Kamis, 16 Desember 2010

Sastra dan Teori

Persoalan Sastra: Tinjauan Teori
Oleh: Uman Rejo

Salah satu persoalan penting yang di hadapi kesusastraan Indonesia adalah masyarakat perananya dalam masyarakat. Sastra sebagai hasil budaya manusia adalah dunia minor, yaitu dunia yang dianggap kurang menentukan di Indonesia.
Pembicaraan tentang sastra tentu tidak dapat dilepaskan dari bahasa sebagai alat pengungkap ekspresi estetik pada saat bahasa sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar interaksi manusia, peranan bahasa tidak hanya terhenti sampai di situ saja. Hal ini juga dikatakan oleh Sukardjono (1993) bahwa peranan bahasa tidak hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi lebih jauh bahasa mengikuti gerak dinamika masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rasa seni sastra.
Kemajuan teknologi dan arus globalisasi tentunya membawa perubahan tata nilai yang berlaku dalam mastarakat. Dampak kemajuan teknologi dan arus globalisasi tersebut juga membawa dampak bagi bahasa dan sastra. Sukardjono (1993) mengatakan bahwa pergeseran nilai yang berlaku di masyarakat sebagai akibat kemajuan teknologi adalah bergesernya pandangan masyarakat terhadap sastra. Keunggulan sastra diukuir dari kemampuannya untuk menyusun deskripsi, ekspresi, dan interpretasi dengan daya informasi yang mengandung nilai-nilai.
Bagaimana pun pembicaraan tentang sastra akan mengacu pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hal ini disebabkan sastra berasal dari sumber yang universal yaitu manusia dan lingkungan yang melingkupinya. Berangkat dari kenyataan itu, Semi (1988) mendefinisikan sastra sebagai suatu bentuk dari pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupan dengan bahasa sebagai mediumnya.
Kemudian Hardjana (1985: 71) mengatakan bahwa sastra tidak lahir dari kekosongan sosial (social vacum). Sastra lahir dari masyarakat, sehingga sastra tetap terlibat dengan keberadaan masyarakat.hal yang sama juga dikemukan oleh Hutomo (1993: 12) mengatakan bahwa sastra sebenarnmya tidak lahir dari kekosongan. Pengarang dalam menciptakan karangan tentu dipengaruhi oleh alam sekitar yaitu masyarakat, kebudayaan, bahasa, dan lain-lain.
Jadi, dapat dikatakan bahwa sastra bukanlah sekadar karya imajinatif, tetapi sebuah karya imajinatif yang bersumber pada realitas. Dengan demikian, sebuah karya sastra yang baik akan selalu berpijak pada realitas. Seorang pengarang yang baik akan selalu berusaha mengungkapkan kehidupan manusia dengan segi-segi kemanusiaannya. Keberadaan sastra di masyarakat juga dikemukakan oleh Damono. Menurut Damono (1978: 1) mengatakan bahwa sastra merupakan gambaran kehidupan. Dalam hal ini, kehidupan antar masyarakat, antara masyarakat dengan individu, antar manusia, dan antar peristiwa yang merupakan pantulan hubungan individu dengan lingkungan, dan individu dengan masyarakatnya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sastra merefleksikan kehidupan. Hal ini dipertegas oleh Sumardjo (1986: 15) yang mengungkapkan bahwa sastra adalah gambaran kehidupan, tetapi sastra tidak pernah menyajikan kehidupan secara apa adanya. Sastra tidak hanya memindahkan kehidupan ke dalam tulisan karena tidak semua unsur kehidupan dapat dijadikan bahan penciptaan karya sastra. Sastra memilih dan menyusun bahan-bahannya dengan berpedoman pada asas-asas dan tujuan tertentu. Melalui karya sastra seorang bsermaksud memperluas, memperdalam, dan memerjenihkan penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikannya.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Darma (1984: 55) mengatakan bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mengambil keadaan sekitar pengarang dan jamanya sebagai bahan mentah yang kemudian diolah menjadi karya sastra yang tidak lagi terikat oleh tempat dan jaman bahan mentah tersebut. Jadi, semakin baik sebuah karya sastra akan semakin universal masalah hidup yang akan diungkapkan, seperti cinta kasih, ambisi, kebencian, kematian, kesepian, dan sebagainya.
Seorang sastrawan tidak dapat lepas sama sekali dari lingkungan masyarakatnya dan budaya berlaku di dalam masyarakat. Bahkan hal tersebut menjadi sumber inspirasi pengarang dalam menciptakan karya sastra. Laksono (1990: 107) menyatakan hal yang senada, yaitu masalah-masalah integrasi budaya yang mengandung konflik merupakan sumber kreatifitas pengarang dan seorang sastrawan yang baik akan senantiasa merespon dan berdialog dengan masyarakat lingkungannya.

Wringinanom, 15 Maret 2010
Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Darma, Budi. 1984. Solilokui: Kumpulan Esai Sastra. Jakarta: PT Gramedia.
Hardjana, Andre. 1985. Kritik Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.
Hutomo, Suripan Sadi. 1993. Meramabah Matahari: Sastra dalam Perbandingan. Surabaya: Gaya Masa.
Laksono, Kisyani. 1990. Peran Sastra dalam Kehidupan Manusia: dalam Pealngi Bahasa dan Sastra Indonesia. Surabaya: FPBS IKIP Surabaya.
Semi, Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Sumardjo, Jakob dan Saini KM. 1985. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar