Kamis, 16 Desember 2010

Stilistika

SENTUHAN MAJAS PERTENTANGAN DALAM CERPEN ǃ KARYA DANARTO
(TELAAH STILISTIK)

A. Pengantar

Cerpen ! karya Danarto ini berkisah tentang kehidupan keluarga si Aku,tokohsentral dalam cerpen ini. Berawal dari kedua orang tuanya yang berasal dari daerah yang berbeda. Sang Ayah dari Jogja dan Sang Ibu dari Solo. Bertemu di Klaten, menikah di Semarang, lalu pindah ke Jakarta. Di Jakartalah cerita kehidupan keluarga si Aku bermula. Si Aku adalah anak ke tujuh dengan enam kakak-kakaknya dan empat adik-adiknya. Si Aku adalah seorang mahasiswa di suatu fakultas pertanian. Kakak-kakaknya telah menikah dan berkeluarga. Sedangkan adik-adiknya masih duduk di bangku SMA, SMP, dan SD.
Karena begitu banyak saudaranya, si Aku sering terlupa ataupun tertukar nama-nama mereka. Dari sekian banyak saudaranya itu, hanya dengan salah satu adiknya, Zizit, ia terlihat begitu kontras dan berbeda paham. Sehingga tak jarang pertentangan sering terjadi diantara mereka.
Zizit memangpaling berbeda watak dengan keluarganya. Zizit selalu menolak segala yang keluarganya terima. Zizit selalu menentang apa yang keluarganya setujui. Sepertinya Zizit diliputi kecerdasan yng tertanam dalam otaknya sehingga ia selalu bersemangat untuk berjuang, semangat untuk mandiri, semangat sama rasa sama rata, dan semangat untuk berdebat. Rasa sosialnya memang tinggi. Tak heran jika ia begitu akrab dengan para pengemis yang selalu mendatangi kediaman keluarganya. Hidup Zizit tampak berbeda dengan anggota keluarganya. Zizit amat sederhana, penuh tanggung jawab, dan punya rasa solidaritas yang tinggi. Zizit dianggap memiliki watak yang istimewa sehingga ia menjadi anak emas kedua orang tuanya
Keluarga si Aku bisa dibilang kaya. Rumah renovasi gaya Spanyol. Memiliki rumah berjumlah lima. Masinh-masing anggota keluarga memiliki mobil. Karena rumah direnovasi menjadi gaya Spanyol, maka Ayahnya memandori sendiri pembangunan pagar besi dan gapura mewah. Hidup foya-foya menjadi ciri gaya hidup keluarga si Aku, tentunya tidak untuk Zizit.
Pertengkaran yang sering terjadi antara si Aku dan Zizit karena si Aku semakin lama semakin merasa risih dengan pengemis-pengemis yang selalu dimanjakan oleh Zizit. Pertengkaran yang akhirnya membuat Ayahnya jatuh dan pingsan mendengar kata “kuburan” yang terlontar dari mulut si Aku. Kuburan yang tak lain adalah pagar besi dan gapura yang dibangun sendiri oleh Ayahnya.
Berakhir di sebuah rumah sakit yang membuat semua keluarga berkumpul karena keadaan Sang Ayah yang kritis. Ternyata pemandangan terkejutlah yang tampak pada seluruh anggota keluarga si Aku bahwa di dalam kamar pasien, Ayahnya berdiri tegap dengan mengalunkan sebuah lagu ditemani para pemain musik yang mengelilinginya. Alhasil seluruh anggota keluarga itu bengong bukan main.

B. Fakta Cerita

Alur dari cerpen ini adalah alur maju yakni ceritanya runtut dari awal sampai akhir. Di bagian awal, diceritakan mengenai tokoh-tokohnya yakni tokoh si Aku dan beberapa tokoh lainnya. Di bagian tengah disajikan konflik yang sudah mulai dimunculkan oleh pengarang. Konflik yang disajikan adalah konflik eksternal atau konflik sosial (konflik yang terjadi karena pertentangan antartokoh). Hal ini terjadi pada tokoh si Aku dan tokoh Zizit.
Di bagian tengah didominasi oleh keseluruhan cerita. Sebab, bagian terpanjang cerita ada pada bagian ini. Pada bagian ini, tokoh, peristiwa, dan konflik dimunculkan. Hal ini terlihat pada beberapa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada keluarga si Aku. Mulai dari pertengkaran antara si Aku dengan Zizit yang membuat syok Ayahnya sehingga keadaan kritis Ayahnya yang berakhir di rumah sakit
Pada bagian akhir memunculkan penyelesaian. Muaranya pada hal yang menyenangkan yakni terlihat saat Ayahnya yang berada di dalam kamar rumah sakit tampak begitu ceria dengan melantunkan nyanyian yang dikelilingi oleh para pemain musik. Bisa dikatakan bahwa di akhir cerita pengarang sengaja memunculkan kejutan.
Tokoh sentral dalam cerpen ini adalah tokoh Aku. Sedangkan tokoh-tokoh yang lain yakni tokoh Ayah, Ibu, Zizit, Pelayan hotel, Pengemis tua, Dokter, dan Perawat. Tokoh Aku sebagai orang pertama yang langsung menceritakan keseluruhan cerita, mulai dari kejadian-kejadian awal sampai akhir cerita. Sedangkan tokoh-tokoh yang lain membantu memunculkan kejadian-kejadian dalam cerita.
Sifat tokoh Aku adalah seorang yang sombong, suka hidup hura-hura, pemarah, adakalanya suka meremehkan orang lain termasuk kalangan bawah. Sedangkan sifat-sifat tokoh yang lain seperti tokoh Zizit yakni punya solidaritas yang tinggi, bertanggung jawab, cerdas, penuh semangat, tagas, dan mandiri. Tokoh Ayah memiliki sifat penyayang terhadap anak-anaknya. Hal ini terbukti dengan memanjakan anak-anaknya melalui fasilitas mewah yang ia berikan kepada anak-anaknya. Tokoh Ibu memiliki sifat penyayang kepada anak-anaknya, menantu, dan juga cucu-cucunya.
Latar tempat dalam cerita ini yaitu di rumah, taman rumah, airport, restoran hotel, kamar hotel, toilet hotel, supermarket, salon, butik, rumah sakit, kamar rumah sakit. Sedangkan latar waktu dalam cerita ini adalah pagi, siang, sore, dan malam. Latar suasananya yaitu hangat, mesra, sengit, haru, bahagia, meriah, terkejut, sedih.


C. Sarana Cerita
Judul dalam cerpen ini adalah sebuah simbol dari tanda seru (!) . Sepertinya pengarang sengaja menggunakan judul dengan menggunakan simbol tersebut dalam cerpennya. Judul cerpen ini seakan membuat pembaca memunculkan beragam tafsiran. Tentunya dalam judul tersebut, tersimpan makna di dalamnya.
Sudut pandang cerpen ini adalah pencerita sebagai pelaku utama yakni digambarkan oleh tokoh Aku.
Gaya bahasa yang terdapat dalam cerpan ini hampir beragam. Pengarang seolah memanfaatkan kata untuk diolah sehingga menghasilkan estetika dalam cerpen ini. Gaya bahasa yangg digunakan pengarang dalam cerpenini diantaranya adalah simile, personifikasi, hiperbola, metafora, erotesis, perulangan, dan masih banyak yang lain.

D. Majas Pertentangan Yang Terdapat Dalam Cerpen

Majas adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 1985 : 112)
Menurut Tarigan (1985 : 113-117) gaya bahasa atau majas dibagi menjadi empat
golongan :
1. Majas perbandingan meliputi majas perumpamaan, kiasan, penginsanan, sindiran, antitesis
2. Majas pertentangan meliputi majas hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma
3. Majas pertautan meliputi majas metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, elipsis, inversi, gradasi
4. Majas perulangan meliputi majas aliterasi, antanaklasis, kiasmus, dan repetisi

Berikut akan dipaparkan mengenai majas pertentangan yang terdapat dalam cerpen berjudul (!) karya Danarto ini.

1. Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Tarigan, 1984 : 143 ; Tarigan, 1985 : 186).
Kata hiperbola berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘pemborosan; berlebih-lebihan’ dan diturunkan dari hyper ‘melebihi’ + ballien ‘melemparkan’. Hiperbola merupakan suatu cara yang berlebih-lebihan mencapai efek; suatu bahasa di dalamnya berisi kebenaran yang direntangpanjangkan (Dale, 1971 : 233).
Dengan kata lain “hiperbola ialah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan : jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya” (Moeliono, 1984 : 3).

Berikut kutipan-kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas hiperbola

Dan kecerdasan kami dapat dilihat sejelas-jelasnya
(Hal. 4 Paragraf 1)

Dengan selesainya gapura, berarti seluruh keindahan rumah kami makin memancar dan tentu mengundang kekaguman siapa saja (Hal. 4 Paragraf 2)

Untuk memujanya, Aku membakar-bakar hati Ayah supaya suka mentraktir kami ke restoran yang paling enak dan paling mahal (Hal. 4 Paragraf 3)

Ketawanya masih menyentak (Hal. 5 Paragraf 1)

Ah, jangan-jangan sudah terbakar anggur yang sering kugenangkan dalam daging bistikku (Hal. 5 Paragraf 2)

Bangkit aku dari kursi sementara ketawa dan gurau meledak di sana-sini (Hal. 5 Paragraf 2)


Sejenak seperti menggeliat lalu lenyap dan entah diterbangkan ke mana (Hal. 6 Paragraf 1)

Kukorek-korek lagi tenggorokanku untuk menguras tandas sisa-sisa makanan yang masih tinggal (Hal. 6 Paragraf 1)

Dan kontan Ayah mendapat semprotan jawaban yang begitu pasti dan sepertinya tak tergoyahkan (Hal. 7 Paragraf 3)

Jika musuhnya lemah, maka dia mengadakan penyerangan yang menggebu-gebu (Hal. 8 Paragraf 5)

“Zizit! Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka!” bentakku dalam keadaan mendidih (Hal. 9 Paragraf 4)

Suaranya gemerincing hancur berantakan (Hal. 10 Paragraf 2)

Kulihat matanya memancarkan bukan saja kegigihannya dalam pertempuran, yang terus-menerus dengan Ayah, tapi seperti ia juga melihat adanya musuh dalam selimut, yang justru mungkin paling tangguh : aku (Hal. 11 Paragraf 2)

Airmataku berhamburan (Hal. 11 Paragraf 5)

Maka menghamburlah kami masuk dengan tangis-tangisan yang menyayat...yang disambut suara tenor yang mengalunkan Come Back to Soneto dari mulut yang tubuhnya berdiri tegap di atas tempat tidur dan merentang-rentangkan tangannya (Hal. 12 Paragraf 2)

Karena suasananya berisik, karena isakan-isakan, maka Ayah sambil pamer terus suaranya yang menggetarkan itu, menunjuk sebuah... (Hal. 12 Paragraf 4)

Dari beberapa kutipan di atas yang menunjukkan adanya penggunaan majas hiperbola dapat diketahui bahwa kata-kata yang ditunjukkan dengan sejelas-jelasnya, memancar dan mengundang, membakar-bakar, menyentak, terbakar, meledak, menggeliat dan lenyap, menguras, semprotan, menggebu-gebu, mendidih, hancur berantakan, memancarkan, berhamburan, menyayat, dan menggetarkan bersifat melebih-lebihkan dari kenyataan yang sebenarnya. Sehingga memunculkan efek yang mendramatisir keadaan.





2. Litotes

Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk yang negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes mengurangi atau melemahkan kekuatan pernyataan yang sebenarnya
(Moeliono, 1984 : 3).
Litotes kebalikan dari hiperbola, adalah jenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, misalnya untuk merendahkan diri (Tarigan, 1984 : 144; Tarigan, 1985 : 187).
Litotes berasal dari kata Yunani litos yang berarti ‘sederhana’ atau litotes, lawan dari hiperbola, merupakan sejenis gaya bahasa yang membuat pernyataan mengenai sesuatu dengan cara menyangkal atau mengingkari kebalikannya (Dale, 1971 : 237).
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas litotes

Syukur kami dapat sebuah rumah murah dari Perumnas, setelah melalui undian yang bertele-tele dan bikin gerah
(Hal. 1 Paragraf 2)

Dalam kutipan tersebut jelas terlihat bahwa kutipan tersebut bersifat merendahkan diri. Padahal seperti yang kita ketahui, sebuah hunian perumahan masihlah mengeluarkan biaya yang tak sedikit daripada sebuah rumah dalam kawasan perkampungan.

3. Ironi
Ironi ialah majas yang menyatakan makna yang bertentangan, dengan maksud berolok-olok. Maksud itu dapat dicapai dengan mengemukakan:
a. Makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya
b. Ketidaksesuaian antara suara yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya
c. Ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan (Moeliono, 1984 : 3)

Ironi adalah sejenis gaya bahasa yang mengimplikasikan sesuatu yang nyata berbeda, bahkan seringkali bertentangan dengan yang sebenarnya dikatakan itu. Ironi ringan merupakan suatu bentuk humor tetapi ironi berat atau ironi kasar biasanya merupakan suatu bentuk sarkasme atau satire, walaupun pembatasan yang tegas antara hal-hal itu sangat sulit dibuat dan jarang sekali memuaskan orang (Tarigan, 1984 : 144; Tarigan, 1985 : 189).
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas ironi

Adikku, Zizit, perempuan yang elok inilah yang paling berbeda wataknya dengan kami semua (Hal. 2 Paragraf 1)

“Coba kalau biaya pagar baru ini untuk fakir miskin...” (Hal 2 Paragraf 7)

“Saya dengar kamu dapat borongan catering setiap hari, sayang?”, tanya Ibu sambil tertawa ketika bertemu di meja makan (Hal. 7 Paragraf 8)

“Sekali-kali tidak berkuasa boleh dong, sayang”, jawab Zizit yang membuat kami semuanya tertawa (Hal. 8 Paragraf 2)

4. Oksimoron

Kata oksimoron berasal dari bahasa latin okys ‘tajam’ + moros ‘goblok, gila’. Oksimoron adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung penegasan atau pendirian suatu hubungan sitaksis baik koordinasi maupun determinasi antara dua antonim (Ducrot and Tororov, 1981 : 278). Atau dengan kata lain oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama (Keraf, 1985 : 136).
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas oksimoron

Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami (Hal. 2 Paragraf 2)

5. Satire
Uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna permukaannya disebut satire. Kata satire diturunkan dari kata satura yang berarti ‘talam yang berisi macam-macam buah-buahan’. Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia. Tujuan utamanya adalah agar diadakan perbaikan secara etis maupun estetis (Keraf, 1985 : 144).
Kiranya perlu diperingatkan di sini bahwa satire tidak selalu harus ditafsirkan dari satu kalimat atau acuan saja, tetapi harus diturunkan satu uraian yang panjang, yang merupakan suatu wacana.
Berikut beberapa kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas satire

“Orang kaya harus ditandai dengan pagar besi, ‘ kata Ayah pada suatu hari di taman. Kami manggut-manggut sedikit.
“Kaya harta. Kaya ilmu pengetahuan. Kaya kemuliaan,” sambung beliau. (Hal. 2 Paragraf 4)


“Coba kalau biaya pagar ini untuk fakir miskin...,” celetuknya
(Hal. 2 Paragraf 7)


Dia sering bicara tentang pandangan hidupnya yang begini, yang begitu. Dengan berkobar-kobar lagi. Aku pernah menyebutnya sebagai ‘gita filsafat dari SMA’ yang membuatnya berang. Mencakar bagai kucing betina. Menggeram bagai penuh dendam. Untuk mendekatinya lagi, sulit. Berbagai cara yang manis-manis tak kunjung memadai. Kaset baru. Cokelat Toblorone. Novel baru. Majalah baru. Semuanya tak mempan menaklukkannya. Diboncengin mobil ke sekolah juga kagak mau. Sedikit pun, tak terpikat. O, hiya. Tentang mobil? Lain lagi ceritanya. Kami punya mobil sendiri-sendiri. Ibu dengan Mercy 450 SEL, yang saya ganti jadi 280 (ha!ha!ha!) supaya boleh beredar di jalan raya. Mobil Ayah BMW. Mobilku VW Safari. Adik-adikku ada yang VW Golf. Ada yang jip. Tapi adikku si Zizit ini ketika minta Mercy yang paling mahal, yang sama mahalnya dengan punya Ibu, dia ternyata cuma main-main saja. Tidak serius minta. Tapi Ayah sudah terlanjur membelikannya. Dan Mercynya itu pun nongkrong, nganggur.
Dia kemana-mana lebih suka naik bis. Perkataan lebih suka sangat tidak tepat, menurut dia. Naik bis adalah suatu kewajiban, tegasnya. Dia memiliki alasan yang bagus-bagus untuk itu. Solidaritas. Mengurangi kemacetan. Kesederhanaan. Rasa tanggung jawab. Saat yang tak terlupakan oleh kami adalah ketika aku mengantar Ayah ke Airport,mau ke Jepang. Di lampu bang-jo (traffic light) ketika Mercy kami berhenti, kami lihat Zizit menggelantung di pintu bis PPD karena berjubelnya penumpang. Ayah terkajut dan ada keinginan untuk memanggilnya, tapi diurungkannya. Beliau lalu menunduk. Matanya memerah. Mungkin baru sekali itulah aku melihat Ayah menangis. (Hal. 2-3 paragraf 8 dan 9)



“Zizit! Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka!” bentakku dalam keadaan mendidih, “Aku seorang kaya, Zizit. Aku dapat menggunakan kekayaanku untuk apa saja. Tiap hari aku bisa ganti-ganti mobil. Pacar. Bioskop. Restoran. Hotel. Disco. Butik. Salon. Dan kesenangan yang lain. Bahkan sering aku ngentutin duit berpuluh-puluh ribu. Aku pernah nginjak-injak uang lima juta! Tiap hari aku lebih mampu memberikan uang lebih banyak daripada kamu kepada gerombolan pengemismu itu. Pernah tak setahumu kusebar sepuluh ribu uang logam dari lima puluh perakan, hanya karena aku kepingin mereka berebut, berantem, cakar-cakaran, terkam-manerkam, cakot-cakotan, tendang-tendangan, gigit-gigitan! Demi Tuhan, aku bisa segala-galanya. Tapi aku tidak mau mereka mengotori pemandanganku. Mengotori tempatku. Bikin risi aku. Aku seorang yang bersih sudah sepantasnya menghindari yang kotor-kotor. Adalah hakku untuk tidak sudi melihat mereka. Hakku, Zizit!”
(Hal. 9 Paragraf 4)


“Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka! Lihat! Lihat mereka! Berbondong-bondong, compang-camping bau prengus, menjijikkan, berpura-pura menderita dengan tangan menadah! Bah! Memangnya ini kuburan?!!!”
(Hal. 9 Paragraf 6)


Jika dilihat dari beberapa kutipan di atas yang menunjukkan atau mengandung majas satire, terlihat bahwa pada kutipan pertama, pengarang sengaja memunculkan kalimat tersebut tak lain karena mencoba melakukan kritik kepada orang kaya melalui tokoh Ayah. Karena kebanyakan orang yang kaya harta tidak selalu disertai dengan kaya ilmu pengetahuan maupun kaya kemuliaan.
Pada kutipan kedua, pengarang mencoba melakukan kritik terhadap orang kaya melalui tokoh Zizit. Diman orang kaya seringkali menghambur-hamburkan harta kekayaannya dengan melakukan hal-hal yang disukainya ketimbang membantu orang-orang yang kurang mampu seperti fakir miskin.
Pada kutipan ketiga, pengarang mencoba melakukan kritik terhadap kehidupan orang kaya yang serba bergaya hidup mewah melalui karakter tokoh Zizit. Dalam kutipan tersebut dipaparkan bahwa kehidupan tokoh si Aku beserta keluarganya yang meliputi sang ayah, Ibu, kakak-kakak, maupun adik-adiknya terkesan begitu mewah dalam memanfaatkan kekayaan hartanya. Hal itu terwujud dengan adanya fasilitas-fasilitas mewah yang mereka pergunakan. Hal ini begitu kontras dengan gaya hidup tokoh Zizit yang merupakan adik dari tokoh Aku. Meskipun Zizit adalah bagian dari keluarga si Aku, namun gaya hidup zizit begitu sederhana. Zizit lebih suka merasakan hidup serba sederhana meski kekayaan orang tuanya melimpah. Sepertinya tokoh zizit ingin merasakan bagaimana hidup sebagai orang biasa tanpa bergelimang harta. Pengarang sepertinya ingin menyentuh hati para orang kaya melalui tokoh Zizit ini. Meski harta berlimpah, namun diri tak pernah sombong dan berusaha untuk menanamkan gaya hidup sederhana.
Pada kutipan keempat dan kelima, pengarang sengaja melakukan kritik terhadap oarang kaya melalui tokoh si Aku yang suka hidup hura-hura, sombong dan membanggakan diri atas kekayaannya, bertingkah seenaknya dan sewenang-wenang terhadap orang biasa, serta sikap yang selalu meremehkan orang kalangan bawah yang bisa dibilang kurang dalam hal perkonomian. Hendaknya, orang kaya menjauhi sifat dan sikap yang ditunjukkan oleh tokoh si Aku ini.

6. Inuendo

Inuendo adalah sejenis gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Gaya bahasa ini menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung, dan tampaknya tampaknya tidak menyakitkan hati kalau ditinjau sekilas (Keraf, 1985 : 144).
Berikut beberapa kutipan dalam cerpan yang menunjukkan adanya penggunaan majas inuendo

Itu bukan mula pertama keluarga kami pencetusnya, melainkan kami sekadar nyontek selera tetangga, begitu dalihnya (Hal. 1 Paragraf 3)

Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami (Hal. 2 Paragraf 2)

Lalu bergerombol di pintu gerbang berlama-lama, padahal sudah kami kasih uang atau makanan (Hal. 4 Paragraf 2)

Pandangannya terhadap pesta sudah terpapar di hadapanku, seperti sebagian pidato yang panjang (Hal. 4-5 Paragraf 4)
Anak seperti dia selalu memaksa kita untuk pasang kuda-kuda lebih dulu (Hal.10 Paragraf 5)

7. Antifrasis

Antifrasis adalah gaya bahasa yang berupa penggunaan kata dengan makna kebalikannya. Perlu diingat benar-benar bahwa antifrasis akan dapat diketahui dan dipahami dengan jelas bila pembaca dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dikatakan itu adalah sebaliknya.
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antifrasis

Adikku ini memang paling. Paling segala-galanya ( Hal. 2 Paragraf 6)


8. Paradoks

Paradoks adalah suatu pernyataan yang bagaimanapun diartikan selalu berakhir dengan pertentangan.
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan atau paradoks (Shadily, 1984 : 2552)
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena keberaniannya (Keraf, 1985 : 136).
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas paradoks

Aku seorng yang bersih sudah sepantasnya menghindari yang kotor-kotor (Hal. 9 Paragraf 4)

9. Klimaks

Kata klimaks berasal dari bahasa Yunani klimax yang berarti ‘tangga’. Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama semakin mengandung penekanan. Kebalikannya adalah antiklimaks (Shadily, 1982 :1795).
Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya (Keraf, 1985 : 124).



Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks

Pernah tak setahumu kusebar sepuluh ribu uang logam dari lima puluh perakan, hanya karena aku kepingin mereka berebut, berantem, cakar-cakaran, terkam-manerkam, cakot-cakotan, tendang-tendangan, gigit-gigitan! (Hal. 9 Paragraf 4)


“Buka matamu lebar-lebar, sayang! Buka! Lihat! Lihat mereka! Berbondong-bondong, compang-camping bau prengus, menjijikkan, berpura-pura menderita dengan tangan menadah! (Hal. 9 Paragraf 6)


10. Antiklimaks

Antiklimaks adalah kebalikan gaya bahasa klimaks. Sebagai gaya bahasa, antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan-gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting.
Gaya bahasa klimaks dapat digunakan sebagai suatu istilah umum yang masih mengenal spesifikasi lebih lanjut yaitu:
1. Dekrementum
Adalah semacam antiklimaks yang berwujud menambah gagasan yang kurang penting pada suatu gagasan yang penting.
2. Katabasis
Adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengurutkan sejumlah gagasan yang semakin kurang penting.
3. Batos
Adalah sejenis gaya bahasa antiklimaks yang mengandung penukikan tiba-tiba dari suatu gagasan yang sangat penting ke suatu gagasan yang sama sekali tidak penting

Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks katabasis

Adik-adikku di SMA, SMP, SD. (Hal. 2)




Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks batos

Sebuah pagar dari besi adalah punya maknanya sendiri, di Ayah punya hati. (Hal. 2 Paragraf 3)

Di dalam cerpen tidak ditemukan adanya penggunaan majas antiklimaks yang mengarah pada antiklimaks dekrementum.


11. Anastrof atau inversi

Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat (Keraf, 1985 : 130).
Inversi adalah gaya bahasa yang merupakan permutasi atau perubahan unsur-unsur konstruksi sintaksis (Ducrot and Todorov, 1981 :227). Dengan kata lain perubahan urutan SP (Subjek-Predikat) menjadi PS (Predikat-Subjek).
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas anastrof atau gaya bahasa berpola inversi

Bangkit aku dari kursi sementara ketawa dan gurau meledak di sana-sini ( Hal. 5 Paragraf 2)


12. Apofasis atau Preterisio

Apofasis atau preterisio adalah gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang untuk menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkalnya.
Berikut kutipan dalam cerpen yang menunjukkan adanya penggunaan majas apofasis atau preterisio

Paling menentang apa saja yang kami setujui. Kadang-kadang tampak rewel dan selalu bertingkah. Tapi harus kuakui bahwa itu prasangka buruk kami saja. (Hal. 2 Paragraf 1)


Aku yakin dia memiliki akal sehat, meskipun sering membingungkan kami. Mungkin karena kami malas berpikir. (Hal. 2 Paragraf 2)

1 komentar:

  1. permisi maaf sebelumnya...
    pak, apakah saya boleh minta cerpennya danarto yang judulnya tanda seru (!)?

    BalasHapus