Kamis, 16 Desember 2010

ANALISIS SEMIOTIK DALAM LIRIK LAGU SHOUTUL KHILAFAH

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lirik lagu dapat dimasukkan kedalam genre puisi dalam karya sastra. Hal tersebut dapat ditunjukkan dengan kemiripan unsur-unsur antara puisi dengan lirik lagu. Pada puisi terdapat kadar kepadatan dan konsentrasi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan prosa (Pradopo, 1995:11). Dan pada lirik lagu juga memiliki hal yang sama yakni kadar kepadatan dan konsentrasi yang tinggi. Menurut Pradopo (1995:7) puisi itu menggekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Dari pendapat Pradopo tersebut lirik lagu juga memiliki hal yang sama dengan puisi. Dengan persamaan antara unsur-unsur puisi dan lirik lagu maka dalam perkembangan karya sastra terdapat pementasan dengan menampilkan pembacaan puisi yang disebut musikalisasi puisi. Dengan demikian lirik lagu dapat dikaji menggunakan teori dan metode yang sama dengan puisi.
Lirik lagu merupakan susunan dari bahasa dengan kandungan gagasan yang dikombinasikan dengan estetika dan irama dalam pelantunannya Gagasan yang akan disampaikan dalam lirik lagu memiliki keistiwewahan tersendiri. Hal tersebut dikarenakan lirik lagu memiliki beragam fungsi didalamnya, antara lain (a) fungsi pengungkapan emosi, (b) fungsi pengungkapan rasa estetik (c) fungsi hiburan (d) fungsi reaksi jasmani (g) fungsi penyelenggara norma-norma sosial (h) fungsi pengesahan lembaga sosial dan (i) fungsi pengitegrasihan sosial (Eriam, dalam Susanto 2008:2). keistimewahan tersebut bisa dijelaskan bahwa penyampaian gagasan dalam lirik lagu akan lebih berpengaruh karena didukung oleh fungsi-fungsi didalamnya.
Lirik lagu senantiasa terkait dengan gagasan yang ingin disampaikan oleh penuturnya untuk mempengaruhi objek. Hal tersebut dikarenakan dalam melakukan komunikasi manusia memiliki tujuan yang diinginkannya. Begitu halnya dengan lirik lagu Shoutul Khilafah merupakan media untuk untuk mengusung ide dari organisasi masyarakat yang dikenal dengan Hizbut Tahrir Indonesia dalam interaksinya dengan masyarakat.
Ide yang ingin disampaikan melalui Lirik Lagu dapat diwujudkan dalam bentuk tanda, baik itu berupa Icon, Indeks, Simbol dan bentuk tanda yang lain. Dengan tanda-tanda tersebut objek dapat memahami makna lirik lagu yang didalamnya telah ditanam ide tertentu oleh pencipta lagu tersebut. Pengeksplorasian tanda yang terdapat dalam lirik lagu dapat dilakukan dengan menggunakan pisau analisis semiotik sebagai ilmu tentang interpretasi tanda (Paul Cobley dan Litza Janz, dalam Khuta Ratna (2004:97).
Muatan dalam lirik lagu Shoutul Khilafah cenderung kepada hukum-hukum islam yang ingin diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Lirik lagu ini juga digunakan dalam acara-acara yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, baik seminar, Ring back tone, talk show ataupun aksi turun jalan. Penggunaan lirik lagu tersebut dalam kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dimaksudkan untuk menyampaikan ide hukum-hukum islam untuk diterapkan dalam setiap lini kehidupan. Dengan demikian muatan lirik yang sengaja ditanami ideologi tentu berpotensi untuk dianalisis dengan semiotik kemudian tanda yang terdapat dalam lirik lagu tersebut dapat diinterpretasi.
Shoutul Khilafah diambil untuk dianalisis karena memiliki keunikan bila dibandingkan dengan lagu islami yang lain. Adapun keunikan tersebut diantaranya :
1. Merupakan lagu dengan tema kekhilafahan islam yakni berkaitan dengan penyeruhan penegakan hukum-hukum islam dalam Pemerintahan Islam. Tema yang terkategori perpolitikan tersebut menjadi pembeda dari tema lirik lagu lain yang berkutat pada tataran ibadah ritual dengan Tuhannya dan akhlak semata.
2. Shoutul Khilafah dilantunkan oleh HTI ketika mereka mengadakan aksi turun jalan (Demo) sebagai media penyampaian ide juga sebagai penyemangat peserta aksi ketika berada di jalan. Dengan begitu lagu ini begitu penting untuk ditelaah karena memiliki aspek interaksi sosial dengan masyarakat.
3. Shoutul Khilafah memiliki relevensi kuat dengan kehidupan nyata masyarakat. Karena lagu ini memberikan solusi alternatif dalam setiap permasalahan kehidupan dengan islam, dan solusi tersebut bersifat praktis yakni penerapan pemerintahan islam, Khilafah Islamiyah.
4. Lagu ini pertama kali dilantunkan dalam acara Konfrensi Khilafah Internasional pada 12 Agustus 2007 di GLORA Bung Karno dan dihadiri 100.000 peserta dari indonesia dan internasional. Selain sebagai pembentuk opini publik tentu lagu ini menjadi sorotan dunia pada saat itu, karena mengungkapkan tujuannya untuk mengganti sistem kehidupan kapitalis saat ini menjadi sistem islam.
Dengan demikian dari beberapa argumen diatas dapat ditunjukkan keunikan lirik lagu Shoutul Khilafah yang berpotensi untuk menghasilkan tanda-tanda yang bisa dicari maknanya dengan semiotik. Olehkarena itu lirik lagu tersebut layak untuk dijadikan sebagai objek penelitian semiotik.
Mengamati potensi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah diatas peneliti memutuskan untuk meneliti lebih dalam tanda yang berkaitan dengan idiologi islam dengan kajian semiotik. Kajian semiotik dalam penelitian yang berjudul ANALISIS SEMIOTIK DALAM LIRIK LAGU SHOUTUL KHILAFAH diharapkan memberikan kejelasan makna lirik lagu dan fungsi-fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah.
C. Rumusan Masalah
Berawal dari pemahaman latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka peneliti merumuskan masalah penelitian tersebut antaralain:
1) Bagaimanakah makna lirik lagu Shoutul Khilafah melalui kajian semiotik Charles Sanders Peirce?
2) Bagaimanakah Fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah?
D. Tujuan
Memahami permasalahan yang telah dikemukakan diatas maka tujuan penelitian ini adalah:
1) Memperoleh deskripsi makna lirik lagu Shoutul Khilafah melalui kajian semiotik Charles Sanders Peirce?
2) Memperoleh deskripsi fungsi yang terdapat dalam lirik lagu Shoutul Khilafah?
E. Manfaat
1) Manfaat teoritis
Penelitian ini memberikan manfaat terhadap pengaplikasihan teori semiotik. Aplikasi teori semiotik dalam penelitian ini akan memperkaya contoh-contoh penerapannya. Penerapan teori semiotik Charles Sanders Peirce terutama untuk hubungan objek dengan tanda (trikotomi pertama) akan semakin nampak sebagai aplikasi teori tersebut dalam mengupas lirik lagu Shoutul Khilafah.
2) Manfaat praktis
Harapan dari penelitian ini adalah mampu memberikan referensi bagi pembelajar semiotik dalam memahami lirik lagu untuk mengetahui makna yang terkandung di dalamnya secara semiotik.. Bagi dosen penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh aplikasi semiotik Charles Sanders Pierce yang berkaitan dengan hubungan objek dengan tanda. Bagi mahasiswa dapat memetik manfaat dalam kasanah teori semiotik Charles Sanders Pierce dan mengetahui cara penerapannya dalam karya sastra dan bisa digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya dalam sudut pandang yang lain.

Bab II
Landasan Teori
2.1 Penelitian Sebelumnya yang Relevan
Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini yakni Penelitian Mansurudin berjudul “perlawanan dalam lirik pengamen jalanan; kajian semiotik”, sebuah tesis. Teori semiotik Charles Sanders Pierce digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian tersebut. Teori semiotik Charles Sanders Pierce yang digunakan ditekankan pada konsep representamen yang mengerucut pada ikon, indeks dan simbol.
Teori Marx yakni teori perlawanan, digunakan untuk mengkaji representasi lirik pengamen. Dan didukung pula dengan kajian teori perlawanan, yang merujuk pada konsep “ekonomi politik” poplin serta “perlawanan kelas” yang dikembangkan oleh Scott.
Penelitian yang dilakukan Mansurudin memfokuskan penelitannya pada sarat sistem tanda sebagai berikut.
1. Makna dalam lirik lagu pengamen jalanan
a. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui ikon
b. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui indeks
c. Pengeksplorasian lirik lagu perlawanan melalui simbol
2. Bentuk-bentuk perlawanan dalam lirik pengamen jalanan
3. Sasaran yang dikritik berdasarkan teks lirik pengamen jalanan
4. Klasifikasi pengamen dan tema lirik pengamen jalanan.
Penelitian diatas berbeda dengan penelitian ini walaupun memiliki relevansi untuk memperkaya kajian dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan oleh Mansurudin tersebut memfokuskan pada perlawanan pengamen dengan menggunakan kajian semiotik dan diperdalam dengan teori idiologi sosialis dengan tokohnya karl marx. Akan tetapi Penelitian “Analisis Semiotik dalam Lirik Lagu Shoutul Khilafah” memiliki keunikan pada pendeskripsian fungsi yang terdapat dalam lirik lagu tersebut. Penelitian ini lebih menekankan pada bagaimana kontribusi lagu ini terhadap individu, masyarakat dan negara yang dideskripsikan melalui penelaahan fungsi dari lirik lagu ini.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Semiotik
Coble and Jansz (dalam Sobur, 2006:16) bertutur tentang semiotik bahwa Discipline is simply the analysis of signs or the study of the functioning of sign systems (ilmu tentang tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan berfungsi). Dalam kehidupan sehari-hari manusia telah diliputi tanda disekitarnya, baik secara sadar maupun tak sadar. Ketika mahasiswa dikampus melihat sosok tubuh yang berpakaian resmi dengan memakai dasi, jas serta membawa banyak buku kita langsung dapat menilai bahwa seseorang tersebut adalah dosen. Hal tersebut dapat diketahui karena tanda yang berupa dasi, jas dan kerapiannya serta atribut yang lain mengindikatorkan bahwa dia berprofesi sebagai dosen, begitulah tanda menyelimuti kehidupan kita.
Bahasa juga merupakan tanda yang memiliki makna. Sebagaimana yang dituturkan oleh Pradopo (1995:121) bahwa bahasa sebelum dipergunakan dalam karya sastra sudah merupakan lambang (tanda) yang mempunyai arti yang ditentukan oleh konvensi masyarakat. Sugiarto (dalam epilog cerpen Kompas pilihan 2005-2006) menyatakan bahwa dalam karya sastra semisal cerpen yang sifatnya pendek justru memaksa penulis untuk menimbulkan efek maksimal dengan cara minimal. Artinya dengan membentuk efek maksimal menggunakan cara minimal adalah pembentukan tanda dalam bahasa. Seseorang tak perlu banyak menguraikan kata, karena hanya dengan mengungkapkan satu bait puisi bisa mendeskripsikan makna yang beragam. Penerapan tanda secara konkret dalam sajak W.S Rendra yang berjudul di Meja Makan yakni kata-kata “sambal tomat pada mata”. W.S Rendra tak perlu mengungkapkan bagaimana pedih, perih baik dalam hati maupun mata dengan paragraf namun cukup dengan ungkapan yang minimal dengan efek maksimal yakni dengan ungkapan tanda “sambal tomat pada mata.
Seperti halnya puisi yang memiliki sifat minimali dengan efek maksimal dalam membentuk tanda, maka Tanda dalam lirik lagu shoutul khilafah dieksplorasi dengan menggunakan pisau analisis semiotik Charles Sanders Peirce. Dengan teori yang dicetuskan oleh Peirce lirik lagu Shoutul Khilafah dapat diketahui makna kedua (konotasi) yang diciptakan oleh tanda-tanda yang disebar didalamnya. Dengan begitu pengungkapan makna lirik lagu tersebut dapat diterjemahkan sesungguhnya.
2.2.2 Semiotik Charles Sanders Peirce
Peirce tercatat sebagai seorang paling orisinal dan multidimensional pemikirannya diantara teman-temannya (Zoest, 1993:8). Dialah pencetus ide ‘semiotika’ yang ia katakan bersinonim dengan ‘logika’ (Zoest, 1993:10). Peirce telah menyatakan bahwa semiotik ialah “ a relationship among asign, an object, and a meaning (suatu hubungan di antara tanda, objek dan makna)” Peirce (dalam littlejohn, 1996:64). Pengertian Peirce tentang semiotik tersebut nampak ketika Peirce menjelaskan tiga unsur dalam tanda yaitu representamen, objek dan interpretan dalam segitiga semiotiknya. Lebih lanjut dapat dijelaskan tetang segitiga semiotika Peirce yang dikemukakannya.
2.2.3 Segitiga Semiotik Charles Sanders Peirce
Pierce (dalam Zaimar, 2008:4) menjelaskan tanda didalamnya terdapat tiga unsur yang dapat dijelaskan yakni representamen, objek, dan interpretan. Bagan berikut ini dapat mengambarkan ketiga unsur tadi.




Peirce (dalam Noth, 2006:42) dipaparkan bahwa suatu tanda atau representamen, merupakan sesuatu yang mengacu pada seseorang atas sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda ini merujuk pada seseorang, yakni, menciptakan di dalam benak orang itu suatu tanda yang setara, atau mungkin yang lebih maju. Tanda yang diciptakan itu saya sebut interpretant atas tanda pertama. Tanda itu mengacu pada sesuatu, yakni object-nya. Itu mengacu pada objek itu, bukan dalam semua sisi, namun mengacu pada semacam ide”. Penjelasan berkaitan dengan kata kunci representamen, interpretant dan object sebagai berikut
Representamen merupakan istilah yang digunakan Peirce untuk menyebut “objek yang bisa dirasakan” yang berfungsi sebagai tanda (Peirce dalam Noth, 2006:42). Dalam kata sederhananya maka representamen adalah tanda itu sendiri dimana ahli semiotika yang lain seperti Morris mengatakan dengan bahasanya sign vehicle, signifier diungkapkan oleh Saussure dan Hjelmselv menyebutkan sebagai ekspresi. Hal tersebut dapat dimengerti bahwa representamen merupakan sebuah persepsi terhadap sesuatu yang diwakilinya yakni objek. Misalkan dalam analisi Mansurudin --sebuah tesis-- dijelaskan bahwa kata pahlawan tanpa tanda jasa itu merupakan representamen dari Oemar Bakri (objek).
Objek adalah sesuatu yang diwakili (Zaimar, 2008:4). Objek bisa berbentuk material atau sesuatu yang memiliki keberkenalan perseptual ataukah sekadar imaginaris atau batin akan hakikat tanda atau pemikiran (Peirce dalam Noth, 2006:43). Objek yang material bisa dicontohkan pada benda atau manusia. Sedangkan Objek yang bersifat imaginaris atau batin dapat berupa sebuah ungkapan misalnya dalam kata janji elite (Mansurudin, Sebuah Tesis)
Interpretan adalah tanda yang tertera di dalam pikiran si penerima setelah melihat representamen (Zaimar, 2008:4). Dapat dicontohkan jika objek adalah warna merah dalam bendera merah putih maka representamen adalah keberanian dan interpretan dari warna merah tersebut yakni tak gentar mengambil resiko.
Demikianlah ketiga unsur dalam tanda tadi bekerja. Namun terdapat syarat agar suatu representamen dapat menjadi tanda, yakni adanya ground. Sedangkan ground yang dimaksud disini adalah pengetahuan yang ada pada pengirim dan penerima tanda sehingga representamen dapat dipahami (Zaimar, 2008:4)
Lirik Lagu Shoutul Khilafah dalam analisisnya secara semiotik dapat dipetakan dengan menggunakan triadik tersebut. Hanya saja ketika memahami tanda dalam lirik lagu tersebut perlu sebuah ground yang harus dimengerti sebelumnya dengan mempelajari lebih dalam tentang seluk beluk lagu tersebut.
2.2.4 Klasifikasi Tanda-tanda Menurut Peirce
Peirce mengembangkan suatu tipologi tanda yang merupakan trikotomi.
2.2.4.1 Trikotomi Pertama
Trikotomi pertama ditinjau dari sudut pandang hubungan antara representamen dan objek. Ditunjukkan dengan pembagian tanda secara sederhana antara lain ikon, kemudian indeks dan yang paling canggih adalah symbol (Zaimar, 2008:5)
a) Ikon
Ikon merupakan hubungan yang berdasarkan pada kemiripan (Zaimar, 2008:5). Jadi, representamen memiliki kemiripan dengan objek yang diwakilinya. Sebagaimana dijelaskan oleh Peirce bahwa ikon adalah kesamaan alat tanda dengan objeknya (Noth, 2006:121). Dari sistem triadik semiotik ini, pierce membuat tiga subklasifikasi ikon, yaitu ikon tipologis, ikon diagramatik dan ikon metaforis.
(1) Ikon tipologis adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan bentuk, seperti peta dan lukisan realis (Zaimar, 2008:5).
(2) Ikon diagramatik adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan tahapan, seperti diagram (Zaimar, 2008:5). Sejalan dengan Sudjiman dan Zoest (1996, 14-16) memaparkan bahwa ikon diagramatik adalah adanya gejala struktural yang ditunjukkan dengan kemiripan relasional dan berurutan.
(3) Ikon Metafora adalah hubungan yang berdasarkan kemiripan meskipun hanya sebagian yang mirip, seperti bunga mawar dan gadis dianggap mempunyai (kecantikan, kesegaran). Namun, kemiripan itu tidak total sifatnya (Zaimar, 2008:5).
b) Indeks
Indeks adalah hubungan yang mempunyai jangkauan eksistensial (Zaimar, 2008:5). Eksistensial yang dimaksudkan adalah eksisnya sesuatu tentu disebabkan adanya sesuatu yang lain, dalam bahasa sederhananya adalah hubungan sebab akibat. Oleh karena itu dijelaskan oleh Zoest (1993:24) bahwa dalam hal tersebut hubungan antara tanda dengan detonatum (objek) adalah bersebelahan. Dikatakan bahwa tidak ada asap bila tidak ada api. Asap dapat dianggap sebagai tanda untuk eksisnya api dan dalam hubungan seperti ini asap adalah indeks.
c) Simbol
Simbol yang dimaksudkan Peirce adalah tanda yang hubungan antara tanda dan objek ditentukan oleh suatu peraturan yang berlaku umum (Zoest 1993:25). Peraturan yang berlaku umum di masyarakat misalnya adalah ketika seseorang bertanya kepada yang lain kemudian yang lain memberikan tanda dengan menunjukkan ibu jari orang yang ditanya kepada penanya maka dapat diartikan sebagai sebuah persetujuan.
Dalam lirik lagu Shoutul Khilafah trikotomi pertama yang dikemukakan diatas dapat menjadi bahan analisis lagu tersebut. Karena dalam lirik lagu tersebut apabila ditelaah dengan sudut pandang hubungan antara representamen dengan objek maka yang menjadi representamen adalah lirik lagu tersebut. Lirik lagu Shoutul Khilafah penyeruannya terhadap masyarakat dari berbagai komponen maka dapat digambarkan bahwa objek dari lirik lagu tersebut adalah masyarakat dan segenap aktivitas serta fenomena yang terdapat didalamnya.
2.2.4.2 Trikotomi Kedua
Trikotomi kedua Peirce membuat klasifikasi dengan sudut pandang yakni hubungan representamen dengan tanda. Tahapan yang dikemukakan yakni (firstness, secondness, thirdness), sebagaimana dikemukakan sebagai berikut ini.
a) Qualisign
Qualisign yakni sesuatu yang mempunyai kulalitas untuk menjadi tanda. Ia tidak dapat berfungsi sebagai tanda sampai ia terbentuk sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Hal tersebut berarti sesuatu yang mungkin menjadi tanda maka bisa disebut Qualisign. Dan Peirce (dalam Zoest 1993:19) mengatakan bahwa Qualisign dapat menjadi tanda bila Qualisign memperoleh bentuk (‘embodied’). Misalkan warna merah itu memiliki kemungkinan untuk menjadi tanda sebagai cinta dan sesuatu yang bahaya, sehingga warna tersebut dapat dijadikan sebagai Qualisign. Namun warna merah tersebut baru bisa menjadi tanda manakala dia mendapatkan bentuk mawar sebagai tanda cinta dan bentuk segitiga merah sebagai tanda bahaya.
b) Sinsign
Sinsign adalah sesuatu yang sudah terbentuk dan dapat dianggap sebagai representamen, tetapi belum berfungsi sebagai tanda (Zaimar, 2008:5). Contohnya dapat diambilkan pada bunga mawar merah yang belum di berikan kepada istrinya merupakan sebuah Sinsign. Karena walaupun sudah menjadi representamen namun hal tersebut belum berfungsi menjadi sebuah tanda.
c) Legisign
Legisign yaitu sesuatu yang sudah menjadi representamen dan berfungsi sebagai tanda. Setiap tanda yang sudah menjadi konvensi adalah legisign (Zaimar, 2008:5). Sehingga tanda bahasa merupakan legisign, karena bahasa merupakan kode yang disepakati oleh masyarakat (konvensi)
Lirik lagu Shoutul Khilafah tentu memiliki potensi untuk dikaji dalam trikotomi kedua Peirce. Hal tersebut dikarenakan dalam Lirik lagu ini terdapat suatu representamen dan tanda yang bisa digolongkan dalam Qualisign dan Legisign, yakni ungkapan Khilafah Islamiyah. Karena hal tersebut adalah sebuah kata yang memiliki potensi sebagai tanda dan belum berfungsi sebagai tanda. Karena keberadaan Khilafah Islamiyah itu sendiri belum ada. Penjelasan lebih dalam akan dipaparkan dalam bab 4.
2.2.4.3 Trikotomi Ketiga
Berdasarkan interpretan maka Peirce menjelaskan bahwa tanda dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Berikut ini adalah tahapan yang berdasarkan hubungan antara interpretan dengan tanda.
a) Rheme adalah tanda yang tidak benar atau tidak salah, seperti hampir semua kata tunggal kecuali ya atau tidak. Rheme merupakan tanda pengganti atau sederhana. Ia merupakan tanda kemungkinan kualitatif yang menggambarkan semacam kemungkinan objek. (Noth 2006:45)
b) Discent dalam Zaimar (2008:5) dijelaskan bahwa tanda yang mempunyai eksistensi yang aktual. Sebuah proposisi, misalnya merupakan discent. Proposisi memberi informasi, tetapi tidak menjelaskan. Decisign bisa benar dan juga bisa salah, tetapi tidak memberikan alasannya kenapa hal tersebut bisa terjadi.
c) Argument adalah sebuah tanda hukum (Noth 2006:45) yakni sebuah hukum yang menyatakan bahwa perjalanan premis untuk mencapai kesimpulan cenderung menghasilkan sebuah kebenaran.
Lirik Lagu Shoutul Khilafah didalamnya juga terkandung tanda berdasarkan interpretan. Hal tersebut dapat terjadi karena lirik lagu pada umumnya tidak bersifat menjelaskan namun hanya memampatkan suatu penjelasan dengan perkataan yang singkat. Maka akan nampak kata-kata yang membentuk tanda Discent karena tidak ada alasan lebih dalam mengapa hal permasalahan dalam lirik tidak terjadi. Begitu juga dengan kandungan yang terdapat di dalam lirik lagu Shoutul Khilafah yang menyerukan sesuatu hukum-hukum islam yang diartikan sebagai kebenaran, disinilah letak argumen yang nanti akan dikajih lebih mendalam.
2.2.4 Lirik lagu Shoutul Khilafah
Lirik lagu merupakan sekumpulan sistem tanda yang memiliki intensitas makna sebagai ungkapan terhadap gejala social yang menjadikan stimulasi terbentuknya lirik tersebut (Susanto 2008:24). Karena lirik lagu merupakan rekaman dari berbagai peristiwa dan diwujudkan dalam sistem tanda bahasa (Susanto 2008:24). Dengan demikian lirik lagu dapat didekati dengan kajian semiotik.
Lirik lagu Shoutul Khilafah merupakan lirik lagu yang pertama kali dilantunkan dalam konfrensi khilafah internasional di Jakarta. Kemudian lirik-lirik ini senantiasa digunakan oleh gerakan islam yakni Hizbut Tahrir Indonesia, terutama pada aksi-aksi hizbut tahrir dalam menentang kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat. Dengan demikian penggunaan lirik lagu Shoutul Khilafah oleh sebuah partai politik islam hizbut tahrir menunjukkan bahwa ada kesamaan ide yang terdapat dalam lirik lagu ini dengan pemikiran-pemikiran hizbut tahrir. Sehingga pengkajian lirik lagu ini juga dikaitkan dengan pemikiran-pemikiran partai politik tersebut.

Bab III
Metode Penelitian
3.1 Pendekatan penelitian
Kriyanto dalam Susanto (2008:39) menyatakan pendekatan mengandung dua sifat. Yakni membatasi pandangan dan selektif. Maksudnya adalah dalam penelitian peneliti telah menentukan jperspektifnya tentang realita. Peneliti memerhatikan, mengiterpretasi dan memahami stimulasi dari realita yang ditemui serta mengabaikan stimulasi lain, lalu peneliti berperilaku sesuai dengan prespektif itu.
Pendenkatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Khuta Ratna (2004:60) menjelaskan bahwa dalam filosofis pendekatan sosiologis asalah adanya hubungan hakiki antara karya sastra dengan masyarakat. Hubungan-hubungan yang dimaksudkan disebabkan oleh: a) karya sastra dihasilkan oleh pengarang, b)pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat, dan c) pengarang memanfaatkan kekayaan yang ada dalam masyarakat dan d) hasil karya sastra itu dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.
3.2 Sumber Data dan Data
3.2.1 Sumber data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari file lagu Shoutul Khilafah yang banyak dimiliki oleh gerakan dakwa Hizbut Tahrir Indonesia. Anggota Hizbut Tahrir Indonesia yang pernah mengikuti konfrensi khilafah internasional mengetahui bahwa sebagian lagu ini dilantunkan dalam acara lagu tersebut dan sebagian yang lain terdapat dalam compact dish yang dijadikan souvenir dalam acara tersebut.
3.2.2 Data
Data yang diambil dalam penelitian ini ialah lirik lagu Shoutul Khilafah yang pertama kali di lounching dalam konfrensi khilafah internasional di GOR Bung Karno. Lagu lagu yang tersebut bukanlah lagu yang diperjual belikan di khalayak umum, akan tetapi lagu tersebut digunakan untuk memacu semangat perjuagan dalam menegakkan khilafah islamiyah serta sebagai sarana untuk menyampaikan ide-ide islam. Beberapa lirik lagu yang dijadikan sebagai data dalam penelitian ini adalah lirik lagu berjudul Allahu Akbar (AA), Sambutlah Khilafah (SK), Saatnya Khilafah Memimpin Dunia (SKMD), La izzata Illah Bil Islam (LIIBI), Pribadi Remaja Islam (PRI), Remaja Islam (RI), Selamatkan Dengan Syariah (SDS).
Delapan teks lirik lagu Shoutul Khilafah ini merupakan data penelitian ini yang saling berkaiatan dengan fungsi social lagu dalam masyarakat baik merupakan pemantik semangat anggota gerakan maupun sebagai seruan Ideologi Islam dalam lirik lagu tersebut. Karena pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis maka data yang dibutuhkan dalam penelitian ini melingkupi data primer dan data sekunder. Data primer dalam pendekatan sosiologis ini adalah delapan teks lirik lagu tersebut. Sedangkan data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil pemahaman gerakan dakwa yang diikuti oleh para penyanyi dan partai hizbut tahrir sendiri yang senantiasa menggunakan lagu ini dalam aksi-aksinya.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Nazir dalam Susanto (2008:42) bahwa pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standart intik memeroleh data yang diperlukan. Untuk memeroleh data yang diperlukan dalam lirik lagu Shoutul Khilafah yakni melalui teknik penggunaan dokumen. Hal tersebut dilakukan karena menurut Guba dan Lincoln dalam Moleong (2002:160) bahwa data yang telah ada sebagaimana record dan dokumen bisa didapatkan dengan mudah bila data memang pernah didokumentasikan dan direcord.
Untuk data primer dari penelitian ini yakni berupa delapan lirik lagu Shoutul Khilafah bisa langsung didapat melalui dokumen yang dimiliki oleh para anggota partai Hizbut Tahrir Indonesia. Sedangkan data sekunder berupa informasi ide-ide partai politik tersebut juga didapat dari teknik penggunaan dokumen, baik melalui kitab-kitab yang dipunyai Hizbut Tahrir Indonesia atau melalui person dan website resmi partai tersebut.
3.4 Teknis Analisis Data
Teknik analisis data merupakan bentuk langkah kerja yang sistematis dalam kerja penelitian. Dalam ananlisis data yang telah dikumpulkan mulai diperlakukan dengan cermat dan sistematis berdasarkan permasalahan yang diajukan.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian “Ideologi Islam dalam lirik lagu Shoutul Khilafah (kajian semiotik)” menggunakan tiga teknik, yakni teknik pengklasifikasian, teknik analisis isi dan teknik pengodean. Ketiga teknik tersebut dijabarkan sebagai berikut.
3.4.1 Teknik pengklasifikasian
Teknik pengklasifikasihan data dalam penelitian ini digunakan untuk mengklasifikasikan lirik lagu berdasarkan analisis icon, indeks dan symbol. Pengklasifikasian tersebut memang ditekankan pada analisis tekstual. Hal itu disebabkan analisis tekstual merupakan data primer.
Pengklasifikasihan lirik lagu berdasarkan aspek tanda icon, indeks dan symbol dapat dicermati dalam lampiran yang akan menyajikan tabel-tabel pengklasifikasihan data.
3.4.2 Teknik Analisis Isi
Teknik penganalisisan isi menurut Krippendorf (dalam Mansurudin 2006) merupakan teknik analisis paling representative sebagai teknik yang ingin mengungkap makna maupun symbol-simbol dari suatu teks. Data berupa lirik lagu dianalisis berdasarkan makna yang mewakili bentuk perubahan yang merepresentasikan Ideologi Islam terhadap ideologi dominan.
Dengan teknis analisis itu, tanda-tanda dalam teks lirik lagu Shoutul Khilafah dikaji secara mendalam berdasarkan tanda tanda yang mengindikasikan adanya muatan-muatan ideologis yang diusung penyanyi. Segala tanda yang terdapat dalam lirik lagu ditafsirkan secara sistematis yang tetap dikaitkan dengan kondisi social sebagai data sekunder berdasarkan makna yang merujuk pada Ideologi Islam.

3.4.3 Teknik pengodean
Teknik pengodean digunakan untuk memberikan kode tertentu pada data agar mudah diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang diajukan. Dalam lirik lagu pengamen, pengodean digunakan untuk memberikan kode pada judul lagu, bait, dan baris lirik. Hal itu digunakan untuk memermudah analisis pada setiap judul bait dan baris.
Pengodean terhadap lirik lagu Shoutul Khilafah berdasarkan huruf depan yang terdapat pada judul bait dan baris seperti (SdS/I/5 ) dalam lirik lagu berikut.

“Selamatkan dengan syariah”
I
1. Islam rahmat seluruh alam
2. Agung mulia sempurna
3. Dari Allah pencipota alam
4. Untuk seluruh manusia
5. Terapkan islam hidup mulia
6. Tinggalkan islam hidup terhina



II
7. Selamatkan dengan syariah
8. Indonesia dan seluruh umat
9. Selamatkan dengan syariah
10. Kehidupan menjadi berkah
11. Selamatkan dengan syariah
12. Terapkan hukum quran sunnah
13. Selamatkan dengan syariah
14. Tinggalkan hukum jahiliyah


Daftar Pustaka


Moleong, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya
Nadzir, Muhammad. 1983. Metode Penelitian. Indonesia: Ghalia Indonesia.
Noth, Winfried. 2006. Semiotik. Surabaya: Airlangga University Press.
Pradopo, Djoko Rachmat. 1995. Pengkajian puisi. Yogyakarta: Gadja Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, metode, dan teknik Penelitian Sastra: Pustaka Pelajar.
Sobur, Alex. 2006. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Zaimar. Okke K.S. 2008. Semiotik dan Penerapannya Dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

2 komentar:

  1. judul bukunya eriam itu apa bang,,mohon di balas jadi daftar pustaka ,,penting,,, 087863497440

    BalasHapus