Minggu, 19 Desember 2010

Menafsirkan sebuah Puisi

Lempar kata ini
Sebelum dituntut kembali
(Subagio Sastrowardojo)

Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. Dalam kegiatan tersebut pembaca berusaha memahami makna, pesan, dan keindahan puisi. Untuk itu pembaca harus melakukan analisis terhadap puisi.
Seperti halnya jenis sastra yang lain, puisi merupakan sebuah dunia simbol. Oleh karena itu untuk memahami makna, pesan, dan keindahan puisi, pembaca harus menafsirkan puisi itu. Tak salah kiranya bila puisi itu dianggap sebagai dunia interpretatif dan sekaligus dunia alternatif. Penafsiran itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna.
Interpretasi terhadap puisi berarti pemberian makna terhadap teks puisi. Sebagai sebuah pemberian maka besar-kecil dan dangkal-dalam penafsiran tersebut sangat bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. Oleh karena itu bisa terjadi sebuah puisi akan ditafsirkan berbeda antara pembaca A dan pembaca B karena pengalaman mereka yang saling berbeda.
Puisi merupakan dunia sekunder, sementara pembaca berada di wilayah dunia primer. Hal itulah yang membuat banyak pembaca tidak mampu memahami puisi karena saat menafsirkan makna puisi mereka tidak dapat melepaskan diri dari dunia primernya. Bahkan banyak pula yang berharap bahwa puisi sebagai sebuah dunia sekunder janganlah terlalu menyimpang dari dunia primernya.

A. Tentang Tiga Kode
Menurut A.Teeuw (1991:12) proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks tertentu adalah proses yang memerlukan pengetahuan sistem kode yang cukup rumit, kompleks dan aneka ragam.
Kode pertama yang harus kita kuasai untuk menanfsirkan atau memberi makna puisi ialah kode bahasa. Mari kita simak puisi berikut ini:

RUANG PUBLIK & PUISI
Ketika –
IMB & Lotus bersekutu melawan Microsof dalam
perang komputer
7,7 triliun rupiah bergeser, beredar, mengorak pasar
saham

Ketika –
Berlusconi & Murdoch, dua hulubalang
dengan gemerincing mesin cetak ulang
bertarung di Eropa berebut tahta kekaisaran media
peluru-peluru produksinya berdesingan
akan sampai pula di ruang-ruang kita paling pribadi
kamar tidur bahkan sel otak
lewat perabot mati bersama televisi

Ketika –
AS, Korsel & Korut berkubang di Kualalumpur
merumuskan orde baru: nuklir untuk perang atau
damai

Persis-
Depan hidung Tokyo sedang perang dunia lawan
Washington
bab pokok pasal dagang
yendeka membetot naik daftar harga
kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita

Maka-
Di Surabaya, Balai Pemuda & Taman Budaya
di ruang publik ini
dunia batin, kerajaan absolut sang puisi
diudarkan jadi atmosfer kebebasan

(Akhudiat, 15 Juni 1995)

Puisi memakai bahasa sebagai media ekspresinya. Oleh karena itu wawasan mengenai bahasa yang dipakai penyair untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan itu mutlak harus dimiliki oleh seorang apresiator. Pembaca atau apresiator harus memiliki pemahaman terhadap bahasa tersebut baik dari segi kosa kata dan makna, tata bentukan, tata kalimat, dan sebagainya.
Misalnya saja frase ruang publik dalam puisi Akhudiat di atas. Bagaimanakah konstruksi sebenarnya bentukan tersebut: ruang untuk publik, ruang milik publik, ruang dari publik, ataukah ruang tentang publik? Untuk memahami makna konstruksi tersebut mau tak mau kita harus memahami kaidah fraseologis atau kaidah komposisi dalam bahasa Indonesia. Penafsiran secara kurang benar atas konstruksi ruang publik itu tentu akan mempengaruhi penafsiran makna keseluruhan (total of meaning) puisi tersebut.
Misalnya lagi konstruksi diudarkan jadi atmosfer kebebasan. Apa makna kata diudarkan yang kebetulan kata dasar udar dipinjam dari bahasa Jawa? Apakah ia bermakna dibuka, diuraikan, ditelanjangi, disebarkan, dikemukakan atau lainnya? Lalu bagaimana kaitan logika antara diudarkan dan menjadi atmosfer kebebasan. Mungkinkah kata kerja udar bisa melahirkan suatu fenomena bentukan? Nah, tanpa memahami bahasa tidak mungkin kita memaknai atau menafsirkan puisi.
Ternyata memahami kode bahasa tidaklah cukup, kita harus pula memahami kode budaya. Budaya yang dimaksudkan ialah hal-hal, peristiwa, benda-benda, cara berpikir, dan sebagainya yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Untuk memahami puisi Akhudiat tersebut kita mesti tahu IBM, Lotus, Microsof, perang komputer, dan mengorak pasar saham. Tanpa memahami konteks budaya komputer dan seluk beluknya kita tak akan sampai pada makna yang dalam. Demikian pula tanpa memahami relasi Berlusconi dan Murdoch, kita tak bisa mendekati makna yang dikehendaki penyairnya. Lalu apa maksud AS, Korsel dan Korut berkubang di Kualalumpur? Untuk itu kita mesti memiliki pengetahuan peristiwa sejarah yang sudah dan sedang berlangsung.
Suatu misal kita sudah memahami kode bahasa dan sekaligus kode budaya mampukah kita memahami makna baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita? Ternyata tetap saja tidak mudah menafsirkan makna baris tersebut.
Puisi memiliki kekhasan ekspresi. Dia memiliki kode-kode tertentu yang membedakannya dengan cerita pendek, teks drama, maupun esei. Puisi merupakan ekspresi yang padat. Puisi dibangun oleh kata yang berkonotasi tinggi dan memanfaatkan potensi bahasa dalam rupa majas dan irama. Baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita hendaknya kita dudukkan pada koridor estetik dan puitik, penuh simbol dan metafor-metafor. Jadi kita mesti memahami perihal kode sastra, dalam hal ini kode puisi, untuk mampu menafsirkan makna sebuah puisi. Kerikil dalam puisi di atas jelas merupakan metafor dari pengertian lain yang mesti kita tafsirkan. Mungkin saja dalam konteks bahasa sehari-hari orang tidak mengucapkan kalimat seperti dalam baris itu, tetapi dalam puisi ungkapan semacam itu dengan pelbagai ragam dan variasinya sering terjadi.
Nah, akhirnya dapat kita simpulkan bahwa untuk menafsirkan makna sebuah puisi seorang apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.

B. Penafsiran Puisi
Ada bebrapa hal yang mesti dicermati saat kita berkehendak menafsirkan makna sebuah puisi. Sebelum kita mempelajari hal-hal itu simaklah terlebih dahulu puisi berikut ini.
APA KAU TELAH DAPAT GANTI RUGI
Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Materai dan kertas berhuruf kanji
Tak seindah bunga bakung di tepi kali
Meterai dan kertas yang digores belati
Tak seindah jerami menoreh pasir di bumi

Telah ditebang pohon kedondong dan maoni
Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi
Telah ditebang pohon-pohon pakisaji
Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi

Aku sebagai saksi
Aku semut yang bersarang di daun pakisaji
Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi
Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni

Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Aku sebagai saksi

(Suripan Sadi Hutomo, 27 Mei 1990)

1. Memahami judul
Sebuah puisi pada umumnya memiliki judul. Dalam sebuah puisi judul bukan sekedar tanda, tetapi gerbang untuk menuju ke kedalaman puisi tersebut. Judul menjadi semacam lorong yang mengarahkan pembaca kepada pusat makna.
Memahami judul menjadi sangat penting karena dengan memahami judul kita memasuki wilayah wacana dengan lebih terbatas, lebih memusat, tidak begitu menyebar atau tidak begitu membias.
Puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berjudul Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi. Judul tersebut bernada tanya, si aku lirik bertanya kepada seseorang perihal apakah orang itu telah mendapatkan ganti rugi (atas tanahnya yang telah diserahkan kepada pemerintah demi pembangunan). Pertanyaan tersebut lahir dari kenyataan bahwa banyak rakyat yang tidak mendapatkan ganti rugi atau andaikan mendapatkannya tanah itu dihargai sangat murah. Judul itu telah mengarahkan kita pada makna atau persoalan tertentu.
Dengan memahami judul kita lebih mudah memahami baris-baris yang terdapat dalam puisi.


2. Memahami latar
Latar ialah piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah dan sebagainya yang menempatkan puisi ke dalam matra tertentu. Puisi sebagai perwujudan kepekaan penyair dalam membaca lingkungan sekitarnya tak dapat dilepaskan dari matra ruang, waktu, zaman, sejarah, dan sebagainya.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas. Baris Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami terpancar kesan industrialisasi: dari kultur agraris diarahkan menjadi kultur industri, dari tanah menjadi pabrik. Perubahan latar sosial semacam itu, disadari atau tidak, akan berdampak pada tata kehidupan masyarakat.
Materai dan kertas berhuruf kanji menempatkan kita pada latar tertentu, latar yang amat asing bagi penduduk desa (yang buta huruf). Kertas behuruf kanji membawa kita untuk membayangkan suatu kekuasaan asing di bidang ekonomi, yakni Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Telah kita jual tanah kita kepada pemiliki modal asing, dan jadilah rakyat Indonesia buruh di negerinya sendiri.
Nilai-nilai tradisional yang adiluhung pun kikis oleh dinamika pembangunan dan modernisasi pohon kedondong dan maoni, daun pakisaji, hijau trembesi, dan sebagainya sebagai perwujudan latar tradisional tiba-tiba telah menjadi masa lalu.

3. Memahami kata ganti
Menurut Harimurti Kridalaksana (1983:138) kata ganti atau pronomina ialah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pronomina demonstratif yaitu kata yang dipakai untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang, benda atau peristiwa, misalnya ini atau itu. Di samping itu dikenal pula pronomina persona yaitu kata yang menggantikan kategori deiksis yang berhubungan dengan partisipan dalam sebuah situasi bahasa, misalnya saya, ia, mereka, dan sebagainya.
Siapakah kau dalam baris Apa kau telah dapat ganti rugi? Jawabannya ialah ia yang tanahnya dibuat pabrik jerami. Dengan demikian kau ialah orang-orang tak berdaya yang harus merelakan tanahnya dijual dengan harga murah demi pembangunan.
Siapakah aku yang terdapat dalam baris pertama bait keempat? Semut, ulat, dan burung pelatukkah aku tersebut? Ataukah justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis?
Andaikan aku itu ialah semut, ulat, dan burung pelatuk maka saksi atas tindakan perampasan tanah rakyat itu justru para binatang yang bukan manusia. Terjadilah sindiran yang amat tajam atas perilaku manusia: saat manusia tidak memiliki rasa kemanusiaan, justru binatanglah yang bisa merasakan kepedihan hati manusia karena tanahnya yang dirampas itu.
Andaikan aku itu justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis maka puisi di atas menjadi semacam suara yang lahir dari kejujuran seseorang yang peduli terhadap lingkungannya. Kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran yang semakin pudar itu ternyata masih bisa lahir dari suara-suara penyair.

4. Memahami majas
Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik.
Secara umum terdapat majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Personifikasi, metafora, asosiasi, metonimia, simbolik, tropen, litotes, eufemisme, hiperbola, sinekdok, alusio, dan perifrasis tergolong majas perbandingan. Sedangkan pleonasme, repetisi, tautologi, paralelisme, simetri, klimaks, antiklimaks, inversi, retoris, dan eksklamasio termasuk majas penegasan. Yang dikategorikan majas sindiran ialah ironi, sinisme, dan sarkasme. Sedangkan yang tergolong majas pertentangan ialah paradoks, kontradiksio in terminis, dan antitesis.
Menganalisis majas dalam puisi berarti kita menanyakan: (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi; (2) alasan penyair memilih majas tersebut; dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas itu.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas.
Pada bait pertama puisi tersebut ada baris Apakah kau hanya dibohongi? Baris tersebut bermajas retoris. Mengapa demikian? Sebenarnya pernyataan tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena pertanyaannya tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena jawabannya sudah amat jelas bahwa pemilik tanah itu memang dibohongi. Pertanyaan di atas semakin mempertegas posisi si lemah dan posisi si kuat.
Dalam bait ketiga terdapat majas paralelisme anafora yaitu perulangan frase telah ditebang pada awal setiap baris. Perulangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan kesan intensitas tinggi terhadap frase telah ditebang itu. Itu berarti bahwa sudah begitu banyak yang ditebang dan dipangkas atas nama pembangunan yang justru menyengsarakan sebagian besar rakyat. Paralelisme semacam itu juga mampu menciptakan irama tertentu karena kemerduan bunyi yang ditimbulkannya.
Penegasan itu juga terdapat pada majas klimaks yang terdapat pada bait ketiga tersebut. Perhatikan urutan telah ditebang pohon kedondong dan maoni, pohon-pohon hijau trembesi, pohon-pohon pakisaji, dan puncaknya ialah telah ditebang jiwa manusia.
Bentuk telah ditebang pohon kedondong dan maoni juga bermajas inversi karena predikat terletak di depan subjek. Meletakkan predikat (dalam hal ini frase telah ditebang) pada awal baris jelas untuk memberikan tekanan pada frase tersebut. Mengapa demikian? Karena persoalan kesewenang-wenangan semacam itu amatlah terlihat dan menonjol pada saat puisi itu disusun.

5. Memahami baris dan bait
Baris merupakan ciri visual puisi, sedangkan bait merupakan perwujudan kesatuan makna dalam puisi. Fungsi bait mirip fungsi paragraf dalam karangan paparan. Setiap bait mengandung satu pokok pikiran.
Bait pertama puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berisi sebuah pertanyaan apakah tanah milik rakyat yang dijual demi pembangunan itu telah mendapatkan ganti rugi secara layak atau justru tidak mendapatkannya sama sekali.
Bait kedua mengandung gagasan bahwa persekutuan kita dengan orang-orang asing yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu justru hanya akan menyengsarakan rakyat.
Bait ketiga menegaskan bahwa rakyat telah ditebang kemanusiaannya, juga jiwanya.
Bait keempat menunjukkan justru alamlah, justru binatanglah yang telah menjadi saksi kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia. Hati manusia telah beku untuk saling peduli.
Bait kelima menanyakan sekali lagi secara sinis bahwa benarlah rakyat telah mendapatkan ganti rugi atas tanahnya yang dikorbankan dalam pembangunan.
Bait keenam secara sunyi penyair menegaskan bahwa ia siap menjadi saksi.

6. Memahami tipografi dan enjambemen
Tipografi ialah ukiran bentuk, artinya ialah bagaimana puisi itu diungkapkan secara grafis oleh penyairnya. Pemakaian huruf kapital dan tanda baca juga merupakan bagian dari ikhwal tipografi.
Baris-baris puisi Suripan Sadi Hutomo itu selalu dimulai dengan huruf kapital dan tanpa titik pada setiap akhir baris, kecuali tanda tanya pada akhir baris Apakah kau hanya dibohongi?
Mengapa Suripan menulis grafis puisinya semacam itu? Bisa jadi huruf kapital pada awal baris menandai bahwa kehidupan (rakyat) itu sebenarnya telah dimulai dengan langkah atau program yang serba pasti. Lalu mengapa tidak diakhiri dengan tanda titik? Karena hari esok tetap saja merupakan teka-teki, muara kehidupan mereka belumlah jelas.
Puisi tersebut dikemas dengan pola kwatren (puisi empat seuntai). Pola semacam itu mengingatkan kita pada pola-pola klasik. Akibatnya ada kesan lama dan amat tradisional. Kesan semacam itu sengaja dibangun oleh Suripan Sadi Hutomo untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat miskin. Nah, itulah hubungan tipografi dengan makna puisi.
Sedangkan enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi, dan hubungan antarbaris dalam puisi itu.
Suripan Sadi Hutomo dalam puisinya di atas memang tidak melakukan pemenggalan yang tak berdasarkan kaidah bahasa. Pemenggalan yang terdapat pada baris Apa kau telah dapat ganti rugi/ Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami merupakan pemenggalan secara fraselogis. Keliaran tidak terdapat dalam puisi Suripan Sadi Hutomo itu karena, sekali lagi, Suripan dalam konteks masyarakat tradisional dalam puisi di atas ingin menunjukkan bahwa masyarakat itu pada umumnya amatlah patuh dan taat pada aturan yang telah disepakati bersama, pada konvensi yang berlaku. Bandingkan dengan puisi berikut ini.

MENGEMBARAKAN RUH
Seharusnya aku kembarakan ruhku
Di rimba-rimba angkasa. Rambahi
Rumput luntas segar dan mata air
Mencari ganti air susu ibu
Sebelum kering

Adik, kenalilah namaku ini
Perahlah isi ruhku setibaku kembara
Dan kita menghisap payudara laut
Sambil membaca lintasan kabut

(Leres Budi Santoso, 1989)

Perhatikan pemenggalan yang dilakukan Leres dalam puisinya. Simak saja bait apertama: Kalimat seharusnya aku kembarakan ruhku di rimba-rimba angkasa dipenggal menjadi seharusnya aku kembarakan ruhku/ di rimba-rimba. Dan kalimat Rambahi rumput luntas segar dan mata air dipenggal manjadi rambahi/ rumput luntas segar dan mata air. Untuk apa itu semua? Untuk menonjolkan unsur bahasa yang dianggap penting karena makna dan pesannya yaitu unsur di rimba-rimba dan unsur rumput luntas segar.

7. Memahami makna dan amanat
Berdasarkan analisis kita terhadap judul, latar, kata ganti, majas, baris dan bait, serta tipografi dan enjambemen barulah kita dapat menyimpulkan makna dan amanat puisi.
Sebagai contoh kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo.
Puisi Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi di atas menempatkan si aku lirik (bisa penyair atau pribadi lain yang peduli terhadap lingkungan masyarakat tertindas) bersama dengan alam menjadi saksi atas korban pembangunan. Penebangan kemanusiaan sangat memprihatinkan, tetapi anehnya terus berlangsung tanpa putus-putusnya. Itulah kurang lebih makna puisi tersebut. Lalu apa amanatnya, yaitu pesan penyair yang secara implisit terkandung dalam puisi itu? Tentu saja kita diharapkan untuk lebih memperhatikan nasib masyarakat kecil yang dengan dalih pembangunan tanah sedikit yang mereka miliki tergusur tanpa ganti rugi yang pantas.

8. Contoh Penafsiran Puisi

SETELAH KEMATIAN ISTRI
Oleh Tengsoe Tjahjono

Syahrir Latif adalah penyair kelahiran Silungkang Sumatera Barat, 3 Juni 1940. Saat istrinya wafat ia amat kehilangan. Kesedihannya ia tuliskan dalam beberapa puisinya. Berikut ini salah satu puisi yang ditulisnya.
SENJA PERTAMA SETELAH KAU BERANGKAT

Lepas lohor, siang tadi, kau berangkat ke Karet (1)
Aku mengantarmu ke ujung jalan (2)

Waktu senja lampu-lampu menyala (3)
Masih seperti sediakala (4)
Lalu, azan magrib (5)
Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah (6)
Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana (7)

(Syahril Latif, 1978)

Puisi Latif ini berjudul Senja Pertama Setelah Kau Berangkat. Ada dua hal yang perlu ditanyakan atas judul itu, pertama: siapa kau dalam judul itu; kedua: kau itu berangkat ke mana.
Dalam baris (1) ada kalimat kau berangkat ke Karet. Karet adalah kuburan di Jakarta. Jadi, tampaknya kau berangkat ke pemakaman, atau kau dimakamkan karena sudah meninggal. Lalu siapa kau? Pada baris (6) terbaca kalimat Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah. Ungkapan ini tampak ditujukan pada seseorang yang tidak ada di antara mereka ialah istri bagi aku lirik atau ibu bagi anak-anak mereka. Dengan demikian judul di atas mengisyaratkan perihal suasana hati aku lirik sehari setelah istrinya menghadap Sang Khaliq.

Antara Kehilangan dan Syukur
Puisi Latif ini terkesan amat bersahaja. Kebersahajaan itu tampak pada pemilihan kata, majas, dan tipografinya. Kesederhanaan ini menjadikan puisi itu hanya berupa deskripsi perasaan aku lirik terhadap kematian istrinya.
Puisi ini terdiri atas dua bait, bait pertama merekam keadaan lepas lohor saat sang istri diberangkatkan ke pemakaman; bait kedua menuliskan suasana senja saat aku lirik shalat berjamaah bersama anak-anaknya. Pada bait pertama sang istri hadir sebagai jenasah yang akan dimakamkan, pada bait kedua sang istri hadir dalam bentuk bayangan dalam kenangan.
Ada dua latar waktu yang memiliki sugesti suasana berbeda yaitu: lepas lohor dan senja. Lepas lohor memberikan suasana saat matahari mulai tergelincir menuju ufuk barat. Matahari baru saja terik. Artinya, sang istri aku lirik wafat pada usia yang masih amat produktif. Matahari sedang terang-terangnya memberikan cahayanya kepada bumi. Kepergian matahari atau sang istri yang begitu tiba-tiba tentu amat menyedihkan.
Latar waktu yang lain ialah senja. Pergeseran dari sore ke malam. Suasananya cenderung remang dan lembut. Saat itu manusia mulai istirahat. Bahkan, saat itu dengan sholat magrib manusia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang diterimanya hari itu. Senja memberikan sugesti romantis dan sekaligus religius. Dalam konteks kematian sang istri tampaknya aku lirik pada akhirnya menerima takdir itu dengan syukur. Dia menyadari bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Betapa sederhananya ungkapan Waktu senja lampu-lampu menyala. Tampaknya lampu bukan sekadar bermakna alat penerangan, tetapi bisa jadi Cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa aku lirik saat ditinggal mati istrinya. Mirip ungkapan Amir Hamzah tentang Tuhan: Kaulah kandil kemerla/ pelita jendela di malam gelap.
Ungkapan Aku mengantarmu ke ujung jalan juga amat sederhana. Ujung jalan bukan sekadar bermakna bagian ujung dari sebuah jalan, tetapi peristiwa kematian itu sendiri, akhir hayat. Aku lirik terkesan setia mendampingi sang istri saat sakit bahkan sampai saat sang maut menjemput. Aku lirik terkesan selalu memberikan motivasi kepada sang istri, memberikan semangat kepada sang istri apa pun yang akan menimpanya. Puisi ini, banyak memakai metafora-metafora sederhana.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam penggarapan irama. Penyair membangun irama puisinya dengan mengulang bunyi /a/ berkali-kali, amat linear. Jarang muncul bunyi-bunyi kontras yang melahirkan kejutan-kejutan irama. Hal itu tampak misalnya dalam baris-baris: Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah/Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana. Perulangan bunyi /a/ memberikan nuansa pasrah dan berserah.


BAHAN PELATIHAN
1. Sebagai sebuah dunia lambang puisi menewarkan pelbagai kemungkinan makna. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.
2. Mampukah pembaca atau apresiator menafsirkan makna puisi sesuai dengan makna yang diharapkan oleh penyair? Jelaskan!
3. Untuk mampu memahami puisi, pembaca atau apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Jelaskan maksud pernyataan itu!
4. Apakah maksud pernyataan bahwa judul merupakan lorong untuk menuju makna puisi?
5. Mengapa kia perlu memahami latar yang terdapat dalam puisi saat kita menafsirkan puisi?
6. Tanpa memahami kata ganti yang terdapat dalam puisi apresiator dapat terjebak pada penafsiran yang kurang tepat. Mengapa demikian?
7. Bait merupakan kesatuan makna. Bagaimana dengan puisi yang hanya terdiri atas satu baris saja?
8. Analisislah puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

DIMENSI SAMUDRA
Ikan paling besar makan yang besar
ikan besar makan yang kecil
ikan kecil makan yang terkecil
sedang yang terkecil lebih siap dimakan
daripada cari makan
(Saiful Hadjar, 1992)

9. Analisislah pula puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

LANSKAP KESEDIHAN
Tak kuingat bagaimana hari kemarin bermula
dirimu hanyut dalam kepekatan,
lumpur yang menggila
dan perasaan hidup seperti padang pasir kering

Apa yang tersisa dari keheningan,
pisau-pisau menghunus pada wajahmu,
betapa bayang-bayang tubuh terkoyak kemunafikan
Di jantungmu, isyarat-isyarat yang kugemakan
tumbuh dan terhancurkan,
anganku gagal melawan pusaran angin

Musim panas terbunuh oleh lagu-lagu keajaiban,
tentang kenangan lekuk tubuh dan kecantikanmu,
kini hanya sebuah kamar kosong,
semua bendera masa lalu membakar fantasiku
pada bukit-bukit keinginan
menjadi matahari yang buta dan terasing

Betapa maut datang dengan keagungannya,
monumen-monumen ganjil dari semua jalan raya,
karena hari esok adalah sampah dari pikiran,
menjadi pembunuh atau yang terbunuh

Tetapi mengapa pisau tak bermakna,
kekejaman tak terucapkan lewat kata-kata,
hari-hari kemarin yang kugali
kini menjadi pintu-pintu yang tertutup

Manakala kupejamkan mata, angan-anganku
bersayap
menuju angkasa kelam
sebuah ketakutan yang nyaris runtuh,
siang hari seperti burung-burung di langit lepas

Kukekalkan gairah dalam surga
betapa semua kesedihan kini terkepung
oleh lolong-lolong anjing.

(W.Haryanto, 1997-1998)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar