Kamis, 16 Desember 2010

Kajian Moral

Dendam dan Takut Oidipus dalam Drama
Oidipus Sang Raja Karya Sophokles: Tinjauan Kajian Moral
Oleh: Uman Rejo

A. Pengantar
Karya sastra merupakan hasil dari imajinasi pengarang yang bersumber pada realita kehidupan. Karya sastra yang baik harus menyiratkan hal-hal yang baik dan indah. Aspek keindahan itu sendiri belum lengkap apabila tidak dikaitkan dengan kebenaran. Sebuah karya sastra harus bisa menyajikan kepada penikmat sastra akan kepekaannya terhadap nilai-nilai hidup karya sastra kearifan menghadapi lingkungan kehidupan, realita kehidupan, dan realita nasib hidup.
Ajaran moral mendasari, menuntun, dan menjadi tujuan dalam tindakan hidup manusia. Dalam melangsungkan hidup pribadi manusia itu sendiri tidaklah mudah, di dalamnya roda kehidupan manusia dihadapkan oleh rintangan-rintangan yang tujuannya membawa manusia itu sendiri ke jalan terlarang. Dalam mempertahankan hidupnya, manusia mempertahankan diri dari rintangan-rintangan yang datang dari dalam dan dari luar dengan cara yang benar.
Di dalam drama “Oidipus Sang Raja” karya Sophokles ini, terdapat ajaran moral yang dapat kita ambil sebagai pegangan dalam melangkah melangsungkan hidup. Di sini saya hanya menekankan kajian saya ini pada segala perilaku tokoh utamanya saja, baik itu berupa sikap, tingkah lakunya, perkataannya, maupun segala fikirannya yang ada dalam drama yang kemudian dijadikan acuan pada kajian ini.

B. Pembahasan
Ajaran moral dalam kehidupan diri sendiri atau pribadi pada dasarnya adalah ajaran moral yang berkaitan dengan diri seseorang. Jadi, ajaran ini berkenaan dengan diri sendiri dalam bertingkah laku, berfikir, dan bersikap menghadapi hidup dan kehidupan.
Persoalan manusia dengan dirinya sendiri dapat bermacam-macam jenis dan intensitasnya. Ia dapat berhubungan dengan masalah-masalah seperti: eksistensi diri, harga diri, rasa percaya diri, takut, maut, rindu dendam, keterombang-ambingan antara beberapa pilihan, dan lain-lain yang bersifat melibat ke dalam diri dan kejiwaan seorang individu (Nurgiantoro, 2010: 324).
Di dalam drama “Oidipus Sang Raja” karya Sophokles yang diterjemahkan oleh Rendra ini, terdapat ajaran moral dalam kehidupan dengan dirinya sendiri atau pribadi yang mana pada kajian ini saya fokuskan pada masalah dendam dan takut yang dialami oleh tokoh utama Oidipus diantaranya akan diuraikan di bawah ini.
1. Dendam
Tokoh Oidipus di sini merasa kasihan dengan kematian yang di alami oleh Laius sehingga dia menaruh dendam kepada orang yang sudah membunuh Laius itu. Dan bila Oidipus menemukan pembunuh itu akan di bekunya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

Karena itu aku bersumpah
Akan menuntut balas kematiaanya
Bagai seakan-akan kebela bapakku sendiri
Akan kucoba segala cara,
Tak akan berhenti aku mencari,
Sampai kubekuk dia si durjana,
Yang telah membunuh Laius kita,
Putera Labcadus, cucu Polydorus,
Keturunan Agenor yang mulia,
Dan Kadmus pendiri negeri kita.
(Halaman 28-29)

Dari kutipan di atas mengajarkan kepada kita bahwa mempunyai sikap dendam itu tidak baik, karena pada hakikatnya manusia itu tidak ada yang sempurna, kadang salah dan kadang benar.

2. Takut
Tokoh Oidipus disini merasa ketakutan karena mendengarkan ramalan dari seseorang peramal yang bernama Teirisias. Peramal itu meramalkan kalau Oidipus akan membunuh bapaknya sendiri dan mengawini ibunya sendiri. Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

Cukup!
Apakah ini bisa ditanggung lagi?-
Entahlah kau!
Terkutuklah!
Pergi dari istana saya!
(halaman 45)

Tokoh Oidipus di sini malahan menuduh kalau Creon itu berkomplot dengan Teirisias atau peramal itu, agar Creon bisa menjadi raja di Thebes. Creon adalah ipar dari Oidipus atau sepupu dari Jocasta. Creon berkomplot dengan Teirisias dengan cara menuduh kalau Oidipus akan membunuh Bapaknya sendiri dan ibu kandungnya sendiri. Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

...........
Seandainya Teirisias tidak berkomplot dengan Anda
Bukankah ia tidak akan tiba-tiba menuduh saya?
Menuduh saya membunuh Laius raja!
(halaman 55-58)

Setelah menganggap kalu Creon berkomplot dengan Teirisias sang peramal, Oidipus langsung memberikan hukuman kepada Creon dengan cara membunuhnya. Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

....., Aku menuntut matimu!
(halaman 62)

Ketika akan membunuh Creon, Jocasta berusaha agar tidak terjadi pembunuhan itu dengan cara membujuk Oidipus. Jocasta adalah permaisuri raja Thebes. Tapi karena takut tahta kerajaannya dan takut di usir dari negaranya di ambil oleh Creon, Oidipus pun tak menghiraukan apa itu masukan dari Jocasta tersebut. Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

Janganlah terpedaya.
Akulah yang kena akbatnya.
Aku akan kehilangan tahta dan diusir dari negara.
Apakah ini yang kau minta?
(halaman 66)

Tapi Oidipus pun sadar dengan masukan yang diberikan oleh Jocasta dan rakyat pun ikut mendesaknya, akhirnya Oidipus pun mengalah, walaupun akhirnya nanti dia pun akan punah. Dan Oidipus pun akhirnya membebaskan Creon dan menyuruhnya untuk pergi. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan sebagai berikut:

Jadilah! Jadilah!
Bebaskan ia, aku mengalah!
Meski akibatnya aku akan punah.
Atau dibuang di usir mentah-mentah
Aku mengalah
Bukan kerna sumpah,
Aku mengalah karena rakyat mendesak.
Ia tetap kubenci, kuserapah.
Tanpa batas, tanpa setelah.
(halaman 67)
Pergilah! Enyahlah dari sini1
(halaman 68)

Setelah itu, Oidipus menceritakan kepada Jocasta tentang alasan kenapa Creon itu harus dibunuh. Alasan Oidipus ingin membunuhnya karena dia dituduh membunuh Laius Putera Labdacus. Setelah itu Jocasta menceriterakan kronologis tentang kematian dari Laius. Hal ini bisa dilihat pada halaman 70 sampai halaman 76. selanjutnya Oidipus juga menceritakan kepada Jocasta tentang tujuman dari Dewa Apollo kepadanya bahwa dia akan membunuh ayah kandungnya sendiri dan ibu kandungnya sendiri. Hal ini bisa diliha pada halaman 77 sampai halaman 83.
Ketakutan Oidipus muncul lagi, ketika suatu ketika ada orang dari Corintha memberikan kabar kalau Polybus wafat. Oidipus pun terkejut mendengar kabar itu. Polybus adalah ayah angkat dari Oidipus. Polybus merupakan orang yang tahu tentang asal-usul dari Oidipus dan yang merawatnya sejak bayi. Hal ini bisa dilihat pada halaman 90 sampai halaman 92. Polybus wafat karena usiannya yang sudah tua.
Setelah itu, ketakutan Oidipus muncul lagi. Yaitu takut untuk mengawini ibu kandungnya sendiri. Hal ini terlihat pada kutipan sebagi berikut:

Tidak! Masih ada lagi!
Takutku masih ada sebuah lagi!
Takut mengawini ibuku sendiri!
(halaman 93)

Karena ketakutan itu, akhirnya oidipus lari ke Corintha, agar bisa terhindar dari tujuman-tujuman itu. Dan Oidipus menceritakan hal ini pada seorang Corintha. Corintha adalah tempat di mana Oidipus dibesarkan. Kata seorang orang Corintha kepada Oidipus bahwa Polybus bukan ayah kandung dari Oidipus. Orang Corintha itu menceritakan kalau Oidipus itu saat bayi ditemukan di lembah Cithaeron.
Yang menemukan Oidipus adalah orang Corintha tersebut. Orang tersebut dulunya adalah seorang pengembala. Sebenarnya Oidipus itu diberikan oleh orang Corintha itu. Dia memberi nama Oidipus itu karena pada saat bayi kaki Oidipus kena paku, dan Oidipus sejak kecil menjadi bahan ejek-ejekan teman-temannya. Akhirnya diberi nama Oidipus yang artinya kaki yang cacat.
Jocasta mendengar ceerita orang Corintha itu kepada Oidipus. Jocasta melarang untuk melanjutkan ceritanya. Tapi kerena Oidipus curiga dan terus memaksaagar cerita itu tetap dilanjutkan.
Kemudian karena kecurigaannya itu, Oidipus dengan orang Corintha menemui seorang pengembala yang dulu menjadi budaknya Laius. Pengembala itu sebenarnya tidak mau bercerita. Karena diancam akan dibunuh akhirnya dia menceritakan hal yang sebenarnya. Bahwa bayi itu adalah anak kandung dari Laius Raja Thebes.
Berdasarkan kutipan-kutipan yang ada di atas, kita bisa mendapatkan suatu ajaran, bahwa rasa takut yang berlebihan akan merugikan diri kita sendiri. Dan kita harus senantiasa mengalahkan rasa takut itu dengan menanamkan rasa percaya diri.

C. Penutup
Di dalam drama “Oidipus Sang Raja” karya Sophokles ini, terdapat ajaran moral yang dapat kita ambil sebagai pegangan dalam melangkah melangsungkan hidupnya. Pada kajian ini saya hanya memfokuskan pada sikap dendam dan ketakutan yang di alami oleh tokoh utama yaitu Oidipus. Sikap dendam dan takut yang berlebihan akan merugikan diri kita sendiri. Dan kita harus senantiasa mengalahkan rasa takut dan dendam itu dengan cara menanamkan rasa percaya diri dan pengontrolan diri yang kuat pada diri kita sendiri.

Daftar Pustaka
Atmazaki. 1990. Ilmu Sastra: Teori dan Terapan. Padang: Angkasa Raya.
Darma, Budi. 2004. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa.
Najid, Moh. 2009. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: Unesa Press.
Nurgiantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM Press.
Sophokles. 2009. Oidipus Sang Raja (diterjemahkan oleh Rendra). Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar