Kamis, 16 Desember 2010

Stilistika

EKSTETIKA CERPEN LINTAH KARYA DJENAR MAESA AYU


A. Pendahuluan
Cerpen lintah karya Djenar Maesa Ayu bercerita tentang tokoh “ saya ” yaitu maha sebagai tokoh utama yang sangat membenci binatang bernama Lintah. Maha hanya tinggal dengan ibunya semenjak ayahnya meninggal. Namun di kehidipunnya sekarang, ia di penuhi rasa benci karena ibunya membawa Lintah untuk hidup bersama mereka. Lintah di perlakukan bak orang paling istimewa oleh ibunya. Bahkan Maha sendiri yang jelas – jelas anak kandungnya selalu kalah mendapat perhatian ibunya. Di belakang ibu Maha, Lintah bertingkah kurang ajar dengan menjebak Maha lalu menikmati tubuh Maha. Padahal selama ini hal tersebut hanya Lintah lakukan pada ibu Maha saja. Ibu Maha tak tahu menahu soal itu. Maha terkejut ketika ibunya hendak menjadikan Lintah sebagai ayah tirinya.
Dalam cerpen karya Djenar ini, hal yang menarik tertuju pada penggunaan kata “ Lintah “ sebagai seorang tokoh yang senang menggangu hidup orang lain dan selalu tidak puas atas apa yang dimilikinya. Sebenarnya penggunaan kata “ Lintah “ hanyalah untuk binatang namun di sini digambarkan sebagai seorang tokoh. Mungkin karena melihat dari sifat binatang Lintah ini sehingga pengarang melukisnya sebagai seorang yang sifatnya seperti Lintah. Keunikan lain terdapat pada penggunaan dialog di akhir cerita, yaitu oleh Maha dan Ibunya. Di awal dan di tengah – tengah cerita tidak ada dialog sama sekali, hanya berbentuk cerita langsung oleh tokoh utama “ saya “.

B. Pola Gramatika Kalimat
Secara umum, kalimat yang terdapat dalam cerpen Lintah berupa kalimat pendek. Kalimat pendek yang di gunakan bertujuan untuk memudahkan pembaca dalam memahaminya serta memberi kesan lugas. Namun ada beberapa kalimat yang panjang di gunakan juga. Kedua pola kalimat yang digunakan tetap bertumpu pada struktur kalimat yang benar. Berikut salah satu cuplikan pendek dalam cerpen Lintah :
Saya penyayang binatang. Namun saya sangat benci terhadap Lintah. ( halaman 1)
Sedangkan penggunaan kalimat panjang terdapat pada kutipan kalimat ini :
Setiap Ibu menyendok satu suap nasi ke dalam mulutnya, tidak lupa melemparkan sedikit makanan keatas kepalanya dan ular – ular itu berebutan dengan rakus disana. ( halaman 3 ).

C. Diksi
Pemanfaatan diksi dalam cerpen Lintah cenderung pada penggunaan bahasa Indonesia. Struktur bahasa Indonesianya sangat rapi. Naman di dalamnya di selingi juga dengan penggunaan bahasa Indonesia tidak baku. Penggunaan bahasa Indonesia tersebut mungkin di kerenakan cerita yang di sajikan. Lebih mengarah pada kehidupan kota – metropolitan hal tersebut terlihat jelas pada kutipan di bawah ini.
Sering juga berhari – hari Ibu tidak pulang bila mendapat tawaran menyanyi di luar kota ( halaman 4 ).

D. Majas
Majas yang di gunakan dalam cerpen Lintah ini adalah bertujuan intuk memperindah gaya bahasa serta akan di dapati variasi bahasa. Majas yang di gunakan yaitu majas hiperbola dan majas metafora. Majas hiperbola merupakan majas yang memberi makna berlebihan atau di besar – besarkan. Berikut beberapa kutipan majas hiperbola yang terdapat dalam cerpen Lintah :
Dari hari ke hari kebencian saya memuncak. ( halaman 2 )
Dan saya sangat kaget melihat seekor ular yang merah menyala. ( halaman 2 )
Hari itu terik matahari begitu menyengat. ( halaman 6 )
Bau wangi menyergap hidung saya, menyergap kerinduan, menyergap perasaan. (halaman 6)
Mata saya membeliak lebar. ( halaman 7 )
Kata memuncak, merah menyala, begitu menyengat, menyerap, dan membeliak lebar memberikan suasana yang ber lebih – lebihan. Namun kata – kata yang berlebihan tersebut menciptakan kesan indah. Selain majas hiperbola, dalam cerpen Lintah juga menggunakan majas metafora. Majas metafora merupakan majas yang mengandung perbandinggan yang tersirat sebagai pengganti kata atau ungkapan lain untuk melukiskan kesamaan atau kesejajaran makna di antaranya ( Sudjiman, 1993 : 29 ). Berikut kutipan majas metafora yang terdapat dalam cerpen Lintah :
Dan mata Lintah kelihatan benar – benar tertawa. ( halaman 4 ) kaliamat tersebut menujukkan majas metafora yang memiliki keindahan dan menarik bila di baca.

E. Penutup
Nilai ekstetika cerpen Lintah karya Djenar Maesa Ayu di tunjukkan oleh tiga hal yaitu struktur gramatika kalimat yang variativ, pengguanaan diksi, dan penggunaan majas atau gaya bahasa.
Struktur gramatika kaliamat yang di gunakan yaitu penggunaan kalimat pendek dan kalimat panjang namun tetap pada struktur kalimat yang benar.
Penggunaan diksi cenderung pada penggunaan bahasa Indonesia serta terdapat kalimat tidak baku di dalamnya. Hal tersebut mencerminkan bahwa ceritanya mengarah pada kehidupan kota metropolitan. Namun hal tersebut malah menimbulkan kemudahan pembaca untuk memahaminya.
Penggunaan majas di tunjukkan dengan permanfaatan majas hiperbola dan majas metafora. Penggunaan majas tersebut bertujuan untuk memperindah kalimat per kalimat dalam cerpen tersebut serta mampu memicu emosi pembaca untuk turut masuk dalam cerita tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar