu Shoutul Khilafah” memiliki keunikan pada pendeskripsian fungsi yang terdapat dalam lirik lagu tersebut. Penelitian ini lebih menekankan pada bagaimana kontribusi lagu ini terhadap individu, masyarakat dan negara yang dideskripsikan melalui penelaahan fungsi dari lirik lagu ini.&lt;br /&gt;2.2 Landasan Teori&lt;br /&gt;2.2.1 Semiotik&lt;br /&gt; Coble and Jansz (dalam Sobur, 2006:16) bertutur tentang semiotik bahwa Discipline is simply the analysis of signs or the study of the functioning of sign systems (ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi). Dalam kehidupan sehari-hari manusia telah diliputi tanda disekitarnya, baik secara sadar maupun tak sadar. Ketika mahasiswa dikampus melihat sosok tubuh yang berpakaian resmi dengan memakai dasi, jas serta membawa banyak buku kita langsung dapat menilai bahwa seseorang tersebut adalah dosen. Hal tersebut dapat diketahui karena tanda yang berupa dasi, jas dan kerapiannya serta atribut yang lain mengindikatorkan bahwa dia berprofesi sebagai dosen, begitulah tanda menyelimuti kehidupan kita.&lt;br /&gt; Bahasa juga merupakan tanda yang memiliki makna. Sebagaimana yang dituturkan oleh Pradopo (1995:121) bahwa bahasa sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang (tanda) yang mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi masyarakat. Sugiarto (dalam epilog cerpen Kompas pilihan 2005-2006) menyatakan bahwa dalam karya sastra semisal cerpen yang sifatnya pendek justru memaksa penulis untuk menimbulkan efek maksimal dengan cara minimal. Artinya dengan membentuk efek maksimal menggunakan cara minimal adalah pembentukan tanda dalam bahasa. Seseorang tak perlu banyak menguraikan kata, karena hanya dengan mengungkapkan satu bait puisi bisa mendeskripsikan makna yang beragam. Penerapan tanda secara konkret dalam sajak W.S Rendra yang berjudul di Meja Makan yakni kata-kata “sambal tomat pada mata”. W.S Rendra tak perlu mengungkapkan bagaimana pedih, perih baik dalam hati maupun mata dengan paragraf namun cukup dengan ungkapan yang minimal dengan efek maksimal yakni dengan ungkapan tanda “sambal tomat pada mata.&lt;br /&gt; Seperti halnya puisi yang memiliki sifat minimali dengan efek maksimal dalam membentuk tanda, maka Tanda dalam lirik lagu shoutul khilafah dieksplorasi dengan menggunakan pisau analisis semiotik Charles Sanders Peirce. Dengan teori yang dicetuskan oleh Peirce lirik lagu Shoutul Khilafah dapat diketahui makna kedua (konotasi) yang diciptakan oleh tanda-tanda yang disebar didalamnya. Dengan begitu pengungkapan makna lirik lagu tersebut dapat diterjemahkan sesungguhnya.&lt;br /&gt;2.2.2  Semiotik Charles Sanders Peirce&lt;br /&gt; Peirce tercatat sebagai seorang paling orisinal dan multidimensional pemikirannya diantara teman-temannya (Zoest, 1993:8). Dialah pencetus ide ‘semiotika’ yang ia katakan bersinonim dengan ‘logika’ (Zoest, 1993:10). Peirce telah menyatakan bahwa semiotik ialah “ a relationship among asign, an object, and a meaning (suatu hubungan di antara tanda, objek dan makna)” Peirce (dalam littlejohn, 1996:64). Pengertian Peirce tentang semiotik tersebut nampak ketika Peirce menjelaskan tiga unsur dalam tanda yaitu representamen, objek dan interpretan dalam segitiga semiotiknya. Lebih lanjut dapat dijelaskan tetang segitiga semiotika Peirce yang dikemukakannya.&lt;br /&gt;2.2.3 Segitiga Semiotik Charles Sanders Peirce&lt;br /&gt; Pierce (dalam Zaimar, 2008:4) menjelaskan tanda didalamnya terdapat tiga unsur yang dapat dijelaskan yakni representamen, objek, dan interpretan. Bagan berikut ini dapat mengambarkan ketiga unsur tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peirce (dalam Noth, 2006:42) dipaparkan bahwa suatu tanda atau representamen, merupakan sesuatu yang mengacu pada seseorang atas sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda ini merujuk pada seseorang, yakni, menciptakan di dalam benak orang itu suatu tanda yang setara, atau mungkin yang lebih maju. Tanda yang diciptakan itu saya sebut interpretant  atas tanda pertama. Tanda itu mengacu pada sesuatu, yakni object-nya. Itu mengacu pada objek itu, bukan dalam semua sisi, namun mengacu pada semacam ide”. Penjelasan berkaitan dengan kata kunci representamen, interpretant dan object sebagai berikut&lt;br /&gt;Representamen merupakan istilah yang digunakan Peirce untuk menyebut “objek yang bisa dirasakan” yang berfungsi sebagai tanda (Peirce dalam Noth, 2006:42). Dalam kata sederhananya maka representamen adalah tanda itu sendiri dimana ahli semiotika yang lain seperti Morris mengatakan dengan bahasanya sign vehicle, signifier diungkapkan oleh Saussure dan Hjelmselv menyebutkan sebagai ekspresi. Hal tersebut dapat dimengerti bahwa representamen merupakan sebuah persepsi terhadap sesuatu yang diwakilinya yakni objek. Misalkan dalam analisi Mansurudin --sebuah tesis-- dijelaskan bahwa kata pahlawan tanpa tanda jasa itu merupakan representamen dari Oemar Bakri (objek). &lt;br /&gt;Objek adalah sesuatu yang diwakili (Zaimar, 2008:4). Objek bisa berbentuk material atau sesuatu yang memiliki keberkenalan perseptual ataukah sekadar imaginaris atau batin akan hakikat tanda atau pemikiran (Peirce dalam Noth, 2006:43). Objek yang material bisa dicontohkan pada benda atau manusia. Sedangkan Objek yang bersifat imaginaris atau batin dapat berupa sebuah ungkapan misalnya dalam kata janji elite (Mansurudin, Sebuah Tesis)&lt;br /&gt;Interpretan adalah tanda yang tertera di dalam pikiran si penerima setelah melihat representamen (Zaimar, 2008:4). Dapat dicontohkan jika objek adalah warna merah dalam bendera merah putih maka representamen adalah keberanian dan interpretan dari warna merah tersebut yakni tak gentar mengambil resiko.&lt;br /&gt;Demikianlah ketiga unsur dalam tanda tadi bekerja. Namun terdapat syarat agar suatu representamen dapat menjadi tanda, yakni adanya ground. Sedangkan ground yang dimaksud disini adalah pengetahuan yang ada pada pengirim dan penerima tanda sehingga representamen dapat dipahami (Zaimar, 2008:4)&lt;br /&gt;Lirik Lagu Shoutul Khilafah dalam analisisnya secara semiotik dapat dipetakan dengan menggunakan triadik tersebut. Hanya saja ketika memahami tanda dalam lirik lagu tersebut perlu sebuah ground yang harus dimengerti sebelumnya dengan mempelajari lebih dalam tentang seluk beluk lagu tersebut.&lt;br /&gt;2.2.4 Klasifikasi Tanda-tanda Menurut Peirce&lt;br /&gt;Peirce mengembangkan suatu tipologi tanda yang merupakan trikotomi.  &lt;br /&gt;2.2.4.1 Trikotomi Pertama&lt;br /&gt;Trikotomi pertama ditinjau dari sudut pandang hubungan antara representamen dan objek. Ditunjukkan dengan pembagian tanda secara sederhana antara lain ikon, kemudian indeks dan yang paling canggih adalah symbol (Zaimar, 2008:5)&lt;br /&gt;a) Ikon&lt;br /&gt;Ikon merupakan hubungan yang berdasarkan pada kemiripan (Zaimar, 2008:5). Jadi, representamen memiliki kemiripan dengan objek yang diwakilinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Peirce bahwa ikon adalah kesamaan alat tanda dengan objeknya (Noth, 2006:121). Dari sistem triadik semiotik ini, pierce membuat tiga subklasifikasi ikon, yaitu ikon tipologis, ikon diagramatik dan ikon metaforis.&lt;br /&gt; (1) Ikon tipologis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan bentuk, seperti peta dan lukisan realis (Zaimar, 2008:5).&lt;br /&gt; (2) Ikon diagramatik adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan tahapan, seperti diagram (Zaimar, 2008:5). Sejalan dengan Sudjiman dan Zoest (1996, 14-16) memaparkan bahwa ikon diagramatik adalah adanya gejala struktural yang ditunjukkan dengan kemiripan relasional dan berurutan. &lt;br /&gt; (3) Ikon Metafora adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan meskipun hanya sebagian yang mirip, seperti bunga mawar dan gadis dianggap mempunyai (kecantikan, kesegaran). Namun, kemiripan itu tidak total sifatnya (Zaimar, 2008:5).&lt;br /&gt;b) Indeks&lt;br /&gt;Indeks adalah hubungan yang mempunyai jangkauan eksistensial (Zaimar, 2008:5). Eksistensial yang dimaksudkan adalah eksisnya sesuatu tentu disebabkan adanya sesuatu yang lain, dalam bahasa sederhananya adalah hubungan sebab akibat. Oleh karena itu dijelaskan oleh Zoest (1993:24) bahwa dalam hal tersebut hubungan antara tanda dengan detonatum (objek) adalah bersebelahan. Dikatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. Asap dapat dianggap sebagai tanda untuk eksisnya api dan dalam hubungan seperti ini asap adalah indeks. &lt;br /&gt;c) Simbol&lt;br /&gt;Simbol yang dimaksudkan Peirce adalah tanda yang hubungan antara tanda dan objek ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum (Zoest 1993:25). Peraturan yang berlaku umum di masyarakat misalnya adalah ketika seseorang bertanya kepada yang lain kemudian yang lain memberikan tanda dengan menunjukkan ibu jari orang yang ditanya kepada penanya maka dapat diartikan sebagai sebuah persetujuan.&lt;br /&gt;Dalam lirik lagu Shoutul Khilafah trikotomi pertama yang dikemukakan diatas dapat menjadi bahan analisis lagu tersebut. Karena dalam lirik lagu tersebut apabila ditelaah dengan sudut pandang hubungan antara representamen dengan objek maka yang menjadi representamen adalah lirik lagu tersebut. Lirik lagu Shoutul Khilafah penyeruannya terhadap masyarakat dari berbagai komponen maka dapat digambarkan bahwa objek dari lirik lagu tersebut adalah masyarakat dan segenap aktivitas serta fenomena yang terdapat didalamnya. &lt;br /&gt;2.2.4.2 Trikotomi Kedua&lt;br /&gt; Trikotomi kedua Peirce membuat klasifikasi dengan sudut pandang yakni hubungan representamen dengan tanda. Tahapan yang dikemukakan yakni (firstness, secondness, thirdness), sebagaimana dikemukakan sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;a) Qualisign&lt;br /&gt;Qualisign yakni sesuatu yang mempunyai kulalitas untuk menjadi tanda. Ia tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia terbentuk sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Hal tersebut berarti sesuatu yang mungkin menjadi tanda maka bisa disebut Qualisign. Dan Peirce (dalam Zoest 1993:19) mengatakan bahwa Qualisign dapat menjadi tanda bila Qualisign memperoleh bentuk (‘embodied’). Misalkan warna merah itu memiliki kemungkinan untuk menjadi tanda sebagai cinta dan sesuatu yang bahaya, sehingga warna tersebut dapat dijadikan sebagai Qualisign. Namun warna merah tersebut baru bisa menjadi tanda manakala dia mendapatkan bentuk mawar sebagai tanda cinta dan bentuk  segitiga merah sebagai tanda bahaya.&lt;br /&gt;b) Sinsign&lt;br /&gt;Sinsign adalah sesuatu yang sudah terbentuk dan dapat dianggap sebagai representamen, tetapi belum berfungsi sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Contohnya dapat diambilkan pada bunga mawar merah yang belum di berikan kepada istrinya merupakan sebuah Sinsign. Karena walaupun sudah menjadi representamen namun hal tersebut belum berfungsi menjadi sebuah tanda.&lt;br /&gt;c) Legisign &lt;br /&gt;Legisign yaitu sesuatu yang sudah menjadi representamen dan berfungsi sebagai tanda. Setiap tanda yang sudah menjadi konvensi adalah legisign (Zaimar, 2008:5). Sehingga tanda bahasa merupakan legisign, karena bahasa merupakan kode yang disepakati oleh masyarakat (konvensi)&lt;br /&gt;Lirik lagu Shoutul Khilafah tentu memiliki potensi untuk dikaji dalam trikotomi kedua Peirce. Hal tersebut dikarenakan dalam Lirik lagu ini terdapat suatu representamen dan tanda yang bisa digolongkan dalam Qualisign dan Legisign, yakni ungkapan Khilafah Islamiyah. Karena hal tersebut adalah sebuah kata yang memiliki potensi sebagai tanda dan belum berfungsi sebagai tanda. Karena keberadaan Khilafah Islamiyah itu sendiri belum ada. Penjelasan lebih dalam akan dipaparkan dalam bab 4.&lt;br /&gt;2.2.4.3 Trikotomi Ketiga&lt;br /&gt;Berdasarkan interpretan maka Peirce menjelaskan bahwa tanda dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Berikut ini adalah tahapan yang berdasarkan hubungan antara interpretan dengan tanda.&lt;br /&gt;a) Rheme adalah tanda yang tidak benar atau tidak salah, seperti hampir semua kata tunggal kecuali ya atau tidak. Rheme merupakan tanda pengganti atau sederhana. Ia merupakan tanda kemungkinan kualitatif yang menggambarkan semacam kemungkinan objek. (Noth 2006:45)&lt;br /&gt;b) Discent dalam Zaimar (2008:5) dijelaskan bahwa tanda yang mempunyai eksistensi yang aktual. Sebuah proposisi, misalnya merupakan discent. Proposisi memberi informasi, tetapi tidak menjelaskan. Decisign bisa benar dan juga bisa salah, tetapi tidak memberikan alasannya kenapa hal tersebut bisa terjadi. &lt;br /&gt;c) Argument adalah sebuah tanda hukum (Noth 2006:45) yakni sebuah hukum yang menyatakan bahwa perjalanan premis untuk mencapai kesimpulan cenderung menghasilkan sebuah kebenaran. &lt;br /&gt;Lirik Lagu Shoutul Khilafah didalamnya juga terkandung tanda berdasarkan interpretan. Hal tersebut dapat terjadi karena lirik lagu pada umumnya tidak bersifat menjelaskan namun hanya memampatkan suatu penjelasan dengan perkataan yang singkat. Maka akan nampak kata-kata yang membentuk tanda Discent karena tidak ada alasan lebih dalam mengapa hal permasalahan dalam lirik tidak terjadi. Begitu juga dengan kandungan yang terdapat di dalam lirik lagu Shoutul Khilafah yang menyerukan sesuatu hukum-hukum islam yang diartikan sebagai kebenaran, disinilah letak argumen yang nanti akan dikajih lebih mendalam.&lt;br /&gt;2.2.4 Lirik lagu Shoutul Khilafah&lt;br /&gt;Lirik lagu merupakan sekumpulan sistem tanda yang memiliki intensitas makna sebagai ungkapan terhadap gejala social yang menjadikan stimulasi terbentuknya lirik tersebut (Susanto 2008:24). Karena lirik lagu merupakan rekaman dari berbagai peristiwa dan diwujudkan dalam sistem tanda bahasa (Susanto 2008:24). Dengan demikian lirik lagu dapat didekati dengan kajian semiotik.&lt;br /&gt;Lirik lagu Shoutul Khilafah merupakan lirik lagu yang pertama kali dilantunkan dalam konfrensi khilafah internasional di Jakarta. Kemudian lirik-lirik ini senantiasa digunakan oleh gerakan islam yakni Hizbut Tahrir Indonesia, terutama pada aksi-aksi hizbut tahrir dalam menentang kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Dengan demikian penggunaan lirik lagu Shoutul Khilafah oleh sebuah partai politik islam hizbut tahrir menunjukkan bahwa ada kesamaan ide yang terdapat dalam lirik lagu ini dengan pemikiran-pemikiran hizbut tahrir. Sehingga pengkajian lirik lagu ini juga dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran partai politik tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Metode Penelitian&lt;br /&gt;3.1 Pendekatan penelitian&lt;br /&gt;Kriyanto dalam Susanto (2008:39) menyatakan pendekatan mengandung dua sifat. Yakni membatasi pandangan dan selektif. Maksudnya adalah dalam penelitian peneliti telah menentukan jperspektifnya tentang realita. Peneliti memerhatikan, mengiterpretasi dan memahami stimulasi dari realita yang ditemui serta mengabaikan stimulasi lain, lalu peneliti berperilaku sesuai dengan prespektif itu.&lt;br /&gt;Pendenkatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Khuta Ratna (2004:60) menjelaskan bahwa dalam filosofis pendekatan sosiologis asalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh: a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b)pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, dan c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.&lt;br /&gt;3.2 Sumber Data dan Data&lt;br /&gt;3.2.1 Sumber data&lt;br /&gt;Data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari file lagu Shoutul Khilafah yang banyak dimiliki oleh gerakan dakwa Hizbut Tahrir Indonesia. Anggota Hizbut Tahrir Indonesia yang pernah mengikuti konfrensi khilafah internasional mengetahui bahwa sebagian lagu ini dilantunkan dalam acara lagu tersebut dan sebagian yang lain terdapat dalam compact dish yang dijadikan souvenir dalam acara tersebut. &lt;br /&gt;3.2.2 Data&lt;br /&gt;Data yang diambil dalam penelitian ini ialah lirik lagu Shoutul Khilafah yang pertama kali di lounching dalam konfrensi khilafah internasional di GOR Bung Karno. Lagu lagu yang tersebut bukanlah lagu yang diperjual belikan di khalayak umum, akan tetapi lagu tersebut digunakan untuk memacu semangat perjuagan dalam menegakkan khilafah islamiyah serta sebagai sarana untuk menyampaikan ide-ide islam. Beberapa lirik lagu yang dijadikan sebagai data dalam penelitian ini adalah lirik lagu berjudul Allahu Akbar (AA), Sambutlah Khilafah (SK), Saatnya Khilafah Memimpin Dunia (SKMD), La izzata Illah Bil Islam (LIIBI), Pribadi Remaja Islam (PRI), Remaja Islam (RI), Selamatkan Dengan Syariah (SDS).&lt;br /&gt;Delapan teks lirik lagu Shoutul Khilafah ini merupakan data penelitian ini yang saling berkaiatan dengan fungsi social lagu dalam masyarakat baik merupakan pemantik semangat anggota gerakan maupun sebagai seruan Ideologi Islam dalam lirik lagu tersebut. Karena pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis maka data yang dibutuhkan dalam penelitian ini melingkupi data primer dan data sekunder. Data primer dalam pendekatan sosiologis ini adalah delapan teks lirik lagu tersebut. Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pemahaman gerakan dakwa yang diikuti oleh para penyanyi dan partai hizbut tahrir sendiri yang senantiasa menggunakan lagu ini dalam aksi-aksinya.&lt;br /&gt;3.3 Teknik Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Menurut Nazir dalam Susanto (2008:42) bahwa pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standart intik memeroleh data yang diperlukan. Untuk memeroleh data yang diperlukan dalam lirik lagu Shoutul Khilafah yakni melalui teknik penggunaan dokumen. Hal tersebut dilakukan karena menurut Guba dan Lincoln dalam Moleong (2002:160) bahwa data yang telah ada sebagaimana record dan dokumen bisa didapatkan dengan mudah bila data memang pernah didokumentasikan dan direcord.&lt;br /&gt;Untuk data primer dari penelitian ini yakni berupa delapan lirik lagu Shoutul Khilafah bisa langsung didapat melalui dokumen yang dimiliki oleh para anggota partai Hizbut Tahrir Indonesia. Sedangkan data sekunder berupa informasi ide-ide partai politik tersebut juga didapat dari teknik penggunaan dokumen, baik melalui kitab-kitab yang dipunyai Hizbut Tahrir Indonesia atau melalui person dan website resmi partai tersebut.&lt;br /&gt;3.4 Teknis Analisis Data&lt;br /&gt;Teknik analisis data merupakan bentuk langkah kerja yang sistematis dalam kerja penelitian. Dalam ananlisis data yang telah dikumpulkan mulai diperlakukan dengan cermat dan sistematis berdasarkan permasalahan yang diajukan.&lt;br /&gt;Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian “Ideologi Islam dalam lirik lagu Shoutul Khilafah (kajian semiotik)” menggunakan tiga teknik, yakni teknik pengklasifikasian, teknik analisis isi dan teknik pengodean. Ketiga teknik tersebut dijabarkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;3.4.1 Teknik pengklasifikasian&lt;br /&gt; Teknik pengklasifikasihan data dalam penelitian ini digunakan untuk mengklasifikasikan lirik lagu berdasarkan analisis icon, indeks dan symbol. Pengklasifikasian tersebut memang ditekankan pada analisis tekstual. Hal itu disebabkan analisis tekstual merupakan data primer.&lt;br /&gt;Pengklasifikasihan lirik lagu berdasarkan aspek tanda icon, indeks dan symbol dapat dicermati dalam lampiran yang akan menyajikan tabel-tabel pengklasifikasihan data.&lt;br /&gt;3.4.2 Teknik Analisis Isi&lt;br /&gt;Teknik penganalisisan isi menurut Krippendorf (dalam Mansurudin 2006) merupakan teknik analisis paling representative sebagai teknik yang ingin mengungkap makna maupun symbol-simbol dari suatu teks. Data berupa lirik lagu dianalisis berdasarkan makna yang mewakili bentuk perubahan yang merepresentasikan Ideologi Islam terhadap ideologi dominan. &lt;br /&gt;Dengan teknis analisis itu, tanda-tanda dalam teks lirik lagu Shoutul Khilafah dikaji secara mendalam berdasarkan tanda tanda yang mengindikasikan adanya muatan-muatan ideologis yang diusung penyanyi. Segala tanda yang terdapat dalam lirik lagu ditafsirkan secara sistematis yang tetap dikaitkan dengan kondisi social sebagai data sekunder berdasarkan makna yang merujuk pada Ideologi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3 Teknik pengodean&lt;br /&gt;Teknik pengodean digunakan untuk memberikan kode tertentu pada data agar mudah diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang diajukan. Dalam lirik lagu pengamen, pengodean digunakan untuk memberikan kode pada judul lagu, bait, dan baris lirik. Hal itu digunakan untuk memermudah analisis pada setiap judul bait dan baris.&lt;br /&gt;Pengodean terhadap lirik lagu Shoutul Khilafah berdasarkan huruf depan yang terdapat pada judul bait dan baris seperti (SdS/I/5 ) dalam lirik lagu berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamatkan dengan syariah”&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;1. Islam rahmat seluruh alam&lt;br /&gt;2. Agung mulia sempurna&lt;br /&gt;3. Dari Allah pencipota alam &lt;br /&gt;4. Untuk seluruh manusia&lt;br /&gt;5. Terapkan islam hidup mulia&lt;br /&gt;6. Tinggalkan islam hidup terhina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;7. Selamatkan dengan syariah &lt;br /&gt;8. Indonesia dan seluruh umat&lt;br /&gt;9. Selamatkan dengan syariah&lt;br /&gt;10. Kehidupan menjadi berkah&lt;br /&gt;11. Selamatkan dengan syariah&lt;br /&gt;12. Terapkan hukum quran sunnah&lt;br /&gt;13. Selamatkan dengan syariah&lt;br /&gt;14. Tinggalkan hukum jahiliyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya&lt;br /&gt;Nadzir, Muhammad. 1983. Metode Penelitian. Indonesia: Ghalia Indonesia.&lt;br /&gt;Noth, Winfried. 2006. Semiotik. Surabaya: Airlangga University Press.&lt;br /&gt;Pradopo, Djoko Rachmat. 1995. Pengkajian puisi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, metode, dan teknik Penelitian Sastra: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Sobur, Alex. 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.&lt;br /&gt;Zaimar. Okke K.S. 2008. Semiotik dan Penerapannya Dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-657104041143610290?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/657104041143610290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/analisis-semiotik-dalam-lirik-lagu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/657104041143610290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/657104041143610290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/analisis-semiotik-dalam-lirik-lagu.html' title='ANALISIS SEMIOTIK DALAM LIRIK LAGU SHOUTUL KHILAFAH'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-8293495562944722723</id><published>2010-12-16T23:04:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T23:04:22.673-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan psikologis anak</title><content type='html'>Pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan psikologis anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana anda memandang permainan untuk anak-anak?. Apakah penting menurut anda?. Apakah keikutsertaan anak dalam game mempunyai nilai penting ataukah tidak?. Banyak sekali pertanyaan yang timbul ketika kita memikirkan tentang permainnan anak yang akan berdampak kepada psikologisnya.&lt;br /&gt;Benarkah televisi telah menjadi media yang “mengkhawatirkan”. Pertanyaan ini muncul akibat telah berkembangnya perilaku negatif terutama di kalangan anak yang sesungguhnya tidak boleh dipandang sebelah mata. Lalu benarkah televisi telah menjadi biang kerok munculnya perilaku agresif, permisif, dan konsumtif di kalangan anak-anak. Pertanyaan ini “memaksa” kita untuk lebih jeli lagi memahami media televisi bagi kehidupan manusia. Televisi yang merupakan perpaduan kekuatan teknologi radio dan film (audio visual) telah menyulap wajah dunia begitu dinamis. Disini saya akan berusaha memberikan jawaban dengan menguraikan penjelasan dari para pakar, dokter, dan pelaku didik.&lt;br /&gt;Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih &amp; intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi dan mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain. Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam bloknya “http\pengaruh-nonton-tv-pada-anak-anak.html” mengungkapkan fakta bahwa Anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran TV. Data tahun 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun . Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar. Tidak semua acara TV aman untuk anak, saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.&lt;br /&gt;Anak-anak lebih bersifat pasif dalam berinteraksi dengan TV, bahkan seringkali mereka terhanyut dalam dramatisasi terhadap tayangan yang ada di televisi. Disatu sisi TV menjadi sarana sebagai media informasi, hiburan bahkan bisa sebagai kemajuan kehidupan, namun disisi lain TV dapat menularkan efek yang buruk bagi sikap, pola pikir, perilaku anak. Misalnya, tayangan seks dan kekerasan. Anak-anak yang masih rentan daya kritisnya, akan mudah sekali terpengaruh dengan isi dan materi tayangan televisi yang ditontonnya, dan pengaruhnya bisa terbawa sampai mereka dewasa.&lt;br /&gt;Televisi si kotak ajaib telah menjadi media yang keberadaannya sangat ditentukan oleh kendali pemakainya. Artinya, Televisi adalah sarana yang berisi tayangan-tayangan. Meskipun Melvin De Fleur menyatakan bahwa televisi mampu mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Tetapi sebenarnya yang salah bukan televisinya tetapi dampak tayangan yang ada dalam televisi. Dengan demikian, persoalan mendasar dari kehadiran media televisi adalah terletak pada dimensi pemanfaatan. Pemanfaatan inilah yang menjadi titik masalah munculnya perilaku-perilaku yang mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;Kebiasaan menonton TV dapat membuat anak menjadi pemalu, karena terisolasi dari pergaulannya dengan teman-teman sebaya lainnya. Hal itu yang dapat mempengaruhi psikologis anak menurut Athif Abul Id dan Syeikh Muhamammad Sa’id Marsa dalam bukunya yang berjudul “Bermain lebih baik dari pada nonton tivi”. Selain itu pola menonton TV yang tidak terkontrol akan menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak. Yang pertama, keterampilan anak jadi kurang berkembang. Usia anak adalah usia dimana si anak sedang mengembangkan segala kemampuannya seperti kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain dan kemampuan mengemukakan pendapat. Dampak lainnya, disadari atau tidak, perilaku-perilaku yang dilihat di TV akan menjadi satu memori dalam diri si anak dan akibatnya si anak menjadi meniru yang bisa berkembang menjadi karakter pribadinya di kemudian hari, kalau tidak segera diantisipasi. Jadi jangan heran, kalau orangtua melihat tingkah anaknya yang kasar atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, meski orang tua setengah mati meyakinkan bahwa mereka tidak pernah mendidik anaknya seperti itu. Bisa jadi, itu akibat pola menonton tv yang tidak terkontrol.&lt;br /&gt;Jalaludin Rahmat memaparkan dalam bukunya “psikologi komunikasi”Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku dan media massa. Ketiga lingkungan tersebut saling menopang dalam mempengaruhi perkembangan dan pembentukan karakter anak.&lt;br /&gt;Meskipun pemerintah telah membuat UU No. 32 tahun 2002 tentang penyiaran tetapi pelaksanaannya masih setengah hati. Yang paling berperan adalah orangtua sebagai jembatan dalam hubungan antara anak dengan TV menjadi sangat penting. Dampingilah anak-anak dalam menonton TV dan jika hal ini diterapkan dalam kegiatan sehari-hari maka hasilnya sangat positif. Keberadaan orang tua di samping anak pada saat menonton TV dapat menjelaskan secara langsung jika ada adegan-adegan kekerasan. Bila anak-anak menonton TV pastikan mereka benar-benar memahami pendapat yang anda berikan mengenai kekerasan. Bahaslah cara-cara untuk mengatasi sebuah pertengkaran tanpa harus dengan adanya kekerasan, dengan memberikan contoh-contoh kejadian yang terjadi sehari-hari. Bila anak sudah besar, maka ceritakanlah pengalaman hidup nyata yang berhubungan dengan kekerasan. Jelaskan pula bahwa kekerasan yang ada di TV hanyalah rekayasa dan tidak sungguh-sungguh. Bantulah anak agar dapat bersikap kritis tentang kekerasan di TV, bahwa hal itu sengaja direkayasa untuk ditonton.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-8293495562944722723?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/8293495562944722723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/pengaruh-tayangan-televisi-terhadap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/8293495562944722723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/8293495562944722723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/pengaruh-tayangan-televisi-terhadap.html' title='Pengaruh tayangan televisi terhadap perkembangan psikologis anak'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1025691893636455463</id><published>2010-12-16T23:03:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T23:03:06.920-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra Lisan'/><title type='text'>PENGEMBANGAN WISATA ZIARAH  DALAM RANGKA MEMAJUKAN PARIWISATA  DI KABUPATEN KARANGANYAR</title><content type='html'>Abstrak&lt;br /&gt;Permasalahan yang dibahas dalam artikel ini adalah : (1) obyek-obyek peninggalan sejarah mana saja yang dapat dikembangkan sebagai wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar? (2) Faktor pendukung dan faktor penghambat apa saja yang dijumpai dalam pengembangan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar?&lt;br /&gt;Tujuan penulisan artikel ini adalah : (1) mengidentifikasi peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Karanganyar yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata ziarah. (2) Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam rangka mengembangkan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar.&lt;br /&gt;Adapun simpulan dari artikel ini adalah : (1) Kabupaten Karanganyar mempunyai banyak kekayaan sejarah yang berupa bangunan-bangunan yang bernilai historis yang tersebar di beberapa daerah. Bangunan-bangunan ini dapat dikembangkan menjadi obyek wisata ziarah. (2). Untuk mengembangkan bangunan-bangunan bersejarah tersebut menjadi obyek wisata ziarah, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. (3). Dalam mengembangkan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar selain terdapat faktor pendukung, juga terdapat faktor penghambat. (4). Faktor pendukung dalam pengembangan obyek wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar : a). merupakan obyek sejarah yang sudah banyak dikenal; b). adanya dukungan budaya berziarah; c). Adanya beberapa biro perjalanan pariwisata yang ada di Kabupaten Karanganyar; d). Sarana transportasi menuju obyek wisata relatif mudah; e). Tersedianya penginapan atau akomodasi yang memadai. (5). Faktor penghambat dalam pengembangan obyek wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar antara lain adalah ada beberapa obyek wisata yang belum banyak dipromosikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyword: Pengembangan pariwisata, Wisata Ziarah, Karanganyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan potensi pariwisata, baik di darat maupun di laut. Kekayaan ini dapat dijadikan sebagai salah satu aset sumber devisa negara.&lt;br /&gt;Namun sayang, belum semua aset pariwisata dikelola dengan baik. Kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkompetens pada dunia pariwisata, menjadi salah satu faktor kendalanya. Selain itu, rasa ikut memiliki (sense of bellonging) dari warga negara Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini terlihat dari fakta, hampir sebagian besar warga negara Indonesia yang berstatus sosial dan ekonomi menengah keatas, lebih senang melakukan travelling tour ke luar negeri. Mereka lebih bangga dan lebih mengagumi aset pariwisata asing dibanding aset pariwisata lokal. Hal ini tidak perlu terjadi jika aset-aset pariwisata lokal dikelola dan dipromosikan dengan baik.&lt;br /&gt;Dalam sektor wisata dikenal banyak istilah, seperti wisata budaya, wisata lingkungan (ecotourism), wisata sejarah (historical tourism), wisata religi (religion tourism), wisata spiritual (spiritual tourism) dan masih banyak lagi. Menurut Soekardjo (1996:43-44), motif spiritual dan wisata spiritual (spiritual tourism) merupakan salah satu tipe wisata yang tertua. Sebelum orang mengadakan perjalanan untuk rekreasi, bisnis, olahraga dan sebagainya, orang sudah mengadakan perjalanan untuk berziarah (pariwisata ziarah).&lt;br /&gt;Kabupaten Karanganyar kaya akan potensi kepariwisataan yang ada kaitannya dengan wisata ziarah. Hal ini dikarenakan, Kabupaten Karanganyar mempunyai bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan peninggalan agama tertentu, khususnya agama Hindu dan Budha. Sehingga tidak mengherankan jika banyak turis yang datang ke daerah tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pasific Area of Travel Association (PATA) yang mengatakan bahwa lebih dari 50% turis yang berkunjung ke Asia karena tertarik pada objek wisata yang berupa adat-istiadat dan peninggalan-peninggalan bersejarah dari daerah yang dikunjungi.&lt;br /&gt;Pembangunan bidang pariwisata di Karanganyar yang kini dilakukan Pemerin¬tah daerah (Pemda) Karanganyar, diharapkan dapat meningkatkan Pendapatan Daerah Asli Sendiri (PADS). Setidaknya, harapan terhadap sektor pariwisata da¬pat memacu pertumbuhan ekonomi. Harapan tersebut dapat dilihat dari kebijakan Pemda Karanganyar yang menempatkan sektor pariwisata dalam motto “Intanpari” (Industri, Pertanian dan Pariwisata). Namun demikian, dari ketiga sektor yang ditetapkan menjadi motto untuk memacu pertumbuhan ekonomi, tampaknya sektor pariwisata masih berada dalam kondisi kedodoran. Artinya, perkembangan sektor pariwisata tertinggal jauh dengan industri maupun pertanian. &lt;br /&gt;Tertinggalnya sektor pariwisata rasanya cukup layak dipertanyakan, mengingat daerah Karanganyar sebenarnya memiliki banyak obyek wisata potensial untuk ‘dijual’. Obyek wisata di Kabupaten Karanganyar yang masih sangat potensial untuk dijadikan obyek wisata ziarah antara lain adalah : 1). Candi Sukuh; 2). Candi Cetho; 3) Pemandian Sapta Tirta Pablengan; 4) Astana Mangadeg; 5) Pure Pamacekan; 6) Grebeg Lawu; 7) Pertapaan Pringgodani; 8) Pertapaan Bancolono; 9) Puncak Gunung Lawu; dan 10) Telaga Madirda.&lt;br /&gt;Oka A. Yoeti (1995:27) memberikan suatu alternatif mengenai bagaimana cara memanfaatkan benda-benda atau bangunan-bangunan peninggalan sejarah. Menurutnya, untuk mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah dapat ditempuh dengan cara menjadikannya sebagai obyek wisata sejarah. Cara ini dapat memberikan keuntungan ganda. Di satu pihak bangunan-bangunan kuno tetap lestari, di pihak lain dapat mendatangkan devisa bagi negara.&lt;br /&gt;Berdasarkan fenomena di atas, penulis mencoba menyajikan tulisan yang berjudul “Pengembangan Wisata Ziarah Dalam Rangka Memajukan Pariwisata di Kabupaten Karanganyar”.&lt;br /&gt;Pembatasan masalah dalam suatu penelitian mutlak adanya. Pembatasan ini dapat dipakai untuk menghindari keluarnya penelitian dari sasaran yang telah dibidiknya. Selain itu, pembatasan masalah juga diperlukan agar penelitian mampu memecahkan permasalahan secara mendalam, terpusat dan mampu mencapai tujuannya. Penulis membatasi permasalahan pada upaya apakah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan wisata ziarah dalam rangka memajukan pariwisata di Kabupaten Karanganyar.&lt;br /&gt;Rumusan masalah digunakan agar penelitian lebih terarah dan berhasil. Masalah yang akan diteliti perlu diidentifikasi secara rinci dan dirumuskan dalam pernyataaan-pernyataan operasional (Edi Soebroto, 1992:88).&lt;br /&gt;Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Obyek-obyek peninggalan sejarah mana saja yang dapat dikembangkan sebagai wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar?&lt;br /&gt;2. Faktor pendukung dan faktor penghambat apa saja yang dijumpai dalam pengembangan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar&lt;br /&gt;Tujuan suatu penelitian harus jelas, mengingat penelitian mempunyai sasaran dan arah yang tepat. Adapun tujuan penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Kabupaten Karanganyar yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata ziarah.&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat dalam rangka mengembangkan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kerangka Teoretis&lt;br /&gt;C.Kluckhohn dan W.H. Kelly menyatahan bahwa kebudayaan adalah pola hidup yang tercipta dalam sejarah, yang eksplisit, implisit, rasional, irasional, dan terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman potensial bagi tingkah laku manusia. Kebudayaan menurut R. Linton seperti yang dikutip Joko Tri Prasetyo (1991:23) adalah konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku dan unsur-unsur pembentuknya yang didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu. Dalam definisi ini ditekankan adanya tingkah laku yang dipelajari dan aspek diteruskan oleh anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat (1990:7) menyatakan bahwa kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan yang dijadikan milik sendiri dengan belajar. Kebudayaan diwujudkan dalam sistem budaya (cultural system) yang meliputi wujud ideal, sistem sosial, dan wujud fisik.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat dalam bagian lain menyatakan bahwa kebudayaan diciptakan untuk memperoleh kesempurnaan hidup. Kebudayaan merupakan lapis atas dari kehidupan manusia, sedangkan lapis bawahnya adalah adanya peradaban manusia.&lt;br /&gt;Wujud kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1993:13) ada tiga macam dan berjenjang dari abstrak ke konkret, yakni: 1) wujud idiil, (sistem budaya dan adat istiadat); 2) wujud kelakuan (sistem sosial); 3) wujud fisik (keseluruhan total dari hasil fisik dan aktivitas, perbuatan dan karya manusia dalam bermasyarakat).&lt;br /&gt;Koentjaraningrat (1990:10) menyatakan bahwa isi pokok kebudayaan di dunia ini adalah: 1) bahasa; 2) sistem pengetahuan; 3) organisasi sosial; 4) sistem peralatan hidup dan teknologi; 5) sistem mata pencaharian hidup; 6) sistem religi; dan 7) kesenian. Ketujuh aspek kebudayaan ini memiliki unsur-unsur lagi yang lebih kecil, yang masing-masing juga memiliki komponen yang lebih kecil dan bidang yang lebih spesifik.&lt;br /&gt;M.E. Spiro dalam Koentjaraningrat (1990:18) menyatakan ada tiga fungsi dari unsur-unsur kebudayaan, yakni: 1) pemakaian yang menerangkan fungsi sebagai hubungan guna antara suatu hal dengan tujuan tertentu; 2) pemakaian yang menerangkan kaitan korelasi antara satu hal dengan yang lain; 3) pemakaian yang menerangkan hubungan yang terjadi antara satu hal dengan hal-hal lain dalam suatu sistem yang terintegrasi.&lt;br /&gt;Koentjaraningrat (1990:20) menyebutkan kebudayaan secara khusus dapat diklasifikasikan dalam empat unsur, yaitu: 1) sistem budaya dan adat istiadat (berwujud gagasan, konsep, dan aturan); 2) sistem sosial (berwujud tindakan-tindakan individu yang terpola); 3) sistem kepribadian (berwujud tindakan yang mencerminkan kepribadian seseorang atau kelompok masyarakat); 4) sistem organik (berwujud adaptasi terhadap lingkungan yang menunjukkan adanya keterbatasan organik manusia).&lt;br /&gt;Salah satu unsur kebudayaan adalah sistem religi. Sistem ini dapat dirinci menjadi empat komponen, yaitu: 1) emosi keagamaan yang menimbulkan sikap religi; 2) sistem keyakinan yang menyebabkan seseorang mengadakan transendensi dengan alam ghaib; 3) sistem ritus dan upacara yang berhadapan dengan alam ghaib; 4) kesatuan sosial yang menganut dan melaksanakan sistem keyakinan dan sistem ritus.&lt;br /&gt;Secara lebih kecil, sistem religu dapat dirinci lagi menjadi: 1) bersaji; 2) berkorban; 3) berdoa; 4) makan bersama makanan yang sudah disucikan; 5) menarikan tarian suci; 6) menyanyikan nyanyian suci (berprosesi untuk upacara keagamaan); 7) memainkan seni drama suci; 8) berpuasa; 9) intoksikasi; 10) bertapa; dan 11) bersemedi.&lt;br /&gt;Pengertian Pariwisata menurut Matheiesen and Wall tentang pariwisata:&lt;br /&gt;“Tourism is the temporary movement of people to destinations outsiders their normal places of work and residence, the activities undertaken during their stay in those destinations and the fasilities created to carter to their needs”.&lt;br /&gt;Kata kunci atau unsur pariwisata menurut Matheiesen and Wall :&lt;br /&gt;a. temporary movement (perpindahan sementara)&lt;br /&gt;b. destinations (ada daerah tujuan wisata)&lt;br /&gt;c. activities (aktifitas)&lt;br /&gt;d. facilities (fasilitas)&lt;br /&gt;3. WTO (Word Tourism Organization)&lt;br /&gt;“Tourist is a visitor who travels to a country other than that in which he/she has his/her usual residence for at least one night, but not morethan one year, and those main purpose of visit is other than the exercise of an activity remunerated from within the country visited”.&lt;br /&gt;Dalam melakukan perjalanan, seseorang pasti mempunyai salah satu dari motivasi berikut ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi Category Motivation&lt;br /&gt;Physical Motivation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cultural Motivation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fantasy • Refresment of body and mind.&lt;br /&gt;• For health purpose.&lt;br /&gt;• For participation in sport.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Curiousity about foreign countries, people, culture and places.&lt;br /&gt;• Interest in art, music, architecture, and folklore.&lt;br /&gt;• Interest in cultural heritage, and historical places.&lt;br /&gt;• Expenriencing spesific cultural events.&lt;br /&gt;• Visiting friends and relatives.&lt;br /&gt;• Meeting new people.&lt;br /&gt;• Seeking new friendship and relationship.&lt;br /&gt;• Seeking new freindship and different experience.&lt;br /&gt;• Travelling for travel’s.&lt;br /&gt;• Prestige and status.&lt;br /&gt;• Fashion.&lt;br /&gt;• Pursuit of hobbies.&lt;br /&gt;• Continuation of education and learning.&lt;br /&gt;• Seeking of bussiness contacts and profesional goals.&lt;br /&gt;• Conference and meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Visiting places and people for religius reasons.&lt;br /&gt;• Travelling as part of a pilgrimage.&lt;br /&gt;• Travelling for find “orasele”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Personal excitement of travelling.&lt;br /&gt;• Escaping from one’s own permanent sosial environment (desire for a change).&lt;br /&gt;• Ego-enhancement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Metode Penelitian&lt;br /&gt; Metode penelitian ini adalah analisis deskriptif. Sumber data terdiri dari berbagai sumber seperti data tertulis, wawancara, serta observasi. Data tersebut kemudian dipilih-pilah sesuai dengan tujuan deskripsi, yakni tentang wisata ziarah sehingga dalam analisis data dilakukan tiga tahapan, display data, reduksi, danpenarikan kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hasil Penelitian&lt;br /&gt;A. Candi Sukuh, Ngargoyoso.&lt;br /&gt;Candi Sukuh merupakan bangunan candi Hindu yang diperkirakan didirikan pada abad XV, berfungsi sebagai tempat pemujaan. Candi ini ditemukan oleh Johnson, seorang Resident pada masa pemerintahan Gubernur Raffles tahun 1815. Candi yang penuh misteri ini berada pada ketinggian 910 meter di atas permukaan laut. Candi ini terletak di dusun Sukuh, desa Berjo kecamatan Ngargoyoso. Kemisterian candi Sukuh ini dinampakkan lagi pada perbedaan dengan candi-candi Hindu lainnya yang mempunyai ciri bangunan memusat.&lt;br /&gt;Luas areal candi Sukuh ± 5.500 meter persegi dengan tata letak bangunan memusat ke belakang, berundak yang terdiri dari tiga halaman teras. Halaman teras pertama lebih rendah dari teras kedua dan ketiga, yang disebut dengan Jaba. Halaman teras kedua disebut Jaba Tengah, sedang halaman teras ketiga disebut Jeron. Untuk memasuki Jaba harus melewati gapura Cangapit. Pada gapura ini terdapat Lingga-Yoni yang terlukiskan pada lantai gapura. Untuk menuju Jaba Tengah dan Jeron harus melalui gapura Sela Setangkep, disana terdapat profil candi yang berada di depan candi induk dengan arsitek piramid terpancung.&lt;br /&gt;Candi Sukuh adalah tempat pemujaan dan penyelenggaraan acara ritual keagamaan bagi para penganut agama Hindu. Simbol-simbol yang memiliki makna, relief-relief lepas maupun relief berseri sampai dengan patung-patung masih banyak dijumpai di lokasi kawasan candi. Relief berseri di Candi Sukuh menggambarkan cerita Garudeya dan Sudhamala yang mengungkap tema “pembebasan”. Pada halaman candi induk terdapat banyak relief. Relief ini pada dasarnya menggambarkan “pembebasan”, seperti pada cerita Sudamala (cuddha artinya bersih, mala artinya dosa). Seni candi tersebut menceritakan Sadewa salah satu satriya dari Pandawa membebaskan Dewi Durga dari kutukan Bethara Guru. Ada juga cerita tentang Garudeya yang membebaskan ibundanya, Winata, dari perbudakan Kadru yang masih saudaranya sendiri. Winata kalah dalam pertaruhan tentang warna ekor kuda Ucchaiçrawa, karena rekayasa Kadru serta cerita tentang Bima melawan Kalantaka. &lt;br /&gt;Relief candi yang berjejer di bagian kanan depan candi menggambarkan dan menceriterakan asal mula tradisi ruwatan. Selain itu candi ini menggambarkan alat kelamin laki-laki (lingga) dan perempuan (yoni). Relief dan patung yang ada di candi ini bukanlah sesuatu yang dapat dianggap pornografi, karena tujuan dari relief itu untuk menggambarkan keharmonisan dan kesakralan suatu hubungan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Candi Cetho, Jenawi.&lt;br /&gt;Candi Hindu ini dibangun sekitar abad 15 pada akhir jaman kerajaan Hindu Majapahit oleh Brawijaya V. Mempunyai 9 tingkatan dengan arsitektur yang mirip dengan pura di Bali. Di sekitar komplek candi ini terdapat patung Saraswati sumbangan dari Kabupaten Gianyar dan melambangkan ilmu pengetahuan&lt;br /&gt;Candi ini terletak di Desa Gumeng Kecamatan Jenawi dan berada pada ketinggian 1.470 meter dari atas permukaan laut. Candi Cetho merupakan candi Hindu yang dibangun abad XV. Candi ini pertama kali ditemukan oleh Van Der Vlis pada tahun 1842 yang kemudian banyak mendapat perhatian dari para ahli purbakala.&lt;br /&gt;Komplek candi terdiri dari 13 teras berundak yang membujur dari barat ke timur, makin ke belakang semakin tinggi. Untuk dapat masuk ke halaman candi harus melewati gapura Bentar dengan menapaki anak tangga yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;Di depan gapura ini terdapat arca yang saling membelakangi, suatu gambaran adanya ambiguitas pada tahap awal masa pertaubatan. Pada bagian atas terdapat patung bermuka dua, yang menggambarkan jalan di depan seolah tidak menguatkan, penuh perjuangan atau berpaling pada jalan lalu pada sebuah memori yang amat indah, suatu pengendapan rasa dalam memperoleh ketegasan untuk melangkah atau surut.&lt;br /&gt;Pada teras kedua terdapat bangunan tempat pemantapan menuju perenungan akan ketentraman jiwa. Pada teras keempat terdapat lingga, menggambarkan godaan yang terbesar menuju pertaubatan yaitu jalan melewati nafsu. Pada halaman teras keenam terdapat pintu masuk tanpa gapura, di halaman ini banyak terdapat arca dalam bentuk manusia berciri prasejarah. Tahapan ini merupakan gambaran dimana aktivitas kehidupan masih dipertanyakan kesiapannya untuk menuju pertaubatan. Di teras ke tujuh terdapat dua rumah joglo yang disebut Palereman atau tempat peristiratan sejenak apabila nafsu sudah dapat diendapkan dan dikendalikan.&lt;br /&gt;Teras selanjutnya, pada saat menapaki tangga, menggambarkan perjuangan berat untuk mengakui kesalahan, yang ternyata cukup melelahkan. Naik teras setingkat lagi terdapat beberapa pilihan pertimbangan yang digambarkan dalam arca, tentang perjalanan apa yang ingin diraih; nafsu yang ingin diraih; kepandaian yang akan dicapai; kebijakan atau kesejatian hidup. Kemudian satu tingkat di teras tertinggi adalah “keindahan” dimana panorama indah dikejauhan dapat terlihat jelas tanpa batas.&lt;br /&gt;Puncak yang dicapai merupakan akhir dari suatu pertaubatan, yang ditandai dengan menemukan ketentraman yang hakiki, yaitu dilambangkan dengan kubus. Kubus adalah kenetralan suatu sisi. Bangunan kubus ini terdapat di puncak Candi Cetho.&lt;br /&gt;Kompleks Candi Cetho ini sangat menarik karena lokasinya didukung oleh panorama yang indah, berhawa sejuk juga bentuknya sangat spesifik yang tidak ditemukan pada candi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pemandian Sapta Tirta Pablengan, Matesih.&lt;br /&gt;Sumber Air Pablengan merupakan pemandian bersejarah peninggalan kerajaan Mangkunegara VI. Di dalamnya terdapat bangunan sakral berupa pemandian terbuka yang disebut Pemandian Kaputren. Pemandian ini memiliki 6 kamar mandi. Pablengan memiliki tujuh macam sumber air alami yang berbeda jenis, yang letaknya sangat berdekatan, yaitu Air Hangat, Air Dingin, Air Hidup, Air Mati, Air Soda, Air Bleng, dan Air Urus Urus.&lt;br /&gt;D. Astana Mangadeg, Matesih.&lt;br /&gt;Astana Mangadeg merupakan kompleks pemakaman para penguasa istana Mangkunegaran (salah satu pecahan dinasti Mataram) yaitu makam Mangkunegara I, II, III. Astana Mangadeg berada di lereng gunung Lawu dengan ketinggian 750 meter dari atas permukaan laut, terletak di desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pura Pamacekan, Karangpandan.&lt;br /&gt;Pura ini merupakan bentuk wisata ziarah ke makam Ki Ageng Pasek (Pamacekan). Beliau adalah leluhur Bali yang dimakamkan di Desa Pasekan, Karangpandan. Selain untuk berziarah, pura ini biasa digunakan untuk menyaksikan acara-acara ritual agama Hindu, yang didukung panorama alam sekitar yang mempesona.&lt;br /&gt;Pura Pamacekan merupakan tempat petilasan/peninggalan leluhur orang Bali yang pernah tinggal di dusun Pasekan Desa Salam Kecamatan Karangpandan, akibat dari konflik yang terjadi pada masa itu.&lt;br /&gt;Pura ini merupakan tempat ibadah umat Hindu yang ada di wilayah Kabupaten Karanganyar. Untuk memperingati hari ditemukannya tempat leluhur ini, masyarakat Bali di Karanganyar biasanya mengadakan Upacara Purnamaning Sasih Katiga.&lt;br /&gt;Pengujung dapat mencapai pure Pemacekan menggunakan kendaraan umum jurusan Karangpandan-Tawangmangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Pertapaan Pringgodani, Tawangmangu.&lt;br /&gt;Tempat bertapa ini merupakan petilasan Eyang Koconegoro. Tempat ini merupakan obyek wisata sejarah yang terletak di sebelah barat lereng gunung Lawu pada ketinggian 1.300 meter dari atas permukaan laut. Pertapaan ini terletak di Desa Blumbang Kecamatan Tawangmangu.&lt;br /&gt;Pertapan ini mempunyai kolam yang disakralkan, yang disebut sendang pengantin. Di sendang ini para peziarah biasanya mencuci mukanya sambil mengucapkan salam. Pertapan ini juga mempunyai petilasan bangunan bermotif joglo, yang biasa dipakai oleh peziarah untuk memanjatkan permohonan sesuai dengan cara dan kepercayaan masing-masing. Puncak ritual di pertapan ini adalah mandi di tujuh pancuran alami yang airnya memancar dari tebing. Prosesi ini dilakukan secara berurutan, sesuai dengan urutan masing-masing pancuran, dan dilakukan tepat pada tengah malam.&lt;br /&gt;Pertapan Pringgodani dapat dijangkau dengan kendaraan umum Tawangmangu-Sarangan, namun masih dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak sepanjang 3 km dari desa Blumbang. &lt;br /&gt;Fasilitas yang tersedia di tempat ziarah ini meliputi; jalan setapak, MCK, tempat bilas, joglo tempat meditasi dan warung makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Pertapaan Bancolono, Tawangmangu.&lt;br /&gt;Tempat pertapaan Bancolono merupakan petilasan Raja Majapahit yang terakhir, yaitu Raja Brawijaya V. Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit, maka raja Brawijaya V dan pengawalnya mengungsi sampai lereng gunung Lawu. Sebelum naik ke puncak Gunung Lawu, raja dan para pengawalnya bersuci (mandi) di sebuah sendang. Setelah bersuci, raja dan pengawalnya naik ke puncak gunung Lawu. Sesampainya di puncak, mereka mendirikan kerajaan. Sendang tempat mandi raja Brawijaya itu, sekarang dikenal sebagai Pertapaan Bancolono.&lt;br /&gt;Pertapan ini masih dianggap keramat oleh banyak orang. Mereka yang melakukan meditasi di pertapan ini, hampir semua permohonannya terkabul. &lt;br /&gt;Pertapan ini berada di wilayah desa Gondosuli Kecamatan Tawangmangu, atau berada di bawah jembatan Bancolono, tapal batas antara Jawa tengah dan Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H. Puncak Gunung Lawu, Tawangmangu.&lt;br /&gt;Puncak Lawu dapat dicapai dari Cemoro Kandang, Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu. Gunung dengan ketinggian 3.625 meter dari atas permukaan laut ini merupakan areal wisata pendakian gunung yang terkenal. Selain kondisi alam yang banyak tantangannya, obyek wisata ini dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa sebagai pusat kekuatan spiritual dunia. Obyek wisata ini memiliki beberapa petilasan bersejarah, termasuk peninggalan raja terakhir kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;Selain sebagai tempat ziarah, menjelang 1 Sura, tempat ini biasanya  ramai dipadati pengunjung. Mereka melakukan pendakian ke puncak Lawu untuk meditasi mencari jawaban atas segala permasalahan kehidupan. Mereka menganggap bulan Sura adalah bulan sakral, sehingga semua bentuk permohonan akan terkabul.&lt;br /&gt;Tradisi ziarah ke puncak Lawu juga dilakukan oleh kerabat-kerabat keraton Jawa. Tradisi ini dilakukan dengan upacara khusus, yaitu LABUHAN. Dahulu, puncak Lawu dipercaya sebagai tempat muksa raja Brawijaya V, yang akhirnya dikenal sebagai SUNAN LAWU pada abad ke XV.&lt;br /&gt;Selain upacara labuhan, masih dalam rangkaian kegiatan menyambut 1 Sura, juga diselenggarakan upacara tradisi Grebeg Lawu. Upacara ini dimeriahkan dengan berbagai festival budaya, serta kegiatan pelestarian alam, dengan gerakan penanaman pohon/penghijauan oleh para pendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Grebeg Lawu, Tawangmangu.&lt;br /&gt;Setiap tahun, di bulan Sura, banyak wisatawan datang ke Karanganyar untuk melakukan wisata ziarah atau spiritual. Karanganyar, memiliki banyak tempat yang dapat diziarahi dan dijadikan tempat untuk semedi atau perenungan. Tempat-tempat tersebut biasanya memiliki nilai spiritual tinggi. Ada ritual rutin menyambut malam 1 Sura, yang biasa dilakukan di Karanganyar, yaitu jabaleka dan ritual rasulan.&lt;br /&gt;Grebeg Lawu merupakan acara yang diadakan di kawasan Gunung Lawu, tepatnya di kompleks Candi Sukuh. Acara ini biasanya menampilkan kebudayan Karanganyar seperti kesenian Lesung, Loro Blonyo dan jenis kesenian lainnya. Upacara ini sangat berhubungan dengan budaya Bali. Hal ini tampak pada adanya unsur budaya Hindu yang cukup kental, yang ditampilkan lewat kesenian dan tari-tarian dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;J. Telaga Madirda, Ngargoyoso.&lt;br /&gt;Telaga Madirda berada di dusun Tlogo Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso. Telaga ini mempunyai cerita yang berkembang di masyarakat (tentang Dewi Anjani dan saudara kembarnya Sugriwa dan Subali yang memperebutkan Jupu Manik Astagina. Pada akhirnya benda tersebut dilempar oleh ayah mereka yaitu Resi Gotama ke tengah hutan dan berubah menjadi telaga dengan air yang jernih). &lt;br /&gt;Obyek Wisata ini berpanorama alam yang sangat indah, dikelilingi perbukitan yang berhawa sejuk ditengah suburnya tanaman bunga dan sayuran. Daya tarik telaga ini adalah berhawa sejuk dengan panorama alam yang indah.&lt;br /&gt;Menjelang pelaksanaan ibadah puasa, telaga Madirda ini banyak dikunjungi wisatawan lokal untuk melaksanakan padusan/bersih diri. Padusan ini dimeriahkan dengan Atraksi Kesenian Tari Dewi Anjani sebagai legenda yang ada di Telaga Madirda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PENUTUP&lt;br /&gt;A. Simpulan&lt;br /&gt;1. Kabupaten Karanganyar mempunyai banyak kekayaan sejarah yang berupa bangunan-bangunan yang bernilai historis yang tersebar di beberapa daerah. Bangunan-bangunan ini dapat dikembangkan menjadi obyek wisata ziarah.&lt;br /&gt;2. Untuk mengembangkan bangunan-bangunan bersejarah tersebut menjadi obyek wisata ziarah, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.&lt;br /&gt;3. Dalam mengembangkan wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar selain terdapat faktor pendukung, juga terdapat faktor penghambat.&lt;br /&gt;4. Faktor pendukung dalam pengembangan obyek wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar :&lt;br /&gt;a. Merupakan obyek sejarah yang sudah banyak dikenal.&lt;br /&gt;b. Adanya dukungan budaya berziarah.&lt;br /&gt;c. Adanya beberapa biro perjalanan pariwisata yang ada di Kabupaten Karanganyar.&lt;br /&gt;d. Sarana transportasi menuju obyek wisata relatif mudah.&lt;br /&gt;e. Tersedianya penginapan atau akomodasi yang memadai.&lt;br /&gt;5. Faktor penghambat dalam pengembangan obyek wisata ziarah di Kabupaten Karanganyar :&lt;br /&gt;a. Merupakan jenis obyek wisata yang belum banyak dipromosikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;1. Pengembangan wisata ziarah sudah saatnya dikelola secara profesional dengan melibatkan campur tangan dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;2. Promosi untuk mengenalkan wisata ziarah pada para wisatawan hendaklah ditingkatkan, baik melalui brosur-brosur wisata maupun melalui alat komunikasi lainnya.&lt;br /&gt;3. Agar para peziarah merasa betah berada di lokasi obyek wisata, maka masyarakat setempat harus berperilaku simpatik terhadap para wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DeFleur, Melvin, William V, D’Antonio, Louis B. DeFleur. 1973 Sociology: Human Society. Glenview, Illinoius: Scott, Foresman an Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinas Pariwisata. 2005. Obyek Wisata di Karanganyar. &lt;http://www.google.com&gt; (diakses tanggal 22 November 2007 pukul 12.00).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;French, Craigh-Smith &amp; Coller. 1996. Principles of Tourism. Melbourne: Longman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jary, David &amp; Julia Jary. 1991. Collins Dictionary of Sociology. Glosgow: Harper Collins.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Tri Prasetyo. 1991. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________. 1993. Kebudayaan, Mentalitet Pembangunan. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mochtar Lutfi. 2001. Pengembangan Wisata Ziarah Makam-Makam Sejarah Menyongsong Otonomi Daerah Jawa Timur. Jurnal Penelitian Dinamika Sosial, Universitas Airlangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moleong, Lexy J. 1997. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekardjo, R.G. 1996. Anatomi Pariwisata: Memahami Pariwisata Sebagai Systemic Linkage. Jakarta: Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoeti, Oka A. 1995. Melestarikan Seni Budaya yang Nyaris Punah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1025691893636455463?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1025691893636455463/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/pengembangan-wisata-ziarah-dalam-rangka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1025691893636455463'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1025691893636455463'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/pengembangan-wisata-ziarah-dalam-rangka.html' title='PENGEMBANGAN WISATA ZIARAH  DALAM RANGKA MEMAJUKAN PARIWISATA  DI KABUPATEN KARANGANYAR'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1736097581715291948</id><published>2010-12-16T23:00:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T23:00:51.086-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Reka Cipta Pengarang Terhadap Semesta dalam Novel Theseus Karya Andre Gide (Sebuah Pendekatan Mimesis)</title><content type='html'>Reka Cipta Pengarang Terhadap Semesta&lt;br /&gt;dalam Novel Theseus Karya Andre Gide&lt;br /&gt;(Sebuah Pendekatan Mimesis)&lt;br /&gt;Oleh: Uman Rejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;Dalam menanggapi alam semesta, manusia mengakui keberadaan alam semesta. Pengakuan tersebut menghasilkan suatu pengetahuan. Menurut Poedjawijatna bahwa aspek pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi pengindraan, tanggapan, ingatan, dan fantasi. Dalam kesempatan ini akan dibahas hubungan sastrawan tersebut dengan pengetahuan alam semesta yang dimiliki.&lt;br /&gt;Dalam Novel Theseus karya Andre Gide banyak ditemukan hal-hal yang abstrak dalam cerita. Hal itu terjadi pada percampuran antara realita dan hal mistis yang tidak dapat dicernaoleh logika dalam kehidupan manusia. Bukanlah suatu kebetulan melainkan pengarang sengaja memasukkan nilai-nilai mistis dalam cerita. Dugaan tersebut dapat dilanjutan dengan analisis lebih lanjut dan mendalam novel Theseus karya Andre Gide ini.&lt;br /&gt;B. Hubungan Sastrawan dengan Alam Semesta&lt;br /&gt;Semua karya manusia disusun berdasarkan alam semesta. Hal ini juga yang dialam ioleh Andre Gide. Gide menyampaikan ide dan gagasannya melalui karya sastra. Ide tersebut diperoleh dari alam semesta. Sastrawan memperlakukan kenyataan dan dunia dengan tiga cara, yaitu manipulatif, artifisial, dan interpretatif. Kenyataan yang diindrakan sastrawan dapat dijadikan bahan karya sastranya.&lt;br /&gt;Peursen (dalam Siswanto, 2008: 198) mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat tiga tahapan sikap manusia terhadap alam yaitu &lt;br /&gt;1. Tahap Mistis&lt;br /&gt;Sikap manusia yang merasa dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekelilingnya, yaitu kekuasaan dewa, alam raya, atau kesuburan.&lt;br /&gt;2. Tahap Ontologis&lt;br /&gt;Sikap manusia tidak lagihidup dalam kepungan kekuasaan mistis, melainkan secara bebas ingin meneliti secara ikhwal utuk menyusun ajaran atau teori.&lt;br /&gt;3. Tahap Fungsional&lt;br /&gt;Sikap dan alam pikiran yang makin tampak dalam manusia modern. Pengarang lebih mementingkan relasi bukan distansi.&lt;br /&gt;Dari ketiga tahapan berikut pengarang menggunakan nuansa ketika jaman peperangan. Masyarakat saling menunjukkan kekuatan untuk merampas kekuasaan.  Meskipun tidak dipungkiri persoalan cinta selalu mewarnai dalam cerita theseus. Selain itu Andre Gide menerapkan kehidupan dalam realita yang dialami yang kemudian diolah sedemikian rupa dengan pengurangan dan penambahan serta diksi yang cukup matang sehingga menjadi suatu karya sastra.&lt;br /&gt;Bagi Plato tidak ada pertentangan antara realisme dan idealisme dalam seni. Seni yang terbaik adalah lewat mimetik. Peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Apa yang disampaikan pengarang tidak bisa dilepaskan dari apa yang dilihat sastrawan dengan pancaindranya seperti dilihat, dicium, didengar, diraba, dan dirasakan. Dalam Theseus banyak hal-hal yang ditiru yang sebelumnya diolah oleh Andre Gide membentuk suatu cerita yang tidak jauh beda dengan peristiwa-peristiwa yang ada pada realita.  &lt;br /&gt;C. Konsep  Penciptaan Semesta Oleh Pengarang&lt;br /&gt;  Tokoh Theseus adalah tokoh ksatria yang selalu menang dalam berperang. Selain itu, seorang tokoh digambarkan oleh Andre Gide seperti layaknya ksatia yang gagah, berubuh tegap, dadanya lebar dan sanggu membuai wanita seperti theseus. Dalam realita pasti ada peperangan perebutan kekuasaan oleh seorang ksatria. Dalam hal ini Andre Gide meniru realita itu yang kemudian ditambah dengan cirri-ciri ksatria yang mengagumkan. Meskipun dalam kenyataannya tidak semua ksatria tampan dan sepandai Theseus yang digambarkan pengararang mendekati sempurna. Hal ini menunjukkan perlakuan kenyataan yang dianggap bahan mentah kemudian diolah dengan cara ditiru dan ditambahkan agar lebih menarik. &lt;br /&gt;Adanya karakteristik yang hampir sempurna oleh tokoh Theseus terlihat jelas ada unsure dibuat-buat. Bukti lain yakni keberanian tokoh dalam berpetualang untuk mencari kekuasaan dibuat ksatria dengan lebih suka menantang maut.Hal ini terlihat ketika Theseus dinasehati ayahnya ketika berperang menggunakan jalur laut karena lebih aman dibandingkan jalur darat. Kenyataan uga dipelakukan interpretative yaitu pengarang member pandangan bahwa anak yang kurang mendapat kasih sayang orang tua etika dewasa akan memberotak dan tidak patuh pada orang tuanya. &lt;br /&gt;Dalam tahapan manusia dalam memaknai alam terdapat dua tahapan yang dilakukan oleh Andre Gide. Yang pertama adalah tahap mistis. Tahapan manusia masih dikepung oleh kekuatan-kekuatan gaib. Gide memasukkan nilai-nilai agama berbentuk dewa-dewa yang berperan mementukan segala yang terjadi. Bahkan diceritakan bahwa sebenarnya Theseus adalah anak dewa. Hal ini tidak hanya bersifat mistis tetapi juga mengandung unsure manipulative dan arifisial.  Diceritakan bahwa  terdapat hukuman yang diperoleh masyarakat dengan menyerahkan upeti tiap tahun dengan menyerahkan tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi. Dalam realita hal ini juga terjadi. Pada beberapa daerah yang kepercayaan terhadap hal-hal gaib seperti dengan gunung yang dapat meletus jika setiap tahunnya tidak diberi korban. Hal ini mugkin saja pengalaman Gide yang mengetahui tradisi tersebut mungkin dari pengalaman langsung atau dari bacaan.&lt;br /&gt;     Dampak sesuatu yang dilakukan pasti mendapat balasan para dewa. Unsur mistis benar-benar kental dalam cerita ini. Dijelaskan bahwa Theseus mengakui ahwa kesalahan yang diperbuat sebagai pembalasan para dewa. Hal ini menunjukkan bahwa dewa yang bersifat tidak nyata juga memiliki peran dalam cerita. Hal ini dikarenakan adanya pengetahuan dewa-dewa yang diperoleh pengarang sehngga pengarang mampu mencampurkan realita dengan hal yang bersifat abstrak.&lt;br /&gt;D. Penutup&lt;br /&gt;      Bagi Plato tidak ada pertentangan antara realisme dan idealisme dalam seni. Seni yang terbaik adalah lewat mimetik. Peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Apa yang disampaikan pengarang tidak bisa dilepaskan dari apa yang dilihat sastrawan dengan pancaindranya seperti dilihat, dicium, didengar, diraba, dan dirasakan. Dalam Theseus banyak hal-hal yang ditiru yang sebelumnya diolah oleh Andre Gide membentuk suatu cerita yang tidak jauh beda dengan peristiwa-peristiwa yang ada pada realita.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Gide, Andre. 1979. Theseus. Jakarta: Budaya Jaya.&lt;br /&gt;Luxemburg, Jan Van. 1984. Pengantar Ilmu Sastra (diterjemahkan oleh Dick Hartoko). Jakarta: PT Gramedia.&lt;br /&gt;Najid, Moh. 2009. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: University Press.&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Gramedia.&lt;br /&gt;Teeuw, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1736097581715291948?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1736097581715291948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/reka-cipta-pengarang-terhadap-semesta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1736097581715291948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1736097581715291948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/reka-cipta-pengarang-terhadap-semesta.html' title='Reka Cipta Pengarang Terhadap Semesta dalam Novel Theseus Karya Andre Gide (Sebuah Pendekatan Mimesis)'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-924430413695424735</id><published>2010-12-16T22:59:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T22:59:28.115-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Analisis Wacana'/><title type='text'>ANALISIS WACANA CERPEN"PENGUSAHA IDEALIS" KARYA PUTU WIJAYA</title><content type='html'>ANALISIS WACANA CERPEN “PENGUSAHA IDEALIS” &lt;br /&gt;KARYA PUTU WIJAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;Mertha Merlinda Y&lt;br /&gt;082144006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRODI SATRA INDONESIA REGULER&lt;br /&gt;JURUSAN SASTRA INDONESIA&lt;br /&gt;FAKULTAS BAHASA DAN SENI&lt;br /&gt;UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA&lt;br /&gt;2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sinopsis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Pengusaha Idealis” karya Putu Wijaya ini menceritakan tentang seorang pengusaha muda yang memiliki prinsip yang kuat dalam berbisnis. Ia begitu percaya diri dengan prinsip yang ia punya. Ia begitu tegas dalam memaparkan prinsip-prinsipnya itu dihadapan pengusaha asing yang berniat mencari partner dalam berbisnis. Ia mengemukakan prinsipnya itu dengan begitu meyakinkan. Prinsip-prinsip pengusaha muda itu antara lain, pertama, ia memiliki sebuah kejujuran yang tidak pernah ia janjikan, namun ia sudah biasa dalam melaksanakannya. Kedua, ia berjiwa progresif serta agresif dalam merebut peluang-peluang usaha. Dan ia beranggapan bahwa idealismenya ini tidak dimiliki oleh pengusaha-pengusaha besar lain yang sudah mapan. Pengusaha-pengusaha yang sudah mapan umumnya bekerja untuk memupuk uang, sedangkan ia bekerja dengan cita-citanya untuk ikut membangun negeri.&lt;br /&gt;Pengusaha asing yang ingin menanamkan modal besar-besaran di indonesia tersebut awalnya menolak pengusaha muda untuk dijadikan partnernya. Penolakan dari pengusaha asing tersebut adalah karena adanya perbedaan faham dalam filosofi dasar berbisnis. Pengusaha asing berpandangan bahwa dalam berbisnis, seorang pengusaha haruslah kaya terlebih dahulu barulah kemudian menjadi idealis. Sedangkan pengusaha muda berpandangan sebaliknya bahwa dalam berbisnis, seorang pengusaha haruslah idealis terlebih dahulu barulah menjadi kaya.&lt;br /&gt;Namun setelah keduanya berjumpa lagi dalam suatu pertemuan, pengusaha muda mengatakan pada pengusaha asing bahwa ia masih tetap teguh dalam prinsipnya itu. Alhasil pengusaha asing menawarkannya untuk menjadi partner bisnisnya, namun si pengusaha muda menolak. Baginya, tidak ada gunanya menjadi partner kalau sudah tidak sepaham dalam filosofi dasar mereka. Pengusaha asing sempat tercengang dengan jawaban dari pengusaha muda itu. Namun tanpa disangka, pengusaha asing tetap memilih anak muda itu untuk dijadikan partnernya dalam berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Samsuri (1997 : 1) wacana adalah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi. Komunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan dan dapat pula menggunakan bahasa tulisan.&lt;br /&gt;  Wacana merupakan rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain sehingga membentuk suatu kesatuan (Alwi, dkk. 1998 : 419)&lt;br /&gt;  Wacana bisa berupa wacana lisan bisa juga wacana tulisan. Apapun bentuknya, wacana mengandaikan adanya penyapa dan pesapa (orang yang sapa). Dalam wacana lisan penyapa adalah pembicara dan pesapa adalah pendengar. Dalam wacana tulis penyapa adalah penulis sedangkan pesapa adalah pembaca.&lt;br /&gt;  Kehadiran wacana tidak dapat dilepaskan dengan konteks. Konteks wacana terdiri atas berbagai unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana (Alwi, dkk. 1998:421).&lt;br /&gt;  Unsur-unsur itu berhubungan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa yang dikemukakan oleh Hymes (1972) yang meliputi latar, pelibat, hasil atau tujuan, amanat, nada, jalur, norma, serta bentuk dan ragam bahasa.&lt;br /&gt;  Selain faktor konteks, kewacanaan ditentukan oleh hubungan antarunsur dalam wacana tersebut. Hubungan antarbagian dalam wacana itu dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu hubungan bentuk yang disebut kohesi dan hubungan makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi. Dengan demikian, wacana yang padu dapat dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahir yang bersifat kohesif, dan dilihat dari segi hubungan makna atau struktur batinnya yang bersifat koheren.&lt;br /&gt;  Oka dan Suparno (1994 : 264) menyebutkan persyaratan sebuah wacana antara lain yaitu topik, tuturan pengungkap topik, serta kohesi dan koherensi.&lt;br /&gt;  Berikut akan dianalisis sebuah cerpen karya Putu Wijaya yang berjudul “Pengusaha Idealis”. Di awal, cerpen ini akan dianalisis terlebih dahulu dari sudut :&lt;br /&gt;1. Kohesi&lt;br /&gt;2. Inferensi&lt;br /&gt;3. Konteks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kohesi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kohesi merupakan hubungan formal (hubungan yang tampak pada bentuk). Samsuri (1988) mendefinisikan kohesi itu sebagai hubungan yang ditandai oleh penanda-penanda (lahir) yakni penanda yang menghubungkan apa yang dinyatakan dengan apa yang dinyatakan sebelumnya dalam wacana yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Terdapat berbagai jenis kohesi. Halliday dan Hasan (1976:5-6) mendeskripsikan secara lengkap jenis peranti kohesi yang terdapat dalam bahasa inggris. Berkenaan dengan masalah kohesi, mereka membagi kohesi menjadi dua jenis yaitu (1) kohesi gramatikal dan (2) kohesi leksikal. Secara lebih rinci, kohesi gramatikal sebuah wacana meliputi: (1) pengacuan, (2) penyulihan, (3) penghilangan, (4) konjungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kohesi Gramatikal&lt;br /&gt;Pengacuan&lt;br /&gt; Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain atau suatu acuan yang mendahuluinya atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan itu dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengacuan endofora apabila acuannya(satuan lingual yang diacu) berada atu terdapat di dalam teks atau wacana itu. Pengacuan eksofora apabila acuannya berada atau terdapat di luar teks atau wacana.&lt;br /&gt;Pengacuan endofora berdasarkan distribusi acuannya dibedakan atas pengacuan anaforis dan pengacuan kataforis (Halliday, 1976 : 33). Pengacuan anaforis mengarahkan pembaca kepada maujud, proses, atau keadaan yang telah disebutkan sebelumnya. Pengacuan anaforis atau disebut juga hubungan anaforis merupakan hubungan antara pronomina yang mengacu kembali ke antesedennya.&lt;br /&gt;Alwi, dkk (1998 : 430) menyebutkan bahwa hubungan antara pronomina dengan anteseden yang mengikutinya disebut hubungan kataforis.&lt;br /&gt;a. Pengacuan persona&lt;br /&gt;Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang) yang meliputi persona I, II, dan III baik tunggal maupun jamak.&lt;br /&gt;Pada paragraf pertama, pronomina persona III tunggal bentuk bebas yakni pengusaha muda atau dia merupakan jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora karena acuannya berada di dalam teks yang bersifat anaforis (karena telah disebutkan sebelumnya atau antesedennya berada di sebelah kiri. Pronomina –nya pada gayanya merupakan pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Masih pada paragraf pertama, pronomina persona I tunggal bentuk bebas yakni Saya mengacu pada unsur lain di dalam tuturan (teks) yang disebutkan (karena acuannya berada di dalam teks) yang bersifat kataforis (karena acuannya disebutkan kemudian atau antesedennya berada di sebelah kanan) melalui satuan lingual berupa pronomina persona I tunggal bentuk bebas.&lt;br /&gt;Pada paragraf kedua, -nya pada jawabnya pada tuturan mengacu pada Taipan atau ia yang telah disebutkan terdahulu atau yang antesedennya berada di sebelah kiri. Satuan lingual –nya merupakan pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan. Dengan ciri-ciri semacam itu maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Pada paragraf keenam, pronomina –nya pada pujinya mengacu pada Taipan yang telah disebutkan terdahulu atau yang antesedennya berada di sebelah kiri. Dengan ciri-ciri semacam itu maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Pada paragraf ketujuh, pronomina –nya pada kenuturannya mengacu pada sang pengusaha muda. Dengan ciri-ciri semacam itu maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Masih pada paragraf ketujuh, pronomina –nya juga ditunjukkan pada ulangnya mengacu pada Taipan yang telah disebutkan terdahulu atau yang antesedennya berada di sebelah kiri. Dengan ciri-ciri yang sama semacam itu, maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Pada paragraf kedelapan, pronomina –nya pada tangannya telah disebutkan terdahulu atau yang antesedennya berada di sebelah kiri. Maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Pada paragraf kesembilan, pronomina –nya pada proposalnya mengacu pada calon-calon partner yang telah disebutkan terdahulu atau antesedennya berada di sebelah kiri. Dengan ciri-ciri semacam itu, maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona III tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;Pada paragraf kesepuluh, pronomina –nya pada jawabnya mengacu pada Saya yang telah disebutkan terdahulu atau antesedennya berada di sebelah kiri. Dengan ciri-ciri semacam itu, maka –nya adalah jenis kohesi gramatikal pengacuan endofora yang anaforis melalui pronomina persona I tunggal bentuk terikat lekat kanan.&lt;br /&gt;b. Pengacuan demonstratif&lt;br /&gt;Pada cerpen ini, demonstratif waktu (temporal) yang mengacu pada waktu lampau yakni pada paragraf kesepuluh yang dinyatakan dengan beberapa hari lalu.&lt;br /&gt;Pengacuan demonstratif waktu (temporal) yang lain tampak pada paragraf ketujuh yang dinyatakan dengan di masa yang akan datang yang mengacu pada waktu yang akan datang.&lt;br /&gt;Pengacuan demonstratif tempat yang mengacu pada tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara yakni dinyatakan dengan ini terdapat pada paragraf keempat.&lt;br /&gt;Pengacuan demonstratif tempat yang menunjuk tempat secara eksplisit terdapat pada paragraf pertama yakni dinyatakan dengan Indonesia.&lt;br /&gt;Pengacuan demonstratif waktu yang mengacu pada waktu netral ditunjukkan dengan Selamat siang pada paragraf kedelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pengacuan komparatif&lt;br /&gt;Pengacuan komparatif terdapat pada paragraf kedua yaitu seperti yang membandingkan dua hal dengan kemiripan sifat atau watak. Kemiripan itu ialah ini semuanya dan sebuah sandiwara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penyulihan&lt;br /&gt;a. Penyulihan nominal&lt;br /&gt;Pada paragraf kelima terdapat satuan lingual nominal dengan satuan lain yang nominal pula yakni konkrit dengan realistik.&lt;br /&gt;Masih pada paragraf kelima, terdapat satuan lingual nominal yaitu data yang diganti dengan satuan lingual nominal yang lain yaitu angka-angka.&lt;br /&gt;Pada paragraf  ketujuh terdapat satuan lingual nominal yaitu impresif yang diganti dengan satuan lingual yang lain yaitu kesan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Penyulihan verbal&lt;br /&gt;Pada paragraf ketiga terdapat satuan lingual verbal yaitu gesit yang diganti dengan satuan lingual verbal yang lain yaitu putar otak.&lt;br /&gt;Pada paragraf ketujuh terdapat satuan lingual verbal yaitu memupuk uang yang diganti dengan satuan verbal yang lain yaitu kaya.&lt;br /&gt;Pada paragraf kesebelas terdapat satuan lingual verbal yaitu tercengang yang diganti dengan satuan lingual verbal yang lain yaitu membelalakkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Penyulihan frasal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Penyulihan klausal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelesapan &lt;br /&gt;a. Pelesapan kata&lt;br /&gt;Pada paragraf ketiga terdapat pelesapan kata yaitu ia yang berfungsi sebagai subjek. Subjek ia dilesapkan hanya sekali yakni sebelum kata dan.&lt;br /&gt;Pada paragraf ketujuh terdapat pelesapan kata yaitu Saya yang berfungsi sebagai subjek. Subjek Saya dilesapkan yakni sebelum berjiwa progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pelesapan frasa&lt;br /&gt;Pada paragraf kelima terdapat pelesapan frasa yaitu sebelum menomorsatukan fakta dan data. Pelesapannya yaitu Saya selalu.&lt;br /&gt;Pada paragraf ketujuh terdapat pelesapan frasa yaitu sebelum untuk menjadi lebih kaya. Pelesapannya yaitu mereka bekerja.&lt;br /&gt;Pada paragraf kedelapan terdapat pelesapan frasa yaitu sebelum belum sempat duduk. Pelesapannya yaitu Sang pengusaha muda.&lt;br /&gt;Masih pada paragraf kedelapan terdapat pelesapan frasa yaitu sebelum keki atau tidak keki dan sebelum terpaksa ngacir. Pelesapannya yaitu Sang pengusaha muda.&lt;br /&gt;Pada paragraf kesembilan terdapat pelesapan frasa yaitu sebelum menjajakan proposalnya. Pelesapannya yaitu Calon-calon partner lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Pelesapan klausa&lt;br /&gt;Pada paragraf keempat terdapat pelesapan klausa yaitu sebelum buat saya. Pelesapannya yaitu kesempatan yang Anda berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Konjungsi&lt;br /&gt;a. Konjungsi pertentangan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-924430413695424735?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/924430413695424735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/analisis-wacana-cerpenpengusaha-idealis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/924430413695424735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/924430413695424735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/analisis-wacana-cerpenpengusaha-idealis.html' title='ANALISIS WACANA CERPEN&quot;PENGUSAHA IDEALIS&quot; KARYA PUTU WIJAYA'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-6458753557835642076</id><published>2010-12-16T22:58:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:58:06.812-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Kajian Islami</title><content type='html'>BAB 1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1  Latar Belakang&lt;br /&gt;Bayi merupakan makhluk yang lemah dan sensitif yang memerlukan perawatan khusus secara menyeluruh. Merawat  bayi  tak cukup  hanya perawatan  rutin pada aspek fisik semata, namun juga pada aspek psikologi aktif (kecerdasan) dan psikomotorik. Perawatan bayi yang baik akan menghasilkan bayi yang sehat .kesehatan bayi nantinya akan berguna bagi perkembangan dan pertumbuhannya. (Benjamin, 2009: 178)&lt;br /&gt;Dalam perawatan bayi hal-hal yang patut dihindari antara lain mengorek “putih-putih” yang kerap ditemui  menyerupai  gel yang  menenpel dibagian dalam vagina. Tepatya disekitar klitoris, ini terjadi karena bayi baru lahir masih dipengaruhi  hormon ibu. Banyak  orang  tua yang merasa khawatir dan berusaha mambersihkan dengan cara mengorek menggunakan cotton bud. Hal ini tak perlu dilakukan cukup dibersihkan dengan air dan akan hilang sendiri seiring bertambahnya usia bayi. Sebagian besar bayi pernah mendapatkan ruam popok, ruam popok terjadi lebih sering pada kondisi jika bayi tidak dijaga kebersihannya dan dibiarkan basah Misalnya ketika bayi sering buang air besar (terutama bila tinja dibiarkan semalam dalam popok). Pada awalnya bayi baru lahir diberi susu sesuai kebutuhan atau kapan saja dia menangis karena lapar. Sejalan dengan berjalannya waktu bayi akan mulai mengembangkan jadwalnya sendiri yang cukup teratur. Kebutuhan makan setiap bayi adalah unik. Tidak ada buku yang dapat memberi tahu dengan tepat berapa banyak atau berapa banyak atau berapa sering bayi perlu diberi susu. Ibu akan menemukan hal-hal ini sendiri ketika ibu dan bayi saling mengenal satu sama lain. Pada hari 1 post partum biasanya ASI belum lancar, ia masih dalam tahap belajar mengenal puting susu. Sering ditemui pada minggu pertama bayi terlihat kuning. Selain itu tali pusat harus dijaga agar bersih dan kering selama penyembuhan. Normalnya tali pusat akan sembuh setelah hari ke-7 sampai 14, tetapi saat ini masih kita jumpai tali pusat yang lama keringnya. Terutama pada ibu-ibu yang kurang mendapatkan informasi tentang perawatan tali pusat. Pada tempat pemotongan tali pusat bertemu dengan kulit biasanya basah dan lengket yang kadang mengumpul. Harus dibersihkan dan ditutup dengan kasa kering. Hal ini akan membantu mengeringkan tali pusat, serta membuatnya terpapar udara. (Sudilarsih feni, 2009: 75-77 dan Surya, 2004: 56-57, 116-117 &amp; 144).&lt;br /&gt;Angka kematian bayi baru lahir di Indonesia menurut  the Wold Health Report 2005 adalah 20/1.000 kelahiran hidup (SDKI 2002 / 2003). Berarti setiap hari ada 246 bayi meninggal setiap jam. dan setiap tahun ada 89.770 bayi baru lahir meninggal dibandingkan dengan negeri  tetangga, Filipina hanya 18/1.000, Srilanka hanya 11/1.000 dan Singapura  1/1.000. Kematian bayi lahir sekitar 79%. terjadi setiap minggu pertama kelahiran terutama pada saat persalinan sebanyak 54% terjadi  kematian ditingkat keluarga dan sebagian besar  tidak memperoleh layanan rujukan. Penyebab utama kematian bayi yang baru lahir adalah prematuritas dan bayi berat lahir rendah (29%) asfiksia (gangguan pernapasan) bayi  baru lahir (27%) tetanus neonatorum (10%) dan masalah pemberian ASI (10%).&lt;br /&gt;Dari data yang diperoleh dibidan praktek swasta (BPS) Nunung Murtiasih  desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo, jumlah ibu nifas yang dirawat pada bulan Januari sampai dengan bulan April 2010 sebanyak 57 orang. Dari jumlah tersebut ibu nifas Multipara sebanyak 27 orang sedangkan ibu nifas  primipara sebanyak  30 orang. Sebagian ibu nifas menyerahkan perawatan bayinya kepada orang lain yang dipercayai untuk merawat bayinya karena sibuk dalam kerja sehingga untuk merawat sang buah hati kurang, padahal betapa besar peranan ibu dalam merawat bayinya mulai hubungan kasih sayang antara orang tua dengan bayinya sampai deteksi dini adanya komplikasi . &lt;br /&gt;Setiap bayi yang dilahirkan merupakan pribadi yang nyata, ia sangat bergantung pada orang tuanya untuk perawatan, cinta dan kegembiraan serta untuk pemenuhan kebutuhan, pemupukan hubungan yang mantap akan menjadi tumpuan kemampuannya di masa datang. Karena ketergantungnya pada orang tua maka perawatan bayi baru lahir yang dilakukan oleh ibunya sendiri, hal tersebut akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, bilamana kita ketahui fungsi dari tumbuh kembang bayi itu sendiri berawal dari hasil interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan, baik lingkungan sebelum anak dilahirkan maupun lingkungan setelah anak itu lahir sehingga pemantauan menyeluruh baik dari segi pertumbuhan, perkembangan termasuk juga asupan sangat dibutuhkan demi kehidupan sang buah hati dan sebaliknya bila bayi tidak dirawat ibunya sendiri akan menyebabkan renggangnya hubungan ibu dan anak. Penyebab renggangnya itu sendiri disebabkan karena orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga jarang dirumah sekaligus mengabaikan dan jarang memantau pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Padahal umumnya seorang bayi terutama bayi yang baru lahir perlu mendapatkan kasih sayang yang sepenuhnya dari ibu karena pentingnya kelekatan atau kedekatan seorang ibu dengan bayi yakni merupakan sebuah proses berkembangnya ikatan emosional secara resiprokal dan bayi pun menerima kasih sayang yang stabil dari kehadiran orangtua yang konsisten sehingga bayi atau anak dapat merasakan sentuhan hangat, gerakan lembut, kontak mata yang penuh kasih dan senyuman orangtua. Bila bayi tidak mendapatkan sentuhan, usapan, suara, dan ekspresi dari sang ibu, maka tanpa sadar akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi baik motorik kasarnya maupun motorik halus. Aroma tubuh dan detak  jantung ibu saat mengendong atau menyusui, bayi tersebut akan terangsang untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan yang sudah ada sejak lahir. Ikatan emosi yang kuat antara orang tua dan bayi dapat menjadi modal hubungan kekerabatan yang akrab, dapat menimbulkan rasa aman dan mengembangkan Positive self-esteem pada bayi. &lt;br /&gt;Merawat bayi bukan hanya butuh kesabaran tetapi perlu pengetahuan tentang perawatan yang benar, meliputi bagaimana cara memandikan yang benar, berapa lama tali pusat lepas, bagaimana cara menyendawakan yang benar, berapa lama menyusui semua itu adalah perawatan yang harus dilakukan oleh seorang ibu terhadap bayinya. (Prawirohardjo, 2001: 133-134)&lt;br /&gt;Perawatan terhadap bayi baru lahir masih dianggap bukan masalah yang penting, sehingga solusi yang tepat harus dengan memberikan konseling, penyuluhan dan lebih mempromosikan bagaimana perawatan yang benar pada bayi. Yang nantinya dengan pengetahuan yang baik dalam melakukan perawatan yang benar diharapkan dapat menurunkan angka kematian bayi, mengingat penyebab kematian bayi yang utama adalah infeksi. Oleh karena itu peneliti merasa  perlu untuk melakukan  penelitian  sejauh mana pengetahuan ibu dalam perawatan  bayinya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2  Rumusan masalah &lt;br /&gt;Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3  Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;1.3.1 Tujuan Umum&lt;br /&gt;Mempelajari pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari diBPS Nunung  Murtiasih desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo Berdasarkan karakteristik.&lt;br /&gt;1.3 .2 Tujuan Khusus&lt;br /&gt;1. Mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan usia diBPS Nunung  Murtiasih desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo&lt;br /&gt;2. Mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan tingkat pendidikan di BPS Nunung  Murtiasih desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo  &lt;br /&gt;3. Mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan pekerjaan di BPS Nunung  Murtiasih desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo&lt;br /&gt;4. Mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan sumber informasi di BPS Nunung  Murtiasih  desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo&lt;br /&gt;5. Mengidentifikasi pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan Paritas di BPS Nunung  Murtiasih desa  Jeruk Legi  kecamatan Balong Bendo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4   Manfaat Penelitian &lt;br /&gt;1.4.1  Bagi Responden&lt;br /&gt;  Dapat dijadikan sebagai bahan masukan atau informasi bagi responden dalam upaya memberikan konseling kepada ibu untuk merawat bayinya sehari-hari&lt;br /&gt;1.4.2   Bagi Peneliti&lt;br /&gt; Dapat menambah wawasan serta pemahaman penelitian mengenai suatu pengetahuan baru tentang perawatan bayi baru lahir yang dilakukan oleh ibu nifas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4.3    Bagi Profesi Kebidanan&lt;br /&gt;Dapat menambah kajian ilmu dalam bidang kesehatan khusus ibu nifas dan dapat dijadikan bahan penelitian yang berkaitan dengan pengetahuan ibu nifas merawat bayinya sehari-hari.&lt;br /&gt;1.4.4    Bagi Peneliti Selanjutnya&lt;br /&gt; Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai data awal untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut dalam mengembangkan profesi kebidanan sesuai standart kebidanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5  Batasan Penelitian &lt;br /&gt;Peneltian hanya dibatasi pada pengetahuan ibu nifas tentang  perawatan bayi sehari-hari. Sedangkan faktor lain seperti: predisposisi (sikap, kepercayaan, budaya, kenyakinan) pendukung (fasilitas atau sarana kesehatan), pendorong (peran orang tua, sikap dan perilaku tokoh masyarakat,agama maupun petugas kesehatan) tidak diteliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Konsep  Dasar  Pengetahuan&lt;br /&gt;2.1.1   Definisi Pengetahuan&lt;br /&gt;Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Overt behavior). karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan. (Notoadmojo, 2007: 144) &lt;br /&gt; Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseoarng terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga) dan indera pengelihatan (mata). (Notoatmodjo, 2005: 50)&lt;br /&gt;2.1.2  Domain Pengetahuan &lt;br /&gt;Menurut (Notoatmodjo, 2007: 145-146). Tingkat  pengetahuan dalam Domain Kognitif ada 6 tingkatan yaitu :&lt;br /&gt;1 Tahu (Know)&lt;br /&gt;Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari  atau rangsangan yang telah diterima .&lt;br /&gt;2  Memahami ( Comprehension)&lt;br /&gt;Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat  menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang  yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.&lt;br /&gt;3  Aplikasi ( Application)&lt;br /&gt;Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini  dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,  prinsip, dan sebagainya dalam konteks  atau situasi yang lain.&lt;br /&gt;4  Analisis( Analysis)&lt;br /&gt;Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.&lt;br /&gt;5  Sintesis ( Synthesis)&lt;br /&gt;Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.&lt;br /&gt;6 Evaluasi (Evaluation)&lt;br /&gt;Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria- lriteria yang telah ada. (Notoatmodjo , 2007: 145-146). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.1.3. Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan &lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang berkontribusi pada pengetahuan ibu tentang perawatan bayi sehari-hari adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Umur &lt;br /&gt;Umur adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Elisabeth, 1995) yang dikutip oleh (nursalam dan pariani., 2001: 134).&lt;br /&gt;Disebagian besar masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya dimulai pada usia 10-13 tahun dan berakhir pada usia 18-22 tahun. menurut WHO remaja merupakan individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur-angsur mencapai kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relative mandiri (Notoatmodjo, 2007: 263).&lt;br /&gt;2. Pendidikan&lt;br /&gt;Pendidikan adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada individu (Notoatmodjo, 2003:56)&lt;br /&gt;Menurut (Nursalam, 2002: 134) bahwa Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh seorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita-cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan dan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalnya. Pendidikan besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang, seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda tingkah lakunya dengan seseorang yang berpendidikan minim. Selain itu orang yang berpendidikan minim akan sulit menerima informasi dan teknologi baru, pada kenyataan nya seseorang yang berpendidikan akan lebih matang dalam segi proses pola pikir.&lt;br /&gt;3. Sumber Informasi&lt;br /&gt;Seseorang atau masyarakat dapat memperoleh pengetahuan atau pengalaman melalui berbagai alat bantu pendidikan. tetapi, masing-masing alat mempunyai intensitas yang berbeda-beda dalam membantu persepsi seseorang. Elbar Dale membagi dalam 11 macam yakni kata-kata, tulisan rekaman/ radio, film, televise, pameran, field trip, demontrasi, sandiwara, benda tiruan dan benda asli. Petugas kesehatan berperan untuk membimbing dan membina bukan hanya dalam hal kesehatan mereka sendiri, tetapi juga memotivasi mereka sehingga meneruskan informasi kesehatan kepada anggota masyarakat lain.&lt;br /&gt;4. Pekerjaan&lt;br /&gt;Pekerjaan adalah kesibukan yang dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan kekurangan untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik yang diinginkan oleh individu ( Thomas 1996) yang dikutip oleh (Nursalam pariani, 2001: 138)&lt;br /&gt;5. Paritas&lt;br /&gt;Paritas adalah Keadaan wanita dengan jumlah anak yang pernah dilahirkan menurut (Notoatmodjo, 2000) menjelaskan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman ini merupakan sumber pengetahuan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.4  Cara Memperoleh Pengetahuan&lt;br /&gt; Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah, dapat dikelompokan menjadi dua yaitu cara tradisional (non ilmiah) dan cara ilmiah.&lt;br /&gt;a) Cara tradisional atau ilmiah&lt;br /&gt; Cara kuno atau tradisional ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan, sebelum diketemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain meliputi:&lt;br /&gt; 1. Cara coba-coba salah&lt;br /&gt;Cara coba-coba ini dilakukan denan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat terpecahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 2. Coba Kekuasaan atau Otoritas&lt;br /&gt;Orang lain menerima pendapat yang dikemukakan orang yang mempunyai otoritas (Pemimpin pemerintahan, tokoh agama ,maupun ahli ilmu pengetahuan) tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta ataupun berdasarkan penalaran sendiri.&lt;br /&gt; 3. Berdasarkan Pengalaman Pribadi&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi sumber pengetahuan, hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu, tetapi bila gagal menggunakan cara tersebut maka manusia berusaha untuk mencari cara lain hingga berhasil.&lt;br /&gt; 4. Berdasarkan Jalan Pikiran&lt;br /&gt;Manusia memperoleh kebenaran pengetahuan melalui jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi. Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran, secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.&lt;br /&gt;b) Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan&lt;br /&gt;Merupakan penggabungan antara proses berfikir deduktif-induktif, akhirnya lahir suatu cara melakukan penelitian, yang kita kenal dengan metode penelitian ilmiah. (Notoatmodjo, 2002: 11-18).&lt;br /&gt;2.1.5  Dampak Pengetahuan&lt;br /&gt;Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Menurut penelitian Menurut Rogers (1974) yang  dikutip oleh (Notoatmoedjo, 2007:144). mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi  perilaku baru ( berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :&lt;br /&gt;1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).&lt;br /&gt;2. Interest (Merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. di sini sikap subjek sudah mulai timbul.&lt;br /&gt;3. Evaluation (menimbang- nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.&lt;br /&gt;4. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.&lt;br /&gt;5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. (Notoatmodjo, 2007: 144).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2  Konsep Masa Nifas&lt;br /&gt;2.2.1  Pengertian Masa Nifas &lt;br /&gt;Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali ke keadaan sebelum hamil, Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu ( Saifudin, 2001: 122).&lt;br /&gt;Masa Nifas (Puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat – alat  kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. masa nifas berlangsung selama kira kira – kira 6 minggu (Prawirohardjo, .2006: 122).&lt;br /&gt;Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi, yaitu :&lt;br /&gt;a. Perubahan fisik&lt;br /&gt;b. Involusi uterus dan pengeluaran lokhia&lt;br /&gt;c. Laktasi/ pengeluaran air susu ibu&lt;br /&gt;d. Perubahan system tubuh lainnya&lt;br /&gt;e. Perubahan psikis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2 Tujuan Masa Nifas &lt;br /&gt; Tujuan asuhan masa nifas :&lt;br /&gt;1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik.&lt;br /&gt;2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.&lt;br /&gt;3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.&lt;br /&gt;4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.&lt;br /&gt;Asuhan pada masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.&lt;br /&gt;Masa neonatus merupakan masa kritis dari kehidupan bayi, dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Dengan pemantauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa-masa nifas dapat mencegah beberapa kematian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3 Kunjungan Masa Nifas &lt;br /&gt;Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit 4 kali, kunjungan ini dilakukan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi.&lt;br /&gt;a. Kunjungan pertama dilakukan setelah 6-8 jam pasca persalinan, tujuan yaitu  untuk : &lt;br /&gt;1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri&lt;br /&gt;2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan : rujuk bila perdarahan berlanjut.&lt;br /&gt;3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.&lt;br /&gt;4. Pemberian ASI awal&lt;br /&gt;5. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.&lt;br /&gt;6. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia.&lt;br /&gt;b. Kunjungan kedua dilakukan  setelah 6 hari pasca persalinan. tujuannya yaitu  untuk :&lt;br /&gt;1. Memastikan involusi uterus berjalan normal (uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau)&lt;br /&gt;2. Menilai adanya tanda – tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal&lt;br /&gt;3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan, dan istirahat.&lt;br /&gt;4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda – tanda penyulit.&lt;br /&gt;5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi. tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari – hari.&lt;br /&gt;c. Kunjungan ketiga dilakukan setelah 2 minggu pasca persalinan(Tujuannya sama seperti 6 hari pasca persalinan)&lt;br /&gt;d. Kunjungan keempat dilakukan setelah 6minggu pasca persalinan.tujuannya yaitu untuk :&lt;br /&gt;1. Menanyakan pada ibu tentang penyulit – penyulit yang ia atau bayi alami.&lt;br /&gt;2. Memberikan konseling untuk KB secara dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3  Konsep Perawatan Bayi Sehari-hari&lt;br /&gt;2.3.1.  Pengertian&lt;br /&gt;Suatu cara atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang (perawat, bidan ibu ataupun keluarga ) tentang cara merawat bayi yang meliputi memandikan, meneteki, cara merawat tali pusat dan lain-lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2.3.2. Lingkup Perawatan bayi sehari-hari&lt;br /&gt;2.3.2.1. Menyusui&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Menyusui adalah sesuatu yang berharga dan merupakan cara memberikan makanan pada bayi secara alami (Benjamin,2009: 43).&lt;br /&gt;Menyusui adalah suatu yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan yang unik terhadap kesehatan ibu dan bayi. (Dep.Kes , 2000: 179).&lt;br /&gt;2. Waktu menyusui&lt;br /&gt;Bayi yang baru lahir kita beri ASI 18 jam setelah lahir, lama pemberian ASI tergantung pada jangka waktunya,jangan terlalu lama memberikan ASI karna bisa menyebabkan putting menjadi keras. Pemberian ASI tergantung pada situasi dan kondisi yang berbeda-beda pada setiap ibu. ASI bisa diberikan hanya pada saat-saat tertentu tetapi bisa juga hanya pada saat dia lapar. (Benjamin, 2009: 52-53).&lt;br /&gt;3. Cara menyusui yang benar&lt;br /&gt;1. Ibu harus sesering mungkin untuk menyusui, karena semakin sering ibu menyusui maka semakin cepat pula produksi ASI. Pada bayi yang baru lahir setidaknya ibu menyusui sebanyak 12 kali dalam 24jam, dengan waktu 10-15 menit per payudara. jangan menunggu bayi menangis untuk memberikan ASI, sebaiknya memberi ASI saat bayi menunjukan lapar, Misalnya gelisah berusaha mencari putting ibu. Mengetahui apakah bayi mendapat cukup ASI sesuai kebutuhan nya adalah penting.&lt;br /&gt;Tanda-tanda bayi cukup ASI:&lt;br /&gt;a) Mengisap payudara dengan gembira, tidak rewel atau terlalu banyak meronta&lt;br /&gt;b) Bayi terlihat sigap saat bangun&lt;br /&gt;c) Beratnya naik dengan baik&lt;br /&gt;d) Bayi sering minta disusui bahkan sering sulit untuk menghitung berapa kali bayi menyusu dalam sehari.&lt;br /&gt;e) Kotorannya lembek dan kotor. setelah beberapa minggu, bayi biasanya buang air besar beberapa hari sekali. Ada bayi yang buang air lebih sering .Sembelit jarang terjadi pada bayi yang masih menyusu.(Welford ,2008: 62).&lt;br /&gt;2. Kedudukan bayi yang baik pada payudara membuatnya menerima payudara ibu dengan efektif dan nyaman. Berikut adalah cara kedudukan bayi pada payudara agar tidak menyakitkan ibu dan dapat memuaskan bayi:&lt;br /&gt;a) Duduklah dengan nyaman, lemaskan bahu, dan minuman dingin ditangan. kenakan pakaian yang ringan dan muda dibuka, agar ibu tidak repot dengan sweater yang berlapis atau pakaian ketat.&lt;br /&gt;b) Pegang bayi dalam posisi berhadapan dada dengan dada, sandarkan tubuhnya pada ibu. Jika ibu suka gunakan bantal dipangkuan saat saat ibu baru belajar menyusui.&lt;br /&gt;c) Jangan sampai bayi harus memutar kepalanya untuk menyusu. Saat mulutnya tertutup, hidungnya harus sejajar dengan putting ibu. Lain halnya bila mulutnya telah terbuka–seperti yang sering terjadi bila ia sangat suka menyusu.&lt;br /&gt;d) Saat mulut bayi terbuka lebar, bawalah ia mendekati payudara, dan arahkan putting ibu ke bibir atasnya. Jika bayi menyusu dengan benar, ibu tidak akan merasa sakit, meski beberapa wanita mengalami sedikit nyeri, bahkan bila bayi menyusu dengan benar. Ia dapat menggunakan lidah dan rahangnya untuk menyusu. Dagunya akan menyentuh bagian bawah payudara ibu,hidungnya menyentuh bagian atasnya.&lt;br /&gt;Beberapa cara yang tidak boleh dilakukan ketika menyusui :&lt;br /&gt;a) Mencoba menyusui jika bayi sedang menangis atau menjerit. Bayi yang telah terbiasa menyusui dapat mengubah posisi lidahnya saat ia menghampiri payudara, tetapi bayi yang masih belajar tak dapat mengisap dengan baik jika ia menangis karena lidahnya tertelan dalam mulutnya. Bila ia menangis tenangkan lebih dulu.&lt;br /&gt;b) Mencoba menarik dagu bayi kebawah agar dapat menyusu lebih baik Cara yang paling efektif adalah membiarkan bayi melakukannya sendiri.&lt;br /&gt;c) Menempatkan jari ibu dekat putting, atau di mana pun yang akan menghalangi bayi menempelkan mulutnya dengan penuh.&lt;br /&gt;d) Menekan jari ibu ke payudara, karena dapat mengganggu bentuk putting dalam mulut bayi.(Welford, 2008:3 2-33).&lt;br /&gt;4.  Keuntungan pemberian ASI&lt;br /&gt;1.  Bagi bayi&lt;br /&gt;a) ASI membantu bayi melawan infeksi dan penyakit&lt;br /&gt;b) ASI dapat mempercepat system imun bayi&lt;br /&gt;c) ASI dapat meningkatkan kecerdasan&lt;br /&gt;d) ASI dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan otak bayi&lt;br /&gt;e) ASI dapat meningkatkan jalinan kasih sayang. (Welford, 2008:11-15)&lt;br /&gt;2. Bagi ibu&lt;br /&gt;a) Lebih jarang terkena kanker payudara pra – menopause.&lt;br /&gt;b) Lebih jarang terkena kanker ovarium.&lt;br /&gt;c) Lebih jarang menderita patah tulang pada usia paruh baya lanjut (umumnya terjadi Osteoporosis, penyakit tulang pada wanita usia lanjut). (Welford, 2008: 17).&lt;br /&gt;5. Menyendawakan bayi&lt;br /&gt;Bersendawa setelah minum susu penting bagi bayi. Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak kembung atau muntah setelah menyusu. Terdapat 3 posisi yang umum digunakan untuk menyendawakan bayi yakni :&lt;br /&gt;1. Posisi menghadap kebelakang&lt;br /&gt;a) Bayi di gendong tegak menghadap ke belakang dengan membiarkan kepalanya bertopang pada bahu ibu &lt;br /&gt;b) Satu tangan untuk menahan tengkuk dan bokongnya, sementara  tangan lainnya mengelus – elus punggungnya sampai dia bersendawa.&lt;br /&gt;2. Posisi tengkurap di pangkuan.&lt;br /&gt;Tengkurapkan si kecil di atas pangkuan, topanglah dadanya dengan tangan agar kepalanya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya. Kemudian elus-elus punggungnya sampai dia bersendawa.&lt;br /&gt;3. posisi mengendong di depan.&lt;br /&gt;a) Bayi di gendong dengan cara menyangga tengkuk dan bokong di depan tubuh ibu, posisi kepala sedikit lebih tinggi dari dadanya.&lt;br /&gt;b) Elus-elus punggung bayi sampai dia bersedawa. (Sri Lestariningsih. Ayahbunda.com,2007)&lt;br /&gt;2.3.2.2  Memandikan bayi&lt;br /&gt;Prosedur tetap memandikan bayi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tujuan dari memandikan bayi adalah:&lt;br /&gt;a) Membersihkan kotoran, lemak dan darah.&lt;br /&gt;b) Memberi rasa segar.&lt;br /&gt;c) Merangsang peredaran darah, otot- otot dan syaraf perifer.  &lt;br /&gt;2. Persiapan&lt;br /&gt;a. Bak Mandi&lt;br /&gt;Isi bak mandi bayi dengan air hangat .Ukurannya setinggi setengah bak mandi bayi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;b. Waslap&lt;br /&gt;Sediakan dua waslap. Satu untuk sabun satu lagi untuk sampo&lt;br /&gt;c. Baskom Plastik&lt;br /&gt;Sediakan dua baskom plastic kecil .isi dengan air untuk membilas sabun dan samponya.&lt;br /&gt;d. Sabun&lt;br /&gt;Gunakan sabun khusus bayi dari jenis yang tak menimbulkan iritasi pada kulit tubuh bayi.&lt;br /&gt;e. Shampo&lt;br /&gt;Seperti sabun, hindari shampo yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit kepala bayi.&lt;br /&gt;f. Kasa Steril&lt;br /&gt;Bila tali pusat bayi belum puput, sediakan kasa steril Kasa digunakan untuk membungkus pangkal tali pusat setelah bayi usai dimandikan. Kasa juga bisa digunakan untuk membersihkan lidah bayi. Gulungkan kasa di jari telunjuk dan basahi dengan air hangat lalu peras airnya  Masukan jari berkasa ke mulut bayi dan bersihkan lidahnya secara lembut. Lakukan setiap pagi sebelum bayi dimandikan.&lt;br /&gt;g. Kapas Steril&lt;br /&gt;Kapas yang disediakan sebaiknya sudah digodok air mendidih jauh-jauh hari dan dikeringkan. Simpan dalam toples setelah dibentuk bulatan-bulatan kecil,kapas ini digunakan untuk membersihkan mulut dan mata bayi.&lt;br /&gt;Kapas yang sudah dibasahi air hangat juga bisa digunakan untuk membersihkan alat kelamin. Dimulai dari bagian depan baru kebelakang. Sebaiknya alat kelamin dibersihkan sebelum bayi dimandikan, sehingga air tetap bersih.&lt;br /&gt;h. Cotton Buds &lt;br /&gt;Digunakan untuk membersihkan telinga bayi, sebelum atau sesudah bayi dimandikan.&lt;br /&gt;i. Minyak telon&lt;br /&gt;Setelah dikeringkan sehabis mandi, bayi biasanya diberi minyak telon untuk menghangatkan badan nya. Oleskan sedikit saja diperut dan punggung .&lt;br /&gt;j. Bedak&lt;br /&gt;Sejumlah dokter tak menganjurkan bayi diberi bedak. Sebab jika diberikan terlalu banyak (tebal) bisa manjadi daki, bercampur keringat akan menggumpal dan bisa merangsang penyakit kulit (Dermatitis). Sehingga pakaikan bedak tipis-tipis dan bedaknya khusus untuk bayi .Sebelum pakai bedak, Kulit bayi harus kering betul.&lt;br /&gt;k. Perlak&lt;br /&gt;Untuk alas mandi dan bayi &lt;br /&gt;l. Handuk&lt;br /&gt;Sediakan handuk besar dan lembut. Letakakan dalam keadaan melebar diatas meja ganti popok atau diatas tempat tidur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;m. Pakaian Ganti&lt;br /&gt;Siapkan baju dan popok/celana ganti.Susunlah pakaian dalam keadaan siap pakai di atas tempat tidur. Mula-mula perlak,alas perlak, bedongan(bila perlu)baju lalu popok. Sarung tangan dan kaki (bila perlu).&lt;br /&gt;Pemakaian bedong dan sarung tangan/kaki hanya bila perlu.Karena sebaiknya bayi tak dibiasakan dibedong agar bisa bebas bergerak. Tangan dan kakinya juga dibiarkan telanjang agar bayi mengembangkan indera perabanya.&lt;br /&gt;n. Perlengkapan lain&lt;br /&gt;Gunting ,sisir, thermometer untuk mengukur suhu tubuh bayi sebelum dimandikan dan handuk kecil. (Choirunisa, 2009: 59-61).&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan&lt;br /&gt;a. Siapkan terlebih dahulu keperluan mandi&lt;br /&gt;b. Isi air hangat ke bak mandi, periksa suhunya dengan sikut.&lt;br /&gt;c. Buka baju ,bungkus dengan handuk di pangkuan ibu.&lt;br /&gt;d. Usap matanya dengan kapas yang telah dibasahi dengan air matang dingin. Bersihkan daerah sekitar wajah dan mulut.&lt;br /&gt;e. Keramasi rambutnya, pegang kepalanya di atas bak mandi .&lt;br /&gt;f. Keringkan,Lepaskan handuk.Letakkan satu tangan dibawah pundaknya, dan tangan lain dipantat, lalu masukkan bayi secara perlahan ke bak mandi.&lt;br /&gt;g. Tahan leher dan pundaknya, sabuni dan bilas dengan tangan yang bebas. Pegang pantatnya dan angkat.&lt;br /&gt;h. Bungkus dengan handuk,tepuk-tepuk agar kering. Biarkan bayi terbungkus handuk saat memakaikan baju dan popoknya. .(Choirunisa, 2009: 27-28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.2.3     Pakaian Dan Perawatan Kulit&lt;br /&gt;1. Pakaian yang baik&lt;br /&gt;Pilihlah pakaian bayi yang berbahan lembut dan tidak panas jika dikenakan. Dan perhatikan lubang-lubang lengan, leher dan pahanya jangan terlalu ketat karena jika dikenakan terasa tidak nyaman. (Benjamin, 2009: 103).&lt;br /&gt;2.  Perawatan Tali Pusat&lt;br /&gt;Sewaktu bayi masih berda dalam kandungan ibu dia akan mendapatkan asupan makanan melalui pembuluh darah dari tali pusat dan setelah itu lahir oleh dokter tali pusat itu ditalikan kemudian dipotong dan untuk memutuskan tubuh bayi dan ujung itu akan layu dan kemudian akan putus sendiri dalam jangka waktu 1 minggu (Benjamin,2009: 97).&lt;br /&gt;Cara Perawatan Tali Pusat :&lt;br /&gt;1. Ibu harus mencuci sekitar tali pusat dengan sabun dan air&lt;br /&gt;2. Berikan kompres alcohol 70% 1-2x/ hari&lt;br /&gt;3. Perawatan tali pusat sampai kering dan lepas, di daerah ini dapat terjadi infeksi sehingga harus dijaga agar bersih dan kering&lt;br /&gt;4. Ibu harus melapor kebidan bila tali pusat berbau, atau kemerahan disekitarnya atau mengeluarkan cairan (prawiroharjo,2000: 13 ).&lt;br /&gt;2.3.2.4  Mengangkat Dan Menggendong Bayi&lt;br /&gt;Menggendong dan merangkul bayi akan memberikan rasa aman dan nyaman. tidak mudah pada awalnya, namun akan terbiasa dengan sering melakukannya.&lt;br /&gt;Berdiri menghadap ke arahnya, susupkan satu tangan ke bawah kepala dan lehernya dan tangan lain kepantat. Angkat perlahan dan lembut kearah dada, putar kepalanya kearah lekukan siku, lalu sangga tubuhnya dengan lengan.&lt;br /&gt;Saat meletakkannya,pegang kepala dan pantatnya. tarik terlebih dahulu tangan dari pantat, kemudian tarik tangan yang dibawah kepala.&lt;br /&gt;2.3.2.5 Menjemur Bayi&lt;br /&gt; Bayi baru lahir umumnya memiliki kecenderungan kuning karena organ hatinya belum berfungsi sempurna dalam mengolah bilirubin (Kuning Fisiologis). Sinar Matahari pagi memiliki spectrum sinar biru yang bermanfaat mengurangi kadar Bilirubin dalam darah, menghangatkan tubuh bayi sekaligus membantu mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Alhasil suara ngrok-ngrok napas bayi, dapat dikurangi.Apalagi, kalau sambil dijemur dalam posisi terlentang, dada bayi dari bagian bawah menuju keleher ditepuk-tepuk secara perlahan. &lt;br /&gt;Sinar Matahari pagi merangsang pembentukan vitamin Didalam tubuh yang berfungsi sebagai pembuka Kalsium agar mudah terserap kedalam aliran darah, sampai akhirnya menyatu dalam tulang. Waktu yang paling tepat untuk menjemur bayi adalah pagi hari antara pukul 07.00-08.00 selama kurang 15 menit  .(Sudilarsih, 2009: 115-116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.4   Kerangka Konsep Penelitian&lt;br /&gt;Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah Kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalu penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2003: 118).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 2.1. Kerangka konseptual pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari.&lt;br /&gt; Keterangan:&lt;br /&gt;           : Diteliti&lt;br /&gt;: Tidak diteliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.1        Teori Kerangka Konseptual&lt;br /&gt;     Kerangka konsep menggambarkan bahwa pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputi faktor internal dan eksternal, adapun faktor internal adalah usia dan paritas dan faktor eksternal adalah pendidikan, pekerjaan ,sumber informasi yang mana perawatan bayi sehari-hari adalah Menyusui, Memandikan Bayi, Pakaian dan Perawatan Kulit, Mengangkat dan Menggendong Bayi, Menjemur Bayi. Yang mana hal tersebut berpengaruh pada status kesehatan bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 3&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Jenis Penelitian&lt;br /&gt; Desain penelitian merupakan suatu strategi penelitian yang mengidentifikasikan permasalahan sebelum perencanaan akhir pengumpulan data dan digunakan untuk mengidentifikasi struktur dimana penelitian dilaksanakan. Rancangan juga bisa dipergunakan sebagai petunjuk dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan penelitian. (Nursalam, 2003: 79-80).&lt;br /&gt; Penelitian ini merupakan Penelitian Deskriptif dengan metode Cross sectional. Cross sectional adalah jenis penelitian yang menekankan waktu observasi hanya satu kali pada satu saat. Dalam hal ini merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif (Notoatmodjo, 2002: 138).&lt;br /&gt;3.2 Waktu Dan Tempat Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini dilakukan di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo selama bulan September  2010.&lt;br /&gt;Adapun memilih lokasi tersebut didasarkan atas alasan yaitu: BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo merupakan tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang memberikan pertolongan persalinan dan mengajarkan perawatan bayi sehari-hari.&lt;br /&gt;3.3 Kerangka Penelitian&lt;br /&gt;       Kerangka penelitian adalah pentahapan suatu penelitian pada kerangka kerja. Disajikan alur penelitian, terutama variabel yang akan digunakan dalam penelitian (Nursalam, 2008: 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gambar 3.1 Pengerahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari – hari Di  BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo.&lt;br /&gt;3.4    Sampling Desain&lt;br /&gt;3.4.1.  Populasi&lt;br /&gt;“Populasi adalah Wilayah generalisai yang terdiri dari atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. (Sugiono, 2004) dalam buku (Aziz, 2007: 68).&lt;br /&gt;Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu nifas yang berada di wilayah BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo selama bulan Juli-Agustus 2010. Dengan rata-rata persalinan perbulan di BPS Nunung Murtiasih sebanyak ± 30 orang.&lt;br /&gt;3.4.2. Sampel&lt;br /&gt;‘Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi”. (Aziz, 2007: 68).&lt;br /&gt;Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan di Bps Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo, dengan kriteria :&lt;br /&gt;1. Ibu nifas di wilayah BPS Nunung  Jeruk Legi Murtiasih Balong Bendo selama bulan September 2010.&lt;br /&gt;2. Ibu nifas yang mempunyai bayi di wilayah BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo selama bulan September 2010.&lt;br /&gt;3. Bersedia menjadi responden&lt;br /&gt;4. Bisa membaca dan menulis&lt;br /&gt;Besar sampel dalam penelitian ini adalah semua hubungan populasi dijadikan subyek penelitian ini adalah ibu nifas yang pernah melahirkan di di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo selama bulan Juli - Agustus 2010, yang memahami kriteria inklusi sejumlah 20 responden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3 Teknik Sampling&lt;br /&gt;        Sampling adalah proses penyeleksi porsi dari hubungan untuk dapat mewakili populasi. (Nursalam, 2008: 93). Dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling.  Teknik Purposive sampling adalah Cara pengambilan sampel untuk tujuan tertentu. (Aziz, 2007: 83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5 Identifikasi Variabel &lt;br /&gt;Variabel adalah perilku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu. Variabel juga merupakan konsep dari berbagai level dan abstrak yang didefinisikan sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran atau manipulasi suatu penelitian (Nursalam, 2008:  97). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6  Definisi Operasional &lt;br /&gt;      Definisi Operasional adalah definisi untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel – variabel diamati atau diteliti dan mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel – variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen (alat ukur). (Notoatmodjo, 2005: 46 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 3.1 Definisi Operasional Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Variabel Definisi Operasional Idikator Variabel Alat ukur Skala Kriteria&lt;br /&gt;1 Pengetahuan ibu nifas tentang perwatan bayi sehari-hari Segala sesuatu yang diketahui oleh ibu nifas dalam perwatan bayi sehari-hari Segala hal yang diketahui reisponden tentang perawatan bayi sehari-hari meliputi :&lt;br /&gt;1.  Menyusui&lt;br /&gt;2.  Memandikan   &lt;br /&gt;   Bayi&lt;br /&gt;3. Pakaian dan perawatan kulit&lt;br /&gt;4. Mengangkat dan menggendong bayi&lt;br /&gt;5. Menjemur bayi Kuesioner ordinal Jawaban betul skor 1&lt;br /&gt;Jawaban salah skor 0&lt;br /&gt;Pengetahuan diklasifikasikan menjadi :&lt;br /&gt;Baik  jika skore = 76-100%&lt;br /&gt;Cukup jika skore = 56-75%&lt;br /&gt;Kurang  jika skore = &lt;  56( Nur Salam, 2003) 2 Umur Umur individu yang terhitung saat dilahirkan sampai pengambilan data Usa Ibu :1. &lt; 20 tahun2. 20 – 35 tahun3. &gt; 35 tahun Kuesioner&lt;br /&gt; Ordinal&lt;br /&gt; 1. Menunda kehamilan &lt;br /&gt;Usia &lt; 20 tahun2. Usia reproduksi20 – 35 tahun3. Mengakhiri  Kehamilan &gt;35 tahun&lt;br /&gt;3 Tingkat Pendidikan&lt;br /&gt; Pendidikan formal terakhir yang telah diselesaikan oleh responde 1.SD&lt;br /&gt;2.SMP&lt;br /&gt;3. SMA&lt;br /&gt;4.PT Kuesioner&lt;br /&gt; Ordinal&lt;br /&gt; A.  Pendidikan  &lt;br /&gt;Dasar ( SD – SMP)&lt;br /&gt;B.  Menengah(SMA)&lt;br /&gt;C.  Tinggi (Diploma,Sarjana )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Variabel Definisi Operasional Idikator Variabel Alat ukur Skala Kriteria&lt;br /&gt;4 Pekerjaan&lt;br /&gt; Kesibukan yang dilakukan untuk menunjang kehidupan keluarganya untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik 1. Ibu rumah   tangga&lt;br /&gt;2.Swasta&lt;br /&gt;3. PNS Kuesioner&lt;br /&gt; Nominal&lt;br /&gt; A. TidaK bekerja&lt;br /&gt;    ( Ibu rumah -&lt;br /&gt;     tangga)&lt;br /&gt;B. Bekerja&lt;br /&gt;     ( Petani,Pedagang, Buruh Pabrik)&lt;br /&gt;C PNS&lt;br /&gt;5 Paritas Keadaan wanita dengan jumlah anak yang pernah dilahirkan a. Primipara&lt;br /&gt;  b. Multipara&lt;br /&gt;c.Grande&lt;br /&gt;multipara Kuesioner Ordinal 1. Primipara, bila ibu memiliki 1 orang anak&lt;br /&gt;2. Multipara, bila ibu memiliki 2-4 orang anak&lt;br /&gt;3. Grande      &lt;br /&gt;    multipara, bila ibu  &lt;br /&gt;    memiliki 5 atau   &lt;br /&gt;    lebih anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7 Pengumpulan Data dan Analisis Data &lt;br /&gt;3.7.1 Instrumen Penelitian &lt;br /&gt;Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2005: 48). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner – kuesioner disini diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, dimana responden tinggal memberikan tanda-tanda tertentu. Dalam penelitian ini kuesioner dibuat sendiri oleh peneliti dengan jumlah kuesioner 25.&lt;br /&gt;3.7.2 Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti mengajukan permohonan ijin di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo dengan membawa surat pengantar dari Universitas Mayjen Sungkono dan meminta persetujuan responden, jika responden bersedia untuk diteliti selanjutnya responden dibagikan kuesioner. &lt;br /&gt;3.7.3 Teknik Pengolahan Data &lt;br /&gt;Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : &lt;br /&gt;1. Editing&lt;br /&gt;Memeriksa kembali semua kuesioner untuk mengoreksi apakah setiap kuesioner telah diisi dan isi dapat dibaca, semua pertanyaan sudah terjawab dan kesalahan-kesalahan yang mengganggu langkah-langkah selanjutnya, bila ada pertanyaan yang belum terjawab minta Ibu untuk melengkapinya.&lt;br /&gt;2. Codding&lt;br /&gt;Memberikan tanda kode terhadap tanda pertanyaan untuk mempermudah dalam pengadaan dan analisa .&lt;br /&gt;3.  Scoring&lt;br /&gt; Scoring adalah setelah data dikumpulkan dan kelengkapannya diperiksa, kemudian diberi scoring dan dilakukan tabulasi data. Skore diberikan apabila jawaban pada koesioner benar (sesuai kunci jawaban) maka diberi skore 1, bila jawaban salah diberi skore 0.&lt;br /&gt; 4. Tabulating&lt;br /&gt; Data dari lembar koesioner direkap kedalam tabel rekapitulasi responden, kemudian penyusunan data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.4 Analisis Data &lt;br /&gt;Analisa data adalah merupakan suatu bagian yang sangat penting. Penting untuk mencapai tujuan pokok penelitian yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang mengungkap fenomena (Nursalam, 2008:  117).&lt;br /&gt;Setelah semua data terkumpul, kemudian dianalisis untuk mengetahui bagaimana pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari. Setelah data terkumpul melalui pengisian kuesioner oleh responden dalam penelitian dengan 25 pertanyaan, jawaban betul bernilai satu sedangkan jawaban salah bernilai nol. &lt;br /&gt;Analisa data pada penelitian ini adalah analisa prosentase yaitu data dibagi dalam beberapa kelompok dan dinyatakan atau dalam prosentase. Dengan cara ini dapat diketahui prosentase dari masing-masing data, aspek pengetahuan dinilai dengan rumus :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Notoatmodjo, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;P    = Presentasi scoring&lt;br /&gt;f  = Jumlah jawaban yang benar&lt;br /&gt;N  = Jumlah skor maksimal jika semua pertanyaan di jawab dengan benar&lt;br /&gt;Kemudian dikumpulkan dan dikomfirmasikan dalam bentuk table distribusi yang dikonfirmasikan dalam bentuk prosentase dan analisa dengan menggunakan tabulasi sesuai dengan variabel yang hendak diukur. &lt;br /&gt; Agar dapat dikualifikasikan maka diperlukan kriteria penilaian yang digunakan menurut (Nursalam, 2003: 124)&lt;br /&gt;1. Baik : Jika responden mampu menjawab dengan benar 76-100% dari jumlah pertanyaan.&lt;br /&gt;2. Cukup : Jika responden mampu menjawab dengan benar 56-75% dari jumlah pertanyaan.&lt;br /&gt;3. Kurang  : Jika responden mampu menjawab dengan benar &lt; 56% dari jumlah pertanyaan.Setelah data terkumpul dan disusun dalam tabel maka akan dapat diinterpretasikan hasilnya pada penggolongan berikut ini :1. 0 – 25 %      :Sebagian Kecil2. 26 – 49 %    : Hampir setengahnya3. 50 %            : Setengahnya4. 51 – 75 %    : Sebagian besar5. 76 – 99 %    : Hampir seluruhnya6. 100 %          : Seluruhnya3.8   Etika Penelitian Sebelum melakukan penelitian ini, peneliti mengajukan permohonan ijin pada pihak Bps Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong Bendo dengan membawa surat permohonan melakukan penelitian dari ketua Program studi Kebidanan Universitas Mayjen Sungkono. Kemundian kuesioner diberikan ke responden yang diteliti dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi : 3.8.1  Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lembar persetujuan ini diedarkan sebelum penelitian dilaksanakan pada seluruh objek yang akan diteliti, dengan maksud supaya responden mengetahui penelitian. Jika subjek bersedia diteliti, maka mereka menandatangani lembar persetujuan tersebut. 3.8.2 Anonymity (tanpa nama) Untuk  menjaga kerahasiaan identitas peneliti tidak mencantumkan nama responden dan lembur tabulasi data yang diisi oleh peneliti hanya diberi tertentu pada lembar observasi tersebut.3.8.3 Confidentially ( kerahasiaan )   Kerahasiaan informasi dari responden dijamin oleh peneliti hanya kelompok data tertentu yang ada disajikan atau dilaporkan pada hasil penelitian. (Aziz, 2007: 95).BAB 4HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil penelitian   Pada bab ini akan disajikan hasil pengumpulan data dan pembahasan hasil penelitian tentang gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari. Pengambilan data ini dilaksanakan mulai bulan september 2010, pada ibu nifas di wilayah BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo. Penyajian data ini meliputi data umum dan data khusus. Data umum menampilkan tabel karakteristik responden yaitu umur Ibu, Pendidikan Ibu pekerjaan Ibu, paritas Ibu. Data khusus menyajikan tabel mengenai tentang gambaran pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari-hari berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, dan paritas.    4.1.1 Gambaran Umum Lokasi PenelitianData yang disajikan merupakan data dari BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo Kabupaten Sidoarjo Tahun 2010. BPS Nunung Murtiasih yang berdiri sejak 1990, sedangkan alamat tempat penelitian adalah di Desa Jeruk Legi Balongbendo RT 02 RW 01 Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo. Yang berbatasan dengan beberapa desa yaitu :Sebelah Utara    : Desa SumengkoSebelah Selatan : Desa SemawutSebelah Barat   :  Desa SudimoroSebelah Timur   : Desa Melati4.2 Data Umum Mengenai Karakteristik Responden4.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan UmurTabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo Tahun 2010 No. Umur Jumlah Prosentase (%)1 Menunda Kehamilan Usia &lt;20 tahun 4 202 Usia Reproduksi 20 – 35tahun 9 453 Mengakhiri Kehamilan &gt; 35 tahun 7 35&lt;br /&gt; Total 20 100&lt;br /&gt; Sumber : Data Primer&lt;br /&gt;  Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 20 responden didapatkan hampir setengahnya (45%) berumur 20 - 35 tahun  dan sebagian kecil (20%) berumur &lt; 20 tahun.4.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan PendidikanTabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong bendo Tahun 2010  No. Pendidikan Jumlah Prosentase (%)1 Pendidikan Dasar 4 202 Menengah 12 603 Tingi 4 20 Total 20 100 Sumber : Data Primer  Dari tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 20 responden setengahnya (60%) berpendidikan menengah.4.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan PekerjaanTabel  4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong bendo Tahun 2010  No. Pekerjaan Jumlah Prosentase (%)1 Tidak Bekerja 6 3023 BekerjaPNS 104 50203 Total 20 100 Sumber : Data Primer   Dari tabel 4.3 menunjukkan bahwa dari 20 responden didapatkan setengahnya (50%) bekerja dan sebagian kecil (20%) adalah PNS.4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber InformasiTabel  4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong bendo Tahun 2010 Total 20 100No Sumber Informasi Jumlah Prosentase1 Petugas Kesehatan   4 202 Media Cetak   7 353 Televisi 3 154 Teman  6 30 Jumlah 20 100Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 20 responden hampir setengahnya (35%) memperoleh informasi dari media cetak dan sebagian kecil (15%) dperoleh dari televisi. 4.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan ParitasTabel  4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Paritas di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balong bendo Tahun 2010No. Paritas Jumlah Prosentase (%)1 Primipara 12 602 Multipara 6 303 Grandemultipara 2 10 Total 20 100 Sumber : Data Primer  Dari tabel 4.4 menunjukkan bahwa dari 20 responden sebagian besar (60%) primipara dan sebagian kecil (10%). 4.3. Data Khusus 4.3.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Sehari-hari. Tabel  4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi  Sehari-hari Tahun 2010 No. Pengetahuan Jumlah Prosentase (%)1 Baik  3 152 Cukup 12 603 Kurang 5 25 Total 20 100Sumber : Data PrimerDari tabel 4.5 menunjukkan bahwa sebagian besar (60%) ibu memiliki pengetahuan cukup dan sebagian kecil (15%) ibu memiliki pengetahuan baik.4.3.2. Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Sehari-hari Berdasarkan UsiaUmur Pengetahuan Ibu Nifas Jumlah  Baik Cukup Kurang  f % f % f % f %Usia Menunda Kehamilan&lt; 20 Tahun         -  2 50 2 50 4 100Usia Reproduksi 20-35 Tahun 1 11 6 67 2 22 9 100Usia Mengakhiri Kehamilan &gt;35 Tahun 2 29 4 57 1 14 7 100&lt;br /&gt;Jumlah 3 12 5 20&lt;br /&gt;Tabel  4.6 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Responden dengan Usia Ibu di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo  selama bulan September Tahun 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interpretasi Data :&lt;br /&gt;    Hasil tabel silang pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 9 responden yang berusia 20 – 35 tahun didapatkan sebagian besar ( 67% ) responden berpengetahuan cukup sedangkan 4 responden yang berusia &lt; 20 tahun didapatkan setengahnya ( 50 % ) responden berpengetahuan kurang.4.3.3. Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Sehari-hari Berdasarkan Tingkat Pendidikan Ibu.Tabel  4.7 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Responden dengan Tingkat Pendidikan Ibu di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo  selama bulan September Tahun 2010Pendidikan Pengetahuan ibu nifas Jumlah Baik  Cukup  Kurang   F % f % f % f %Dasar  - - 1 25 3 75 4 100Menengah  1 8 10 84 1 8 12 100Tinggi  2 50 1 25 1 25 4 100Jumlah 3  12  5  20 100Interpretasi Data :Hasil tabel silang pada tabel 4.7 menunjukkan bahwa dari 12 responden yang berpendidikan menengah di dapatkan hampir seluruhnya (84%) berpengetahuan cukup sedangkan 4 responden yang berpendidikan Dasar didapatkan sebagian besar ( 75 %) berpengetahuan kurang.4.3.4. Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Sehari-hari Berdasarkan Pekerjaan.Tabel  4.8 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Responden dengan Pekerjaan Ibu di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo  selama bulan September Tahun 2010Pekerjaan Pengetahuan ibu nifas Jumlah Baik  Cukup  Kurang   f % f % f % f % Tidak Bekerja - - 3 50 3 50 6 100Bekerja 1 10 7 70 2 20 10 100PNS 2 50 2 50 - - 4 100Jumlah 3 12 5 20Interpretasi Data :Hasil tabel silang pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa dari 10 responden yang bekerja didapatkan sebagian besar (70% ) berpengetahuan cukup sedangkan 3 responden yang tidak bekerja didapatkan setengahnya (50%) berpengetahuan kurang.4.3.5. Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Bayi Sehari-hari Berdasarkan Paritas.Tabel  4.9 Tabulasi Silang Antara Pengetahuan Responden dengan Paritas Ibu di BPS Nunung Murtiasih Jeruk Legi Balongbendo  selama bulan September Tahun 2010Paritas Pengetahuan ibu nifas Jumlah Baik  Cukup  Kurang   f % f % f % f %Primipara - - 7 58 5 42 12 100Multipara 1 17 5 83   6 100Grandemultipara 2 100 - - - - 2 100Jumlah 3 12 5 20Interpretasi Data : Hasil tabel silang pada tabel 4.6 menunjukkan bahwa dari 6 responden multipara di dapatkan hampir seluruhnya (83%) berpengetahuan cukup sedangkan 12 responden primipara didapatkan hampir setengahnya (42%) berpengetahuan kurang. 4.4. PEMBAHASAN4.4.1 Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari - hariDari tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari 20 responden sebagian besar ibu (60%) memiliki pengetahuan cukup dan sebagian kecil ibu (15%) memiliki pengetahuan baik sedangkan (25%) memiliki pengetahuan kurang. Notoatmodjo (2007) mengemukakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, salah satunya yaitu tingkat Tahu (know), Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang tentang sesuatu antara lain adalah usia, pendidikan, pekerjaan, dan paritas. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkirakan (Nursalam, 2008).  Menurut Ginanjar G (2008) yang penting sekali diperhatikan adalah peningkatan pemahaman, kesadaran, sikap dan perubahan perilaku ibu nifas dalam merawat bayinya sehari - hari. Pengetahuan ibu nifas tentang perawatan bayi sehari - hari secara kuantitatif terletak pada kategori cukup. Dan hal itu menunjukkan bahwa pengetahuan ibu yang didapatkan tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan yaitu berpengetahuan kurang. Maka dapat disimpulkan bahwa ibu memiliki pengetahuan yang cukup. Hal itu bisa saja terjadi karena pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor Diantaranya pendidikan, pekerjaan, dan informasi yang diperoleh. 4.4.2. Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari - hari berdasarkan UsiaDari  tabel 4.6 didapatkan data bahwa dari 20 responden menunjukkan bahwa sebagian besar ibu (67%) yang berumur 20 – 35 tahun memiliki pengetahuan cukup, sedangkan berpengetahuan kurang hampir setengahnya (50%) didominasi oleh ibu nifas yang berusia &lt; 20.. Menurut Hurlock, 1998 yang dikutip oleh Nursalam, 2001 bahwa kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi-situasi yang baru, misalnya mengingat hal-hal yang dulu pernah dipelajari, penalaran analogis, dan berfikir kreatif mencapai puncaknya dalam usia dua puluhan, kemudian sedikit demi sedikit menurun.  Penalaran analogis dan  berpikir kreatif  sendiri puncaknya pada usia dua puluhan. Sekitar awal 30-an kebanyakan orang biasa menyelesaikan masalah mereka dengan baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin cukup usia seseorang semakin mantap dalam mengambil keputusan. Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa sikap positif akan tumbuh bila seseorang merasakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih dahulu. Pada penelitian ini yang memiliki pengetahuan cukup didominasi oleh ibu yang berumur 20 - 35 tahun. Pada usia tersebut tidak selalu didapatkan sikap yang negatif karena sikap seseorang akan berubah jika mengalami sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya.Maka kesimpulan yang dapat diambil adalah adanya kesesuaian dan ketidak sesuaian dari teori yang dijelaskan. Hal ini terlihat dari 7responden yang berusia &gt; 35 tahun didapatkan sebagian kecil (14 %)berpengetahuan kurang, padahal dimana semakin cukup umur seseorang semakin mantap dalam mengambil keputusan karena pengetahuan dan wawasan yang dimiliki juga lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.3. Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari - hari berdasarkan Tingkat Pendidikan&lt;br /&gt;Dari  tabel 4.7 didapatkan data bahwa hampir seluruhnya ibu (84%) yang berpendidikan menengah memiliki pengetahuan cukup sedangkan sebagian besar(75%)berpengetahuan kurang pada pendidikan dasar.&lt;br /&gt;Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan seseorang terhadap nilai-nilai baru yang dikenalkan (Nursalam, 2008). Namun dalam faktanya individu yang memiliki tingkat pengetahuan baik belum tentu dalam pelaksanaannya juga baik karna berdasarkan dari hasil penelitian telah didapatkan (25%) dari 4 responden yang berpendidikan tinggi didapatkan sebagian kecil berpengetahuan kurang. Hal ini sesuai dengan pernyataan latipun (2003) bahwa banyak faktor yang yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang diantaranya adalah usia, jenis kelamin, intelegensi, status sosial ekonomi, sosial budaya dan minat. Sehingga dengan adanya berbagai faktor diatas akan menimbulkan adanya berbagai macam persepsi yang berbeda dalam menyikapi dan menerima pengetahuan yang mereka dapatkan&lt;br /&gt;Menurut Nursalam (2002 :134) bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah suatu cita – cita tertentu. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, sebaliknya pendidikan yang kurang akan akan menghambat perkembangan dan sikap seseorang terhadap nilai – nilai yang baru diperkenalnya.Walaupun pendidikan secara formal menengah atau tinggi bila saat menerima informasi tidak dapat memehami dengan baik atau terdapat masalah lain yang menyebabkan orang tersebut tidak dapat menerima informasi dengan baik, sebab salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan informasi meliputi kondisi jasmani dan rohani serta tingkat kecakapan (Depkes RI, 2002).&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu yang berpendidikan menengah memiliki pengetahuan cukup, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula pengetahuan dan wawasan yang dimiliki. Sebab salah satu faktor yang mempengaruhi penerimaan informasi meliputi kondisi jasmani dan rohani serta tingkat kecakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.4. Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari - hari berdasarkan Pekerjaan &lt;br /&gt;Ditinjau dari segi pekerjaan ibu maka berdasarkan tabel 4.8 didapatkan data bahwa sebagian besar ibu (70%) dari 10 responden yang bekerja memiliki pengetahuan cukup, sedangkan ibu yang tidak bekerja hampir setengahnya (50%) dari 6 responden berpengetahuan kurang&lt;br /&gt;Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Melalui pekerjaan dapat berbuat sesuatu yang bernilai bermanfaat kita sendiri, bagi anggota keluarga dan diperoleh pengalaman (Nursalam, 2008). Informasi  akan mempengaruhi pengetahuan seseorang. Meskipun seseorang mempunyai pendidikan yang rendah tetapi ia mendapat berbagai informasi yang baik dari berbagai media seperti : TV, radio, surat kabar, perkumpulan PKK, posyandu/perkumpulan sosial lainnya, maka hal itu akan meningkatkan pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2007). &lt;br /&gt;Tempat bekerja merupakan sarana tidak langsung yang dapat dijadikan tempat bertukar informasi dan pengalaman antara anggota pekerja, sehingga bila ada informasi baru maka cepat tersebar melalui teman sepekerjaannya. Sedangkan menurut Sarwono (2001) dimana informasi yang diperoleh dari berbagai berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang memperoleh banyak informasi maka ia cenderung mempunyai pengetahuan yang lebih luas.&lt;br /&gt;Dari teori yang dijelaskan jelas sekali jika ibu yang bekerja kurang memiliki waktu untuk memperoleh informasi sehingga pengetahuan yang dimilikipun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Hal tersebut tidak selalu benar karena berdasarkan dari hasil penelitian dimana hampir setengah ibu yang bekerja memiliki pengetahuan yang cukup dan persentase itu jauh lebih besar dibandingkan ibu yang tidak bekerja.&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa kesibukan tidak berpengaruh dalam penerimaan untuk memperoleh informasi, karna didalam kesibukan masih ada waktu senggang(istirahat dan libur ) untuk mendapatkan informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.4.5. Pengetahuan Ibu Nifas tentang Perawatan Bayi Sehari - hari menurut Paritas&lt;br /&gt;Ditinjau dari jumlah anak berdasarkan tabel 4.8 didapatkan data bahwa hampir seluruhnya (83%) dari 6 responden multipara memiliki pengetahuan cukup, sedangkan pada primipara hampir setengahnya (50%) memiliki pengetahuan kurang.&lt;br /&gt; Menurut Notoatmojdo (2000) pengalaman adalah guru yang terbaik, hal ini karena pengalaman merupakan sumber pengetahuan atau pengalaman dan merupakan cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengulangi kembali pengalaman yang diperoleh dengan memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu namun harus tetap memerlukan pola pikir yang kritis dan logis. Pengalaman merupakan pendekatan yang penting dan bermanfaat. Kemampuan untuk menyimpulkan, mengetahui aturan, dan membuat prediksi bedasrkan observasi (Nursalam, Siti Pariani, 2001).&lt;br /&gt;Hal ini dipertegas dengan teori Latipun (2003) pengalaman akan dijadikan evaluasi dan dia akan berprilaku secara kreatif untuk beradaptasi terhadap peristiwa – peristiwa yang baru, begitu pula wanita yang pernah melahirkan,  semakin banyak kelahiran yang dialami ibu akan menjadi pengalaman dalam hal merawat bayinya. Menurut Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa ibu dengan anak pertama umumnya tingkat kecemasan lebih tinggi dan ketidaktahuan karena belum pernah punya anak sehingga dia ingin mencoba sesuatu hal yang baru selesai dengan keinginannya.&lt;br /&gt;Jadi dapat disimpulkan bahwa teori yang dikemukakan ada yang sesuai dan tidak sesuai dengan hasil penelitian yang didapatkan bahwa semakin kecil jumlah anak maka makin banyak waktu yang tersedia untuk mendapatkan informasi untuk meningkatkan pengetahuan sedangkan ibu yang multipara yang memiliki pengetahuan cukup bisa saja dikarenakan oleh pengalaman yang pernah dialami sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk mengambil keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 5&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;5.1 Simpulan&lt;br /&gt;   Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengetahuan ibu nifas tentang perwatan bayi sehari – hari. didapatkan simpulan sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Sebagian besar (60%) responden memiliki pengetahuan cukup tentang perawatan bayi sehari - hari&lt;br /&gt;2. Sebagian besar (67%) responden berusia 20-35 tahun memiliki pengetahuan cukup tentang perawatan bayi sehari – hari&lt;br /&gt;3. Hampir Seluruhnya (84%) responden berpendidikan menengah memiliki pengetahuan cukup tentang perawatan bayi sehari - hari&lt;br /&gt;4. Sebagian besar (70%) responden bekerja memiliki pengetahuan cukup tentang perawatan bayi sehari - hari&lt;br /&gt;5.  Hampir Seluruhnya (83%) responden multipara memiliki pengetahuan cukup tentang perawatan bayi sehari - hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2 Saran&lt;br /&gt; Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan mengenai pengetahuan ibu perawatan bayi sehari – hari.maka diharapkan:&lt;br /&gt;5.2.1 Bagi Responden&lt;br /&gt;Untuk masyarakat pada umumnya dan bagi para responden pada khususnya agar lebih aktif mencari informasi tentang perawatan bayi sehari – hari dengan cara bertanya kepada petugas kesehatan serta yang paling penting adalah dengan tidak melakukan perawatan yang justu akan berakibat buruk dan menimbulkan terjadinya infeksi.&lt;br /&gt;5.2.2 Bagi Peneliti&lt;br /&gt;Agar lebih meningkatkan pengetahuan nya tentang perawatan bayi sehari – hari bukan hanya mengandalkan pengalaman sebelumnya dalam melakukan  perawatan bayi sehari – hari serta lebih meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sehingga dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuannya di masa yang akan datang&lt;br /&gt;5.2.3    Bagi Profesi Kebidanan&lt;br /&gt; Meningkatkan penyuluhan dan konseling kepada ibu nifas tentang perwatan bayi sehari – hari. meningkatkan kualitas pelayanan dengan melengkapi sarana pelayanan dan memperluas kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk melakukan kolaborasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2.4    Bagi Peneliti Selanjutnya&lt;br /&gt;Diharapkan dapat digunakan sebagai acuan penelitian lebih lanjut, tentang perawatan bayi sehari - hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-6458753557835642076?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/6458753557835642076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/kajian-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6458753557835642076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6458753557835642076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/kajian-islami.html' title='Kajian Islami'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-3155821597345969976</id><published>2010-12-16T22:56:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:56:08.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra Bandingan'/><title type='text'>PERBANDINGAN TEMA DARI SEGI LATAR ATAU SETTING TEMPAT CERPEN “ALKISAH SI BAYI KUCING IDUL FITRI” KARYA ZAINAL ROSHID AHMAD DENGAN CERPEN “GODLOB” KARYA DANARTO (KAJIAN SASTRA BANDINGAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUKTURAL</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Remak (1990 : 1), sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah negara dan kajian hubungan diantara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan yang lain seperti seni )misalnya seni lukis, seni ukir, seni bina, dan seni musik) filsafat, sejarah, sains nasional (misalnya politik, ekonomi, sosiologi) agama dan lain-lain. Ringkasnya sastra bandingan membandingkan sastra sebuah negara dengan sastra negara lain dan membandingkan sastra dengan bidang lain sebagai keseluruhan ungkapan kehidupan. &lt;br /&gt;Dalam keterangan Remak itu tampak adanya dua kecenderungan dalam sastra bandingan yakni yang menyatakan bahwa percaya, sastra harus dibandingkan dengan sastra dan keuda, sastra bisa saja dibandingkan dengan bidang seni dan bahkan disiplin ilmu lain. &lt;br /&gt;Menurut pandangan pertama, sastra sebuah negara harus dibandingkan dengan satra ngara lain. Jika studi itu disebut sastra bandingan. Diisyaratkan dalam pernyataan Remak itu bahwa membanding-bandingkan karya – karya sastra yang dihasilkan oleh suatu negara saja tidak bisa dianggap sastra bandingan karena tidak melampaui batas – batas negara. &lt;br /&gt;Seperti halnya yang akan dijelaskan disini melalui perbandingan antara dua buah karya sastra berbentuk cerpen dari dua negara yakni Malaysia dan Indonesia. Perbandingannya menyangkut tema kedua karya sastra tersebut dilihat dari segi latar atau setingnya. &lt;br /&gt;Tema adalah suatu pokok persoalan yang berisi gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra (Panuti Sudjiman, 1991 : 50). Didalamnya terbayang pandangan hidup atau cita-cita pengarang. Dari inilah pengarang menjadikan sebuah karya sastra yang kadang-kadang sering juga disertai pemecahannya sekaligus. &lt;br /&gt;Latar atau seting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa – peristiwa yang diceritakan (Abranis dalam Burhan Nurgiyantoro,  1995 : 216). Terkadang latar banyak mempengaruhi penokohan dan kadnag-kadang membentuk tema. &lt;br /&gt;Latar atau setting yang akan ditekankan disini adalah lebih pada latar tempat dari kedua karya sastra dari dua negara di atas. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menganalisis dan membandingkan kedua karya sastra dari dua negara yakni cerpen dari pengaran Malaysia serta cerpen dari pengarang id ini dibutuhkan kajian sastra bandingan dengan menggunakan pendekatan struktural. &lt;br /&gt;A. Pendekatan struktural &lt;br /&gt;Penekatan struktural merupakan pendekatan intrinsic yakni membicarakan karya tersebut pada unsur-unsur yang membangun karya sastra dari dalam. Pendekatan tersebut meneliti karya sastra sebagai karya yang otonomi dan terlepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografi pengarang dan segala hal yang ada di luar karya sastra (Satoto, 1993 : 32) &lt;br /&gt;Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh (Teeuw, 1984 : 135). &lt;br /&gt;Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan struktural adalah suatu pendekatan dalam ilmu sastra yang cara kerjanya menganalisis unsur-unsur struktur yang membangun karya sastra dari dalam, serta mencari relevansi atau keterkaitan unsur-unsur tersebut dalam rangka mencapai kebulatan makna. &lt;br /&gt;Menurut Jan Van Luxemburg (1986 : 38) struktur yang dimaksudkan mengandung pengertian relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara keseluruhannya. &lt;br /&gt;Struktur karya sastra (fiksi) terdiri dari unsur-unsur alur, penokohan, tema, latar dan amanat sebagai unsur yang paling menunjang dan paling dominan dalam membangun karya sastra (fiksi) (Sumardjo, 1991 : 54).&lt;br /&gt;Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Burhan Nurgiyantoro, 1965 : 165). Adapun penokohan tersebut dengan melukiskan keadaan tokoh cerita baik keadaan lahir maupun batinnya yang berupa pandangan hidup, sikap, keyakinan, adat istiadat dan sebagainya. (Suharianto, 1982 : 11). &lt;br /&gt;Alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Stanton dalam Burhan Nurgiyantoro, 1996 : 113). &lt;br /&gt;Tema adalah pokok persoalan yang berisi gagasan, ide atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra (Panuti Sudjiman, 1991 : 50). &lt;br /&gt;Latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial temapt terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abram S dalam Burhan Nurgiyantoro, 1995 : 216) &lt;br /&gt;Gaya bahasa yang dimaksud adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan maupun mempermainkan bahasa. &lt;br /&gt;Sudut pandang atau point of view merupakan dimana pengarang menempatkan dirinya dalam cerita. &lt;br /&gt;Amanat merupakan sebuah pesan yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Umumnya amanat cerita berisi ajaran-ajaran moral yakni ajakan, saran, atau anjuran kepada pembaca untuk meningkatkan kesadaran kemanusiaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Struktural Atau Intrinsik Cerpen Si Bayi Kucing Idul Fitri Karya Zainal Roshid Ahmad&lt;br /&gt;Tema dari cerpen Si Bayi Kucing Idul Fitri Karya Zainal Roshid Ahmad ini adalah mistis. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini yakin Si Bayi Idul Fitri, seorang gadis, seorang lelaki, si bidan, dua sahabat si bidan, si empu warung kopi, si polan dan penduduk. &lt;br /&gt;Yang menjadi tokoh sentral dalam cerpen ini adalah Si Bayi Idul Fitri karena tokoh inilah yang menjadi perbincangan tokoh lain. Watak dari tokoh sentral ini yakni seorang anak yang baik dan berbakti pada orang tuanya serta taat dalam beribadah. Watak dari seorang gadis yaitu seorang yang pendiam, taat beribadah, lembut, sabar, namun misterius. Watak dari seorang lelaki yakni seorang yang berbudi baik, penolong namun pengecut dan misterius. Watak dari si bidan adalah seorang yang berbudi baik, sabar, tekun, tulus, serta pengiba. Watak dari dua sahabat si bidan adalah tak tulus. Watak dari si empu warung kopi adalah seorang yang suka mengumbar cerita. Watak dari si polan adalah seorang yang menggebu-gebu. Watak dari penduduk kampung adalah baik dan ramah namun suka mengolok dan menghujat. &lt;br /&gt;Latar atau setting tempat dalam cerpen ini adalah di kampung kecil, lembah, lereng kaki bukit, warung kopi, hutan, di bawah pokok ketapang, di bawah pokok nangka jantan, surau kampung, kebun sayur belakang rumah si gadis, halaman rumah si gadis dan kedai di kepala jalan. Latar waktu dalam cerpen ini adalah siang (zohor), pagi, dan malam. Sedangkan latar suasana dalam cerpen ini adalah sunyi, misteri, terkejut, heran, aneh, takut, gugup, tegang, meredup, sebak, lega, remuk redam serta sedih. &lt;br /&gt;Alur atau polt cerpen ini adalah alur maju-mundur-maju. Di awal diceritakan mengenai kehidupan sebuah kampung yang terletak di sebuah lembah penuh misteri. Hingga kilas balik cerita pada tujuh tahun yang lalu tentang kemunculan seorang gadis yang akhirnya melahirkan Si Bayi Idul Fitri tujuh tahun sesudahnya. &lt;br /&gt;Sudut pandang atau point of view cerpen ini adalah menggunakan sudut pandang seorang pertama. &lt;br /&gt;Majas atau gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam cerpen ini adalah majas metafora. Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas metafora. &lt;br /&gt;Apa lagi dek bayang-bayang pucuk buluh yang sedang bercumbu julaiannya itu, menjadikan jalan ini laksana sebuah gua batu kapur atau disihir tangan alam lalu bertukar menjadi terowong gelap yang tidak berpenghujung (halaman 1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa saja malah sudah pun terhadam dalam pikiran, laksana nasi yang jatuh ke perut (halaman 3). &lt;br /&gt;Amanat atau pesan yang hendak disampaikan pengarang lewat cerpen ini adalah janganlah sesekali menuduh orang lain melakukan suatu keburukan tanpa adanya bukti yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Struktural Atau Instrinsik Cerpen Godlob Karya Danarto &lt;br /&gt;Tema dari cerpen Godlob karya Danarto ini adalah mistis. Tokoh-tokoh dalam cerpen ini yakni Rintrik, Petani, seorang gadis, seorang lelaki, lelaki tua pemburu, seorang perempuan tua, orang suruhan pemburu, serta penduduk. &lt;br /&gt;Yang menjadi tokoh sentral dalam cerpen ini adalah tokoh Rintrik. Watak dari tokoh sentral ini yaitu seorang yang tenang, penyabar, pengertian, agamis, penyayang, seorang yang lembut, penolong, ramah, berudi baik, berkemauan keras, rendah hati namun seorang yang misterius. Watak dari tokoh petani adalah sopan, pandai, ramah dan baik. Watak dari tokoh gadis yaitu penakut. Watak dari tokoh lelaki adalah keras dan acuh tak acuh. Watak dari tokoh lelaki tua pemburu adalah keras, kasar, dan sombong. Watak dari tokoh perempuan tua adalah seorang yang pasrah dan mudah putus asa. Watak dari orang suruhan pemburu adalah patuh dan pengecut. Serta watak dari penduduk adalah baik, patuh, namun cepat pasrah. &lt;br /&gt;Latar atau setting tempat dalam cerpen ini adalah lembah di lereng gunung, taman bunga tempat pemakaman bayi dan sebuah pondok. Latar waktu dalam cerpen ini adalah pagi (subuh), siang hari, sore hari, dan malam hari. Latar suasana dalam cerpen ini adalah hening, penyesalan, tegang, damai, kagum, kesal, heran, takjub, haru, ngeri, cemas serta mencekam. &lt;br /&gt;Alur atau plot cerpen ini adalah maju-mundur-maju. Diceritakan di awal tentang badai yang melanda kehidupan lembah lalu nampak tokoh  Rintrik yang sedang menggali kubur hingga kembali pada penceritaan tentang seluk beluk kehidupan dan keindahan lembah. Kemudian diteruskan penceritaan tentang penguburan mayat-mayat bayi oleh Rintrik dan kejadian-kejadian lain hingga akhir cerita.&lt;br /&gt;Sudut pandang atau plot of view yang digunakan oleh pengarang dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang ketiga, dimana pengarang menempatkan dirinya sebagai pencerita.&lt;br /&gt; Majas atau gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam cerpen ini adalah majas hiperbola, personifikasi, metafora dan antitesis. Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas hiperbola. &lt;br /&gt;Petir menyambar-nyambar di atas pondoknya dan tangannya bergerak sendiri (halaman 14) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba bunyi senapan menggelegar (halaman 23) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara terasa menyayat-nyayat (halaman 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan deras disertai angin kencang, disertai petir yang  melengking-lengking, merupakan badai yang dahsyat yang menyapu bersih segala kehidupan lembah itu. (halaman 1) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas personifikasi&lt;br /&gt;Teriak batang-batang padi itu (halaman 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan angin dengan cara kesenangannya sendiri mempermainkan pohon-pohon kelapa hingga bergoyang-goyang merunduk-runduk penuh irama (halaman 2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang di seberang sana cemara-cemara berderai – derai mengalun bagai harapan yang dipetik dengan bergelora. (halaman 2)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas metafora &lt;br /&gt;Hujan deras membasahi angin dan angin menerbangkan hujan bagai anak panah salju. (halaman 3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…….ekor-ekor petir jadi melempem oleh suasana dingin yang beku bagai kerupuk dalam lemari es (halaman 3) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau laksana air terjun yang membayangiku (halaman 31) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas Antitesis. &lt;br /&gt;Mereka para petani, laki-laki perempuan, tua muda, dalam keadaan basah kuyup menggigil dan ketakutan, dalam sekejap sudah mengelilingi perempuan tua buta itu (halaman 11). &lt;br /&gt;Amanat atau pesan yang hendak disampaikan pengarang lewat cerpen ini adalah janganlah menganggap atau memper-Tuhan-kan manusia seperti yang dilakukan oleh tokoh petani dan penduduk lembah dalam cerpen ini karena memper-Tuhan-kan manusia sama dengan tidak mempercayai keberadaan Tuhan atau bisa disebut sebagai perbuatan yang menyekutukan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tema Cerpen Alkisah Si Bayi Kucing Idul Fitri Karya Zainal Roshid Ahmad Dilihat Dari Segi Latar Tempat &lt;br /&gt;Cerpen Alkisah Si Bayi Kucing Idul Fitri ini bertema mistis jika dilihat dari segi latar tempat. Brawal dari sebuah kampung kecil yang jauh di tengah lembah dipenuhi semak belukar di kanan dirinya yang semakin hari semakin panjang, menjadikan jalan masuk ke kampung ini bak terowongan gelap yang tidak berpenghujung. Kampung yang ditandai oleh pohon besar berusia bangka di pintu masuknya. Kampung yang tak pernah dikunjungi orang luar. Penduduknya pun tak mengetahui secara pasti apa penyebab tak adanya orang yang mengunjungi kampung mereka. Hanya saja sering mereka temui pembicaraan orang luar mengenai kampung mereka yang dipenuhi dengan misteri yang membingungkan. &lt;br /&gt;Malah ditekankan dalam cerita melalui salah satu tokohnya bahwa kampung itu berhantu, yang mana pada zaman komunis, seorang pernah memasuki kampung itu. Saat masuk, kampung itu dikiranya hanya ada tujuh buah rumah namun saat keluar dari kampung itu, seorang tadi terkejut karena rumah sudah bercambah-cambah. &lt;br /&gt;Tampak lagi melalui sudut pandang orang pertama dalam cerita ini bahwa jumlah rumah di kampung itu tak menentu, terkadang tujuh dan terkadang empat puluh. Dengan tak menentunya jumlah rumah di kampung itu tiap harinya, penduduk kampung itu telah merasa biasa bagai kejadian-kejadian aneh yang sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. &lt;br /&gt;Jelas sudah bahwa kemistisan tema dalam cerpen ini begitu tak bisa dijelaskan oleh nalar manusia, lebih – lebih akan menjadikan sebuah tanda tanya besar oleh si pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tema Cerpen Godlob Karya Danarto Dilihat Dari Segi Latar Tempat &lt;br /&gt;Salah satu cerpen dari kumpulan cerpen Godlob karya Danarto ini bertema mistis jika dilihat dari segi latar tempat dalam cerita. Berawal dari sebuah lembah di lorong pegunungan yang dianggap banyak orang sebagai tempat yang indah bagi pelancong yang datang kesana. Kebanyakan yang mengunjungi lembah itu adalah pasangan muda mudi. &lt;br /&gt;Lembah itu benar-benar indah, ada sesuatu yang kuat menarik orang-orang untuk mengunjunginya. Tampak jelas terlihat melalui sudut pandang orang pertama dalam cerita ini bahwa lembah itu merupakan perpaduan keindahan dan kegaiban, kala pagi atau sore hari, pemandangan lembah bak sebuah ranjang pengantin yang menggairahkan. Sehingga mereka yang datang merasa terombang ambing hatinya. Harum bunga-bunga di sekitar lembah menambah kemesraan yang tercipta diantara mereka, dan tak jarang bahkan sering pasangan – pasangan itu mulai terperosok dan hanyut dalam suasana itu. Alhasil tercecerlah puluhan bayi yang baru saja lahir hasil dari hubungan itu di buang oleh mereka di lembah itu juga. &lt;br /&gt;Mula-mula lembah yang dipenuhi dengan keindahan itu kini pudar menjadi lembah yang menyeramkan dan mengerikan karena semakin lama semakin banyak mayat bayi yang dibuang di lembah itu.&lt;br /&gt;Yang perlu ditekankan adalah penyebab dari kekuatan keindahan lembah itu tak diketahui secara pasti. Ini tampak jelas bahwa tema cerpen ini jika dilihat dari segi latar tempat adalah mistis, sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh nalar manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Perbandingan Tema Kedua Cerpen &lt;br /&gt;Berikut beberapa kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya kesamaan tema kedua cerpen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Tema mistis dari segi latar (setting) tempat&lt;br /&gt; Si Bayi Kucing Idul Fitri Godlob&lt;br /&gt;1 Apalagi dek bayang-bayang pucuk buluh yang sedang bercumbu lulaiannya itu. Menjadikan jalan itu laksana sebuah gua batu kapur atau disihir tangan alam lalu bertukar menjadi terowong gelap yang tidak berpenhujung.  Lembah itu memang benar-benar indah, ada sesuatunya yang kuat menarik hingga hampir tiap saat orang berbondong-bondong ke sana. Kata orang, lembah itu merupakan perpaduan keindahan dan kegaiban, sehingga sukar orang mengatakan isi hatinya yang tepat mengenai kekagumannya atas pemandangan itu. &lt;br /&gt;2 Kecuali kami yang menetap sejak turun temurun disini, kampung yang ditandai pintu masuknya oleh pohon ketapang yang berusia bangka tetapi masih tegak agama itu, hampir tidak pernah dikunjungi orang luar.  Dan kadang-kadang lembah itu berbolak balik rasanya. Pernah orang mengutarakan pendapatnya mengenainya dan tiba-tiba lembah itu berbalik lain sekali. Orang mengatakan begini dan lembah itu menunjukkan dirinya begitu, lama-lama orang insyaf, rupanya tidaklah perlu mengatakan pendapatnya. &lt;br /&gt;3 Kami pula tak pernah memikirkan sebabnya kecuali sekali dan dulu kebetulan ketika keluar merayap di bandar, terdengarlah cakap-cakap orang, bahwa kampung kami ini umpama sarang hidup yang penuh dengan misteri yang membingungkan.  Kalau pagi hari matahari menyinarinya dan lembah itu ditutup oleh segumpal kabut di atasnya, hingga sinar-sinar lembut yang menerobosnya, merupakan sutra-sutra lembut dengan warna biru-hijau-putih, merupakan pagar-pagar ranjang pengantin yang menggairahkan demikian kata orang yang habis pergi ke sana. Sedang sore hari lembah itu kena pantulan merah langit, hingga menjadilah beledu ungu yang redup dan samar-samar membentang luas adalah taman surga tempat pasangan – pasangan asmara berkejar-kejaran dengan manjanya. &lt;br /&gt;4 “Kampung tu berhantu !” Kata si empunya warung kopi. “Apa cak berhantunya”, sambut si polan yang sedang minum. “Dulu masa zaman komunis, Askar British pernah situ, masa masuk, bila dikira yang ada hanya tujuh buah rumah. Tapi masa nak keluar, Askar British terkejut karena rumah sudah bercambah-cambah  Sehingga mereka yang berpasang-pasangan  kesanan, dari pagi hingga petang, akan merasa terombang ambing hatinya. Segala tanaman yang ada di lembah itu, bunga liar yang jinak, pohon-pohon kelapa yang tinggi-tinggi, cemara-cemara yang berderai-derai, batang-batang padi,  rumput-rumput yang halus. Lembah itu harus baunya sepanjang masa. &lt;br /&gt;5 Si empunya warung cepat-cepat menyambung cerita. “Askar British bertekak sesama sendiri, ada yang kata seratus buah, ada yang kata empat puluh saja” Tapi lama kelamaan lembah itu pudar oleh karena banyaknya bayi yang telah mati maupun yang masih hidup dibuang kesana. Pada kejadian pertama, kedua, ketiga orang tidak curiga apa-apa. Tetapi lama kelamaan hampir tiap hari ada dua puluh bayi yang masih merah-merah, dan baru saja keluar dari rahim yang berkaparan di lembah itu. &lt;br /&gt;6 Meskipun jumlah rumah di kampung kami tidak menentu, terkadang tujuh dan terkadang empat puluh. Malah pada malam-malam tertentu kalau bulan tiba-tiba saja ditelan awan tebal dan seluruh kampung dibungkus gelap, maka disana sini segera dinyalakan pelita lalu digantung pada palang-palang pintu. Di  kaki-kaki bukit, tempat diamnya jiran-jiran kami yang halimunan itu, deretan api jamung yang berselerak di sepanjang kaki bukit hampir-hampir memerangi seluruh hutan waktu itu, barulah kami perasan akan banyaknya rumah di kampung ini. Cuma kalau ditinjau kala siang hari, yang ada hanyalah jerumunan belukar dan hutan tebal.  Orang heran, kenapa mereka justru membuang bayi-bayi mereka ke lembah yang indah tempat tamasya itu. Jawab mereka, katanya seolah-olah ada semacam kekuatan yang menjalar – jalar dalam tubuh mereka hingga sepuluh dari lembah itu, pasangan itu mulai terperosok dan hanyut dalam warna ungu dan merah jambu yang menggairahkan. Dan tentu saja, jawab mereka selanjutnya, hasil dari itu semua selayaknya dibuang kembali ke lembah yang meracuni mereka itu. &lt;br /&gt;7 Kampung tim berhantu… kita tak tau mana satu manusia, mana satu pula jin !” si empunya warung menutup cerita.  Demikian lembah itu bertahun-tahun sepi. Makin banyak mayat bayi yang dibuang ke sana setiap saat dari segala penjuru, akin matilah lembah itu. Ia sekarang merupakan lembah yang mengerikan. Orang memandangnya bukan lagi sebagai ranjang pengantin yang terhampar luas dan sejuk, tetapi dengan bulu roma yang berdiri dengan segala bayangan hantu-hantu ganas pemakan bangkai-bangkai bayi. &lt;br /&gt;8 Meskipun banyak keanehan yang pernah atau sedang berpusar di sekitar pelusuk kampung ini sudah dapat kami telan sebagai ciri-ciri kejadian yang sangat biasa saja malah sudahpun terhadam dalam pikiran, laksana nasi yang jatuh ke perut Mula-mula lembah itu sebagai gadis ayu dengan dandanan cantik, kini sekonyong-konyong terserang oleh dirinya sendiri. Kemudian seperti kemasukan setan, diidapnya tubuhnya, dirobek-robeknya pakaian indahnya, sambil berlari-lari dicakar-cakarnya rambutnya yang gemulai lembut hitam legam, hingga gadis ayu itu sudah jadi perempuan penyihir yang seram. Ya, alam merobek-robek dirinya sendiri. &lt;br /&gt;Para petani yang bertempat tinggal seberang-menyeberang lembah itu merasa getir dan ketakutan. Dulu mereka mempunyai mata pencaharian tambahan dengan menjual hasil-hasil tanaman mereka kelembah tamasya itu, kini hilang lagi. Bukan hanya itu, mereka dihantui oleh kepercayaan-kepercayaan yang menakutkan, hingga siang mereka tak enak bekerja dan malam mereka tak enak tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kedua cerpen di atas adalah sama yakni mengenai kemiskinan. Sastra bandingan bukan hanya mengkaji soal persamaan ataupun perbedaan dua buah karya dari dua negara yang berbeda namun mengkaji juga soal siapa mempengaruhi siapa. &lt;br /&gt;Jika dilihat kembali pada kesamaan tema, kedua pengarang menempatkan kemistisan sebuah cerita tersebut dalam suatu latar atau setting tempatnya. Dilihat pada cerpen “Alkisah Si Bayi Kucing Idul Fitri”, kemistisannya terletak pada latar tempatnya yakni sebuah kampung, dimana jumlah rumah dalam kampung itu tak menentu setiap harinya. Penyebab hal – hal aneh semacam itupun tak diketahui pasti oleh pendukung kampung itu sendiri. &lt;br /&gt;Kemudian jika dilihat pada cerpen “Godlob” kemistisannya juga terletak pada latar tempat dalam ceritanya yakni sebuah lembah, dimana lembah itu menyimpan kekuatan besar yang mampu menarik pasangan             muda-mudi untuk mengujunginya. Namun baik pengunjung maupun penduduk sekitar lembah juga tak mengetahui secara jelas apa penyebab lembah bisa seperti itu.&lt;br /&gt;Mistis merupakan kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia dan hal0hal yang tersembunyi (J. Kramers. Jz) &lt;br /&gt;Menurut definisi di atas, tampak bahwa kedua cerpen tersebut mengandung kemistisan dalam latar tempatnya. Kepercayaan penduduk pada kekuatan keindahan lembah pada “Godlob” serta kepercayaan penduduk akan berubahnya jumlah rumah di sebuah kampung pada “Alkisah Si Bayi Kucing Idul Fitri” merupakan sesuatu yang mengandung mistik. &lt;br /&gt;Jika ditelisik dari kemunculan awal kedua pengarang tersebut dalam dunia tulis-menulis, Danarto lah yang lebih dulu berkecimpung dalam dunia ini yakni pada tahun 70-80 an melalui kumpulan cerpennya “Godlob” pada tahun 1975. sedangkan penulis asal Malaysia, Zainal Roshid Ahmad muncul dalam dunia tulis menulis sekitar tahun 80-90 an. Bisa dikatakan bahwa Zainal Roshid Ahmad adalah penulis baru. &lt;br /&gt;Dilihat dari karyanya, Godlob, Danarto lebih memusatkan penceritaan tentang kehidupan sosial sehari-hari dengan dibumbui sufisme jawa. Secara tak sadar ilmu gaib dan mistik telah dibawa oleh Danarto kedalam tulisannya. Menurut seorang cerpenis, novelis, dan juga wartawan. Akmal Naseri Basral, gaya bercerita Danarto sebagai ralisme magis yang populer lewat kesimpulan cerpennya Godlob. &lt;br /&gt;Banyak dari pengarang lain yang mengikuti jejak atau gaya penulisan Danarto, namun tak sampai meninggalkan kesan atau bahkan mampu dikenal seperti halnya Danarto. Hal inilah yang tak menutup kemungkinan bahwa penulis-penulis luar Indonesia misalnya Zainal Roshid Ahmad juga terpengaruh gaya penulisan Danarto mengingat karya-karya Danarto telah “Membumi” sampai luar-luar Indonesia. Namun kedua pengarang ini Danarto dan Zainal Roshid Ahmad tetap memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri dalam setiap karya-karyanya. &lt;br /&gt;Pada cerpen Zainal Roshid Ahmad tidak ditemui suatu pembaharuan dalam ceritanya. Hal ini berarti pengarang hanya terpengaruh kemudian menghasilkan karya namun tak melakukan pembaharuan di akhir cerita cerpennya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan &lt;br /&gt;Sastra bandingan bukan hanya mengkaji soal persamaan atau perbedaan dua buah karya dari dua negara yang berbeda namun mengkaji juga soal siapa mempengaruhi siapa. &lt;br /&gt;Hal ini bisa dilihat pada cerpen “Alkisah Si Bayi Kucing Idul Fitri” karya Zainal Roshid Ahmad dan cerpen “Badlob” karya Danarto. Menurut analisis berdasarkan kajian sastra bandingan dengan menggunakan pendekatan struktural serta menurut berbagai sumber dan referensi yang ada, kedua cerpen tersebut memiliki kesamaan tema jika dilihat dari segi latar atau setting tempat dalam ceritanya. Pengaruh dalam penulisan cerita terlihat pada Zainal Roshid Ahmad yang bisa dikaitkan sedikit terpengaruh gaya penulisan Danarto. Namun tetap kembali pada kedua pengarang tersebut bahwa keduanya tetap memiliki ciri khas atau daya tarik tersendiri dalam setiap karya – karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran &lt;br /&gt;Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan analisis yang kurang begitu mendalam serta keterbatasan referensi yang didapat. Maka perlu adanya saran maupun kritik dari pembaca demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danarto, 1987. Godlob. Jakarta : Grafiti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Bandung : Angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djoko Damono. Sapardi. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta : Pusat Bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najid, Moh. 2009. mengenal apresiasi prosa fiksi. Surabaya : university press &amp; pixel production &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://media-sastra-indonesia.blogspot.com/2009/12/pendobrak-pintu-cerpen-indonesia-html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://cahsasindo.blogspot.com/2009/03/pendekatan-struktural-dalam penelitian.html.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-3155821597345969976?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/3155821597345969976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/perbandingan-tema-dari-segi-latar-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3155821597345969976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3155821597345969976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/perbandingan-tema-dari-segi-latar-atau.html' title='PERBANDINGAN TEMA DARI SEGI LATAR ATAU SETTING TEMPAT CERPEN “ALKISAH SI BAYI KUCING IDUL FITRI” KARYA ZAINAL ROSHID AHMAD DENGAN CERPEN “GODLOB” KARYA DANARTO (KAJIAN SASTRA BANDINGAN DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN STRUKTURAL'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-7232769901903225221</id><published>2010-12-16T22:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:54:01.921-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semiotik'/><title type='text'>ilmu Semiotika</title><content type='html'>BAB 2&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. PENGANTAR SEMIOTIK&lt;br /&gt;Makalah ini menampilkan analisis dan kajian ilmu semiotika dengan sub bab tanda-tanda indeksikal, tanda-tanda ikonis, dan tanda-tanda interpretan. Sekedar mengulang kembali, semiotik adalah ilmu yang berhubungan dengan tanda. Tidak hanya karya sastra yang diteliti dengan semiotik, tetapi hampir semua bidang ilmu lainnya juga dapat diteliti menggunakan kajian semiotic juga. Sebenarnya semiotik mempunyai sejarah yang sangat panjang sejak zaman Yunani kuno, Melalui zaman pertengahan dan renaisance hingga pada masa modern ini. Bidang yang di teliti juga sangat luas bahkan tidak jelas batas-batasnya. Mulai dari tradisi aspek  dibidang kedokteran, filsafat, linguistik dan lain-lain (Noth, 1990).&lt;br /&gt;Semiotik dalam buku lain dijelaskan sebagai cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, Seperti sistem tanda, dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda (Van Zoest).&lt;br /&gt; Pelopor semiotik modern yaitu Charles Sanders Peirce (1839-1914) dan Ferdinand De Saussure (1857-1913). Pierce adalah seorang ahli logika Amerika. Penelitiannya berakar dari bidang filsafat yang dipelajari orang untuk bernalar. Menurut Peirce, penalaran dilakukan melaui tanda-tanda. Tanda memungkinkan kita berfikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna kepada siapa saja yang memberi makna pada apa saja yang ditampilkan alam semesta. Kita mempunyai tanda yang sangat berfariasi, Antara lain tanda-tanda di bidang lingustik. Bagi Peirce tanda linguistik merupakan salah satu kategori tanda yang dianggap penting, tetapi bukan merupakan tanda yang terpenting. &lt;br /&gt; Pelopor semiotik yang lain adalah Saussure yang merupakan seorang ahli linguistik dari Swiss. Ia mengadakan pembaharuan besar-besaran di bidang linguistik. Tidak salah jika dia dijuluki bapak linguistic modern. Saussure berpendapat bahwa bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurut anggapannya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya sehinnga untuk masuk kedalam analisis semiotik sering digunakan pola ilmu bahasa. Sebenarnya, Saussure tidak mencurahlan perhatian pada semiotik yang mempunyai ranah dan cakupam yang sangat luas. Namun dia memberi dasar yang sangat kuat dalam ilmu bahasa dan memfokuskan dalam penelitian semiotik.&lt;br /&gt; Sebagaimana dalam  yang dijelaskan dalam buku Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra bahwa Saussure menggunakan istilah semiologi, sedang Peirce menyebutnya dengan istilah semiotik. Pada mulanya kedua istilah tersebut digunakan untuk membedakan kedua kubu tersebut antara Saussure dan Peirce, tetapi kini keduanya dianggap sebagai sinonim&lt;br /&gt;1.1Segitiga semiotik. &lt;br /&gt; Peirce menjelaskan tiga unsur dalam tanda yaitu representamen,  objek, dan interpretan. Hubungan ketiga unsur tanda tersebut dapat dilihat sebagai berikut :&lt;br /&gt;     objek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   representamen  interpretan&lt;br /&gt;a. Representamen.&lt;br /&gt;Adalah unsur tanda yang mewakili sesuatu .&lt;br /&gt;b. Objek.&lt;br /&gt;Adalah sesuatu yang diwakili.&lt;br /&gt;c. Interpretan .&lt;br /&gt;Tanda yang tertera didalam pikiran si penerima setelah melihat representamen.&lt;br /&gt; Demikianlah representamen membentuk tanda dalam benak si penerima. Tanda itu dapat berupa tanda yang sepadan atau juga tanda yang telah lebih berkembang. Ada syarat yang diperlukan agar repsentamen dapat menjadi tanda, yaitu adanya ground. Tanpa ground, representamen sama sekali tidak dapat diterima. Ground adalah bersamaan pengetahuan yang ada pada pengirim dan penerima tanda sehingga repsentamen dapat dipahami. Apabila ground tidak ada, Repsentamen sama sekali tidak akan dipahami oleh penerima tanda.&lt;br /&gt; Hal lain yang dikemukakan oleh peirce adalah objek bukanlah sekelompok tanda, melainnkan sesuatu yang diwakili oleh representamen itu. Sebenarnya, tanda hanya ada dalam pikiran si penerima “tak ada yang bisa disebut tanda kecuali yang telah diinterpretasikan sebagai tanda” (Noth 1990 42 ).&lt;br /&gt; Peirce juga mengatakan bahwa segitiga semiotic ini dapat berlanjut. Artinya, suatu tanda dapat membentuk tand alain. Demikian seterusnya hingga terbentuk rangkaian segitiga semiotic yang tak terbatas atau biasa disebut preses semiosis.&lt;br /&gt;   Objek         objek              objek&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;representamen              Interpretan  Representamen  interpretan Representamen  interpretan&lt;br /&gt;1.2 .Trikotomi Tanda&lt;br /&gt; Peirce mengembangkan suatu tipologi tanda yang merupakan trikotomi&lt;br /&gt;1.2.1  Trikotomi pertama : hubungan objek dengan tanda&lt;br /&gt; Dalam membuat klasifikasi hubungan antara representamen dengan objek , Peirce menerangkan tiga tahapan ( firstness,secondness,thirdness ) pembentukan tanda yang paling sederhana adalah ikon, kemudian indeks, dan yang paling cangih adalah simbol. &lt;br /&gt;1.2.1.1 ikon&lt;br /&gt;Ikon adal;ah hubungan yang berdasarkan kemiripan. Jadi, representamen mempunyai kemiripan dengan objek yang diwakilinya. Ikon terdiri atas tiga macam. Yaitu : ikon topologis, ikon diagramatik dan ikon metaforis&lt;br /&gt;1. Ikon tipologis &lt;br /&gt;kon topologis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan bentuk. Contoh:peta dengan wilayah yang diwalkilinya, globe dengan bentuk bumi dan lukisan realis dengan objek yang digambarnya.&lt;br /&gt;2. Ikon diagramatik&lt;br /&gt;Ikon diagramatik adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan tahapan seperti diagram contoh hubungan antara tanda-tanda  pangkat militer dengan kedudukannya kemiliteran yang diwakili tanda-tanda pangkat itu. Tingkatan dalam organisasi kepramukaan juga merupakan contoh dari ikon ini.&lt;br /&gt;3. ikon  metaforis&lt;br /&gt;Ikon metaforis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan meskipun hanya sebagian yang mirip, seperti bunga mawar dan gadis dianggap mempunyai kemiripan (kecantikan, kesegaran). Namun ,kemiripan itu tidak total sifatnya.&lt;br /&gt;1.2.1.2 Indeks&lt;br /&gt;Indeks adalah hubungan yang mempunyai jangkauan eksistensial. Contoh : dalam kehidupan sehari-hari, belaian (kedekatan) dapat mengandung arti banyak. Tingkah laku manusia juga merupakan indeks sifat-sifatnya. Contoh lain, misalnya, asap yang merupapakan indeks adanya api, panah penunjuk jalan yang merupakan indeks arah. padi yang menguning, menandakan musim panen. awan mendung, menandakan akan turun hujan.&lt;br /&gt;1.2.1.3 Simbol&lt;br /&gt;Simbol adalah tanda yang paling canggih karena sudah berdasarkan persetujuan dalam masyarakat (konvensi). Contoh ; bahasa merupakan simbol karena terbentuk berdasarkan konvensi yang telah ada dalam suatu masyarakat . selain itu, rambu-rambu lalu-lintas, kode simpul tali pramuka, kode SOS juga merupakan simbol.&lt;br /&gt;        1.3  Trikotomi Kedua : Hubungan Representamen dengan tanda.&lt;br /&gt;  Dalam pembentukan representamen , Peirce juga membuat klasifikasi tanda dalam ketiga tahapan (firstnees, secondnees, thirdnees ), sebagaimana dikemukakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Qualisign.&lt;br /&gt;  Yaitu sesuatu yang mempunyai kualitas untuk menjadin  tanda.Ia tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia terbentuk sabagai tanda.Contoh: Kertas minyak berwarna kuning mempunyai kualitas untuk menjadi tanda kematian.&lt;br /&gt;b. Sinsign.&lt;br /&gt;  Yaitu sesuatu yang sudah terbentuk dan dapat dianggap sebagai representamen , tetapi belum berfungsi sebagai tanda.Apabila kertas minyak yang berwarna kuning itu telah dibentuk menjadi bendera kecil, tetapi belum dipasan,  maka dia disebut sebagai sinsign.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Legisign.&lt;br /&gt;  Yaitu sesuatu yang sudah menjadi representamen dan berfungsi sebagai tanda.Setiap tanda yang sudah menjadi konvensi adalah merupakan legsign.&lt;br /&gt;1.4  Trikotomi ketiga : Hubumgan Interpretan dengan tanda.&lt;br /&gt;  Peirce membuat klasifikasi tanda dalam tiga tahapan yang berdasarkan interpretan, yaitu rheme, discent, dan argument.&lt;br /&gt;a. Rheme.&lt;br /&gt;  Adalah segala sesuatu yang dianggap sebagai tanda , tetapi tidak dapat dinyatakan benar atau salah.Contoh: semua kata (kecuali “ya” dan “tidak”) merupakan rheme merupakan  suatu kemungkinan interpretan.&lt;br /&gt;b. Discent.&lt;br /&gt;  Adalah tanda yang mempuyai eksistensi yang actual.Sebuah proposisi, misalnya, merupakan discent. Proposisi memberi informasi , tetapi tidak menjelaskan.Decisign  bisa benar dan juga bisa salah , tetapi tidak memberikan alasannya.&lt;br /&gt;c. Argument.&lt;br /&gt;  Adalah tanda yang sudah menunjukkan perkembangan dari premis ke simpulan dan cenderung mengarah pada kebenaran.Discent  hanya mengatakan kehadiran objek, sedangkan argument  membuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.TANDA- TANDA INDEKSIKAL. &lt;br /&gt;Semua teks secara keseluruhan dan kebanyakan merupakan tanda- tanda indeksikal.Hal tersebut tidak lain mempunyai hubungan perbatasan dengan apa yang direpresentasikannya.Yang dimaksud tidak lain adalah dunia yang diciptakan .Hal tersebut berlaku bagi semua tanda .Dapat dirumuskan bahwasannyateks sastra seakan- akan mempunyai indeksikalitas lebih terang daripada teks diskursif yang simbolisitasnya justru lebih menyolok.Indeksikalitas dalam teks sastra bila disbanding dengan teks uraian , berperan lebih halus dan sering secara tidak langsung.&lt;br /&gt; Dengan demikian dari dunia yang diciptakan oleh teks sastra itu dapat diklasifikasikan  menjadi tiga relasi .Yang pertama, dunia nyata dapat disebut juga dengan pengungkapan lain seperti kenyataan dan juga historis.Yang kedua, adalah dunia pengarang.Yang krtiga dan juga yang terakhir adalah dunia pembaca.Setiap kali dunia yang tercipta di salah satu dari ketiga relasi  ini dinyatakan sebagai tanda indeksikal.Relasi antara indeksikal dengan dunia pengarang memberi tanda pada cirri komunikasi.Relasi indeksikal dengan kebenaran historis memberi nilai pada teks sastra.Yakni sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan tentang kenyataan  dan dipakai untuk mendalaminya.&lt;br /&gt;Bila kita ingin memperoleh sekedar pengertian tentang kegiatan global tanda indeksikal yang disajikan oleh teks tersebut, penelitian harus dilakukan dari skala yang paling kecil. Perhatian perlu diarahkan pada bagian-bagian teks, pada gejala-gejala didalamnya yang dapat dianggap sebagai tanda indeksikal. Kita dapat membedakan tiga kategori.&lt;br /&gt; Menurut Van Zoest (1993:86) bahwasannya secara keseluruhan teks itu memiliki cirri- cirri indeksikal sebab teks berhubungan dengan dunia yang disajikan.Dalam hal ini juga Pierce menunjukkan indeksikal teks melalui tiga sisi, yaitu pengarang sebagai cirri komunikasi, dunia nyata sebagai cirri nilai- nilai pengetahuan, dan pembaca dengan cirri  nilai- nilai eksistensial. Sesuai dengan perkembangan ilmu sastra kontemporer, maka yang terpenting adalah cirri terakhir yang  ada keterkaitannya dengan kopetensi pembaca.Dikaitkan dengan teks  sebagai unsure- unsure karya , sebagai indeksikal mikro juga dibagi ke dalam tiga kategori. Masing- masing yaitu:&lt;br /&gt;a. Indeks dalam  kaitannya dengan dunia di luar  teks (karya sastra).&lt;br /&gt;b. Indeks dalam kaitannya dengan teks lain, sebagai intertekstual.&lt;br /&gt;c. Indek dalam kaitannya dengan teks dalam teks.Sebagai intertekstual.&lt;br /&gt;3.TANDA- TANDA IKONIS.&lt;br /&gt;Menurut Aart Van Zoest  (1996:6), di antara ikon,indeks, dan symbol, yang terpenting adalah ikon.Memgapa demikian hal tersebut tidak lain disebabkan karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain.Di pihak yang lain, sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain yang ada di luar dirinya, agar ada hubungan yang representative , maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan.Pada dasarnya, baik ikon, indeks, maupun symbol secara murni tidak pernah ada.Artinya, ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi.Hanya saja yang membedakan adalah dominisasinya di dalam teks.Teks yang dimaksud dapat berupa teks sastra, sosial, politik, iklan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Ciri- cirri khas dari ikonisitas yaitu adanya persamaan dan kemiripan yang ternyata dapat member rasa aman.Ciri- cirinya dengan sendirimya dapat menimbulkan daya tarik tersendiri. Contohnya adalah nama yang disandang oleh setiap orang, baik nama diri maupun nama keluarga, termasuk gelar seseorang juga mengimplementasikan aspek ikonitas.Kemajuan teknologi informasimasi memanfaatkan ikon dalam rangka mencapai efisiensi dan efektifitas system informasi tersebut.Pengolahan data sebagai bahan kemajuan ilmu pengetahuan , juga merupakan aspek-aspek ikon, misalnya dengan memanfaatkan stastistik, diagram, modal dsb. &lt;br /&gt;Dalam linguistic pembicaraan ikonisitas lazim ditempatkan sebagai paradigma yaitu paradigma fungsional (the functional paradigm), paradigma kenaturalan (the naturalness paradigm), atau paradigma substansi (the paradigm of substance). Paradigma tersebut dipandang sebagai perbuhan paradigma yang lama dalam linguistik, yaitu paradigma structural (the structural paradigm), paradigma formal (the formal paradigm), atau paradigma konvesioanal (the paradigm of arbitarisness). Perubahan paradigma dalam linguistic itu terjadi karena kelompok paradigma yang disebutkan kemudian itu memandang bahasa sebagai system yang otonom dan dengan demikian model analisisnya adalah analisisnya adalah analisis stuktural internal bahasa semata tanpa dikaitkan dengan aspek eksternalnya. &lt;br /&gt;4. TANDA- TANDA DAN INTERPRETAN DI DALAM SASTRA.&lt;br /&gt;4.1 Pengantar Analisis Semiotik dalam karya sastra.  &lt;br /&gt; Menganalisis sajak itu bertujuan memahami makna sajak. Menganaliais sajak adalah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks sajak. Karya sastra itu merupakan struktur yang bermakna. Hal ini mengingat bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dan menggunakan medium bahasa. &lt;br /&gt; Bahasa sebagai medium karya sastra sudah merupakan sistem semiotik atau ketandaan, yaitu sistem ketandaan yang mempunyai arti. Medium karya sastra bukanlah bahan yang bebas (netral) seperti bunyi pada seni musik ataupun warna pada lukisan. Warna cat sebelum dipergunakan dalam lukisan masih bersifat netral, Belum mempunyai arti apa-apa; sedangkan kata-kata (bahasa) sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian masyrakat (bahasa) atau ditentukan oleh konvensi masyarakat. Lambang-lambang atau tanda kebahasaan itu berupa satuan-satuan bunyi yang mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi masyrakat. Bahasa itu merupakan sistem ketandaan yang berdasarkan atau ditentukan oleh konvensi (perjanjian) masyrakat. Sistem ketandaan itu disebut dengan semiotik. Begitu juga ilmu yang mempelajari sistem tanda-tanda itu disebut semiotik (a) atau semiologi.  &lt;br /&gt;I Pertama kali yang penting dalam lapangan semiotik (lapangan sistem tanda) adalah pengertian tanda itu sendiri. Dalam pengertian tanda itu sendiri terdiri dari dua prinsip, yaitu penanda (signifier) atau yang menandai dan yang merupakan bentuk tanda  petanda (signified) atau yang ditandai. Yang merupakan arti tanda berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda, Ada tiga jenis tanda yang pokok, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda hubungan antara penanda dan petandanya yang bersifat persamaan bentuk alamiah, misalnya potret orang yang menandai orang yang dipotret (berarti orang yang dipotret), gambar kuda itu menandai kuda yang nyata. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat. Misalnya asap itu menandai api, suara itu menandai orang atau sesuatu yang mengeluarkan suara. Symbol itu tanda yang tidak menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dan petandanya. Hubungan antaranya bersifat arbitrer atau semau-maunya, hubungannya bersifat konvensi (perjanjian) masyarakat. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan lambang adalah bahasa.Arti simbol ditentukan oleh masyarakat.Misalnya kata ibu yang berarti  orang yang melahirkan kita itu terjadinya atas konvensi atau perjanjian masyarakat bahasa Indonesia, masyarakat bahasa Inggris  menyebutnya mother, Perancis: la mere&lt;br /&gt;Bahasa yang merupakan sistem tanda yang kemudian dalam karya sastra menjadi mediumnya itu adalah sistem tanda tingkat pertama.Dalam ilmu tanda- tanda atau semiotik, arti bahasa sebagai sistem tanda sebagai sistem tanda tingkat pertama itu disebut dengan meaning (arti).Karya sastra itu juga merupakan sistem tanda yang berdasarkan konvensi masyarakat (sastra). Karena sastra (karya sastra) merupakan sistem tanda yang lebih tinggi ( atas ) kedudukannya dari bahasa, maka disebut semiotik tingkat kedua.Bahasa tertentu itu mempunyai  konvensi yang tertentu pula, dalam sastra konvensi bahasa itu  disesuaikan  dengan konvensi sastra.Dengan demikian akan timbul arti baru yaitu arti dalam sastra.Dengan demikian  timbullah arti baru yaitu arti sastra itu sendiri.Jadi arti sastra itu merupakan arti dari arti (meaning of meaning).Untuk membedakannya (dari arti bahasa), arti sastra itu disebut makna (significance). &lt;br /&gt;4.2 Definisi Tanda dan interpretan dalam karya sastra&lt;br /&gt;Kembali lagi mengingat pada segitiga semiotika yang telah dibahas pada poin ( 1.1), yaitu ada tiga unsure pembentuk tanda.Representamen, objek ,dan juga interpretan.Pada poin ini dibahas mengenai tanda- tanda dan interpretan.Interpretan itu sendiri adalah tanda yang tertera dalam pikiran si penerima setelah melihat representamen. Sedankan representamen itu sendiri adalah unsure tanda yang mewakili sesuatu.Dengan kata lain di dalam karya sastra dapat dijelaskan bahwasannya interpretan adalah tanda yang tertera dalam pikiran si pembaca/ penikmat karya sastra.Untuk representamen sendiri adalah unsure tanda yang sengaja dibuat oleh seorang pengarang di dalam karyanya.&lt;br /&gt;4.3 Proses akaomunikasi Antara Pengarang dan Pembaca di Dalam Memahami    Karya Sastra.&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak sekali hal yang mempengaruhi komunikasi teks sastra.Bahkan , semua unsure komunikasi dapat mempengaruhi jalannya komunikasi.Terutama komunikasi yamg terjadi pada pembacaan teks sastra.&lt;br /&gt;Komunikasi tidak selalu bermakna tunggal , terutama dalam teks- teks sastra.Umberto Eco (1979) memberikan penjelasan tentang hal- hal yang dapat mempengaruhi pembaca teks dalam pemahamannya.Ia mengatakan bahwa si penulis melakukan usaha untuk  memperkirakan calon pembacanya.Namun, ia dipengaruhi oleh hal- hal yang ada dalam dirinya.Demikian pula pembaca dipengaruhi oleh hal- hal yang ada dalam dirinya sehingga ada kemungkinan petkiraan penulis tadi menyimpang.Meskipun demikian, dalam karya sastra penyimpangan pemahaman bisa diterima sebagai interpretasi yang berbeda.&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa antara si pengirim (pengarang) dan si penerima (pembaca) mempunyai kode pribadi dan ideologi yang berbeda.Hal tersebut dapat menyebabkan adanya bias, baik dalam pengungkapan si pengirim ataupun  dalam pemahaman si penerima.Lebih- lebih lagi sering ada ketidakjelasan (ambiguitas) dalam pengungkapan sehingga timbul konotasi yang menyimpang.Apabila hal yang ingin disampaikan juga tidak jelas (ambigu) bagi si pengirim , interpretasi masih belum maksimum.Dalam teks tertulis , komunikasi terjadi pada tempat dan waktu yang berbeda sehingga situasi yang diperkirakan si pengirim (pengarang) tidak sama dengan kenyataannya.Hal ini semua dapat mempengaruhi proses komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;pengirim          teks yang sudah dipakai        saluran komunikasi          teks sebagai ujaran          penerima  &lt;br /&gt;teks yang   diinterpresentasikan sebagai isi&lt;br /&gt;kode dan subkode                                                                           konteks situasi           kode subkode&lt;br /&gt;keterangan :&lt;br /&gt;pengirim mengirimkan teks yang sudah dibaca (teks yang sudah jadi) denagn saluran komunikasi yang diplihnya. Disini, teks sudah muncul sebagai ujaran. Si penerima akan berusaha untuk menginterpretasikan teks tersebut yang akan dipengaruhi konteks situasi.&lt;br /&gt;3.3 Contoh penerapan tanda dan interpretan di dalam sastra. &lt;br /&gt;Tanda dan interpretan dalam karya sastra dapat kita jumpai pada puisi, cerpen, novel, drama. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan ilmu semiotika yang mencakup wilayah pembahasan ikon, indeks, dan simbol.&lt;br /&gt;3.3.1.1 Contoh-contoh penerapan tanda dan interpretan didalam sajak &lt;br /&gt;Jadi secara keseluruhan dapat dijelaskan kesimpulan dari penjelasan yang panjang lebar tadi bahwa, indeksikal dalam teks berhubungan dengan dunia yang disajikan.Dalam hal ini Pierce menunjukkan indeksikal teks ke dalam tiga tahap.Pengarang sebagai cirri komunikasi, dunia nyata sebagai cirri ilmu pengetahuan, dan nilai eksistensial yang merupakan hal paling penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1.2 Sajak Takdir Alisjahbana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGALA, SEGALA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ani, ya Aniku, Ani,&lt;br /&gt;Mengapa kamas engkau tinggalkan?&lt;br /&gt;Lengang sepi rasanya rumah,&lt;br /&gt;Lapang meruang tiada tentu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka lemari pakaian berkata,&lt;br /&gt;Di tempat tidur engakau bebaring,&lt;br /&gt;Di atas kursi engkau duduk,&lt;br /&gt;Pergi ke dapur engkau sibuk,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kulihat segala membayang,&lt;br /&gt;Segala kupegang segala mengenang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalian ruang rasa mengingat,&lt;br /&gt;Sebanyak itu cita melenyap,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilu pedih menyayat di kalbu,&lt;br /&gt;Pelbagai rasa datang merusak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   (1987:7)&lt;br /&gt;Dalam sajak tersebut terdapat interpretan yang lebih khususnya pada tanda yang merujuk pada adanya konsep indeksikal.Mengapa demikian tidak lain karena terdapat eksistensi pada sajak tersebut.Merujuk pada definisi awal yang menyuarakan bahwa eksistensial.Dengan pengertian bahwa di sini adalah eksistensial dari tokoh “Ani”.Pada sajak awal tergambar bagaimana keeksisan dari tokoh “Ani”.Pada sajak di bait ke dua terpapar apa saja yang dilakukan oleh tokoh “Ani”.Pada bait ke tiga terlihat jelas bagaimana keeksisan tokoh “Ani” mulai kabur dan hilang.Terkesan keeksisan tokoh “Ani” perlahan menjadi kosong dan tidak padat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1.3 Sajak-sajak Toto Sudarto Bachtiar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     KEPADA ORANG MATI&lt;br /&gt;kalau aku kaumaafkan, karena maaf baik,&lt;br /&gt;kau tak pernah mengerti dirimu&lt;br /&gt;kalau kau kumaafkan, karena maaf baik,&lt;br /&gt;kau tak mengerti dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu banyak maaf, buat begitu banyak dosa&lt;br /&gt;begitu banyak dosa, buat begitu banyak maaf&lt;br /&gt;hanyakah tersedia buat daerah mati&lt;br /&gt;tanpa hawa, tanpa kemauan baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kau tak kumaafkan juga, sangat sayang&lt;br /&gt;tanpa mengerti diriku&lt;br /&gt;tanpa mengerti diriku&lt;br /&gt;sedang aku tak mau mati muda sekarang&lt;br /&gt;     (Elsa, 1957:32)&lt;br /&gt;Pola eksistensial juga terlihat pada sajak kedua ini.Tanda indeksikal terlihat mendominasi.Keeksistensian antara maaf dan juga dosa.Kedua problema tersebut terkait  dan mendominasi hampir keseluruhan sajak. Jika tidak ada maaf dan dosa maka sajak itu tak akan menjadi kesatuhan yang padat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1.4 Sajak-sajak Amir Hamzah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUSANGAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusangka cempaka kembang setangkai&lt;br /&gt;Rupanya melur telag diseri……&lt;br /&gt;Hatiku remuk mengenangkan ini&lt;br /&gt;Wasangka dan was-was silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuharap cempaka baharu kembang&lt;br /&gt;Belum tahu sinar matahari ……&lt;br /&gt;Rupanya teratai patah kelopak&lt;br /&gt;Dihinggapi kumbang berpuluh kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupohonkan cempaka&lt;br /&gt;Harum mula terserak ……&lt;br /&gt;Melati yang ada&lt;br /&gt;Pandai tergelak ……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpiku seroja terapung di paya&lt;br /&gt;Teratai putih awan angkasa ……&lt;br /&gt;Rupanya mawar mengandung lumpur&lt;br /&gt;Kaca piring bunga renungan ……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Igauanku subuh, impianku malam&lt;br /&gt;Kuntum cempaka putih bersih ……&lt;br /&gt;Kulihat kumbang keliling berlagu&lt;br /&gt;Kelopakmu terbuka menerima cembu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusangaka hauri bertudung lingkup&lt;br /&gt;Bulumata menyangga panah asmara&lt;br /&gt;Rupanya  merpati jangan dipetik&lt;br /&gt;Kalau dipetik mengaku segera.&lt;br /&gt;   (Buah Rindu, 1959:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sajak ini terlihat gamblang bahwasannya yang mendominasi pada sajak itu adalah ikonis.Sesuai definisi awal bahwa ikon itu terjadi karena adanya faktor kemiripan .Hubungan antara penanda dan petanda. Yang memiliki persamaan bentuk alamiah.Pada sajak tersebut pada bait awal terlihat adanya kemiripan yang sengaja dibuat oleh pengarang.Terlihat sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kusangka cempaka kembang setangkai &lt;br /&gt;Rupanya melur telah diseri&lt;br /&gt;Pada bait tersebut termaktub makna bahwa “Kusangka” menunjukkan kesejajaran gagasan.”Cempaka kembang setangkai” itu berarti  seorang gadis.”Rupanya melur telah diseri” yang berarti gadis tersebut telah kehlangan keperawanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1.5 Sajak-sajak Chairil Anwar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERIMAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt;Dengan sepenuh hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tetap sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutahu kau bukan yang dulu lagi&lt;br /&gt;Bak kembang sari sudah terbagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djangan tunduk! Tentang aku dengan berani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kau mau kuterima kau kembali&lt;br /&gt;Untukku sendiri tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.&lt;br /&gt;   (Deru Campur Debu, 1959:36)&lt;br /&gt;    Pada bait ini terdapat hal yang serupa, yakni adanya penekanan pada ikonis.Dituliskan bahwa adanya aksen ikonis.Pada baris berikut:&lt;br /&gt;Bak kembang sari sudah terbagi.&lt;br /&gt;Dijelaskan bahwa kembang sari di sini adalh mewakili adanya seorang gadis.Hal tersebut tidak hanya terjadi pada sajak, namun juga cerpen, novel, dan drama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB1&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;Sastra merupakan cermin kehidupan masyarakat , bahkan sastra menjadi cirri identitas suatu bangsa.Melalui sastra , orang mengidentifikasi perilaku kelompok masyarakat.Bahkan dapat mengenali perilaku dan kepribadian masyarakat pendukungnya.Satra Indonesia mengadu pada masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;Dahulu, penelitian sastra seringkali tidak dianggap sebagai penelitian ilmiah karena setiap peneliti dapat memperlakukan karya  sastra sesuai dengan kehendaknya.Hampir tidak ada rambu-rambu yang membatasi kesasihan penelitian sastra kecuali kelogisan uraian. Oleh karena itu, kritik sastra dengan mudah menjadi ajang celaan atau puja-pujian bagi karya sastra dan pengarangnya. Namun, kini keadaan telah berubah. Berbagai pendekatan dan teori satra telah bermunculan dan dipelajari oleh para peneliti sastra. Dengan demikian, diharapkan penelitian sastra telah mempunyai landasan yang kuat dan dapat berdiri sejajar dengan ilmu-ilmu humaniora lainnya. Meskipun demikian, tak boleh dilupakan bahwa teori merupakan alat dan pendekatan merupakan cara untuk melakukan penelitian. Keduanya perlu diagungkan juga dicerca. Baik atau tidaknya hasil penelitian, tetap saja berada di tangan peneliti.&lt;br /&gt;Kini hamper semua penelitian sastra dimulai dengan penelitian karya yang di dalamnya didukung oleh pendekatan Strukturalisme dan Semiotik. Banyak ahli teori stukuralis yang kemudian juga dianggap sebagai ahli teori semiotik. Kaum strukturalis mendasarkan penelitiannya pada struktur karya, sedangkan para ahli semiotik menganggap struktur itu sebagai tanda. Oleh karena itu, kedua pendekatan ini saling melengkapi.&lt;br /&gt;1.2 RUMUSAN MASALAH &lt;br /&gt;Dari pembahasan  materi tersebut dapat dirumuskan problem sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.2.1 Bagaimana konsep dan hakekat umum dari ilmu semiotika dan juga analisis semiotika?&lt;br /&gt;1.2.2 Bagaimana hakekat dan penjelasan lebih lanjut mengenai  tanda- tanda indeksikal?&lt;br /&gt;1.2.3 Bagaimana hakekat dan penjabaran perihal tanda- tanda ikonis?&lt;br /&gt;1.2.4 Sejauhmana tanda- tanda dan interpretan ada di dalam karya sastra?&lt;br /&gt;1.3 TUJUAN&lt;br /&gt;1.3.1 Menganalisis lebih dalam dan mengkaji ilmu semiotika, dengan sub bab tanda- tanda indeksikal, tanda- tanda ikonis, dan tanda- tanda interpretan dalam sastra.&lt;br /&gt;1.3.2 Memberikan keleluasaan pembahasan dan juga pemahaman berkenaan dengan ilmu semiotika dan juga dapat dijadikan referensi yang bermanfaat bagi khalayak umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 3&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;3.1 KESIMPULAN&lt;br /&gt; Dari pembahasan mengenai kajian semiotika dengan sub bab tamda- tanda indeksikal, tanda- tanda ikonis, dan interpretannya dalam sastra.Dari pembahasan dalam makalah ini dapat disimpulkan beberapa poin yang mewakili semua pembahasan yang ada.Hal tersebut meliputi : semiotic adalah ilmu yang berhadapan dengan tanda.Dalam makalah ini dibahas mengenai tanda- tanda indeksikal.&lt;br /&gt;Semua teks secara keseluruhan dan kebanyakan merupakan tanda- tanda indeksikal.Hal tersebut tidak lain mempunyai hubungan perbatasan dengan apa yang direpresentasikannya.Yang dimaksud tidak lain adalah dunia yang diciptakan .Hal tersebut berlaku bagi semua tanda .Dapat dirumuskan bahwasannyateks sastra seakan- akan mempunyai indeksikalitas lebih terang daripada teks diskursif yang simbolisitasnya justru lebih menyolok.Indeksikalitas dalam teks sastra bila disbanding dengan teks uraian , berperan lebih halus dan sering secara tidak langsung.&lt;br /&gt; Dengan demikian dari dunia yang diciptakan oleh teks sastra itu dapat diklasifikasikan  menjadi tiga relasi .Yang pertama, dunia nyata dapat disebut juga dengan pengungkapan lain seperti kenyataan dan juga historis.Yang kedua, adalah dunia pengarang.Yang krtiga dan juga yang terakhir adalah dunia pembaca.&lt;br /&gt;Ciri- cirri khas dari ikonisitas yaitu adanya persamaan dan kemiripan yang ternyata dapat member rasa aman.Ciri- cirinya dengan sendirimya dapat menimbulkan daya tarik tersendiri. Contohnya adalah nama yang disandang oleh setiap orang, baik nama diri maupun nama keluarga, termasuk gelar seseorang juga mengimplementasikan aspek ikonitas.Kemajuan teknologi informasimasi memanfaatkan ikon dalam rangka mencapai efisiensi dan efektifitas system informasi tersebut.Pengolahan data sebagai bahan kemajuan ilmu pengetahuan , juga merupakan aspek-aspek ikon, misalnya dengan memanfaatkan stastistik, diagram, modal dsb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2  KRITIK DAN SARAN&lt;br /&gt;Kami menyadari dalam penyusunan makalh ini masilah menemui banyak kekurangan di sana- sini.Hal tersebut tidak lain karena keterbatasan referensi dan juga sumber kajian .Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran , yang nantinya akan kami gunakan untuk perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baryadi, Pratomo.2007.Teori ikon bahasa: salah satu pintu masuk ke dalam dunia semiotik.Yogyakarta:Universitas Sanata Dharma.&lt;br /&gt;Pradopo, Rachmat, Djoko.1987.Pengkajian Puisi.Yogyakarta:Gajahmada University Press.&lt;br /&gt;Pusat bahasa departemen pendidikan nasional .2008.Semiotik dan penerapannya dalam karya sastra.Jakarta:Quality Endorsed Company.&lt;br /&gt;Ratna, Nyoman, Kutha.2004.Teori, metode, dan teknik penelitian sastra.Yogyakarta:Pustaka Pelajar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-7232769901903225221?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/7232769901903225221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/ilmu-semiotika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/7232769901903225221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/7232769901903225221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/ilmu-semiotika.html' title='ilmu Semiotika'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1596127618648369672</id><published>2010-12-16T22:52:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:52:54.764-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Struktur Naratif novel De Winst karya Afifah Afra</title><content type='html'>A. Pendahuluan &lt;br /&gt;Didalam sastra terdapat tiga wilayah sastra. Kritik sastra menempati salah satu diantaranya yakni disamping wilayah penciptaan, wilayah penikmat (pembaca) ada wilayah pengkajian atau penelitian yang merupakan wilayah kritik sastra. &lt;br /&gt;Wilayah penciptaan adalah wilayahnya para sastrawan. Para sastrawan didalam wilayah ini berusaha menciptakan karya-karya yang bagus dan bermutu. Dengan kreatifitas dan imajinasi yang dimiliki ia berusaha menciptakan dunia yang baru, dunia yang lain. Suatu realitas yang lain, yang bukan realitas objektif tapi suatu realitas imajinatif atau realitas artistik. Dunia atau kenyataan yang demikianlah yang menawarkannya kepada pembaca melalui bahasa dan transformasi sastra. &lt;br /&gt;Di dalam wilayah penikmat karya tersebut berkomunikasi dengan pembaca. Pembaca berusaha menikmatinya. Melihat dunia yang baru itu sebagai salah satu pilihan, salah satu alternatif. Jika ia bisa menikmati, maka ia akan memperoleh kekayaan baru, pengalaman baru, kekayaan dan pengalaman batin. Semakin tinggi tingkat apresiasi masyarakat semakin tinggi pula tingkat intensitas penikmatan. Bilamana tingkat apresiasi tidak cukup memadai, maka karya sastra susah untuk bisa dinikmati. Karya sastra tersebut menemui hambatan dalam proses komunikasinya, sehingga karya sastra menjadi terasing, tersisih, dan tidak banyak dibaca orang. &lt;br /&gt;Untuk menjembatani keadaan yang demikian, diperlukan peran kritik sastra. Kritik sastra berusaha menjelaskan karya-karya yang diciptakan kepada masyarakat. Kritik sastra tidak saja memberikan penilaian buruk dan baik kepada pembaca tapi terutama menjelaskan dimana buruk dan dimana baiknya. &lt;br /&gt;Kritik sastra dapat dikatakan merupakan penggabungan atas penguasaan terhadap teori-teori sastra dan sejarah sastra akan tetapi in the more narrow sense as study of concrete works of literature with emphasis on their evaluation (Wellek : 1965). &lt;br /&gt;Begitu pula yang akan saya jelaskan disini, akan dibahas mengenai novel De Winst karya Afifah Afra mengenai analisis melalui pendekatan objektif serta kritik terhadap karya sastra tersebut. &lt;br /&gt;Pendekatan objektif adalah pendekatan kajian sastra yang menitikberatkan kajiannya pada karya sastra. Pembicaraan kesusastraan tidak akan ada bila tidak ada karya sastra. Karya sastra menjadi sesuatu yang inti (Junus, 1985 : 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sinopsis &lt;br /&gt;Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara telah menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar sarjana ekonomi dengan pujian tertinggi dari profesornya, professor Johan Van De Vondell di Rijksuniversiteit Leiden. Hasil yang sangat gemilang, bukan saja karena ia mendapatkan nilai tertinggi, namun juga karena ia seorang bumi putera, Inlander. Seorang Inlander untuk pertama kalinya berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas negeri tertua Belanda itu. Tak sekedar mengagumkan, tetapi benar-benar sebuah prestasi yang tak tertandingi. &lt;br /&gt;Profesor Johan Van de Vondell yang merupakan guru besar fakultas ekonomi Rijksuniversiteit Leiden sangat baik dengan Rangga. Mereka telah akrab setelah sekian lama berinteraksi dalam diskusi-diskusi dan kegiatan yang bersifat ilmiah. Sayangnya tak semua orang Belanda bersikap seperti professor De Vondell. Kebanyakan orang-orang negeri kincir angin menganggap rendah Inlander seperti Rangga. &lt;br /&gt;Usai menamatkan sarjana ekonominya itu, Rangga kembali ke Hindia Belanda. Kepulangannya disambut ayahanda Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara yang seorang pangeran di Keraton Solo. Rangga merasa ribet dengan aturan kebangsawanan Keraton Surakarta. Ia diharuskan duduk bersimpuh, berjalan sambil menunduk, dan berbicara dengan bahasa krama inggil. Jika berada di depan sang Rama ia sering memprotes keadaan dengan menyalahkan adat istiadat. Hal ini tentu saja membuat sang Rama berang. Oleh karenanya, ketika mereka berkumpul dalam satu rumah, aura permusuhan sering kali terasa lebih kental. Namun ia seorang cucu raja ialah nantinya yang akan menggantikan sang kakek, sinuhun Pakubuwono menjadi raja Surakarta. &lt;br /&gt;Saat ia menjumpai ibunya menyambut kedatangannya, ia langsung memeluk Kanjeng Raden Ayu Sintawati Suryanegara itu. Sudah delapan tahun mereka tak bertemu. Dan Rangga benar-benar merindukan ibunya itu. Namun pelukan yang menurut Rangga adalah wujud kedekatan seorang ibu dan anaknya, malah dikatakan tidak lazim oleh ibunya. Hal itu karena tradisi Jawa dan ia adalah seorang Ksatria Solo bukanlah anak-anak lagi. Dan jika hal itu diketahui oleh KEPH Suryanegara maka akan mendapat teguran keras. &lt;br /&gt;Ketika Rangga memutuskan untuk melihat tanah kelahirannya yang setelah sekian lama ia tinggalkan ia menyusuri jalan-jalan tak beraspal ke desa-desa  di pinggiran Solo. Ia mulai merasakan perbedaan kondisi yang sangat kentara, aroma kemiskinan mulai tercium, rumah-rumah yang tak berdiri kokoh karena hanya dibangun dari dinding bambu, atap daun rumbia dan beralas tanah. &lt;br /&gt;Ia juga menjumpai puluhan rombongan buruh yang baru keluar dari sebuah pabrik. Ia melihat wajah-wajah mereka yang letih dan suram. Tak ada gairah kehidupan, tak ada aura kemakmuran dipertontonkan. Sebagian besar warga di pedesaan itu ternyata tak bersekolah, sebagian besar masyarakat buta huruf latin dan terpuruk dalam lumpur keterbelakangan. &lt;br /&gt;Tak lama bergabunglah ia bersama pabrik gula De Winst karena KGPH Suryanegara adalah salah satu pemegang sahamnya. Ia dijadikan Asisten Administrator untuk bagian pemasaran oleh Tuan Edward Biljmer yang merupakan Administrator pabrik gula De Winst. Namun industri gula mulai terancam gulung tikar. &lt;br /&gt;Sewa lahan perkebunan tebu yang sudah hampir berakhir, harga gula yang terus menerus melorot. &lt;br /&gt;Kepemimpinan Tuan Biljmer digantikan oleh putera dari William Thijsee, pemilik saham terbesar perusahaan De Winst. Jan Thijsse. Rangga amat menyayangkannya karena tuan Biljmer lebih menghargai Inlander dari pada pemegang saham yang lain. Kebanyakan pemegang saham De Winst adalah orang kulit putih dan hanya Rangga seorang yang Inlander. &lt;br /&gt;Permasalahan ketidakadilan yang dialami para buruh pabrik gula yang digaji sangat rendah semakin besar. Kerja keras mereka tak sepadan dengan gaji yang mereka terima. Seperti Sarmin, buruh pabrik yang digaji hanya              30 sen sehari. Sewa tanah milik orang-orang desa pun dibayar hanya sedikit. Hal ini tentu saja orang kulit putih ingin menindas pribumi. &lt;br /&gt;Namun muncul seorang perempuan bernama Pratiwi yang mencoba protes kenaikan sewa tanah menjadi sepuluh kali lipat dari harga sewa sebelumnya. Pratiwi begitu tegas berdiplomasi sehingga membuat para pemegang saham geram dan kalang kabut. Mungkin itu salah satu bentuk dari pemberontakan mereka selama ditipu oleh perusahaan De Winst. Ternyata kepiawaian Pratiwi tak lain karena Rara Sekar Prembayun. &lt;br /&gt;Rara Sekar Prembayun, puteri dari Kanjeng Pangeran Surya Kusuma adalah gadis yang dijodohkan dengannya sejak ia berusia lima tahun. Perjodohan adalah harga mati bagi bangsawan Keraton Surakarta, ia tak mencintai Sekar melainkan gadis Belanda totok bernama Everdine Kareen Spinoza, Sekar pun tidak setuju dengan perjodohan itu. &lt;br /&gt;Sampai pada akhirnya Rangga mendirikan perusahaan tekstil dan perkebunan kapas di atas tanah sewaan De Winst dan memboikot para buruh untuk ikut bergabung dengannya. Itu salah satu bentuk penentangan para imperialisme Belanda dan bentuk awal kemakmuran pribumi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Analisis Pendekatan Objektif &lt;br /&gt;  Tokoh-tokoh dalam novel De Winst karya Afifah Afra ini yaitu Raden Mas Rangga Puruhita sebagai tokoh sentral. Sedangkan tokoh yang lain yaitu Rr. Sekar Prembayun, Everdine Kareen Spinoza, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryanegara, Pratiwi, Jan Thijsse, Edward Biljmer, Profesor Johan Van de Vondel, Kresna, Jatmiko, Kanjeng Raden Ayu Sintawati Suryanegara, Kanjeng Surya Kusuma, Raden Ayu Sariti, dan masih terdapat tokoh-tokoh lain namun tokoh-tokoh itu tidak begitu mencolok.&lt;br /&gt;  Berikut akan ditunjukkan karakter-karakter dari tokoh-tokoh tersebut. Tokoh Rangga yang jugs sebagai tokoh sentral memiliki sifat yang baik, pemberani, seorang yang cerdas, sopan, berwibawa, sering kesal akan adat keraton, penyayang terhadap ibunya. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang baik : &lt;br /&gt;Rangga mengeluarkan beberapa lembar gulden dan diserahkan ke kuli-kuli itu, namun Suratman buru-buru mencegahnya.&lt;br /&gt; Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang sopan : &lt;br /&gt;”Profesor terlalu memuji saya,” lelaku muda itu tersenyum sopan kepada Profesor De Vondell.  &lt;br /&gt;Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang pemberani : &lt;br /&gt;”Saya adalah Raden Mas Rangga Puruhita Suryanegara. Saya lulusan terbaik dari Universitas Leiden, dan saya bisa bermain pencak silat dengan sangat baik. Jika anda ingin merasakan dahsyatnya olah kanuragan saya, ayo maju !”&lt;br /&gt;Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang amat menyanyangi ibunya :&lt;br /&gt;Rangga berlari menuju lemarinya, membuka sebuah kopor, ”Kemarin saya lupa, saking letihnya.... saya bawa oleh-oleh buat ibu tercinta. Nah ... ini dia !”&lt;br /&gt; Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang cerdas : &lt;br /&gt;”Anda kebanggaan Universiteit ini. Saya berharap, anda tak hanya dimiliki oleh Indische, tetapi juga dunia. Suatu saat saya yakin bila anda mengembangkan ilmu anda, anda akan menjadi seorang pemikir kelas dunia seperti Adam Smith, David Ricardo atau yang lainnya.”&lt;br /&gt;Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga adalah seorang yang berwibawa :&lt;br /&gt;”Maneer, bisakah bersikap lebih santun kepada seorang wanita ?” tegurnya dengan wibawa yang memancar spontan. &lt;br /&gt;Kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Rangga sering mengalami kekesalan atas adat-istiadat Keraton :&lt;br /&gt;Rangga tercenung sesaat. Tradisi Jawa … ya, tradisi Jawa. Atas nama subasita terhadap orang tua, seringkali mereka memungkiri gejolak cinta yang muncul, sehingga jarak sengaja dibangun untuk menguatkan wibawa seorang tua.&lt;br /&gt;Tabu ! Seorang bangsawan Jawa, pantang terlihat seperti anak-anak. Padahal sikap kekanak-kanakan terkadang terasa begitu nikmat, apalagi jika datang pada saat yang tepat. &lt;br /&gt;”Ibu, kalau di Nederland sana, seorang ibu dan anaknya berpelukan, itu sangat biasa. Apa ibu tidak senang, jika dipeluk Rangga ?”&lt;br /&gt;  Sedangkan karakter dari tokoh-tokoh yang lain seperti Rr. Sekar Prembayun yaitu seorang wanita yang pemberani, pemberontak, pembangkang, gigih, cerdas, seorang yang modern, berjiwa dinamis, bandel, penuh percaya diri, terpelajar, egaliter, liar dan tegas.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh Everdine Kareen Spinoza adalah seorang yang baik, lembut, terpelajar, pandai dan ramah.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh KGPH Suryanegara adalah tegas dan berwibawa. Karakter tokoh Pratiwi adalah seorang yang masih belia dan polos, seorang yang pemberani dan pandai berdiplomasi. Karakter tokoh Jan Thijsse adalah seorang yang keras, serakah, jahat, tak tahu tata krama, suka berfoya-foya, pengecut, pencemburu dan pendendam.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh Edward Biljmer adalah seorang yang baik, suka membantu, dan enak diajak kerjasama. Karakter tokoh Profesor Johan Van de Vondell adalah seorang yang baik, menghargai sesama, tulus, profesional, berfikiran sangat moderat dan seseorang yang tak mudah menyerah.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh Kresna adalah sosok yang misterius, ambisius, penuh percaya diri, tegas dan pemberani. Sebenarnya tokoh Kresna adalah bentuk penyamaran dari tokoh Rr. Sekar Prembayun sehingga sifat aslinya tak jauh beda, hampir mirip namun tetap ada sedikit perbedaan. Hal itu untuk kepentingan penyamarannya.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh Jatmiko adalah seorang yang pekerja keras, pengkritik, pandai, kritis, ambisius, pemberani dan nasionalis. Karakter tokoh Kanjeng Raden Ayu Sintawati Suryanegara adalah penyayang, baik, lembut dan patuh akan adat.&lt;br /&gt;  Karakter tokoh Kanjeng Pangeran Surya Kusuma adalah tegas, keras dan berwibawa. Karakter tokoh Raden Ayu Sariti adalah lembut, penyayang, baik dan patuh akan adat.&lt;br /&gt;  Alur yang digunakan pengarang dalam novel ini adalah alur maju-mundur-maju. Bergerak dari cerita awal yaitu tibanya Rangga di pelabuhan Priok namun setelah itu bergerak mundur yang ditandai oleh kilas balik memori Rangga akan Profesor Van de Vondell. Ia mengingat kembali kunjungan Profesor Van de Vondell di rumah sewaannya sewaktu di Leiden.&lt;br /&gt;  Latar tempat dalam novel ini adalah di Nederland (di Leiden, di sebuah kapal, di dapur kapal, universitas, rumah sewaan, pasar loak di kota Amsterdam, Den Hag, Rotterdam, Delft, kota-kota di Leiden, taman bunga, desa-desa di Leiden, ladang peternakan, padang rumput, di Brussel) di bumi pertiwi (di Batavia di sebuah pelabuhan, dermaga di sebuah pesanggrahan di Kayangan, di keraton Solo, kota Bandung, hotel, jalan-jalan di kota Solo, di sekitar Keraton, jalan menuju Kertasura dan Jogjakarta, sekolah-sekolah dan desa-desa di Solo, Kantor Regent Wonogiri, kamar hotel, stasiun balapan, di sebuah kereta kuda, dalem Suryanegara, sebuah kamar di Keraton, Bengawan Solo, Kali Wingko, Kali Thoklo, Kali Pepe, di kampung Baluwarti, alun-alun, Kampung Pasar Kliwon, desa-desa di pinggiran Solo, pabrik gula, warung, gubuk di pinggir perkebunan tebu, kantor pegadaian, kantor di sebuah pabrik, di Kebon Raja, di kedai pinggir jalan, di bioskop, dalem Surya Kusuma,                     di sudut kamar, di tepi jendela, dalem Wuryaningratan, halaman pabrik gula De Winst, rumah sakit, rumah kecil di daerah Semanggi).&lt;br /&gt;  Latar suasananya yaitu senang, gembira, haru, rindu, bangga, tegang, sedih dan lainnya. Latar waktunya yaitu pagi, siang dan malam. &lt;br /&gt;  Sudut pandang novel ini adalah orang ketiga karena pengarang bertindak sebagai pencerita tokoh-tokohnya yang ada dalam novel tersebut.&lt;br /&gt;  Gaya bahasa atau yang biasa disebut majas yang terdapat dalam novel ini adalah majas metafora dan personifikasi. Kutipan kalimat dalam novel ini yang mengandung majas metafora : &lt;br /&gt;Bak gumintang di saat malam beranjak kelam, bangunan pelabuhan itu semakin lama semakin tampak jelas.&lt;br /&gt; Kutipan kalimat yang mengandung majas personifikasi : &lt;br /&gt;Teja jingga mentari sore yang memantul di bening Teluk Jakarta semakin membuncahkan aura yang menawan ...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penilaian &lt;br /&gt;Tema adalah novel ini yang kemungkinan merupakan masalah sentral adalah dijumpai dua pemberontakan. Pemberontakan yang pertama adalah pemberontakan kaum pribumi yang diwakili oleh tokoh Rangga, sekar, dan Partiwi terhadap imperialisme Belanda. Pemberontakan yang kedua adalah pemberontakan oleh tokoh Rangga dan tokoh Sekar terhadap adat Jawa. Bagi tokoh Rangga, adat Jawa hanyalah akan membatasi wujud kasih sayang antara ia dan ibunya. Sedangkan bagi tokoh Sekar, adat Jawa hanyalah adat yang kolot karena masih diterapkan perjodohan untuknya, jauh dari modernisme, yang saat ini tak selayaknya lagi untuk diterapkan, yang hanya membatasi gerak-gerik seorang perempuan Jawa untuk mencapai cita-citanya. Bahkan tokoh sekar jelas-jelas telah berani melawan ayahnya sendiri Raden Surya Kusuma hingga ia dikurung didalam rumah dan tak boleh melakukan aktifitas apapun. Berikut kutipan yang menunjukkan bahwa tokoh Sekar berani melawan ayahnya atas adat Jawa yang mengharuskan perjodohan padanya. &lt;br /&gt;“Calon suami ?” suara Sekar meninggi, terdengar sengit. &lt;br /&gt;“Jika Kanjeng Rama atau Kanjeng Ibu hendak menikahinya, silahkan           saja ! Tapi saya hanya akan menikah dengan seorang yang saya pilih sendiri. Zaman sudah berubah, seorang wanita memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Saya…..” (halaman 81)&lt;br /&gt;“Saya hanya berusaha jujur terhadap kata hati saya. Saya tidak mau dijodohkan dengan siapapun, apalagi jika saya tidak terlibat dalam proses pemilihan jodoh tersebut !” (halaman 81). &lt;br /&gt;Namun sebaliknya yang terjadi dengan tokoh Rangga. Pemberontakan memang ia lakukan, melainkan tak pada kehidupan nyata melainkan hanya ia lakukan dalam hatinya saja, ia tak cukup berani untuk melawan Ramanya. KGPH Suryanegara. Tokoh Rangga pun mengakui sendiri bahwa ia jauh dibawah tokoh Sekar dalam hal keberanian. &lt;br /&gt;Namun masalah pemberontakan pada adat yang dilakukan oleh kedua tokoh ini tak banyak dibahas. Hanya sedikit dibahas dari sekian masalah yang muncul. Sebaliknya yang banyak dibahas adalah pemberontakan kaum pribumi yang diwakili oleh tokoh Rangga, Sekar dan Pratiwi terhadap imperialisme Belanda. Tindakan konkritpun muncul mengiringi masalah pemberontakan imperialisme Belanda ini. Dari mulai muncul keberanian tokoh Rangga kepada Jan Thijsse, Administratur pabrik gula De Winst yang tak lain karena provokasi tokoh Kresna demi pengentasan buruh pabrik gula De Winst dari ketidakmakmuran, keberanian tokoh Pratiwi mengancam petinggi-petinggi pabrik gula De Winst, hingga pemboikotan para buruh yang dilakukan oleh tokoh Rangga. &lt;br /&gt;Menariknya selain pemberontakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tersebut, penulis juga mencoba mengangkat tentang bagaimana repotnya pencarian identitas diri sebagai seorang muslim yang bersentuhan dengan modernisme sekaligus nasionalisme dalam narasi-narasi besar liberalisme  dan marxisme. Hal ini adalah yang terjadi pada tokoh sentral yaitu Rangga. &lt;br /&gt;Menurut saya, ada baiknya jika sebelum membaca novel ini, kita sudah terasa membaca sejarah pergerakan nasional, tepatnya setelah pemberontakan PKI atau pecahnya Sarekat Islam. Tentu saja akan lebih enak kalau sebelumnya kita juga sudah mengerti siapa itu Karl Marx, Spinoza, Hegel, Adam Smith, Hasan Al Bana, Haji Saman Hudi , Soekarno, Hatta dan tulisan atau pemikiran mereka. Karena dalam novel ini banyak disinggung mengenai hal itu oleh antar tokoh dalam percakapannya. &lt;br /&gt;Penulis pun sepertinya ingin membangun cerita cinta dan menyelipkannya di setiap cerita. Diceritakan adanya perasaan seorang bangsawan Jawa yakni tokoh Rangga yang tertarik dengan kecantikan seorang Noni Belanda yang baru ia kenal di atas kapal sewaktu pulang Hindia Belanda, Everdine Kareen Spinoza. Namun perasaan itu harus kandas karena orang tua sang Noni Belanda harus merelakan pernikahan anaknya karena hutang pada orang tua Jan Thijsse. Hal ini sangat mirip sekali dengan cerita Siti Nurbaya. &lt;br /&gt;Alur konflik yang dibangun dalam novel ini cukup menggambarkan bagaimana setting pada zaman pergerakan nasional sedang bergolak                         di Indonesia. Akan menjadi hal yang sangat menarik lagi seandainya penulis bisa menggambarkan secara detail eksotik kota Solo zaman tersebut, keraton, budaya Eropa, kampung batik Laweyan, serta kehidupan buruh pabrik tebu. &lt;br /&gt;Dengan mengangkat latar Surakarta tahun 1936, sewaktu Indonesia masih dalam cengkeraman penjajah, novel ini selain berkisah tentang kaum pribumi yang tertindas, tradisi atau adat kraton, romantisme cinta, juga mengajarkan arti penting perjuangan melawan penjajah. &lt;br /&gt;Namun dengan mengambil setting Surakarta tahun 1930, yang mana pengarang tidak mengalami hidup pada masa itu. Sehingga novel ini terkesan jauh dari setting zaman 1930, karena Surakarta digambarkan penulis melampaui zaman 1930. jadi penggambaran settingpun terasa hambar. &lt;br /&gt;Namun penulis sepertinya lupa ketika menceritakan pesta dansa yang berlangsung di Batavia. Dimana diceritakan bahwa pesta dansa itu di hotel, namun seorang tokoh ada yang mengatakan ketika ada ancaman kepada seseorang yang dianggap pengganggu bahwa dia akan dilaporkan ke petugas kapal. Terlihat pada kutipan berikut : &lt;br /&gt;“Jika Jij berbuat ulah, ik akan laporkan ke petugas kapal ! Jij bisa diturunkan sekarang juga di pelabuhan terdekat !” ancam Rangga (halaman 34) &lt;br /&gt;Sayang sekali si penulis kurang teliti dalam menceritakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Penutup &lt;br /&gt;Sejarah sebagai bahan literer yang kemudian diolah maka akan didapat capaian estetis oleh si penulis. Apalagi penulis menyelipkan pesan mengusung pertentangan dua ideologi (kapitalisme dan komunisme – sosialis). Kapitalisme hadir dalam wujud De Winst dan tokoh Jan Thijsse jadi wakil kapitalisme. Tokoh Jatmiko, Sekar bahkan Pratiwi mengusung paham atau ideologi komunisme-sosialis yang kemudian menawarkan jalan tengah yakni ekonomi Islam oleh tokoh Rangga. Tak mustahil novel ini menjadi sebuah karya yang sarat akan pemikiran, memunculkan kesadaran serta begitu menggugah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Daftar Pustaka &lt;br /&gt;Siswanto, Wahyudi, 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta : PT. Grasindo. &lt;br /&gt;Esten, Mursal. 1984. Kritik Sastra Indonesia. Padang : Angkasa Raya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1596127618648369672?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1596127618648369672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/struktur-naratif-novel-de-winst-karya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1596127618648369672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1596127618648369672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/struktur-naratif-novel-de-winst-karya.html' title='Struktur Naratif novel De Winst karya Afifah Afra'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-6690083600650985899</id><published>2010-12-16T22:49:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T22:49:22.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stilistika'/><title type='text'>Stilistika</title><content type='html'>EKSTETIKA CERPEN LINTAH KARYA DJENAR MAESA AYU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Cerpen lintah karya Djenar Maesa Ayu bercerita tentang tokoh “ saya ” yaitu maha sebagai tokoh utama yang sangat membenci binatang bernama Lintah. Maha hanya tinggal dengan ibunya semenjak ayahnya meninggal. Namun di kehidipunnya sekarang, ia di penuhi rasa benci karena ibunya membawa Lintah untuk hidup bersama mereka. Lintah di perlakukan bak orang paling istimewa oleh ibunya. Bahkan Maha sendiri yang jelas – jelas anak kandungnya selalu kalah mendapat perhatian ibunya. Di belakang ibu Maha, Lintah bertingkah kurang ajar dengan menjebak Maha lalu menikmati tubuh Maha. Padahal selama ini hal tersebut hanya Lintah lakukan pada ibu Maha saja. Ibu Maha tak tahu menahu soal itu. Maha terkejut ketika ibunya hendak menjadikan Lintah sebagai ayah tirinya.&lt;br /&gt;Dalam cerpen karya Djenar ini, hal yang menarik tertuju pada penggunaan kata “ Lintah “ sebagai seorang tokoh yang senang menggangu hidup orang lain dan selalu tidak puas atas apa yang dimilikinya. Sebenarnya penggunaan kata “ Lintah “ hanyalah untuk binatang namun di sini digambarkan sebagai seorang tokoh. Mungkin karena melihat dari sifat binatang Lintah ini sehingga pengarang melukisnya sebagai seorang yang sifatnya seperti Lintah. Keunikan lain terdapat pada penggunaan dialog di akhir cerita, yaitu oleh Maha dan Ibunya. Di awal dan di tengah – tengah cerita tidak ada dialog sama sekali, hanya berbentuk  cerita langsung oleh tokoh utama “ saya “. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pola Gramatika Kalimat &lt;br /&gt;Secara umum, kalimat yang terdapat dalam cerpen Lintah berupa kalimat pendek. Kalimat pendek yang di gunakan bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahaminya serta memberi kesan lugas. Namun ada beberapa kalimat yang panjang di gunakan juga. Kedua pola kalimat yang digunakan tetap bertumpu pada struktur kalimat yang benar. Berikut salah satu cuplikan pendek dalam cerpen Lintah : &lt;br /&gt;Saya penyayang binatang. Namun saya sangat benci terhadap Lintah. ( halaman 1)&lt;br /&gt;Sedangkan penggunaan kalimat panjang terdapat pada kutipan              kalimat ini :&lt;br /&gt;Setiap Ibu menyendok satu suap nasi ke dalam mulutnya, tidak lupa melemparkan sedikit makanan keatas kepalanya dan ular – ular itu berebutan dengan rakus disana. ( halaman 3 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Diksi&lt;br /&gt;Pemanfaatan diksi dalam cerpen Lintah cenderung pada penggunaan bahasa Indonesia. Struktur bahasa Indonesianya sangat rapi. Naman di dalamnya di selingi juga dengan penggunaan bahasa Indonesia tidak baku. Penggunaan bahasa Indonesia tersebut mungkin di kerenakan cerita yang di sajikan. Lebih mengarah pada kehidupan kota – metropolitan hal tersebut terlihat jelas pada kutipan di bawah ini.&lt;br /&gt;Sering juga berhari – hari Ibu tidak pulang bila mendapat tawaran menyanyi di luar kota ( halaman 4 ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Majas&lt;br /&gt;Majas yang di gunakan dalam cerpen Lintah ini adalah bertujuan intuk memperindah gaya bahasa serta akan di dapati variasi bahasa. Majas yang di gunakan yaitu majas hiperbola dan majas metafora. Majas hiperbola merupakan majas yang memberi makna berlebihan atau di besar – besarkan. Berikut beberapa kutipan majas hiperbola yang terdapat dalam cerpen Lintah :&lt;br /&gt;Dari hari ke hari kebencian saya memuncak. ( halaman 2 ) &lt;br /&gt;Dan saya sangat kaget melihat seekor ular yang merah menyala. ( halaman 2 ) &lt;br /&gt;Hari itu terik matahari begitu menyengat. ( halaman 6 )&lt;br /&gt;Bau wangi menyergap hidung saya, menyergap kerinduan, menyergap perasaan. (halaman 6) &lt;br /&gt;Mata saya membeliak lebar. ( halaman 7 )  &lt;br /&gt;Kata memuncak, merah menyala, begitu menyengat, menyerap, dan membeliak lebar memberikan suasana yang ber lebih – lebihan. Namun kata – kata yang berlebihan tersebut menciptakan kesan indah. Selain majas hiperbola, dalam cerpen Lintah juga menggunakan majas metafora. Majas metafora merupakan majas yang mengandung perbandinggan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna di antaranya ( Sudjiman, 1993 : 29 ). Berikut kutipan majas metafora yang terdapat dalam cerpen Lintah :&lt;br /&gt;Dan mata Lintah kelihatan benar – benar tertawa. ( halaman 4 ) kaliamat tersebut menujukkan majas metafora yang memiliki keindahan dan menarik bila di baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Penutup &lt;br /&gt;Nilai ekstetika cerpen Lintah karya Djenar Maesa Ayu di tunjukkan oleh tiga hal yaitu struktur gramatika kalimat yang variativ, pengguanaan diksi, dan penggunaan majas atau gaya bahasa.&lt;br /&gt;Struktur gramatika kaliamat yang di gunakan yaitu penggunaan kalimat pendek dan kalimat panjang namun tetap pada struktur kalimat yang benar. &lt;br /&gt;Penggunaan diksi cenderung pada penggunaan bahasa Indonesia serta terdapat kalimat tidak baku di dalamnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa ceritanya mengarah pada kehidupan kota metropolitan. Namun hal tersebut malah menimbulkan kemudahan pembaca untuk memahaminya.&lt;br /&gt;Penggunaan majas di tunjukkan dengan permanfaatan majas hiperbola dan majas metafora. Penggunaan majas tersebut bertujuan untuk memperindah kalimat per kalimat dalam cerpen tersebut serta mampu memicu emosi pembaca untuk turut masuk dalam cerita tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-6690083600650985899?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/6690083600650985899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_4416.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6690083600650985899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/6690083600650985899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_4416.html' title='Stilistika'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-3349309264721293778</id><published>2010-12-16T22:48:00.001-08:00</published><updated>2010-12-16T22:48:16.603-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stilistika'/><title type='text'>Stilistika</title><content type='html'>SENTUHAN MAJAS PERTENTANGAN DALAM CERPEN ǃ KARYA DANARTO&lt;br /&gt;(TELAAH STILISTIK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen  !  karya Danarto ini berkisah tentang kehidupan keluarga si Aku,tokohsentral dalam cerpen ini. Berawal dari kedua orang tuanya yang berasal dari daerah yang berbeda. Sang Ayah dari Jogja dan Sang Ibu dari Solo. Bertemu di Klaten, menikah di Semarang, lalu pindah ke Jakarta. Di Jakartalah cerita kehidupan keluarga si Aku bermula. Si Aku adalah anak ke tujuh dengan enam kakak-kakaknya dan empat adik-adiknya. Si Aku adalah seorang mahasiswa di suatu fakultas pertanian. Kakak-kakaknya telah menikah dan berkeluarga. Sedangkan adik-adiknya masih duduk di bangku SMA, SMP, dan SD.&lt;br /&gt; Karena begitu banyak saudaranya, si Aku sering terlupa ataupun tertukar nama-nama mereka. Dari sekian banyak saudaranya itu, hanya dengan salah satu adiknya, Zizit, ia terlihat begitu kontras dan berbeda paham. Sehingga tak jarang pertentangan sering terjadi diantara mereka.&lt;br /&gt; Zizit memangpaling berbeda watak dengan keluarganya. Zizit selalu menolak segala yang keluarganya terima. Zizit selalu menentang apa yang keluarganya setujui. Sepertinya Zizit diliputi kecerdasan yng tertanam dalam otaknya sehingga ia selalu bersemangat untuk berjuang, semangat untuk mandiri, semangat sama rasa sama rata, dan semangat untuk berdebat. Rasa sosialnya memang tinggi. Tak heran jika ia begitu akrab dengan para pengemis yang selalu mendatangi kediaman keluarganya. Hidup Zizit tampak berbeda dengan anggota keluarganya. Zizit amat sederhana, penuh tanggung jawab, dan punya rasa solidaritas yang tinggi. Zizit dianggap memiliki watak yang istimewa sehingga ia menjadi anak emas kedua orang tuanya&lt;br /&gt; Keluarga si Aku bisa dibilang kaya. Rumah renovasi gaya Spanyol. Memiliki rumah berjumlah lima. Masinh-masing anggota keluarga memiliki mobil. Karena rumah direnovasi menjadi gaya Spanyol, maka Ayahnya memandori sendiri pembangunan pagar besi dan gapura mewah. Hidup foya-foya menjadi ciri gaya hidup keluarga si Aku, tentunya tidak untuk Zizit.&lt;br /&gt; Pertengkaran yang sering terjadi antara si Aku dan Zizit karena si Aku semakin lama semakin merasa risih dengan pengemis-pengemis yang selalu dimanjakan oleh Zizit. Pertengkaran yang akhirnya membuat Ayahnya jatuh dan pingsan mendengar kata “kuburan” yang terlontar dari mulut si Aku. Kuburan yang tak lain adalah pagar besi dan gapura yang dibangun sendiri oleh Ayahnya.&lt;br /&gt; Berakhir di sebuah rumah sakit yang membuat semua keluarga berkumpul karena keadaan Sang Ayah yang kritis. Ternyata pemandangan terkejutlah yang tampak pada seluruh anggota keluarga si Aku bahwa di dalam kamar pasien, Ayahnya berdiri tegap dengan mengalunkan sebuah lagu ditemani para pemain musik yang mengelilinginya. Alhasil seluruh anggota keluarga itu bengong bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Fakta Cerita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur dari cerpen ini adalah alur maju yakni ceritanya runtut dari awal sampai akhir. Di bagian awal, diceritakan mengenai tokoh-tokohnya yakni tokoh si Aku dan beberapa tokoh lainnya. Di bagian tengah disajikan konflik yang sudah mulai dimunculkan oleh pengarang. Konflik yang disajikan adalah konflik eksternal atau konflik sosial (konflik yang terjadi karena pertentangan antartokoh). Hal ini terjadi pada tokoh si Aku dan  tokoh Zizit.&lt;br /&gt;Di bagian tengah didominasi oleh keseluruhan cerita. Sebab, bagian terpanjang cerita ada pada bagian ini. Pada bagian ini, tokoh, peristiwa, dan konflik dimunculkan. Hal ini terlihat pada  beberapa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada keluarga si Aku. Mulai dari pertengkaran antara si Aku dengan Zizit yang membuat syok Ayahnya sehingga keadaan kritis Ayahnya yang berakhir di rumah sakit&lt;br /&gt; Pada bagian akhir memunculkan penyelesaian. Muaranya pada hal yang menyenangkan yakni terlihat saat Ayahnya yang berada di dalam kamar rumah sakit tampak begitu ceria dengan melantunkan nyanyian yang dikelilingi oleh para pemain musik. Bisa dikatakan bahwa di akhir cerita pengarang sengaja memunculkan kejutan.&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam cerpen ini adalah tokoh Aku. Sedangkan tokoh-tokoh yang lain yakni tokoh Ayah, Ibu, Zizit, Pelayan hotel, Pengemis tua, Dokter, dan Perawat. Tokoh Aku sebagai orang pertama yang langsung menceritakan keseluruhan cerita, mulai dari kejadian-kejadian awal sampai akhir cerita. Sedangkan tokoh-tokoh yang lain membantu memunculkan kejadian-kejadian dalam cerita.&lt;br /&gt;Sifat tokoh Aku adalah seorang yang sombong, suka hidup hura-hura, pemarah, adakalanya suka meremehkan orang lain termasuk kalangan bawah. Sedangkan sifat-sifat tokoh yang lain seperti tokoh Zizit yakni punya solidaritas yang tinggi, bertanggung jawab, cerdas, penuh semangat, tagas, dan mandiri. Tokoh Ayah memiliki sifat penyayang terhadap anak-anaknya. Hal ini terbukti dengan memanjakan anak-anaknya melalui fasilitas mewah yang ia berikan kepada anak-anaknya. Tokoh Ibu memiliki sifat penyayang kepada anak-anaknya, menantu, dan juga cucu-cucunya.&lt;br /&gt;Latar tempat dalam cerita ini yaitu di rumah, taman rumah, airport, restoran hotel, kamar hotel, toilet hotel, supermarket, salon, butik, rumah sakit, kamar rumah sakit. Sedangkan latar waktu dalam cerita ini adalah pagi, siang, sore, dan malam. Latar suasananya yaitu hangat, mesra, sengit, haru, bahagia, meriah, terkejut, sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sarana Cerita&lt;br /&gt;Judul dalam cerpen ini adalah sebuah simbol dari tanda seru (!) . Sepertinya pengarang sengaja menggunakan judul dengan menggunakan simbol tersebut dalam cerpennya. Judul cerpen ini seakan membuat pembaca memunculkan beragam tafsiran. Tentunya dalam judul tersebut, tersimpan makna di dalamnya.&lt;br /&gt;Sudut pandang cerpen ini adalah pencerita sebagai pelaku utama yakni digambarkan oleh tokoh Aku.&lt;br /&gt;Gaya bahasa yang terdapat dalam cerpan ini hampir beragam. Pengarang seolah memanfaatkan kata untuk diolah sehingga menghasilkan estetika dalam cerpen ini. Gaya bahasa yangg digunakan pengarang dalam cerpenini diantaranya adalah simile, personifikasi, hiperbola, metafora, erotesis, perulangan, dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. Majas Pertentangan Yang Terdapat Dalam Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majas adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 1985 : 112)&lt;br /&gt;Menurut Tarigan (1985 : 113-117) gaya bahasa atau majas dibagi menjadi empat &lt;br /&gt;golongan :&lt;br /&gt;1. Majas perbandingan meliputi majas perumpamaan, kiasan, penginsanan, sindiran, antitesis&lt;br /&gt;2. Majas pertentangan meliputi majas hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma&lt;br /&gt;3. Majas pertautan meliputi majas metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, elipsis, inversi, gradasi&lt;br /&gt;4. Majas perulangan meliputi majas aliterasi, antanaklasis, kiasmus, dan repetisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut akan dipaparkan mengenai majas pertentangan yang terdapat dalam cerpen berjudul  (!) karya Danarto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hiperbola &lt;br /&gt;Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Tarigan, 1984 : 143 ; Tarigan, 1985 : 186).&lt;br /&gt;Kata hiperbola berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘pemborosan; berlebih-lebihan’ dan diturunkan dari hyper ‘melebihi’ + ballien ‘melemparkan’. Hiperbola merupakan suatu cara yang berlebih-lebihan mencapai efek; suatu bahasa di dalamnya berisi kebenaran yang direntangpanjangkan (Dale, 1971 : 233).&lt;br /&gt;Dengan kata lain “hiperbola ialah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan : jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya” (Moeliono, 1984 : 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan-kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas hiperbola&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kecerdasan kami dapat dilihat sejelas-jelasnya&lt;br /&gt;(Hal. 4 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan selesainya gapura, berarti seluruh keindahan rumah kami makin memancar dan tentu mengundang kekaguman siapa saja (Hal. 4 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memujanya, Aku membakar-bakar hati Ayah supaya suka mentraktir kami ke restoran yang paling enak dan paling mahal (Hal. 4 Paragraf 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketawanya masih menyentak (Hal. 5 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jangan-jangan sudah terbakar anggur yang sering kugenangkan dalam daging bistikku (Hal. 5 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit aku dari kursi sementara ketawa dan gurau meledak di sana-sini (Hal. 5 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak seperti menggeliat lalu lenyap dan entah diterbangkan ke mana (Hal. 6 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukorek-korek lagi tenggorokanku untuk menguras tandas sisa-sisa makanan yang masih tinggal (Hal. 6 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kontan Ayah mendapat semprotan jawaban yang begitu pasti dan sepertinya tak tergoyahkan (Hal. 7 Paragraf 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika musuhnya lemah, maka dia mengadakan penyerangan yang menggebu-gebu (Hal. 8 Paragraf 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zizit! Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka!” bentakku dalam keadaan mendidih (Hal. 9 Paragraf 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya gemerincing hancur berantakan (Hal. 10 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat matanya memancarkan bukan saja kegigihannya dalam pertempuran, yang terus-menerus dengan Ayah, tapi seperti ia juga melihat adanya musuh dalam selimut, yang justru mungkin paling tangguh : aku (Hal. 11 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airmataku berhamburan (Hal. 11 Paragraf 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menghamburlah kami masuk dengan tangis-tangisan yang menyayat...yang disambut suara tenor yang mengalunkan Come Back to Soneto dari mulut yang tubuhnya berdiri tegap di atas tempat tidur dan merentang-rentangkan tangannya (Hal. 12 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena suasananya berisik, karena isakan-isakan, maka Ayah sambil pamer terus suaranya yang menggetarkan itu, menunjuk sebuah... (Hal. 12 Paragraf 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa kutipan di atas yang menunjukkan adanya penggunaan majas hiperbola dapat diketahui bahwa kata-kata yang ditunjukkan dengan sejelas-jelasnya, memancar dan mengundang, membakar-bakar, menyentak, terbakar, meledak, menggeliat dan lenyap, menguras, semprotan, menggebu-gebu, mendidih, hancur berantakan, memancarkan, berhamburan, menyayat, dan menggetarkan bersifat melebih-lebihkan dari kenyataan yang sebenarnya. Sehingga memunculkan efek yang mendramatisir keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Litotes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya &lt;br /&gt;(Moeliono, 1984 : 3).&lt;br /&gt;  Litotes kebalikan dari hiperbola, adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri (Tarigan, 1984 : 144; Tarigan, 1985 : 187).&lt;br /&gt;  Litotes berasal dari kata Yunani litos yang berarti ‘sederhana’ atau litotes, lawan dari hiperbola, merupakan sejenis gaya bahasa yang membuat pernyataan mengenai sesuatu dengan cara menyangkal atau mengingkari kebalikannya (Dale, 1971 : 237).&lt;br /&gt;  Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas litotes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur kami dapat sebuah rumah murah dari Perumnas, setelah melalui undian yang bertele-tele dan bikin gerah&lt;br /&gt;(Hal. 1 Paragraf 2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan tersebut jelas terlihat bahwa kutipan tersebut bersifat merendahkan diri. Padahal seperti yang kita ketahui, sebuah hunian perumahan masihlah mengeluarkan biaya yang tak sedikit daripada sebuah rumah dalam kawasan perkampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ironi&lt;br /&gt;Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan, dengan maksud berolok-olok. Maksud itu dapat dicapai dengan mengemukakan:&lt;br /&gt;a. Makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya&lt;br /&gt;b. Ketidaksesuaian antara suara yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya&lt;br /&gt;c.  Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan (Moeliono, 1984 : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu. Ironi ringan merupakan suatu bentuk humor tetapi ironi berat atau ironi kasar biasanya merupakan suatu bentuk sarkasme atau satire, walaupun pembatasan yang tegas antara hal-hal itu sangat sulit dibuat dan jarang sekali memuaskan orang (Tarigan, 1984 : 144; Tarigan, 1985 : 189).&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas ironi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku, Zizit, perempuan yang elok inilah yang paling berbeda wataknya dengan kami semua (Hal. 2 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kalau biaya pagar baru ini untuk fakir miskin...” (Hal 2 Paragraf 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dengar kamu dapat borongan catering setiap hari, sayang?”, tanya Ibu sambil tertawa ketika bertemu di meja makan (Hal. 7 Paragraf 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali-kali tidak berkuasa boleh dong, sayang”, jawab Zizit yang membuat kami semuanya tertawa (Hal. 8 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Oksimoron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata oksimoron berasal dari bahasa latin okys ‘tajam’ + moros ‘goblok, gila’. Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penegasan atau pendirian suatu hubungan sitaksis baik koordinasi maupun determinasi antara dua antonim (Ducrot and Tororov, 1981 : 278). Atau dengan kata lain oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama (Keraf, 1985 : 136).&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas oksimoron&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami (Hal. 2 Paragraf 2) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Satire &lt;br /&gt;Uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna permukaannya disebut satire. Kata satire diturunkan dari kata satura yang berarti ‘talam yang berisi macam-macam buah-buahan’. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis (Keraf, 1985 : 144).&lt;br /&gt;Kiranya perlu diperingatkan di sini bahwa satire tidak selalu harus ditafsirkan dari satu kalimat atau acuan saja, tetapi harus diturunkan satu uraian yang panjang, yang merupakan suatu wacana.&lt;br /&gt;Berikut beberapa kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas satire&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang kaya harus ditandai dengan pagar besi, ‘ kata Ayah pada suatu hari di taman. Kami manggut-manggut sedikit.&lt;br /&gt;“Kaya harta. Kaya ilmu pengetahuan. Kaya kemuliaan,” sambung beliau. (Hal. 2 Paragraf 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kalau biaya pagar ini untuk fakir miskin...,” celetuknya&lt;br /&gt;(Hal. 2 Paragraf 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sering bicara tentang pandangan hidupnya yang begini, yang begitu. Dengan berkobar-kobar lagi. Aku pernah menyebutnya sebagai ‘gita filsafat dari SMA’ yang membuatnya berang. Mencakar bagai kucing betina. Menggeram bagai penuh dendam. Untuk mendekatinya lagi, sulit. Berbagai cara yang manis-manis tak kunjung memadai. Kaset baru. Cokelat Toblorone. Novel baru. Majalah baru. Semuanya tak mempan menaklukkannya. Diboncengin mobil ke sekolah juga kagak mau. Sedikit pun, tak terpikat. O, hiya. Tentang mobil? Lain lagi ceritanya. Kami punya mobil sendiri-sendiri. Ibu dengan Mercy 450 SEL, yang saya ganti jadi 280 (ha!ha!ha!) supaya boleh beredar di jalan raya. Mobil Ayah BMW. Mobilku VW Safari. Adik-adikku ada yang VW Golf. Ada yang jip. Tapi adikku si Zizit ini ketika minta Mercy yang paling mahal, yang sama mahalnya dengan punya Ibu, dia ternyata cuma main-main saja. Tidak serius minta. Tapi Ayah sudah terlanjur membelikannya. Dan Mercynya itu pun nongkrong, nganggur.&lt;br /&gt;Dia kemana-mana lebih suka naik bis. Perkataan lebih suka sangat tidak tepat, menurut dia. Naik bis adalah suatu kewajiban, tegasnya. Dia memiliki alasan yang bagus-bagus untuk itu. Solidaritas. Mengurangi kemacetan. Kesederhanaan. Rasa tanggung jawab. Saat yang tak terlupakan oleh kami adalah ketika aku mengantar Ayah ke Airport,mau ke Jepang. Di lampu bang-jo (traffic light) ketika Mercy kami berhenti, kami lihat Zizit menggelantung di pintu bis PPD karena berjubelnya penumpang. Ayah terkajut dan ada keinginan untuk memanggilnya, tapi diurungkannya. Beliau lalu menunduk. Matanya memerah. Mungkin baru sekali itulah aku melihat Ayah menangis. (Hal. 2-3 paragraf 8 dan 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Zizit! Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka!” bentakku dalam keadaan mendidih, “Aku seorang kaya, Zizit. Aku dapat menggunakan kekayaanku untuk apa saja. Tiap hari aku bisa ganti-ganti mobil. Pacar. Bioskop. Restoran. Hotel. Disco. Butik. Salon. Dan kesenangan yang lain. Bahkan sering aku ngentutin duit berpuluh-puluh ribu. Aku pernah nginjak-injak uang lima juta! Tiap hari aku lebih mampu memberikan uang lebih banyak daripada kamu kepada gerombolan pengemismu itu. Pernah tak setahumu kusebar sepuluh ribu uang logam dari lima puluh perakan, hanya karena aku kepingin mereka berebut, berantem, cakar-cakaran, terkam-manerkam, cakot-cakotan, tendang-tendangan, gigit-gigitan! Demi Tuhan, aku bisa segala-galanya. Tapi aku tidak mau mereka mengotori pemandanganku. Mengotori tempatku. Bikin risi aku. Aku seorang yang bersih sudah sepantasnya menghindari yang kotor-kotor. Adalah hakku untuk tidak sudi melihat mereka. Hakku, Zizit!”&lt;br /&gt;(Hal. 9 Paragraf 4)&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka! Lihat! Lihat mereka! Berbondong-bondong, compang-camping bau prengus, menjijikkan, berpura-pura menderita dengan tangan menadah! Bah! Memangnya ini kuburan?!!!”&lt;br /&gt;(Hal. 9 Paragraf 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari beberapa kutipan di atas yang menunjukkan atau mengandung majas satire, terlihat bahwa pada kutipan pertama, pengarang sengaja memunculkan kalimat tersebut tak lain karena mencoba melakukan kritik kepada orang kaya melalui tokoh Ayah. Karena kebanyakan orang yang kaya harta tidak selalu disertai dengan kaya ilmu pengetahuan maupun kaya kemuliaan.&lt;br /&gt;Pada kutipan kedua, pengarang mencoba melakukan kritik terhadap orang kaya melalui tokoh Zizit. Diman orang kaya seringkali menghambur-hamburkan harta kekayaannya dengan melakukan hal-hal yang disukainya ketimbang membantu orang-orang yang kurang mampu seperti fakir miskin.&lt;br /&gt;Pada kutipan ketiga, pengarang mencoba melakukan kritik terhadap kehidupan orang kaya yang serba bergaya hidup mewah melalui karakter tokoh Zizit. Dalam kutipan tersebut dipaparkan bahwa kehidupan tokoh si Aku beserta keluarganya yang meliputi sang ayah, Ibu, kakak-kakak, maupun adik-adiknya terkesan begitu mewah dalam memanfaatkan kekayaan hartanya. Hal itu terwujud dengan adanya fasilitas-fasilitas mewah yang mereka pergunakan. Hal ini begitu kontras dengan gaya hidup tokoh Zizit yang merupakan adik dari tokoh Aku. Meskipun Zizit adalah bagian dari keluarga si Aku, namun gaya hidup zizit begitu sederhana. Zizit lebih suka merasakan hidup serba sederhana meski kekayaan orang tuanya melimpah. Sepertinya tokoh zizit ingin merasakan bagaimana hidup sebagai orang biasa tanpa bergelimang harta. Pengarang sepertinya ingin menyentuh hati para orang kaya melalui tokoh Zizit ini. Meski harta berlimpah, namun diri tak pernah sombong dan berusaha untuk menanamkan gaya hidup sederhana.&lt;br /&gt;Pada kutipan keempat dan kelima, pengarang sengaja melakukan kritik terhadap oarang kaya melalui tokoh si Aku yang suka hidup hura-hura, sombong dan membanggakan diri atas kekayaannya, bertingkah seenaknya dan sewenang-wenang terhadap orang biasa, serta sikap yang selalu meremehkan orang kalangan bawah yang bisa dibilang kurang dalam hal perkonomian. Hendaknya, orang kaya menjauhi sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh tokoh si Aku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Inuendo &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan tampaknya  tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sekilas (Keraf, 1985 : 144).&lt;br /&gt;Berikut beberapa kutipan dalam cerpan yang menunjukkan adanya penggunaan majas inuendo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan mula pertama keluarga kami pencetusnya, melainkan kami sekadar nyontek selera tetangga, begitu dalihnya (Hal. 1 Paragraf 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami (Hal. 2 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bergerombol di pintu gerbang berlama-lama, padahal sudah kami kasih uang atau makanan (Hal. 4 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya terhadap pesta sudah terpapar di hadapanku, seperti sebagian pidato yang panjang (Hal. 4-5 Paragraf 4)&lt;br /&gt;Anak seperti dia selalu memaksa kita untuk pasang kuda-kuda lebih dulu (Hal.10 Paragraf 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Antifrasis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan kata dengan makna kebalikannya. Perlu diingat benar-benar bahwa antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami dengan jelas bila pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dikatakan itu adalah sebaliknya.&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antifrasis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku ini memang paling. Paling segala-galanya ( Hal. 2 Paragraf 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Paradoks &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradoks adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartikan selalu berakhir dengan pertentangan.&lt;br /&gt;Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan atau paradoks (Shadily, 1984 : 2552)&lt;br /&gt;Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena keberaniannya (Keraf, 1985 : 136).&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas paradoks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seorng yang bersih sudah sepantasnya menghindari yang kotor-kotor (Hal. 9 Paragraf 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Klimaks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata klimaks berasal dari bahasa Yunani klimax yang berarti ‘tangga’. Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama semakin mengandung penekanan. Kebalikannya adalah antiklimaks (Shadily, 1982 :1795).&lt;br /&gt;Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 1985 : 124).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah tak setahumu kusebar sepuluh ribu uang logam dari lima puluh perakan, hanya karena aku kepingin mereka berebut, berantem, cakar-cakaran, terkam-manerkam, cakot-cakotan, tendang-tendangan, gigit-gigitan! (Hal. 9 Paragraf 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka! Lihat! Lihat mereka! Berbondong-bondong, compang-camping bau prengus, menjijikkan, berpura-pura menderita dengan tangan menadah! (Hal. 9 Paragraf 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Antiklimaks &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antiklimaks adalah kebalikan gaya bahasa klimaks. Sebagai gaya bahasa, antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.&lt;br /&gt;Gaya bahasa klimaks dapat digunakan sebagai suatu istilah umum yang masih mengenal spesifikasi lebih lanjut yaitu:&lt;br /&gt;1. Dekrementum&lt;br /&gt;Adalah semacam antiklimaks yang berwujud menambah gagasan yang kurang penting pada suatu gagasan yang penting.&lt;br /&gt;2. Katabasis&lt;br /&gt;Adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengurutkan sejumlah gagasan yang semakin kurang penting.&lt;br /&gt;3. Batos &lt;br /&gt;Adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengandung penukikan tiba-tiba dari suatu gagasan yang sangat penting ke suatu gagasan yang sama sekali tidak penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks katabasis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adik-adikku di SMA, SMP, SD. (Hal. 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks batos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pagar dari besi adalah punya maknanya sendiri, di Ayah punya hati. (Hal. 2 Paragraf 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam cerpen tidak ditemukan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks dekrementum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Anastrof atau inversi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 1985 : 130).&lt;br /&gt;Inversi adalah gaya bahasa yang merupakan permutasi atau perubahan unsur-unsur konstruksi sintaksis (Ducrot and Todorov, 1981 :227). Dengan kata lain perubahan urutan SP (Subjek-Predikat) menjadi PS (Predikat-Subjek).&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas anastrof atau gaya bahasa berpola inversi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkit aku dari kursi sementara ketawa dan gurau meledak di sana-sini ( Hal. 5 Paragraf 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Apofasis atau Preterisio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apofasis atau preterisio adalah gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang untuk menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkalnya.&lt;br /&gt;Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas apofasis atau preterisio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling menentang apa saja yang kami setujui. Kadang-kadang tampak rewel dan selalu bertingkah. Tapi harus kuakui bahwa itu prasangka buruk kami saja. (Hal. 2 Paragraf 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami. Mungkin karena kami malas berpikir. (Hal. 2 Paragraf 2)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-3349309264721293778?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/3349309264721293778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_5123.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3349309264721293778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/3349309264721293778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_5123.html' title='Stilistika'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-8386990764103243672</id><published>2010-12-16T22:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:47:36.573-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Stilistika</title><content type='html'>NILAI ESTETIKA CERPEN DODOLITDODOLITDODOLIBRET&lt;br /&gt;KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA&lt;br /&gt;(TELAAH STILISTIK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan &lt;br /&gt;Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma bercerita tentang perjalanan seorang kiplik dalam mengajarkan cara berdoa yang benar kepada banyak orang yang ditemuinya. Berawal dari sebuah dongeng yang pernah didengarnya bahwa orang yang berdoa dengan benar akan mampu berjalan di atas air.&lt;br /&gt;Sepertinya dalam pemikiran kiplik terjadi suatu kebimbangan. Dalam bayangannya, seseorang yang telah mampu berdoa dengan benar maka kebesaran jiwalah yang dicapainya sehingga membebaskan tubuh seseorang itu dari keterikatan duniawi dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air. Namun, ia sendiri juga sadar bahwa betapapun bayangan-bayangan seperti itu benar dan masuk akal bukan berarti harus terwujud sebagai kenyataan dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri. &lt;br /&gt;Lalu iapun menyimpulkan bahwa dongeng itu hanyalah sebagai perlambang untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapapun yang berdoa dengan benar. &lt;br /&gt;Justru karena dongeng itu.kiplik memperdalam ilmu berdoa. Kepada siapapun yang ditemuinya. Kiplik selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Maksudnya secara benar bukan sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, ataupun perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar. &lt;br /&gt;Dalam membagi ilmunya (berdoa dengan benar) kepada banyak orang yang ditemuinya, kebahagiaan yang didapatkannya. Menurut hal itu merupakan suatu kekayaan tak ternilai. &lt;br /&gt;Tidak sedikit juga orang percaya dan merasakan kebenaran mendapat kiplik bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu. Siapapun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan. &lt;br /&gt;Akhirnya dengan berbagai ajarannya itu. Kiplik dikenalkan sebagai guru Kiplik. Perjalanannya dihiasi dengan beragam cerita. Salah satunya saat ia mengembara ke sebuah pulau kecil di tengah-tengah danau. Di pulau tersebut, hanya tinggal sembilan orang saja. Dengan penuh pengabdian, kasih sayang, dan kesabaran, kiplik mengajarkan ilmunya itu kepada mereka. &lt;br /&gt;Setelah dirasa berhasil mengajari mereka, kiplik meninggalkan pulau itu dan bertujuan meneruskan perjalanannya. Alangkah terkejutnya Kiplik ketika melihat penghuni pulau itu tak hanya bisa berjalan di atas air namun bisa berlarian di atas air. &lt;br /&gt;Jika memperhatikan sebutan guru yang ditujukan orang-orang kepada kiplik, dapat disimpulkan bahwa guru dalma pengertian secara harfiah adalah seseorang yang mengajarkan sesuatu (ilmu) kepada orang lain. Jadi, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Dalam hal ini kiplik dianggap banyak orang sebagai guru, padahal kiplik sendiri tidak merasa jika ia seorang guru. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Nilai artistik dalam karya sastra &lt;br /&gt;Nilai artistik adalah nilai seni dan nilai seni adalah nilai keindahan. Sebuah karya seni disebut indah jika karya seni tersebut menyajikan emosi dan dapat membangkitkan emosi sehingga menciptakan perasaan tertentu bagi penikmatnya (Atmazaki, 1990 : 89). &lt;br /&gt;Untuk mencermati dan menikmati keindahan karya seni (karya sastra) dapat dilakukan dengan mengenal ciri keindahan karya tersebut. Dalam karya sastra salah satu ciri keindahannya ditunjukkan dengan keahlian atau kepiawaian pengarang dalam meramu dan meracik bahasa yang biasa menjadi luar biasa.&lt;br /&gt;Teks sastra sebagai model yang dihadirkan kepada pembaca pastilah sudah berpotensi komunikatif. Pemilikan potensi tersebut ditandai dengan digunakannya lambang kebahagiaan didalamnya (Aminuddin, 1987 : 124)&lt;br /&gt;Lambang kebahagiaan dalam teks sastra sebagai sesuatu yang hadir lewat motivasi subjektif pengarang, pemaknaannya juga merujuk pada sesuatu yang lain di luar struktur yang ada pada teks itu sendiri. Pengarang kali pertama terikat oleh bahasa. Bahasa yang telah memiliki makna itulah yang diolahnya menjadi karya kreatif sehingga makna bahasa dalam teks sastra cenderung berbeda dengan makna di luar teks. Itulah sebabnya upaya pemahaman terhadap teks sastra juga cenderung beragam. &lt;br /&gt;Menelaah karya sastra untuk mengudar potensi artistiknya berarti mengkaji karya sastra dengan memberikan penekanan tertentu pada aspek kebahasaannya. Nilai artistik tersebut dalam sastra terlihat pada penggunaan bahasa itu sendiri (Teeuw, 1984 : 346).&lt;br /&gt;Dalam mengungkap nilai artistik bahasa suatu karya sastra, diperlukan kajian stilistika. Stilistika sebagai kajian yang menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagai kode estetik dengan kajian stilistik yang menyikapi bahasa dalam teks satra sebagaimana bahasa menjadi objek kajian linguistic (Aminuddin, 1995 : 22). &lt;br /&gt;Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan menikmati, memahami dan mengkhayati sistem tanda yang digunakan dalam karya sastra yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan pengarang. &lt;br /&gt;Turner dalam Sartuni (1992 : 24) menyebutkan ada tiga hal penting yang dapat diungkap dalam persoalan artistik bahasa sastra. Ketiga hal tersebut ialah pola gramatika kalimat, diksi atau pilihan kata, dan majas atau gaya bahasa. &lt;br /&gt;Pembicaraan pola gramatika kalimat akan diarahkan pada permasalahan apakah kalimat-kalimat yang dihadirkan pengarang dalam karya sastra tetap mengikuti kaidah penulisan kalimat yang berlaku. Pembahasan perihal diksi dan majas akan dilihat pada pemakaian pilihan kata ataupun gaya bahasa dalam cerpen ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pola gramatika kalimat &lt;br /&gt;Seorang pengarang memiliki dan menguasai banyak kata dalam mengungkapkan perasaan dan gagasan dalam bercerita. Kata-kata akan dapat ditata sedemikian rupa sehingga kalimat yang dimunculkan dapat berupa kalimat panjang ataupun kalimat pendek. Meskipun demikian jalinan kata atau kalimat yang panjang maupun pendek tersebut hendaknya tetap didasarkan atas struktur kalimat yang benar &lt;br /&gt;Secara umum kalimat yang terdapat dalam cerpen karya seni Gumira ini berupa kalimat panjang. Kalimat-kalimat pendek sedikit sekali ditampakkan pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Diksi &lt;br /&gt;Diksi atau pilihan kata sangat dipengaruhi oleh sikap pengarang, pokok permasalahan yang hendak disampaikan dan sasaran yang hendak dituju. Pilihan kata dipilih dengan seksama agar dapat menimbulkan efek tertentu bagi pembaca. Efek tertentu tersebut dapat menggugah simpati atau empati pembaca dan dapat menghilangkan kesan monoton pada cerita. &lt;br /&gt;Sudjiman (1993 : 22) berpendapat bahwa untuk mencapai efek tertentu, pengarang memberdayakan sarana leksikal, fonologis, maupun gramatikal. Pemanfaatan sarana tersebutlah yang akan dapat memicu pemahaman atas teks sastra. &lt;br /&gt;Berkait dengan penggunaan diksi dalam cerpen karya Seno Gumira ini lebih tertuju pada pilihan kata dalam bahasa Indonesia. Hal tersebut sepertinya oleh pengarang difoukuskan pada penggunaan dan pemilihan kata bahasa Indonesia karena pengarang tidak mendeskrispikan lingkungan dalam ceritanya misalnya seperti yang dikatakan Moeliono dan Pacera dalam (Sartuni 1992 : 13). Lingkungan yang dimaksud adalah tingkat sosial, daerah geografis, professi, dan yang lain. &lt;br /&gt;Dalam hal ini pengarang tidak secara gambling menyebutkan maupun mendeskripsikan sosok tokoh utama (kiplik), tidak mendeskripsikan status sosialnya, tingkatan sosialnya, daerah geografisnya maupun profesinya. Sehingga hal ini menimbulkan berbagai interpretasi dan segala pertanyaan dari benak pembaca, siapakah sosok kiplik yang sebenarnya. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sepertinya akan bermuara sendiri pada pembaca. &lt;br /&gt;Maksud dari penggunaan diksi bahasa Indonesia oleh pengarang sepertinya pengarang tidak ingin menunjukkan jati diri dari sosok kiplik sehingga pengarang cenderung menggunakan diksi bahasa Indonesia yang bersifat lebih me-nasional. Jikalau pengarang memunculkan sedikit diksi bahasa jawa dalam bagian-bagian kalimatnya, tentulah pembaca akan dengan mudah menebak siapa sosok kiplik yang sebenarnya. Dalam hal ini bisa dijawab bahwa kiplik adalah sosok manusia jawa.&lt;br /&gt;Pengarang yang secara sengaja tidak mendeskripsikan sosok tokoh utamanya, dengan sengaja menghadirkan nama tokoh utama saja tanpa diembel-embeli dengan deskripsi jati dirinya melalui diksi atau pilihan katanya. Jadi bisa dikatakan bahwa pengarang mengiluminasi atau tidak menampakkan sosok maupun karakter tokoh utama. &lt;br /&gt;Hal lain dalam diksi cerpen ini jika dicermati adalah pengarang hanya menghadirkan satu tokoh dalam ceritanya yaitu Kiplik. Pemilihan kata kiplik oleh pengarang cenderung pada nama orang zaman dulu dan dianggap sebagian besar orang adalah kesan nama yang bodoh dari seseorang. Namun dalam cerpen ini, secara tidak langsung kiplik dijadikan pengarang sebagai guru. &lt;br /&gt;Diksi lain juga terlihat pada kata “banyak orang”, “orang-orang”, dan “mereka’ dalam cerpen ini. Entah maksud apa yang hendak disampaikan pengarang dengan memunculkan kata-kata ini. Karena jika dilihat, kata-kata tersebut tidak dideskripsikan secara jelas siapa dari “banyak orang”, “orang-orang”, ataupun “mereka”. Pengarang cenderung tidak menjelaskan pilihan kata tersebut. Pengarang lebih memfokuskan pada tokoh kiplik sehingga cerpen ini terkesan hanya menghadirkan satu tokoh yakni kiplik. &lt;br /&gt;Pilihan kata lain yang bisa ditemui dalam cerpen ini yakni penggunaan dan pilihan kata “pun”. Pun yang berarti juga. Hampir di setiap bagian-bagian ceritanya, bahkan di beberapa paragraph terdapat penggunaan kata “pun”. Misalnya bagaimanapun, betapapun siapapun, apapun, ada pun, ia pun, mereka pun. Penggunaan dan pemilihan kata tersebut secara berulang-ulang dimunculkan menimbulkan kebosanan dalam membacanya. &lt;br /&gt;Jika dicermati, terdapat penggunaan dan pemilihan kata “daku” pada bagian ceritanya. Berikut kutipannya : &lt;br /&gt;“Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan” katanya. &lt;br /&gt;Kata daku merupakan kata ganti nama yang dikenal sebagai bentuk kata yang tugasnya menjadi pengganti nama. Kata ganti daku termasuk dalam kata ganti diri. &lt;br /&gt;Kata ganti diri merupakan kata ganti yang banyak larangan ketika menggunakannya. Larangan ini memandu kita dalam memilih kata ganti diri secara tepat. Karena ketidaktepatan penggunaan kata ganti diri ini bukan saja menyalahi hukuman tata bahasa, bahkan menyalahi norma-norma kesantunan bahasa pula. Dalam aturannya, kata daku hanya boleh digunakan sesudah kata yang diakhiri huruf konsonan “n”. jika kata sebelum daku bukan huruf  “n” sebaiknya menggunakan kata aku. Jadi dalam kalimat tersebut, penggunaan kata daku kurang tepat. &lt;br /&gt;Penggunaan dan pemilihan kata “tiada” dalam bagian cerita. Berikut kutipannya : &lt;br /&gt;“….sehingga penghuninya tiada perlu berlayar kemanapun jua agar dapat hidup.”&lt;br /&gt;Kata tiada berarti tidak ada. Jadi diksi tiada dalam kalimat tersebut penggunaannya kurang tepat karena jika kata tiada disatukan dalam satu kalimat, maka pengertiannya akan menjadi rancu. &lt;br /&gt;Penggunaan dan pilihan kata yang lain tampak juga pada judul cerpen yakni kata “dodolitdodolitdodolibret”. Jika telah membaca isi cerita dari cerpen ini, maka judul cerpen tersebut sangat tidak menggambarkan isi cerita. Judul dengan isi cerita begitu kontras dan tidak ada sangkut paut. Namun pengarang tetap menggunakannya. Padahal judul sebuah karya sastra diharapkan oleh pembaca mampu menggambarkan isi cerita secara keseluruhan. Maksud dari pengarang menggunakan pilihan kata tersebut untuk judul sepertinya ingin menimbulkan kesan yang berbeda dengan karya-karya sastra yang telah ada sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Majas &lt;br /&gt;Majas digunakan dalam karya sastra bertujuan untuk menghidupkan karangan agar tidak muncul kebosanan, menghilangkan kesan monoton, dan memunculkan variasi bahasa. Makna majas diperoleh dengan cara mengalihkan denotasi kata dan menautkan pikiran dengan yang lain. &lt;br /&gt;Majas atau gaya bahasa yang digunakan oleh sastrawan, meskipun tidak terlalu luas biasa namun unik. Karena selain dekat dengan watak dan jiwa sastrawan, juga membuat bahasa yang digunakan berbeda dalam makna dan kemesraannya. Jadi gaya lebih merupakan pembawaan pribadi. Dengan gaya bahasa tersebut, sastrawan hendak memberi merupakan pembawaan pribadi. Dengan gaya bahasa tersebut, sastrawan hendak memberi bentuk terhadap apa yang ingin didpaparkannya. &lt;br /&gt;Majas yang tampak apda cerpen ini yakni majas metafora. Majas metofara adalah majas yang mengandung perbandingan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna diantaranya (Sudjiman, 1993 : 29). Metafora juga dapat berupa analogi yang membandingkan dua hal secara langsung tetapi dengan bentuk singkat. Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan majas metafora.&lt;br /&gt;“….seperti lautan saja layaknya, sehingga guru kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Danau seluas lautan”, pikirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;F. Penutup &lt;br /&gt;Nilai artistik cerpen dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma ini ditunjukkan oleh tiga hal yakni struktur gramatika kalimatnya, pilihan kata atau diksinya, serta penggunaan majasnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-8386990764103243672?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/8386990764103243672/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_16.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/8386990764103243672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/8386990764103243672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika_16.html' title='Stilistika'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1108101736113747858</id><published>2010-12-16T22:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:46:16.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Stilistika'/><title type='text'>Stilistika</title><content type='html'>Analisis gaya bahasa atau majas pada cerpen &lt;br /&gt;dodolitdodolitdodolitbret&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen dodolitdodolitdodolitbret karya seno gumira A. judul yang ada tidak sesuai dengan isi dari cerpen sehingga sang penggarang menggunakan anak judul, disamping itu juga dalam cerpen ini banyak terdapat penggunaan majas atau gaya bahasa.&lt;br /&gt;Ada pun majas atau gaya bahasa yang ada dalam cerpen ini antara lain :&lt;br /&gt;1. Majas Apofasis adalah majas yang berupa penegasan tetapi justru menyangkalnya. Dalam cerpen ini yang merupakan majas tersebut adalah,&lt;br /&gt;“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.&lt;br /&gt;“Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.”&lt;br /&gt;“betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan”&lt;br /&gt;“Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.”&lt;br /&gt;“Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Majas Hiperbola adalah majas yang mengungkapkan sesuatu hal secara berlebih-lebihan dari apa yang dimaksudkan, yang termasuk majas hiperbola dalam cerpen ini adalah,&lt;br /&gt;“Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.”&lt;br /&gt;“Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.”&lt;br /&gt;”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”&lt;br /&gt;“Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa”&lt;br /&gt;“Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Majas Pleonasme adalah majas yang memakai kata-kata yang lebih banyak dari gagasan ytang diperlukan. Misalnya dalam cerpen ini adalah sebagai berikut,&lt;br /&gt;“pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Majas Aliterasi adalah majas yang berwujud perulangan konsonan yang sama pada awal kata, dalam cerpen ini yang temasuk dalam majas ini adalah,&lt;br /&gt;“ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Majas Anabasis(Klimaks) adalah majas yang terbentuk dari beberapa gagasan yang berturut-turut semakin meningkat kepentingannya. Majas ini terdapat dalam kalimat berikut,&lt;br /&gt;“semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Majas Epitet ialah majas yang mengandung acuan untuk menyatakan suatu ciri khas dari seseorang atau suatu hal. Dalam cerpen ini yang termasuk dalam majas ini adalah&lt;br /&gt;“Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Majas Metafora ialah majas yang membandingkan dua hal yang secara langgsung dalam bentuk singkat. Adapun kalimat yang ada dalam derpen tersebut adalah,&lt;br /&gt;“dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,”&lt;br /&gt;“Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Majas Simile/Perumpamaan adalah majas yang membandingkan secara eksplisit dengan memmakai kata bandingan. &lt;br /&gt;“karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Majas Eupizeukis adalah majas yang yang berwujud pwngulangan langsung dari kata yang dipentngkan.&lt;br /&gt;“yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1108101736113747858?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1108101736113747858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1108101736113747858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1108101736113747858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/stilistika.html' title='Stilistika'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-1261635647776075137</id><published>2010-12-16T22:44:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:44:25.267-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teori Sastra'/><title type='text'>Psikologi Sastra</title><content type='html'>SIKAP PENGORBANAN TERHADAP CINTA OLEH TOKOH SI GADIS TERHADAP TOKOH LELAKI PADA CERPEN BUKIT-BUKIT BAGAI GAJAH PUTIH KARYA ERNEST HEMINGWAY&lt;br /&gt;(PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sinopsis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari sebuah meja yang berada di sebuah bar. Seseorang lelaki Amerika dan seorang gadis duduk di sana. Bar yang letaknya masih dalam kawasan stasiun itu merupakan tempat persinggahan para penumpang untuk menunggu kereta selanjutnya. Bar yang dihiasi tirai yang terbuat dari jalinan manik-manik bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan dari seberang bar adalah sebuah perbukitan. Perbukitan yang menurut si gadis tampak seperti gajah-gajah putih. Suasana hangat, sedikit disertai emosi, serta segala suasana hati tampak dalam perbincangan si gadisdan lelaki itu. Sebuah minuman bir jenis apapun telah mereka nikmati. Seseorang wanita yang merupakan pelayan di bar itu hadir dalam perbincangan mereka. Pelayan itu menghadirkan bir pesanan di sela perbincangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam percakapan antara si gadis dan lelaki tampak bahwa mereka sepertinya mengalami sesuatu hal dalam hubungan cinta mereka. Rasa resah dan gelisah tampak pada si gadis dan lelaki itu meski keduanya menutupi segala suasana hati yang berkecamuk dalam dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada si gadis tampak benar bahwa ia begitu pasrah terhadap apa yang akan menjadi keputusan atau jaln hidupnya. Sadangkan si lelaki sepertinya enggan membuat kesedian pada diri si gadis namun si lelaki ini masih saja diliputi sedikit keegoisan pada dirinya yakni dengan sedidit mempengaruhi jalan pikiran si gadis dalam mengambil keputusa yang akan diambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Interpretasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen bukit-bukit bagai gajah putih karya Ernest Hemingway ini begitu menampakkan bahasa-bahasa yang indah dalam mendeskripsikan pemandangan alami yang disuguhkan oleh alam antara lain sebuah pohon yang membuat teduh suatu persinggahan, pancaran sinar matahari yang mampu menghasilkan bayangan-bayangan gedung, perbukitan yang putih diantara pepohonan, garis perbukitan, dataran yang tampak cokelat dan kering, hembusan angin hangat, hamparan ladang gandum, pegunungan di seberang sungai, dan bayangan awan yang bergerak.&lt;br /&gt;Jika telah membaca dari awal sampai akhir cerpen ini, tafsiran yang muncul salah satunya adalah bahwa si gadis dan si lelaki Amrrika merupakan pasangan kekasih yang sepertinya hubungan mereka telah berangsur lama. Hal itu bisa dilihat dalam salah satu kutipan dalam cerpen tersebut yang menyebutkan bahwa terdapatnya stiker-stiker dari berbagai hotel tempat mereka menginap yang tertempel pada tas-tas mereka. Sepertinya hubungan mereka begitu intim layaknya seperti sepasang suami istri.&lt;br /&gt;Bar yang menjadi awal pebincangan keduanya sepertinya menjadi saksi bisu atas segala permasalahan yang terjadi dalam hubungan mereka. Tampaknya, si lelaki Amerika tersebut berusaha menenangkan si gadis yang seolah-olah si gadis adalah pusat yang dirugikan dalam permasalahan kisah cinta mereka. Si leleki tampak sedikit memepengaruhi dan sedikit memeberikan anjuran kepada si gadis dalam mengambil suatu keputusan.&lt;br /&gt;Jika ditafsirkan lebih dalam lagi, si gadis sepertinya sedang berbadan dua (hamil) akibat hubungan percintaan yang telalu intim dengan si lelaki tersebut. Si lelaki tampaknya sedikit mempengaruhi si gadis untuk menggugurkan kandungannya. Hal itu tampak pada “operasi yang aman-sederhana” dengan cara memberi beberapa jenis bir dalam sebuah bar dalam kawasan stasiun kepada si gadis. Dengan sedikit demi sedikit meminum beberapa jenis bir, maka berharap kandungan si gadis akan mengalami keguguran.&lt;br /&gt;“Operasi yang aman-sederhana” tampaknya tidak hanya melalui berbagai jenis bir tetapi si leleki menyarankan si gadis untuk menggugurkan kandungannya melalui jalan aborsi kepada salah satu dari sekian banyak ahli aborsi yang dikenal oleh si lelaki tersebut.&lt;br /&gt;Si lelaki begitu menginginkan pengguguran kandungan tersebut karena ia berfikir bahwa dengan adanya kehadiran seorang bayi ditengah-tengah mereka, maka itu hanya akan mengganggu mereka dan menurut si lelaki bahwa hal itu tak akan membuat mereka bahagia.&lt;br /&gt;Sepertinya keragu-raguan tampak dalam diri si gadis, sepertinya ia maju mundur dalam mengambil keputusan atau solusi yang ditawarkan oleh kekasihnya itu.&lt;br /&gt;Namun si lelaki mengungkapkan secara gamblang bahwa dirinya tidak ingin memaksakan hal itu jika si gadis tidak ingin melakukannya. Si lelaki tak akan menyuruh jika si gadis menolak hal itu. Namun si lelaki berdalih bahwa menggugurkan kandungan itu merupakan jalan terbaik yang saat ini harus mereka lakukan hal itu. Akhirnya si gadis memutuskan untuk menggugurkan kandungannya mengingat ia begitu mencintai kekasihnya itu dan ia beranggapan bahwa jika ia melakukan apa yang disarankan oleh orang yang dicintainya, maka ia akan merasa sangat bahagia. Dan hal itu ia lakukan semata-mata bentuk cintanya kepada kekasihnya. Bahkan ia tak memperdulikan dirinya sendiri. Hal itu merupakan suatu bentuk pengorbanan cinta atas pilihan yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sikap Pengorbanan Cinta Oleh Tokoh Si Gadis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membahas dan menganalisis cerpen Bukit-Bukit Bagai Gajah Putih karya Ernest Hemingway yang memfokuskan pada sikap pengorbanan cinta yang ditunjukkan oleh tokoh si gadis adalah dengan menggunakan pendekatan psikologi sastra.&lt;br /&gt;Menurut Harjana (1991 : 60), pendekatan psikologi sastra dapat diartikan sebagai suatu cara analisis berdasarkan sudut pandang psikologi dan bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas tentang peristiwa kehidupan manusia yang merupakan pancaran dalam mengkhayati dan mensikapi kehidupan. Disini fungsi psikologi itu sendiri adalah melakukan penjelajahan ke dalam batin jiwa yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh yang terdapat dalam karya sastra dan untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk tindakan manusia dan responnya terhadap tindakan lainnya. &lt;br /&gt;Penelitian psikologi sastra memfokuskan pada aspek-aspek kejiwaan. Artinya, dengan memusatkan perhatian pada tokoh-tokoh penelitian dapat mengungkap gejala-gejala psikologis tokoh baik yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan pengarang (Ratna, 2004 : 350).&lt;br /&gt;Untuk membahas mengenai sikap pengorbanan cinta yang ditunjukkan oleh tokoh si gadis adalah dengan menggunakan pendekatan psikologi kepribadian. Teori psikologi kepribadian menurut Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Gordon Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.&lt;br /&gt;Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama.&lt;br /&gt;Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego, dan Superego. Dan tingkah laku  menurut Freud tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian tersebut.&lt;br /&gt;Menurut E. Koswara, dari sebagian besar teori kepribadian di atas dapat diambil kesamaan antara lain :&lt;br /&gt;1. Sebagian besar batasan melukiskaan kepribadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita&lt;br /&gt;2. Sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah “kepribadian”, keunikan dari setiap individu ternyatakan. Dan melalui studi tenteng kepribadian, sifat-sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami.para teoris kepribadian memendang kepribadian sebagai sesuatu yang unik atau khas pada diri setiap orang&lt;br /&gt;3. Sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut “sejarah hidup”, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut teoris kepribadian merepresentasiakn proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup faktor-faktor genetik atau biologis, pengalaman-pengalaman sosial, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh fakto-faktor bawaan dan lingkungan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelisik dari  penjelasan-penjelasan beberapa pakar di atas, sikap si gadis dalam cerpen ini merupakan cerminan dari kepribadiannya. Dengan kata lain, kepribadian si gadis menentukan sikap yang akan ia ambil atau yang akan ia lakukan. Sikap atau tingkah laku si gadis merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi dari ketiga struktur yang seperti dikemukakan oleh Freud yang meliputi Id, Ego, dan Superego.&lt;br /&gt;Menurut simpulan dari teori-teri beberapa pakar yang dikemukakan oleh E. Koswara, tingkah laku atau sikap si gadis dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi atau diintegrasikan oleh kepribadian si gadis itu sendiri. Atau dengan kata lain, kepribadian dipanndang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku atau sikap.&lt;br /&gt;Dilihat dari kepribadian tokoh si gadis, bahwa kepribadian dalam diri si gadis adalah kepribadian yang tulus dan penuh kasih sayang. Kepribadiannya yang tulus dan penuh kasih sayang ini mengarahkan pada sikap atau tingkah laku yang akan dilakukannya. Sikap yang akhirnya diambil oleh si gadis akibat dari kepribadiannya yang tulus dan penuh kasih sayang ituadalah sikap pengorbanan dalam hubungan cintanya dengan si lelaki itu. Sikap pengorbanan si gadis tersebut tampak dalam beberapa kutipan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kau benar-benar ingin aku melakukannya?” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalau aku melakukannya, kau akan bahagia dan segalanya akan seperti sebelumnya dan kau akan mencintaiku?” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu. Tetapi kalau aku melakukannya, maka apakah akan menyenangkan kalau kukatakan sesuatu itu seperti gajah putih dan kau akan menyukainya?” (Hal. 149)&lt;br /&gt;“Seandainya aku melakukannya, apakah kau tak akan pernah gelisah?” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, akan kulakukan. Karena aku tak peduli pada diriku.” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak peduli pada diriku sendiri.” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya. Tetapi aku tak peduli pada diriku sendiri. Dan aku akan melakukannya dan semuanya akan baik-baik saja.” (Hal. 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan melakukan apa pun untukmu.” (Hal. 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum pada si wanita untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. (Hal. 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum padanya. (Hal. 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik-baik saja, kata si gadis. Tak ada apa-apa denganku. Aku baik-baik saja.” (Hal.151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa kutipan di atas yang menunjukkan sikap pengorbanan terhadap cinta oleh tokoh si gadis merupakan akibat dari kepribadiannya yang tulus dan penuh kasih sayang terhadap orang yang dicintainya. Si gadis rela melakukan apa pun demi kebahagiaan si lelaki tersebut. Si gadis rela melakukannya hanya demi mengharap cinta tulus dari si lelaki itu. Si gadis rela melakukannya hanya demi menghilangkan segala kegelisahan pada diri lelaki itu. Si gadis rela melakukannya karena ia lebih memeperdulikan lelaki itu daripada memperdulikan dirinya sendiri. Dan si gadis begitu baik dalam menutupi segala kepiluan hatinya dihadapan orang yang iacintai yakni si lelaki dengan cara mengatakan bahwa ia dalam keadaan baik-baik saja.&lt;br /&gt;Sikap lain yang muncul dalam diri si gadis akibat dari kepribadiannya yang tulus dan penuh kasih sayang adalah sebuah senyuman yang ia munculkan ketika bertatap muka dengan si pelayan bar. Senyuman itu merupakan bentuk rasa terima kasihnya terhadap pelayan itu yang telah melayaninya. Berarti sikap penuh kasih sayang pada diri si gadis tidak hanya ia munculkan pada orang yang ia sayangi saja melainkan juga pada orang yang sekalipun belum ia kenal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-1261635647776075137?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/1261635647776075137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/psikologi-sastra_16.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1261635647776075137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/1261635647776075137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/psikologi-sastra_16.html' title='Psikologi Sastra'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-5826128637854746524</id><published>2010-12-16T22:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:43:04.522-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>Penulisan Surat Dinas</title><content type='html'>PENULISAN SURAT DINAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Surat Dinas&lt;br /&gt;Surat adalah suatu komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan informasi tertulis oleh suatu pihak ke pihak lain. Surat merupakan lembaran kertas yang ditulis atas nama pribadi penulis atau atas nama kedudukannya dalam organisasi untuk berbagai kepentingan (Yhuandazt1627.blogspot.com/2009/06/…). Selain itu menurut Yunus dan Suparno (2007:6.6) surat adalah salah satu alat komunikasi tertulis untuk menyampaikan suatu pesan dari seseorang, suatu pihak, atau suatu organisasi/instansi kepada orang, pihak atau organisasi/instansi lain. Surat juga merupakan salah satu sarana komunikasi yang sangat akrab dengan kehidupan kita, karena hampir semua orang pernah membuat surat. Salah satu surat tersebut adalah surat dinas,&lt;br /&gt;Menurut Yunus dan Suparno (2007:6.6) surat dinas adalah surat yang menyangkut kepentingan tugas atau dinas. Surat dinas ditulis untuk keperluan komunikasi antara kantor yang satu dengan kantor yang lain. Surat dinas juga dibuat oleh seseorang yang berkedudukan sebagai pejabat instansi pemerintah.&lt;br /&gt;2. Jenis Surat Dinas&lt;br /&gt;Menurut Yunus dan Suparno (2007:6.47-6.56) jenis surat dinas adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;a. Nota Dinas&lt;br /&gt;Nota dinas adalah surat yang dibuat oleh atasan kepada bawahan atau oleh bawahan kepada atasan atau yang setingkat, yang berisi catatan singkat tentang pokok persoalan kedinasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Memo&lt;br /&gt;Memo adalah catatan singkat yang diketik atau ditulis tangan oleh atasan kepada bawahan tentang pokok persoalan kedinasan.&lt;br /&gt;c. Surat Pengantar&lt;br /&gt;Surat pengantar adalah surat yang ditujukan kepada seseorang atau pejabat yang berisi penjelasan singkat tentang surat, dokumen, barang, atau bahan lain yang dikirim.&lt;br /&gt;d. Surat Edaran&lt;br /&gt;Surat edaran adalah surat yang berisi penjelasan atau petunjuk tentang cara pelaksanaan suatu peraturan perundang-undangan dan/atau perintah yang telah ada.&lt;br /&gt;e. Surat Tugas&lt;br /&gt;Surat tugas adalah surat yang berisi penugasan darin pejabat yang berwenang kepada satu orang atau lebih untuk melaksanakan suatu kegiatan tertentu.&lt;br /&gt;f. Surat Kuasa&lt;br /&gt;Surat kuasa adalah surat yang berisi kelimpahan kewenangan dari pemberi kuasa kepada penerima kuasa untuk bertindak atau melakukan suatu kegiatan atas nama pemberi kuasa.&lt;br /&gt;g. Surat Pengumuman&lt;br /&gt;Surat pengumuman adalah surat yang berisi pemberitahuan mengenai sesuatu hal yang ditujukan kepada para pegawai atau masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Surat Pernyataan&lt;br /&gt;Surat pernyataan adalah surat yang menyatakan kebenaran sesuatu hal disertai dengan pertanggungjawaban atas pernyataan tersebut.&lt;br /&gt;3. Bagian Surat Dinas&lt;br /&gt;Salah satu hal yang sangat khas, yang membedakan surat dari bentuk karangan lainnya adalah bagian-bagian surat yang disusun dalam posisi tertentu sesuai dengan bentuk surat yang digunakan. Masing-masing bagian memiliki fungsi. Jumlah bagian berbeda-beda, bergantung jenisnya. Pada surat dinas, bagian-bagiannya biasanya relatif lebih lengkap dan seragam. Menurut Yunus dan Suparno (2007:6.28-6.46) bagian surat dinas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Kepala Surat&lt;br /&gt;Kepala surat memiliki bagian-bagian yang terdiri atas:&lt;br /&gt;1) logo atau lambang instansi organisasi atau perusahaan,&lt;br /&gt;2) nama kantor instansi organisasi perusahaan,&lt;br /&gt;3) alamat kantor,&lt;br /&gt;4) nomor kotak pos (PoBox) dan kode pos, dan&lt;br /&gt;5) nomor telepon dan faksimile (bila ada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nomor Surat&lt;br /&gt;Surat dinas mencantumkan nomor dan kode surat. Setiap instansi atau organisasi biasanya memiliki penomoran atau pengkodean surat yang tidak selalu sama. Nomor surat ini merupakan identitas surat  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Tanggal, Bulan, dan Tahun Surat&lt;br /&gt;Tanggal, bulan, dan tahun surat harus dicantumkan untuk:&lt;br /&gt;1. memberi tahu penerima kapan surat itu dikirim,&lt;br /&gt;2. memudahkan pelacakan kalau terjadi keterlambatan respons dari penerima surat,&lt;br /&gt;3. memudahkan pengarsipan, dan&lt;br /&gt;4. menjadi acuan dalam merespons atau meninjaklanjuti surat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lampiran&lt;br /&gt;Lampiran adalah sesuatu yang melengkapi sebuah surat, misalnya jadwal, makalah, brosur, biodata, atau dokumen lainnya. Penulisan lampiran memungkinkan penerima surat mengetahui sejak awal adanya sesuatu yang disertakan bersama surat itu.&lt;br /&gt;e. Perihal atau Hal&lt;br /&gt;Perihal atau hal mencantumkan pokok atau inti persoalan yang akan disampaikan dalam sebuah surat dinas. Bagian ini memudahkan penerima surat mengetahui dengan segera sesuatu yang dibicarakan dalam surat itu.&lt;br /&gt;f. Alamat (dalam) Surat&lt;br /&gt;Alamat bagian dalm surat digunakan sebagai petunjuk langsung orang yang harus menerima surat. Alamat yang dituju ini sebenarnya tertulis pula dalam sampul surat.&lt;br /&gt;g. Salam Pembuka&lt;br /&gt;Pencantuman salam pembuka seperti halnya salam penutup, tidaklah wajib. Banyak instansi pemerintah yang tidak menggunakannya dalam surat dinas mereka. Tetapi pada surat resmi yang berasal dari perseorangan, kelompok, atau organisasi niaga dan kemasyarakatan, surat biasanya diawali dengan surat pembuka. Salam pembuka merupakan sapaan hormat penulis surat sebelum mengemukakan persoalannya.&lt;br /&gt;h. Isi Surat (Tubuh Surat)&lt;br /&gt;Isi Surat atau tubuh surat merupakan bagian surat yang dipergunakan untuk menyatakan persoalan dalam surat tersebut. Penyampaian pesan yang ingin dikemukakan penulis surat ditentukan oleh kejelasan bagian ini.&lt;br /&gt;i. Salam Penutup&lt;br /&gt;Seperti halnya salam pembuka, pemakaian salam penutup juga sifatnya tidak wajib. Banyak surat dinas pemerintah yang tidak menggunakannya. Tetapi, surat resmi yang berasal dari perorangan atau organisasi kemasyarakatan dan usaha kebanyakan memakainya.&lt;br /&gt;j. Jabatan, Tanda Tangan, Cap, Nama Terang, dan NIP bagi Surat Resmi Pemerintah&lt;br /&gt;Sebuah surat resmi atau dinas dianggap sah jika ditanda-tangani oleh orang yang namanya tercantum sebagai pengirim surat. Pencantuman nama itu karena orang tersebut berwenang melakukannya  dan mendapatkan dedikasi wewenang dari atasannya.&lt;br /&gt;k. Tembusan &lt;br /&gt;Tembusan kadang-kadang juga dituliskan tindasan, c.c. ‘carbon copy’, atau BBC (blind carbon copy) tembusan buta (hanya dipakai untuk keperluan khusus dan bersifat rahasia). Bagian surat ini menunjukkan adanya orang atau pihak lain yang menerima surat itu. Jadi, tembusan itu dicantumkan jika ada orang atau pihak lain yang perlu mengetahui isi surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;l. Inisial&lt;br /&gt;Dalam surat dinas atau niaga, pada bagian surat yang paling bawah (setelah posisi tembusan) terdapat inisial. Inisial adalah kode pengenal yang berupa singkatan nama pengonsep dan atau pengetik surat.  &lt;br /&gt;4. Kegunaan Bagian-bagian Surat&lt;br /&gt;a. Kepala Surat&lt;br /&gt;Kepala surat memudahkan penerima surat mengetahui secara tepat nama dan alamat kantor instansi organisasi dan nama perusahaan yang mengirim surat.&lt;br /&gt;b. Nomor Surat&lt;br /&gt;Nomor surat merupakan identitas surat tersebut. Bagi pengirim, nomor surat berguna untuk memudahkan:&lt;br /&gt;1. pengaturan penyimpanan atau pengarsipan surat keluar;&lt;br /&gt;2. pencarian surat itu kembali;&lt;br /&gt;3. pelacakan jumlah surat keluar.&lt;br /&gt;Bagi penerima, nomor surat dapat berfungsi di antaranya sebagai acuan dalam merespons surat atau hal-hal lain yang berkaitan dengan isi surat tersebut.&lt;br /&gt;c. Tanggal, Bulan, dan Tahun Surat&lt;br /&gt;Tanggal, bulan, dan tahun pengiriman surat berfungsi untuk;&lt;br /&gt;1. memberi tahu penerima kapan surat itu dikirim;&lt;br /&gt;2. memudahkan pelacakan kalau terjadi keterlambatan respons dari penerima surat;&lt;br /&gt;3. memudahkan pengarsipan;&lt;br /&gt;4. menjadi acuan dalam merespons atau menindak lanjuti surat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Lampiran&lt;br /&gt;Penulisan lampiran memungkinkan penerima surat mengetahui sejak awal adanya sesuatu yang disertakan bersama surat itu.&lt;br /&gt;e. Perihal atau Hal&lt;br /&gt;Perihal atau hal memudahkan penerima surat mengetahui dengan segera sesuatu yang dibicarakan dalam surat itu.&lt;br /&gt;f. Alamat (dalam) Surat&lt;br /&gt;Alamat bagian dalam surat digunakan sebagai petunjuk langsung orang yang harus menerima surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cara Penulisan Surat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;a. Kepala Surat&lt;br /&gt;Dalam kepala surat cantumkan logo atau lambang instansi, nama kantor instansi, alamat kantor, nomor kotak pos, kode pos, nomor telepon dan faksimile.&lt;br /&gt;b. Nomor Surat&lt;br /&gt;Tulislah Nomor atau No. didikuti tanda titik dua, garis miring (/) yang digunakan dalam nomor dan kode surat tidak didahului dan diikuti oleh spasi. Setelah angka tahun, tidak diikuti oleh tanda baca apapun.&lt;br /&gt;c. Tanggal, Bulan, dan Tahun Surat&lt;br /&gt;Tulis tanggal, bulan, dan tahun surat ditulis secara lengkap tanpa menyingkatnya, tanggal surat tidak didahului dengan nama kota pengirim, pada akhir tanggal, bulan, dan tahun surat, tidak diikuti tanda baca apapun.&lt;br /&gt;d. Lampiran&lt;br /&gt;Cantumkan penyebutan adanya lampiran pada notasi lampiran dan isi surat. Kata Lampiran atau Lamp. diikuti oleh titik dua, pada akhir lampiran tidak perlu dituliskan tanda baca apapun. Jika tidak ada yang dilampirkan, tulisan Lampiran atau Lamp. tidak perlu dicantumkan.&lt;br /&gt;e.  Perihal atau Hal&lt;br /&gt;Tulis pokok atau isi surat secara singkat dan jelas. Kata Hal atau Perihal diikuti tanda baca titik dua. Huruf awal kata pertama isi hal ditulis dengan huruf kapital, sedangkan lainnya ditulis dengan huruf kecil.&lt;br /&gt;f. Alamat (dalam) Surat&lt;br /&gt;Tulislah alamat surat tanpa diawali dengan kata kepada, cukup dituliskan Yth. atau Yang terhormat. Tulis alamat yang umum saja. Alamat surat tidak diikuti oleh tanda baca apapun.&lt;br /&gt;g. Salam Pembuka&lt;br /&gt;Ungkapkan yang biasa digunakan untuk salam pembuka seperti &lt;br /&gt;Dengan hormat, &lt;br /&gt;Salam sejahtera, atau &lt;br /&gt;Salam pramuka.&lt;br /&gt;h. Isi Surat&lt;br /&gt;Bagi isi surat dalam tiga bagian, yaitu bagian pembuka, bagian isi, dan bagian penutup. &lt;br /&gt;i. Salam Penutup&lt;br /&gt;Tempatkan salam penutup setelah isi surat dan diikuti oleh tanda baca koma. Kata-kata yang biasa digunakan untuk salam penutup di antaranya:&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Salam takzim,&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;j. Jabatan, Tanda Tangan, Cap, Nama Terang, dan NIP bagi Surat Resmi Pemerintah&lt;br /&gt;Urutkan nama kelompok atau organisasi (kalau ada), tanda tangan, nama terang, dan jabatan (kalau ada) setelah salam penutup. Kalau tidak menggunakan salam penutup, unsur-unsurnya diurutkan menjadi nama jabatan, tanda tangan, cap, nama terang, dan NIP. &lt;br /&gt;k. Tembusan &lt;br /&gt;Tempatkan kata tembusan di kaki surat sebelah kiri, lurus dengan nomor, lampiran, dan hal surat, serta sejajar dengan nama penandatanganan surat. Kata tersebut diikuti titik dua dan tidak digarisbawahi. Pemakaian kata Yth., Kepada Yth, dikirimkan atau disampaikan kepada yang terletak di belakang kata tembusan tidak diperlukan. Penggunaan kata arsip atau pertinggal pada bagian akhir tembusan tidak diperlukan. Menggunakan nomor urut bila yang ditembusi surat lebih dari satu.&lt;br /&gt;l. Inisial&lt;br /&gt;Tulislah inisial dibagian surat yang paling bawah setelah posisi tembusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Surat Dinas&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunus, Muhammad dan Suparno. 2007.  Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Universitas Terbuka.&lt;br /&gt;Yhuandazt1627.blogspot.com/2009/06/. Diakses tanggal 16 April 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8250794637577756959-5826128637854746524?l=umanrejoss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://umanrejoss.blogspot.com/feeds/5826128637854746524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penulisan-surat-dinas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/5826128637854746524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8250794637577756959/posts/default/5826128637854746524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://umanrejoss.blogspot.com/2010/12/penulisan-surat-dinas.html' title='Penulisan Surat Dinas'/><author><name>Uman Rejo, S.S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15209202624219950179</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/-9gksnYrWE1c/TWYnYP9APsI/AAAAAAAAACo/MQkQknoiiFE/s220/index.jpeg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8250794637577756959.post-3936204426637290151</id><published>2010-12-16T22:41:00.000-08:00</published><updated>2010-12-16T22:41:49.614-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pembelajaran'/><title type='text'>Upaya Peningkatan Guru Profesionalisme Guru di MTs</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;        Perkembangan ilmu dan pengetahuan yang sangat cepat selalu mewarnai kehidupan manusia, harus  di akui bahwa guru merupakan faktor utama dalam proses pendidikan, walaupun fasilitas pendidikannya lengkap dan canggih namun bila tidak di tunjang oleh keberadaan guru yang professional atau berkualitas, maka mustahil akan menimbulkan proses belajar mengajar yang maksimal, di sinilah pekerjaan rumah yang besar di Indonesia. &lt;br /&gt;         Saat ini guru dikenal sebagai profesi  yang sederhana karena sederhananya sampai-sampai Iwan fals seorang musisi tersohor di negeri ini pernah membuat lagu tentang Umar bakri dengan tipikal sepeda bututnya. Pemerintah pun tak mau kalah guru di beri gelar “pahlawan tanpa tanda jasa” yang sekarang justru menjadi   “pahlawan kurang di balas jasa”, kalau kita mendengar kata professionalisme konotasinya selalu saja dengan dunia bisnis dan usaha, dunia pendidikan seakan- akan bukan profesi yang harus di bina di tingkatkan apalagi untuk di danai dengan biaya yang besar atau proporsional.   &lt;br /&gt;          Sementara itu kadang-kadang dalam di guru sendiri masih banyak masalah- masalah yang harus di benahi atau di selesaikan oleh guru, misalnya saja niatan untuk menjadi guru kadang merupakan terminal (pilihan) terakhir setelah mencari pekerjaan yang lainnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan. &lt;br /&gt;Sosok guru selalu saja menderita padahal kita tahu  bahwa cek jutaan rupiah sudah berhamburan di gedung wakil rakyat dengan menjual komoditas profesi guru  pada saat kampanye, namun setelah mereka duduk-duduk menjadi orang-orang besar seolah-olah mereka melupakan jasa guru oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan nasional dan departemen agama, sebagai pengkoordinasi pendidikan di seluruh nusantara seyogyanya memandang dengan kacamata realitas, bahwa negara ini akan maju saat bangsanya berpendidikan layak. &lt;br /&gt;Jelaslah bahwa untuk melahirkan guru yang professional bukanlah pekerjaan yang mudah lanyaknya membalikkan telapak  tangan apalagi bila tidak di dukung oleh kondisi yang kondusif  (tingkat kesejahteraan yang memadai dan mekanisme kontrol yang efektif) maka mustahil akan menghasilkan guru yang profesional.  &lt;br /&gt;Oleh karena itu, marilah kita bahu-membahu untuk memperbaiki kondisi guru dan pendidikan kita, pekerjaan sebagai guru adalah pekerjaan yang luhur dan mulia, baik di tinjau dari sudut masyarakat,  negara dan di tinjau dari sudut keagamaan, guru sebagai pendidik profesional adalah orang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi atau rendahnya kebudayaan suatu masyarakat maju atau mundurnya tingkat kebudayaan suatu masyarakat atau negara sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang di berikan oleh guru-guru. Makin tinggi pendidikan guru, makin baik pula mutu pendidikan  dan pengajaran yang di terima oleh anak didik, dan makin tinggi pula derajat masyarakat,  peran guru dalam proses belajar mengajar belum dapat di gantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun oleh komputer yang paling modern sekalipun karena masih banyak unsur manusia yang di perlukan,  melihat kenyataan tersebut pentingnya keberadaan guru  dan beratnya tugas yang harus di pikul guru sebagai penanggung jawab keberhasilan pengajaran yang mengacu pada tujuan pendidikan nasional yang tertulis dalam undang-undang Republik  Indonesia  No . 14 tahun 2005.&lt;br /&gt;Bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya menciptakan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, tekhnologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradap  berdasarkan pancasila dan undang  undang dasar negara republik indonesia   tahun 1945.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Profesi guru pada saat ini masih di bicarakan orang, atau masih saja di pertanyakan orang baik di kalangan  para pakar pendidikan maupun di luar para pakar pendidikan, bahkan selama dasawarsa ini  hampir setiap hari media masa baik media cetak, harian maupun mingguan memuat berita tentang guru, ironisnya berita-berita tersebut banyak yang cenderung melecehkan posisi guru baik yang sifatnya menyangkut kepentingan umum sampai kepada hal-hal yang sifatnya sangat pribadi, sedangkan dari pihak guru sendiri nyaris tak mampu membela diri, masyarakat   orang tua murid kadang-kadang mencemoohkan dan menuding guru tidak kompeten dan malas, atau tidak berkualitas dan sebagainya, manakala putra/putrinya tidak memiliki kemampuan sesuai dengan keinginannya, dari kalangan bisnis/industrialis  memprotes para guru karena kulitas para lulusan dianggapnya kurang  memuaskan bagi kepentingan perusahaanya. Sementara itu wibawa guru di mata-murid-murid kini pun kian jatuh, di mata murid-murid masa kini khususnya di sekolah-sekolah menengah di kota-kota pada umumnya cenderung menghormati gurunya hanya karena ingin mendapat nilai yang baik atau naik kelas / lulus ebta dengan peringkat tinggi tanpa kerja keras, tentu saja tuduhan dan protes dari berbagai kalangan tersebut akan  merongrong wibawa guru, bahkan cepat atau lambat, pelan tapi  pasti  akan menurunkan  martabat guru akankah demikian nasibmu wahai pahlawan tanpa tanda jasa.   &lt;br /&gt;Dari kenyataan-kenyataan ini sekalipun pahit bagi guru, sudah saatnya kompetensi profesi bagi guru harus di tingkatkan, oleh sebab itu pemerintah sering melakukan berbagai upaya peningkatan kualitas professionalisme guru antara lain melalui pelatihan seminar, dan lokakarya, bahkan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi.     &lt;br /&gt;       Pemerintah saat ini juga berupaya untuk meningkatkan kualitas professionalisme guru di antaranya  penyelenggaraan program pendidikan diploma empat (D 4), atau pendidikan program strata satu (S 1) bagi guru yang belum strata satu, penyelenggaraan program pendidikan magister strata dua (S 2 ) bagi guru dan dosen yang masih strata satu (S 1), atau program doktor (S 3) bagi guru dan dosen yang masih magister (S 2), namun semua upaya tersebut tidak akan membawa hasil tanpa peran serta guru sebab tanggung jawab sebagai profesi pada dasarnya merupakan tuntutan kebutuhan pribadi guru, guru harus peka terhadap perubahan pembaharuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus berkembang sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman di sinilah tugas guru untuk senanatiasa meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikan, bahkan tidak cukup dengan itu untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru maka guru perlu tampil di setiap kesempatan baik sebagai pendidik, pengajar, pelatih, innovator, maupun dinamisator pembangunan masyarakat yang bermoral pancasila sekaligus mencerdaskan bangsa Indonesia, dengan bermodalkan kewibawaan dan kemamapuan mengembangkan diri, insyaallah guru akan senatiasa di hormati serta mendapat kepercayaan dari masyarakat kapan lagi kalau tidak sejak saat ini untuk meningkatkan kompetensi professional guru.&lt;br /&gt;Meskipun demikian, kita harus memiliki kriteria tentang guru sebab dalam kenyataan sekarang ini tidak semua guru penting, bahkan banyak guru yang menyesatkan masa depan anak bangsa, misalnya guru yang memperkosa anak didik, mempersulit perkembangan peserta didik, pilih kasih, tidak adil, dendam terhadap peserta didik dan masih banyak kasus lainnya.&lt;br /&gt;Upaya peningkatan profesionalisme guru sebenarnya tergantung pada diri guru sendiri, bagaimana seharusnya guru menjadi tenaga pendidik professional,                setidaknya terdapat tiga kata yang  dapat menjadikan guru professional dalam pembelajaran di dalam kelas tiga kata tesebut sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru yakni kreatif, professionalisme dan menyenangkan, selain itu ada sifat-sifat atau karakteristik guru yang disenangi oleh para siswa adalah guru yang
