Kamis, 16 Desember 2010

Kajian Intertekstual

Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Pengakuan Pariyem
Karya Linus Suryadi AG dan Novel Bekisar Merah
Karya Ahmad Tohari: Telaah Intertekstual














Oleh:
UMAN REJO
NPM 082144008




UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PRODI S1 SASTRA INDONESIA
2010



Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Pengakuan Pariyem
Karya Linus Suryadi AG dan Novel Bekisar Merah
Karya Ahmad Tohari: Telaah Intertekstual

A. Latar Belakang Masalah
Sastra sebenarnya tidak lahir dari kekosongan. Pengarang dalam menciptakan karangan tentu dipengaruhi oleh alam sekitar (masyarakat, kebudayaan, dan bahasa). Oleh karena itu, pengaruh tidak bernilai negative sepanjang pengaruh itu dapat dicernakan dalam karya sastra (Hutomo, 1993: 12). Pada hakikatnya, sang pengarang dalam menciptakan karya sastra melalui daya imajinasinya tentu dipengaruhi oleh situasi dan kondisi lingkungan. Namun, pengaruh situasi dan kondisi lingkungan tidak mutlak tertuang dalam sastra. Aristoteles mengatakan bahwa pengarang tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses kreatif pengarang sambil bertitik pangkal pada kenyataan, menciptakan sesuatu yang baru (Luxemburg, 1986: 17). Karya sastra (sebagai teks) “ia menyimpan berbagai teks di dalamnya” atau “hasil transformasi dari teks lain”. Jadi setiap karya sastra tidak luput dari pengaruh karya lain.
Sastra bandingan sangat membantu menjabarkan bukan saja persamaan, tetapi juga perbedaan karya sastra. Istilah “Sastra Bandingan” dalam praktiknya menyangkut bidang studi, dan lainnya. Pertama, istilah sastra bandingan dipakai untuk studi sastra lisan. Kedua, istilah sastra bandingan mencakup studi bandingan antara dua kesusastraan atau lebih (Wellek dan Warren, 1995: 45).
Pernyataan di atas dikuatkan oleh Hutomo (1993: 7) yang menyatakan bahwa sastra bandingan adalah suatu ilmu yang melibatkan dua sastra berlainan. Demikian juga pendapat Prof. Weisten (dalam Stallnecht dan Herst Frenx, 1990: 13) bahwapenguatan konsep dan pertambahan kajian sastra bandingan membuka jalan kepada membandingkan kesusastraan dengan berbagai bidang lain dalam ilmu kemanusiaan (persamaan dan perbedaan).
Karya Linus ini diambil dengan berbagai pertimbangan yaitu: sosok Linus berkedudukan otodidak, yaitu ia bukan pegawai negeri atau swasta, tanpa gelar kesarjanaan, tetapi ia mampu memberikan kebebasan yang seluas-luasnya dalam berkarya. Ia memunyai keleluasan berfikir yang bebas dari metode dan berbagai pustaka rujukan. Ia juga tidak mau terikat oleh format dan cara penulisan yang standart akademik, sehingga dalam bahasa yang ia pergunakan adalah bahasa pasaran yang dipinjam orang-orang kampung dan orang-orang pasar. Linus selalu berani berfikir kritis sehingga ia berani mengatakan dan membantah pernyataan yang tidak sesuai dengan pendapatnya. Dalam menulis Linus juga memasukkan bahasa modern di dalam karyanya yaitu bahasa campuran Indonesia dan Jawa Modern.
Dengan alasan dan pertimbangan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui isi dan membandingkannya dengan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Dibandingkannya novel Pengakuan Pariyem dan novel Bekisar Merah inidengan pertimbangan sebagai berikut ini:
Ahmad Tohari adalah seorang yang tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman kehidupan pedesaan. Itulah sebabnya semua karya-karyanya selalu bersetting alam. Dia berkesadaran dan berwawasan alam pedesaan, itu terlihat jelas dari karya-karyanya. Dalam karyanya juga selalu terdapat pesan moral dan agama. Dia merupakan orang yang selalu berfikir simpel. Seperti halnya dalam penulisan novel yang pada mulanya merupakan dunia fiksi (bukan alam nyata). Jadi ia merasa memunyai kebebasan untuk mengembara kemana ia suka.
Pertimbangan dan alas an-alasan di atas sesuai dengan pendapat Remak (dalam Stallnecht dan Herst Frenz, 1990: 7) yang menyatakan sastra bandingan memunyai unsur ruang, kualiti, masa, dan intersiti. Ia juga sering membina hubungan dua penulis atau dua Negara atau penulis dengan Negara lain. Sastra bandingan dari segi teorinya boleh membandingkan apa-apa juga tanpa mengira umur karya itu.
Novel Linus Suryadi AG yang berjudul Pengakuan Pariyem ini mengangkat sosok perempuan Jawa tulen dengan kehidupan di desa dan kehidupan di keraton dengan segala kultur yang harus ia jalani, namun membuat hidup dalam kepasrahan kepada nasib kehidupannya. Novel Bekisar Merah ini menceritakan tentang sosok seorang perempuan peranakan Jepang yang tinggal bersama Ibunya (sorang Jawa) di desa Karangsoga dengan kehidupan alam pedesaan yang tenang dan damai, hingga pada ketika ia kehilangan cinta, ia pun mengembara ke kota.
Dari kedua novel Pengakuan Pariyem dan novel Bekisar Merah dapat dilihat bahwa kedua novel tersebut memunyai persamaan dan perbedaan. Dari segi lattar atau settingnya, keduanya sama-sama bernuansa alam pedesaan menuju suasana kota besar. Namun perbedaan terletak pada sosok perempuannya yakni: dalam novel Pengakuan Pariyem sosok perempuannya adalah seorang Jawa tulen dengan kehidupan yang terlalu memelas pada nasib, kurang eksestensial dalam menghadapi benturan-benturan nilai dan ideologi, keadaanya yang memelas diterimanya dengan pasrah. Sedangkan sosok perempuan dalam novel Bekisar Merah yakni seoarang perempuan Jawa peranakkan Jepang dengan kehidupan yang tenteram dan ia merasa tenaga dan cinta demi suatu kebahagiaan namun akhirnya terpuruk karena kehidupan yang penuh ranjau, akibatnya membuat hidupnya dalam kesemuaannya mengalami kebimbangan.
Sedikit gambaran dari kedua novel di atas, ditekankan dalam sastra bandingan oleh Stallnecht dan herst Frenz (1990: 8) bahwa kajian sastra bandingan tidak perlu membandingkan lembar per lembar, memadai keseluruhan karya, penekanan hal-hal penting dengan kaedah penandingan. Penilaian objektif dan subjektif digunakan sekaligus. Tidak ada satu-satu criteria khusus di letakkan keatas pengkaji.
Indonesia telah banyak melahirkan pengarang terkenal dari Jawa Tengah diantaranya ialah Linus Suryadi AG dan Ahmad Tohari dengan karya-karya mereka. Beberapa alasan penulis memilih tokoh perempuan diantaranya: sebagai wanita Jawa dan orang Indonesia yang beragama seharusnya tidak benar bila terlalu berani melanggar norma-norma, sebagai perempuan harus mampu berpendirian kuat agar tidak mudah terombang-ambing oleh ombak kehidupan, menjadi figure perempuan di dunia ini sama yakni ia akan berkeluarga, memunyai anak, dan mengurusnya. Apakah itu wanita karir atau Ibu rumah tangga.
Sastra bandingan menarik bagi penulis karena sastra bandingan adalah ilmu untuk mencari persamaan dan perbedaan, kemudian membandingkannya antar cerita yang satu dengan yang satunya. Dengan demikian penulis, pengkritik, dan pembaca tak perlu mencari-cari di mana letak kesalahan suatu karya sastra apalagi untuk menjatuhkan dan menjelek-jelekkan karya sastra seorang pengarang.

B. Fenomena dan Fokus Penelitian
Fenomena : Tokoh Utama Perempuan dalam Novel Pengakuan Pariyem Karya Linus Suryadi AG dan Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari: Sebuah Perbandingan
Fokus Penelitian :
1. Tokoh utama perempuan dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG,
2. Tokoh utama perempuan dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari,
3. Perbandingan Tokoh utama perempuan dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG dan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan secara empiris berdasarkan data dan fakta. Penemuan, pengembangan, dan pengujian kebenaran yang dicapai dengan penelitian tentulah digunakan sebagai dasar atau fondasi melakukan tindakan dan keputusan, dan dalam aspek pembangunan (Semi, 1993: 7). Sesui dengan fokus penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tokoh utama perempuan dalam novel Pengakuan Pariyem karya Linus
Suryadi AG,
2. Tokoh utama perempuan dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad
Tohari,
3. Perbandingan Tokoh utama perempuan dalam novel Pengakuan
Pariyem karya Linus Suryadi AG dan novel Bekisar Merah karya
Ahmad Tohari.


D. Manfaat Penelitian
Tujuan utama suatu penelitian adalah hasil penelitian tersebut bermanfaat bagi setiap orang yang membutuhkannya. Dengan penemuan yang bermanfaat akan berguna bagi siapa saja. Manfaat bagi penikmat dan pembaca sastra yaitu agar mengetahui bahwa sastra bandingan adalah suatu ilmu yang bertugas untuk mencari dan menemukan perbedaan dan persamaan sesuatu dalam karya sastra. Sastra bandingan bukan untuk menjatuhkan karya orang lain, tetapi hanya untuk membandingkan saja.
Bagi peneliti, dengan penelitian ini peneliti menjadi banyak mengetahui mana yang dipakai dalam menulis dan mana yang harus ditinggal, juga memperluas wawasan melalui pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah penulis dapatkan.

E. Kajian Teori
1. Penelitian sebelumnya yang relevan

2. Tokoh dan Penokohan
Istilah tokoh dan penokohan, sebenarnya tidak memberikan pengertian yang sama persis, tetapi diantaranya menggunakan sinonimnya. Istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita yang membawakan wataknya masing-masing. Dalam novel Pengakuan Pariyem dan novel Bekisar Merah terdapat tokoh-tokoh perempuan di samping tokoh utamanya. Menurut Pefister (dalam Purnamasari, 2001: 27) istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh, sebab sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menyarankan pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam suatu cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menyarankan pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam suatu cerita.
Seorang tokoh melakukan suatu kegiatan tentunya dilandasi suatu motif tertentu. Menurut Oemaryati (dalam Purnamasari, 2001: 52) motif dapat muncul dari berbagai sumber, antara lain:
1. Dari dalam dirinya seberupa kecenderungan-kecenderungan dasar (basic insting). Seorang tokoh melakukan perlawanan memunyai motif tertentu. Kecenderungan-kecenderungan dasar yang dimiliki manusia menyebabkan sesorang ingin dikenal, untuk memeroleh pengalaman tertentu, dan untuk pemuasan libido.
2. Status sosial. Motif untuk peka terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh situasi yang melingkupi, yaitu keadaan fisik dan keadaan social.
3. Interaksi sosial. Rangsangan yang dihubungkan karena hubungan manusia.
4. Watak manusia itu sendiri. Sifat-sifat intelektual manusia, emosionalnya, persepsi, dan akspersinya serta sosiokulturalnya.
Sedangkan untuk karakteristik tiap-tiap tokoh dapat dirumuskan ke dalam tiga dimensi yaitu:
1. Dimensi fisik ialah ciri-ciri badani. Misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tumbuh, cirri-ciri muka, dan lainnya.
2. Dimensi sosiologis ialah ciri-ciri kehidupan masyarakat. Misalnya status social, pekerjaan/.jabatan, peranan dalam masyarakat, pendidikan, kehidupan pribadi, kekerabatan, pandangan hidup masyarakat, agama, kepercayaan, ideology, aktifitas social, organisasi, hobi, bangsa, ras, suku, keturunan, dan sebagainya.
3. Dimensi psikologis ialah latar belakang kejiwaan. Meliputi mentalitas moral dan norma, trikotomi (pikiran, perasaan, kehendak), dan hati nurani.
Kajian sastra bandingan, penulis disini membandingkan dunia karya dalam ilmu kemanusiaan (persamaan dan perbedaan). Tentang falsafah kemanusiaan yang berhubungan dengan kesinambungan masing-masing tokoh utama dengan peradaban di sekelilingnya dan perubahan dalam kesusastraan.
Untuk menentukan persamaan dan perbedaan dalam perjalanan kehidupan tokoh utama perempuan dalam novel Pengakuan Pariyem dan novel Bekisar Merah. Penulis mengunakan teori Psikologi Jawa, terutama dalam ilmu jiwa Kramadangsa. Ini bertujuan untuk memahami dan membantu manusia menemukan identitasnya dan kita akan bebas dari rasa aku dan orang akan menghayati manusia tanpa cirri yakni akan menjadi awas akan diri sendiri (Jatman, 1997: 79). Dalam teori psikologi, manusia mengalami konflik kejiwaan tertentu serta bermuara pula ke permasalahan kejiwaan. Tidak sedikit jumlah manusia yang sukses dalam kehidupan kebendaan senantiasa berusaha keras untuk mencapai tingkat kemampuan yang lebih tinggi tanpa ada batas akhirnya kandas dan menemukan dirinya terbenam dalam penyakit kejiwaan (Semi, 1993: 76).
Masalah yang berkaitan dengan psikologi dalam penelitian ini juga dibahas, karena selain untuk mengetahui motifikasi juga berkaitan dengan proses kreatif pengarang. Berkaitan dengan psikologi tersebut, Budi Darma (dalam Purnamasari, 2001: 54) mengatakan ada tiga alasan mengapa psikologi masuk ke dalam psikologi sastra yaitu: pertama, untuk mengetahui perilaku dan motifaasi para tokoh dalam karya sastra yang langsung atau yang tidak langsung. Kedua, untuk mengetahui proses kreatif pengarang, kendati pengarang pada dasarnya masih awam dalam psikologi, ternyata memiliki intuisi yang sangat tajam mengenai psikologi. Dan ketiga, untuk mengetahui berapa jauh pembaca menagkap karya sastra dan bagaimana sikap serta reaksi psikologis pembaca terhadapkarya sastra.
Teori Pendekatan Struktural adalah teori yang dipergunakan untuk menentukan tokoh utama tetapi penulis di sini hanya mengambil dari segi penokohan dan latar. Penokohan dalam suatu cerita tidak bisa dibicarakan langsung tetapi disampaikan melalui pilihan nama tokoh, penggambaran fisik tokoh, dan melalui catatan tokoh (dari catatan kuliah teori sastra). Latar menyangkut latar tempat, latar waktu, maupun latar social budaya yang membentuk konflik. Mengenai hal ini, Atar Semi (1993: 69) menjelaskan bahwa pertalian antara penokohan dan latar ini sangat erat, keduanya saling berhubungan dalam menciptakan dan membentuk konflik. Penokohan atau perwatakan dapat dimulai dari cara perwatakan itu diperkenalkan sampai kepada kedudukan dan fungsi penokohan.

3. Teori Intertekstual
Ratna (2005: 217) mendefinisikan secara etimologi, bahwa interteks, berasal dari kata inter + teks. Prefiks ’inter’

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar