Selasa, 08 Maret 2011

Penelitian Filologi

Pengertian Teori
1.Secara Teori
Teori berasal dari kata “theoria” bahasa latin. Secara etimologi, teori berarti kontemplasi terhadap kosmos dan realita. Dalam hubungan dengan dunia keilmuan, teori berarti perangkat pengertian, konsep, proposisi yang memiliki korelasi, dan telah teruji kebenarannya.
2.Secara Praktis
Teori selalu dipertentangkan dengan praktik. Seharusnya setelah ilmu pengetahuan berhasil mengabstraksikan keseluruhan konsepnya ke dalam suatu rumusan ilmiah yang dapat diuji kebenarannya, yaitu dari teori itu sendiri maka teori itu dapat dioperasionalkan secara praktis.

Fungsi Teori
Teori berfungsi untuk mengubah dan membangun pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan. Teori selalu bertentangan dengan praktiknya. Teori jika diuji akan menghasilkan suatu pengetahuan.

Penggunaan Teori
Fokkema dan Kunne-ibseh (1997: 175) menyatakan bahwa penelitian terhadap KS pada umumnya memanfaatkan teori-teori yang telah ada. Tradisi seperti ini dianggap memiliki kelemahan sebagai akibat penyederhanaan, eklektisisme, dan penyimpulan yang salah. Keuntungan yang diperoleh jelas bahwa peneliti diberikan kemudahan, peneliti tinggal menguji kembali dan menyesuaikan dengan sifat-sifat objek.

Cara Penggunaan Teori
Dalam menggunakan teori yang sudah ada, keuntungan peneliti adalah:
1.Teori yang sudah ada dengan sendirinya sudah teruji yaitu melalui kritik sepanjang sejarahnya
2.Teori dianggap unsure yang sangat penting lebih dari semata-mata alat
3.Belum terciptanya sikap percaya diri atas hasil penemuan sendiri khususnya dalam bidang teori

Proses Pemilihan Teori
Proses penelitian teori dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.Peneliti menggunakan teori terdahulu atau teori formal, yang bersifat deduksi dan apriori
2.Peneliti memanfaatkan teori yang ditemukan sendiri, teori itu diperoleh dari hasil penelitian tersebut, hal itu disebut teori substansi

Teori Formal
Vredenbreght (1983: 2-3) menyatakan bahwa ia memandang pemanfaatan teori-teori formal sebagai langkah yang tepat. Teori dan penelitian harus dibentuk suatu kerangka ilmiah yang koheren. Teori formal artinya teori yang sudah teruji.

Pembaharuan Teori
Ada beberapa teori yang telah diperbaharui seperti:
1.Strukturalisme genetik (Goldman)
2.Semiotik (Saussure, Pierce)
3.Resepsi (Jauss, Rifaterre, Culler)
4.Interteks (Kristeva)
5.Dekonstruksi (Derrida)
6.Poststrukturalisme (Genette, Chatman, Bakhtin, White Ete, Foucault, Lyotard, dsb)

Fungsi Teori dan Metode
Teori dan metode berfungsi untuk membantu menjelaskan hubungan dua gejala atau lebih, sekaligus meramalkan model hubungan yang terjadi. Sebagai cara kerja teori dan metode terdiri atas konsep, proposisi dan kerangka kerja.

Deskripsi Naskah
1.Memaparkan bagian-bagian naskah (kondisi naskah, kapan naskah itu ditulis), bagian-bagian yang menjelaskan tentang bagian teks, yaitu manggala/kolofon.
2.Dikatakan manggala karena pemaparan itu dipaparkan didepan teks sedangkan dikatakan kolofon karena diakhir teks. Ada juga yang diluar teks misalnya nama pengarang itu letaknya di sampul.

Judul Naskah  Nama Naskah
Beberapa alternatif untuk menentukan judul naskah, antaralain:
1.Penonjolan pelaku utama
2.Penonjolan tema cerita
3.Penonjolan isi cerita dan
4.Penonjolan setting (Hutomo, 1984)

Contoh deskripsi:
Naskah Cariyos Sri Sadana berkode PB A 65 memiliki beberapa alternatif untuk menentukan judul diantaranya:
1.Nomer Katalog, di Museum Sanabudaya Yogyakarta Cariyos Sri Sadana PB A 65, dalam bentuk naskah carik/manuskrip. Judul tersebut terdapat dalam catalog Behrend (1990: 406)
2.Pihak museum memberi judul Sri Sadana Punggung. Judul tersebut terdapat dalam daftar catalog museum, dalam bentuk ketikan manual.
3.Penulis (penyalin) member judul lelampahnya Dewi Sri lan Sadana. Judul tersebut terdapat dalam naskah, pada manggala, yaitu bait pembuka yang berisi keterangan naskah salah satu diantaranya informasi tentang judul atau nama naskah. Judul tersebut terdapat pada kutipan P.I.2, berikut:
Manggala:
1.Methik saking caritanireki
2.Pusstakaraja jilidan tiga
3.Sri jayabaya yasane
4.Mamenang narendra gung
5.Ingkang kinon anganggit
6.Nama Empu Kalagyan
7.Pinuju ing taun
8.Wolungatus pitung dasa
9.Langkung sanga lelampahnya Dewi Sri
10.Lan ari Dyan Sadana (P.I.2)
Kolofon:
1.Sampun titi tamat caritanireki
2.Sri lawan Sadana
3.Ingiket tinrapken mungging
4.Sekar myang tembang macapat
(P. XIX.48)
Penulis Naskah:
1.Duk manitra ari soma manis
2.Tanggal kaping sangalikur rajab
3.Mangsa astha paringkelane
4.Mawulu wuku tolu
5.Ing taun dal den sengkalam
6.Tri nembah ngesthi tunggal
7.Kang mangrenggeng kidung
8.Rahaden pancakertarta
9.Kadipaten palwalaman nagari
………………………………

Konsep Kajian Naskah
1.Naskah merupakan objek penelitian filologi. Naskah adalah tulisan tangan yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa masa lampau.
2.Sastra sebagai dokumen sosiobudaya mengungkapkan berbagai informasi dan nilai-nilai yang bisa dimanfaatkan dalam kehidupan bermasyarakat.
3.Cariyos Sri Sadana merupakan karya sastra Jawa yang memiliki nilai mitologis cukup kuat di hati masyarakat, khususnya kalangan petani. Terdapat dalam sastra tulis, sastra lisan, pentas dan tradisi. Tokoh Dewi Sri dipuja dan dimitoskan sebagai dewi kesuburan dan Dewi Sandang pangan. Dalam sastra tulis terdapat versi Hindu dan versi Islam dalam bentuk naskah dan lontar.
4.Naskah koleksi perpustakaan Museum Sanabudaya Yogyakarta No. PB A 65 diangkat sebagai materi penelitian ini karena memuat berbagai tradisi masyarakat yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi tersebut berupa mitos, legenda, sesaji, selametan, jagong bayi, tilik bayi, dan lain-lain.

Kajian Naskah
1.Analisis terhadap naskah digunakan teori filologi. Filologi adalah ilmu yang dengan naskah. Dalam naskah, memuat informasi yang berkaitan dengan teks. Studi filologi selain menelaah tentang naskah juga berusaha membahas teks-teks yang tertuang di dalam naskah.
2.Dalam istila filologi, teks itu isi yang tekandung di dalam naskah.
3.Filologi berkaitan dengan naskah lama, yang berkaitan dengan teks sastra.
4.Filologi merupakan salah satu bagian dari bidang sastra, utamanya sastra lama.
5.Filologi identik dengan studi kebudayaan berdasarkan teks.

Pengertian Filologi
1.Pengertian filologi dari segi istilah
Kata filologi kali pertama digunakan oleh sekelompok ahli sastra dari Iskandariyah abad ke-3 untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu yang berratus-ratus tahun yang lalu. Salah satu ahli yang melontarkan istilah filologi yaitu Eratosthenes.
2.Istilah filologi menurut Eratosthenes:
a.Filologi sebagai ilmu pengetahuan
Tulisan zaman kuna mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang pada zamannya sangat bermanfaat. Filologi merupakan tulisan yang mengandung ilmu pengetahuan.
b.Filologi sebagai ilmu bahasa
Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi. Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi, unsure pertama yang terdapat di dalamnya ialah unsure bahasa. Filologi terkait dengan ilmu bahasa.
c.Filologi sebagai ilmu sastra tinggi
Tulisan masa lalu yang bernilai tinggi merupakan hasil tulisan yang disebut karya sastra.
d.Filologi sebagai studi teks
Yang mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalamnya
(Barried, 1994: 3-4)

Latar belakang timbulnya ilmu filologi:
a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan
b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang
c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang
d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini
e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat

Tujuan ilmu filologi:
A.Tujuan Umum
1.Mengungkapkan produk masa lampau melalui peninggalan tulisan
2.Mengungkapkan fungsi peninggalan tulisan kepada masyarakat penerimaannya, baik pada masa lampau maupun masa kini
3.Mengungkapkan nilai-nilai budaya masa lampau
Tujuan umum tersebut bersifat universal untuk semua kajian filologi, baik di Indonesia maupaun di luar Indonesia seperti kajian filologi Negara-negara ASEAN.
B.Tujuan Khusus
1.Untuk mengungkapkan bentuk mula teks atau naskah yang tersimpan dalam peninggalan masa lampau
2.Mengungkapkan sejarah perkembangan teks
3.Mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang penerimaannya
4.Menyajikan teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan

Kajian Sastra Klasik
1.Kajian filologi lebih banyak pada tulisan yang beupa karya sastra klasik. Pendekatan tradisional terhadap KS yang bisa digunakan adalah pendekatan pragmatic, mimetic, ekspresif, dan objektif (Abrams, 1953)
2.Penelitian ini mengacu pada pendekatan objektif, yaitu pendekatan berdasarkan KS.
Mimetik  tiruan masyarakat
Pragmatik  resepsi/pembaca/pendapat pembaca
Ekspresif  bagaimana si pengarang menuangkan karyanya dalam karya itu
objektif  struktur KS itu

Kritik Teks

Teori Filologi:
1.Pengertian filologi dari segi etimologi:
Barried (1994: 2) kata filologi berasal dari bahasa yunani “philos” dan “logos”. “philos” artinya tema dan “logos” artinya pembicaraan. Filologi dari segi etimologi dapat ditafsirkan sbb: filologi ialah teman pembicaraan.
2.Kata philologia dalam bahasa yunani: berarti “senang berbicara” atau “senang kepada tulisan-tulisan”. Filologi memunyai pengertian senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi seperti KS yang bersifat kuna.
3.Lahirnya filologi dilatarbelakang oleh beberapa factor:
a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan
b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang
c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang
d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini
e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat

Istilah:
1.Pengertian filologi dari segi istilah
Kata filologi kali pertama digunakan oleh sekelompok ahli sastra dari Iskandariyah abad ke-3 untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu yang berratus-ratus tahun yang lalu. Salah satu ahli yang melontarkan istilah filologi yaitu Eratosthenes.
2.Istilah filologi mempunyai:
a.Filologi sebagai ilmu pengetahuan
Tulisan zaman kuna mengandung berbagai ilmu pengetahuan yang pada zamannya sangat bermanfaat. Filologi merupakan tulisan yang mengandung ilmu pengetahuan.
b.Filologi sebagai ilmu bahasa
Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi. Tulisan masa lalu yang termasuk dalam kajian filologi, unsure pertama yang terdapat di dalamnya ialah unsure bahasa. Filologi terkait dengan ilmu bahasa.
c.Filologi sebagai ilmu sastra tinggi
Tulisan masa lalu yang bernilai tinggi merupakan hasil tulisan yang disebut karya sastra.
d.Filologi sebagai studi teks
Yang mengungkapkan hasil budaya yang tersimpan di dalamnya
(Barried, 1994: 3-4)

Latar belakang timbulnya ilmu filologi:
a.Munculnya informasi tentang masa lampau didalam sejumlah karya tulisan
b.Anggapan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam peninggalan tuliasan yang masih relevan dengan kehidupan masa sekarang
c.Kondisi fisik dan substansi materi informasi akibat rentang waktu yang panjang
d.Factor social budaya yang melatarbelakangi penciptaan karya-karya tulisan masa lampau yang tidak ada lagi atau tidak sama dengan latar belakng social pembaca masa kini
e.Keperluan untuk mendapatkan hasil pemahaman yang akurat

Tujuan ilmu filologi:
A.Tujuan Umum
1.Mengungkapkan produk masa lampau melalui peninggalan tulisan
2.Mengungkapkan fungsi peninggalan tulisan kepada masyarakat penerimaannya, baik pada masa lampau maupun masa kini
3.Mengungkapkan nilai-nilai budaya masa lampau
Tujuan umum tersebut bersifat universal untuk semua kajian filologi, baik di Indonesia maupaun di luar Indonesia seperti kajian filologi Negara-negara ASEAN.
B.Tujuan Khusus
1.Untuk mengungkapkan bentuk mula teks atau naskah yang tersimpan dalam peninggalan masa lampau
2.Mengungkapkan sejarah perkembangan teks
3.Mengungkapkan sambutan masyarakat terhadap suatu teks sepanjang penerimaannya
4.Menyajikan teks dalam bentuk yang terbaca oleh masyarakat masa kini, yaitu dalam bentuk suntingan

Hubungan filologi dengan ilmu lain:
Linguistic, bahasa asing, bahasa nusantara, paleografi, sastra, agama, kebudayaan, folklore (filologi lisan), antropologi, sosiologi, dan prasasti.
Tahapan penelitian filologi (suntingan teks)
1.Inventarisasi naskah
2.Perbandingan naskah
3.Penetapan naskah yang akan diteliti
4.Deskripsi naskah
5.Transliterasi
6.Terjemahan
7.Naskah siap dianalisis sesuai tujuan yang dikemukakan

Penelitian naskah: prosedur kajian naskah
Jenis tujuan kerja filologi terkait dengan bidang masing-masing. Seperti kajian filologi untuk mengkaji unsure kebahasaan, unsure kesasteraan, unsure kebudayaan, unsure teknologi, unsure adat istiadat, dan sebagainya. Adat istiadat merupakan salah satu bagian yang terdapat dalam naskah.

Prosedur penelitian filologi:
1.Inventarisasi naskah
Mencari naskah dibeberapa perpustakaan, dalam dan luar negeri.
2.Perbandingan naskah
Membandingkan beberapa naskah untuk mencari silsilah naskah.
3.Penetapan naskah yang akan diteliti
Menentukan naskah yang akan dijadikan bahan penelitian.
4.Deskripsi naskah
Memerikan keadaan naskah, seperti: jenis, penulis naskah, keadaan naskah, saat penulisan, dsb.
5.Transliterasi
Alih tulisan dari aksara Jawa ke aksara latin.
6.Terjemahan
Menterjemahkan teks dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.
7.Naskah siap dianalisis sesuai tujuan yang dikemukakan.

Beberapa metode kritik teks:
1.Metode stema
Metode yang digunakan untuk menentukan silsilah naskah yang akan di teliti.
2.Metode diplomatis dan kritis
Metode ini digunakan untuk menentukan jenis transliterasi naskah yang digunakan.
3.Metode intuitif
Metode kritik teks yang berupaya menentukan naskah dengan perbandingan akal sehat.
4.Metode objektif
Metode kritik teks dengan mengadakan perbandingan naskah.
5.Metode gabungan
Metode kritik teks dengan perbandingan dengan gabungan teks yang dianggap baku.

Konsep kritik teks
Pengertian:
Kata “kritik” berasal dari bahasa Yunani “krites” artinya “seorang hakim”. Krinein artinya “menghakimi”. kriterion artinya “dasar penghakiman”. Kritik teks adalah memberikan evaluasi terhadap teks, meneliti, dan menempatkan teks pada tempat yang tepat (Barried, 1994: 61).
Tujuan:
Kritik teks bertujuan untuk menghasilkan teks yang sedekat-dekatnya dengan teks aslinya atau constitution textus (Barried, 1994: 61).

Langkah-langkah kritik teks:
1.Perbandingan teks
Teks banyak disalin, sehingga banyak teks. Teks yang frekuensinya penyalinan banyak, artinya disenangi. Untuk itu dilakukan perbandingan. Untuk mencari teks mendekati asli.
2.Menemukan teks yang benar
Hasil perbandingan teks adalah ingin menemukan teks yang mendekati teks asli.
3.Penyuntingan teks
Beberapa teks yang dianggap mendekati asli disunting untuk mendapatkan teks yang dianggap benar.
4.Rekonstruksi teks
Teks yang telah dipugar dijadikan teks yang dianggap paling benar.
(Barried, 1994: 62-63)

Kalau teksnya hanya satu, itu ada perlakuan khusus, itu namanya teks yang unik, tapi kalau banyak itu menjadi perbandingan teks, nanti akan muncul dua kemungkinan yaitu:
1.Teks asli
2.Teks suntingan

Transliterasi
Pengertian:
Transliterasi adalah penggantian jenis tulisan, huruf demi huruf dari abjad yang satu kepada abjad yang lain. Istilah ini dipakai bersama-sama dengan istilah transkripsi dengan pengertian yang sama pada jenis penggantian tulisan naskah.
Penggantian jenis tulisan pada prasasti disebut transkripsi.
Penggantian jenis tulisan pada naskah disebut transliterasi.

Sastra Bandingan

Sastra bandingan menurut sejarahnya dibedakan menjadi dua aliran, yaitu:
1.Aliran Perancis = membandingkan dua KS dari dua Negara yang berbeda
2.Aliran Amerika = a. membandingkan dua KS dari dua Negara yang berbeda
b. membandingkan dua KS dengan bidang ilmu atau seni yang lain
Syarat sastra bandingan menurut Maman S. Mahayana yaitu:
1.Perbedaan bahasa
2.Perbedaan wilayah
3.Perbedaan politik
Fungsi Sastra bandingan  untuk meneliti pertalian sastra antar bangsa
Sastra bandingan menurut Rene Wellek dan Austin Warren:
1.Istilah sastra bandingan kali pertama dipakai untuk studi sastra lisan, cerita rakyat, dan migrasinya, bagaimana dan kapan cerita rakyat masuk ke dalam penulisan sastra yang lebih artistik.
2.Istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Sastra bandingan di sini disamakan dengan studi sastra menyeluruh.
3.Sastra Dunia merupakan sastra nasional yang diberi peluang meletakkan dirinya dalam lingkungan sastra di dunia dengan kriteria tertentu.
Perbedaan antara Sastra Nasional, Sastra Bandingan, dan Sastra Umum:
1.Sastra nasional hadir dalam satu lingkungan atau terbatas pada satu Negara
2.Sastra bandingan hadir diluar lingkungan untuk melibatkan dua sastra yang berlainan
3.Sastra umum hadir di atas lingkungan sejumlah Negara yang lebih luas yang dikelompokkan kedalam unit-unit.
Objek kajian Sastra Bandingan menurut Suripan Sadi Hutomo:
1.Membandingkan dua KS dari dua Negara yang bahasanya benar-benar berbeda
2.Membandingkan dari dua Negara yang berbeda dalam bahasa yang sama
3.Membandingkan karya awal seorang pengarang di Negara asalnya dengan karya setelah berpindah kewarganegaraannya
4.Membandingkan karya seorang pengarang yang telah menjadi warga suatu Negara tertentu dengan karya seorang pengarang dari Negara lain
5.Membandingkan karya seorang pengarang Indonesia dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia
6.Membandingkan dua KS dari dua orang pengarang berwarga Negara Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang berbeda
7.Membandingkan KS seorang pengarang yang berwarga Negara asing di suatu Negara dengan karya pengarang dari Negara yang ditinggalinya (kedua KS ini ditulis dalam bahasa yang sama)
Menurut Sapardi Djoko Damono:
1.Sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak menghasilkan teori sendiri
2.Uraian yang dilaksanakan dalam sastra bandingan berlandaskan asas banding-membandingkan
Menurut Remak:
 sastra bandingan adalah kajian sastra di luar batas-batas sebuah Negara dan kajian
hubungan di antara sastra dengan bidang ilmu serta kepercayaan (seni) yang lain.
Menurut Nada:
1.Sastra bandingan adalah suatu studi atau kajian sastra suatu bangsa yang mempunyai kaitan kesejarahan dengan sastra bangsa lain, bagaimana terjalin proses saling memengaruhi antara satu dengan lainnya, apa yang telah diambil suatu sastra, dan apa pula yang telah di sumbangkannya
2.Perbedaan bahasa merupakan salah satu syarat utama bagi sastra bandingan
3.Dia membuat studi mengenai proses perpindahan sastra dari suatu daerah ke daerah lain: tipe (genre), diksi, dan gaya.
Menurut Bassnet:
1.Sastra bandingan adalah studi teks lintas budaya, berciri antar disiplin dan berkaitan dengan pola hubungan dalam kesusastraan lintas ruang dan waktu (Bassnet, 1993: 1)
2.Sastra bandingan adalah tentang relasi (hubungan dari kedua KS itu), bukan tentang esensi (isi) (Manneke Budiman, Kalam, 7)
3.Sastra bandingan adalah kajian interdisipliner atas teks-teks secara lintas budaya yang terfokus pada pola-pola hubungan dalam sastra-sastra yang berbeda baik yang bersifat lintas ruang maupun lintas waktu. Dikatakan minimalis karena ada banyak praktik kajian sastra yang melibatkan lebih satu teks, tetapi tidak dilakukan secara lintas budaya, lintas ruang, dan lintas waktu (Bassnet: Manneke Budiman, Kalam, 7)
4.Apabila terpisah dari persoalan utama budaya dan identitas kebangsaan, kesusastraan bandingan kehilangan tujuan (Bassnet: 41/64)
Menurut Budi Darma:
Sastra bandingan lahir dari kesadaran bahwa sastra tidak tunggal, namun perbedaannya kesamaan terjadi karena masalah manusia, sebagaimana yang plural, dan bahkan semua sastra ada kesamaan-kesamaan dan perbedaan terekam dalam sastra, pada hakikatnya universal, dan perbedaan-perbedaan terjadi karena mau tidak mau sastra didominasi oleh situasi dan kondisi tempatan (Darma, 2007: 53)
Biasanya masalah yang dihadapi oleh manusia yang tertuang dalam KS diantaranya masalah kemiskinan, cinta, kesenjangan social, kondisi social setiap orang itu berbeda-beda, perbedaan sikap manusia menhadapi masalah, kemiskinan dihadapi secara individu, masalah di sini adalah masalah universal. Misal, masyarakat Madura dan Surabaya umumnya berbeda. Biasanya orang yang dari daerah tandus itu orang yang suka bekerja keras.
Bahwa subjek ini (sastra bandingan) berkembang dan meluas di banyak tempat di dunia di mana ia dengan jelas dihubungkaitkan dengan persoalan budaya dan jati diri bangsa (Bassnet, 1993: 8).
Orang Malaysia adalah orang yang menghormati agama, jadi di Malaysia itu sangat damai. Meningkatkan rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Tahun 70-90 an banyak tenaga guru dari Indonesia yang dikontrak untuk mengajar di Malysia. Negara dan jati diri bangsa di injak-injak oleh Malaysia.
Menurut Sahlan Moh. Saman, unsure-unsur yang dibandingkan dalam sastra bandingan yaitu:
1.Kritik dan teori kesusastraan
2.Gerakan kesusastraan
3.Kajian tema
4.Kajian bentuk (genre)
5.Hubungan kesusastraan dengan: sejarah, sejarah falsafah, kesan perbuahan, sumber dan pengaruh, masyarakat, disiplin sains, dan disiplin seni yang lain
(Saman dalam Ahmad, 1994: 20)
Contoh: Sastra bandingan yang dilakukan oleh HB Jassin yaitu membandingkan angkatan 60-an dan angkatan 70-an. Misal tentang tema, tema novel di Indonesia pada saat-saat ini banyak didominasi dengan tema-tema masalah keagamaan, contoh: ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, dan lain-lain.
Menurut Clements (dalam bukunya Sapardi Djoko Damono), pendekatan dalam sastra bandingan:
1.Tema/mitos
2.Genre dan bentuk
3.Gerakan atau zaman
4.Hubungan sastra sebagai bahan bagi berkembangnya teori yang terus-menerus bergulir
Menurut Jost (dalam bukunya Sapardi Djoko Damono):
1.Pengaruh dan analogi
2.Gerakan dan kecenderungan
3.Genre dan bentuk
4.Motif, tipe, dan tema
Motif  dalam dongeng ada banyak motif yang digunakan, misalnya: lutung, biawak, dan kesenderungan kesemuanya itu banyak kesamaan.
Tujuan sastra bandingan:
1.Menghapus pandangan sempit sastra nasional, dan untuk menghilangkan anggapan baha sastra nasional yang satu lebih baik dari sastra nasional yang lain.
2.Untuk melihat perkembangan buah pikiran dalam kehidupan manusia, bagaimana buah pikiran tersebut muncul dan meluas ke berbagai tempat dan bangsa di dunia ini.
Sifat kajian:
1.Kajian bersifat komparatif
Menitikberatkan pada penelaahan teks KS yang dibandingkan, misalnya: studi pengaruh, afinitas, dan intertekstualitas.
2.Kajian bersifat historis
Memusatkan perhatian pada nilai-nilai historis yang melatarbelakangi antara KS dengan karya lainnya.
3.Kajian bersifat teoritis
Menggambarkan tentang konsep, criteria, batasan, atau aturan-aturan berbagai bidang kesusastraan seperti aliran, genre, bentuk, teori pendekatan, kritik sastra, dsb.
4.Kajian bersifat antar disiplin
Kajian sastra dengan disiplin ilmu yang lain.

Jumat, 31 Desember 2010

Sosiologi Sastra

Sosiologi berasal dari bahasa Yunani sosio atau socious yang berarti masyarakat dan kata logi atau logos yang berarti ilmu. Jadi sosiologi berarti ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antar manusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional dan empiris (Ratna, 2003: 1).

Swingewood dalam Faruk (1999: 1) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan objektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga-lembaga dan proses-proses sosial, sedangkan Ritzer dalam (Faruk, 1999: 2) menganggap sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang multi paradigma. Maksudnya, di dalam ilmu tersebut dijumpai beberapa paradigma yang saling bersaing satu sama lain dalam usaha merebut hegemoni dalam lapangan sosiologi secara keseluruhan. Paradigma itu sendiri diartikannya sebagai satu citra fundamental mengenai pokok persoalan dalam suatu ilmu pengetahuan, yaitu: paradigma fakta-fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial.

Sosiologi adalah telaah yang obyektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat, telaah tentang lembaga dan proses sosial (Damono, 1978: 6). Seperti halnya sosiologi, sastra juga berurusan dengan manusia dalam masyarakat dengan di dalamnya terdapat usaha manusia untuk menyesuaikan diri dan usahanya untuk mengubah masyarakat itu. Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakat ini oleh beberapa penulis disebut sosiologi sastra (Damono, 1978: 6).
Istilah sosiologi sastra pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan pendekatan sosiologis atau sosiokultur terhadap sastra.

Menurut Damono (1978: 2), ada dua kecenderungan utama dalam telaah sosiologis terhadap sastra, yaitu: 1) Pendekatan yang berdasarkan anggapan bahwa sastra merupakan cermin proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor luar sastra untuk membicarakan sastra; 2) Pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian. Metode yang digunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis teks untuk mengetahui lebih dalam lagi gejala di luar sastra.

Sosiologi sastra berdasarkan prinsip bahwa karya sastra merupakan refleksi pada zaman karya sastra itu ditulis yaitu masyarakat yang melingkupi penulis, sebab sebagai anggotanya penulis tidak dapat lepas darinya. Pendekatan sosiologi bertolak dari asumsi bahwa sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat, melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut di dalam karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat bahkan seringkali masyarakat sangat menentukan nilai karya sastra yang hidup di suatu zaman, sementara sastrawan itu sendiri yang merupakan anggota masyarakat tidak dapat mengelak dari adanya pengaruh yang diterimanya dari lingkungan yang membesarkannya dan sekaligus membentuknya.

Wellek dan Warren dalam Damono (1978:3) mengemukakan tiga klasifikasi yang berkaitan dengan sosiologi sastra, antara lain:

1) Sosiologi pengarang. Masalah yang berkaitan adalah dasar ekonomi, produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi.

2) Sosiologi karya sastra. Masalah yang dibahas mengenai isi karya sastra, tujuan atau amanat, dan hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan berkaitan dengan masalah sosial.

3) Sosiologi pembaca. Membahas masalah pembaca dan pengaruh sosial karya sastra terhadap pembaca.

Klasifikasi sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren tidak jauh berbeda dengan klasifikasi kajian sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Ian Watt dalam eseinya yang berjudul “Literatur Society” (Damono 1978: 3-4) yang membicarakan hubungan timbal balik antara sastrawan, sastra, dan masyarakat, yaitu antara lain:

(1) Konteks sosial pengarang.
Konteks sosial pengarang ada hubungannya dengan posisi sosial masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca, dan faktor-faktor sosial yang mempengaruhi si pengarang sebagai perseorangan dan isi karya sastranya. Yang terutama harus diteliti adalah (a) bagaimana si pengarang mendapatkan mata pencahariannya, apakah ia menerima bantuan dari pengayom atau dari masyarakat secara langsung, atau dari kerja rangkap, (b) profesionalisme dalam kepengarangan: sejauh mana pengarang itu menganggap pekerjaannya sebagai profesi, dan (c) masyarakat apa yang dituju oleh pengarang dalam hubungan antara pengarang dan masyarakat, sebab masyarakat yang dituju sering mempengaruhi bentuk dan isi karya sastra.

(2) Sastra sebagai cermin masyarakat (Mimetik):
Sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu karya itu ditulis, yang terutama mendapat perhatian adalah (a) sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, (b) sifat lain dari yang lain seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan penampilan faktor-faktor sosial dalam karyanya, (c) genre sastra merupakan sikap sosial kelompok tertentu, bahkan sikap sosial seluruh masyarakat, (d) sastra berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya, mungkin saja tidak dipercaya sebagai cermin pandangan sosial pengarang harus diperhitungkan apabila kita menilai karya sastra sebagai cermin masyarakat.

(3) Fungsi sosial sastra.
Hal yang perlu dipertanyakan adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial. Pada hubungan ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu sudut pandang ekstrinsik kaum Romantik, sastra bertugas sebagai penghibur adanya kompromi dapat dicapai dengan meninjau slogan klasik bahwa sastra harus menggunakan sesuatu dengan cara menghibur (Damono 1978: 3-4).

Sampai sejauh ini teori yang telah diakui relevansinya terhadap analisis sosiologi sastra adalah strukturalisme genetik yang dikembangkan oleh Lucien Goldmann (Damono, 1978: 40-48). Menurut Goldmann dalam Endraswara (2003: 57) karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia pengarang, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Sehingga karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang. Oleh karena itu, karya sastra dapat dipahami asalnya dan kejadiannya (unsur genetiknya) dari latar belakang sosial tertentu. Keterkaitan pandangan dunia pengarang dengan ruang dan waktu tertentu tersebut, bagi Goldmann merupakan hubungan genetik. Oleh karena itu, muncullah teori yang disebut dengan Strukturalisme Genetik.

Strukturalisme Genetik merupakan embrio penelitian sastra dari aspek sosial yang kelak disebut sosiologi sastra. Hanya saja, Strukturalisme Genetik tetap mengedepankan juga aspek struktur. Baik struktur dalam maupun struktur luar, tetap dianggap penting bagi pemahaman karya sastra (Endraswara, 2003: 60).

*DAFTAR RUJUKAN

-Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra (Sebuah Pengantar Ringkas). Jakarta: Depdikbud.

-Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian sastra (Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

-Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra (Dari Strukturalisme Genetik sampai Posmo Modernism). Jakarta: Pustaka Pelajar.

-Ratna, Nyoman Kutha. 2003. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Minggu, 19 Desember 2010

Menafsirkan sebuah Puisi

Lempar kata ini
Sebelum dituntut kembali
(Subagio Sastrowardojo)

Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. Dalam kegiatan tersebut pembaca berusaha memahami makna, pesan, dan keindahan puisi. Untuk itu pembaca harus melakukan analisis terhadap puisi.
Seperti halnya jenis sastra yang lain, puisi merupakan sebuah dunia simbol. Oleh karena itu untuk memahami makna, pesan, dan keindahan puisi, pembaca harus menafsirkan puisi itu. Tak salah kiranya bila puisi itu dianggap sebagai dunia interpretatif dan sekaligus dunia alternatif. Penafsiran itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna.
Interpretasi terhadap puisi berarti pemberian makna terhadap teks puisi. Sebagai sebuah pemberian maka besar-kecil dan dangkal-dalam penafsiran tersebut sangat bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. Oleh karena itu bisa terjadi sebuah puisi akan ditafsirkan berbeda antara pembaca A dan pembaca B karena pengalaman mereka yang saling berbeda.
Puisi merupakan dunia sekunder, sementara pembaca berada di wilayah dunia primer. Hal itulah yang membuat banyak pembaca tidak mampu memahami puisi karena saat menafsirkan makna puisi mereka tidak dapat melepaskan diri dari dunia primernya. Bahkan banyak pula yang berharap bahwa puisi sebagai sebuah dunia sekunder janganlah terlalu menyimpang dari dunia primernya.

A. Tentang Tiga Kode
Menurut A.Teeuw (1991:12) proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks tertentu adalah proses yang memerlukan pengetahuan sistem kode yang cukup rumit, kompleks dan aneka ragam.
Kode pertama yang harus kita kuasai untuk menanfsirkan atau memberi makna puisi ialah kode bahasa. Mari kita simak puisi berikut ini:

RUANG PUBLIK & PUISI
Ketika –
IMB & Lotus bersekutu melawan Microsof dalam
perang komputer
7,7 triliun rupiah bergeser, beredar, mengorak pasar
saham

Ketika –
Berlusconi & Murdoch, dua hulubalang
dengan gemerincing mesin cetak ulang
bertarung di Eropa berebut tahta kekaisaran media
peluru-peluru produksinya berdesingan
akan sampai pula di ruang-ruang kita paling pribadi
kamar tidur bahkan sel otak
lewat perabot mati bersama televisi

Ketika –
AS, Korsel & Korut berkubang di Kualalumpur
merumuskan orde baru: nuklir untuk perang atau
damai

Persis-
Depan hidung Tokyo sedang perang dunia lawan
Washington
bab pokok pasal dagang
yendeka membetot naik daftar harga
kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita

Maka-
Di Surabaya, Balai Pemuda & Taman Budaya
di ruang publik ini
dunia batin, kerajaan absolut sang puisi
diudarkan jadi atmosfer kebebasan

(Akhudiat, 15 Juni 1995)

Puisi memakai bahasa sebagai media ekspresinya. Oleh karena itu wawasan mengenai bahasa yang dipakai penyair untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan itu mutlak harus dimiliki oleh seorang apresiator. Pembaca atau apresiator harus memiliki pemahaman terhadap bahasa tersebut baik dari segi kosa kata dan makna, tata bentukan, tata kalimat, dan sebagainya.
Misalnya saja frase ruang publik dalam puisi Akhudiat di atas. Bagaimanakah konstruksi sebenarnya bentukan tersebut: ruang untuk publik, ruang milik publik, ruang dari publik, ataukah ruang tentang publik? Untuk memahami makna konstruksi tersebut mau tak mau kita harus memahami kaidah fraseologis atau kaidah komposisi dalam bahasa Indonesia. Penafsiran secara kurang benar atas konstruksi ruang publik itu tentu akan mempengaruhi penafsiran makna keseluruhan (total of meaning) puisi tersebut.
Misalnya lagi konstruksi diudarkan jadi atmosfer kebebasan. Apa makna kata diudarkan yang kebetulan kata dasar udar dipinjam dari bahasa Jawa? Apakah ia bermakna dibuka, diuraikan, ditelanjangi, disebarkan, dikemukakan atau lainnya? Lalu bagaimana kaitan logika antara diudarkan dan menjadi atmosfer kebebasan. Mungkinkah kata kerja udar bisa melahirkan suatu fenomena bentukan? Nah, tanpa memahami bahasa tidak mungkin kita memaknai atau menafsirkan puisi.
Ternyata memahami kode bahasa tidaklah cukup, kita harus pula memahami kode budaya. Budaya yang dimaksudkan ialah hal-hal, peristiwa, benda-benda, cara berpikir, dan sebagainya yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Untuk memahami puisi Akhudiat tersebut kita mesti tahu IBM, Lotus, Microsof, perang komputer, dan mengorak pasar saham. Tanpa memahami konteks budaya komputer dan seluk beluknya kita tak akan sampai pada makna yang dalam. Demikian pula tanpa memahami relasi Berlusconi dan Murdoch, kita tak bisa mendekati makna yang dikehendaki penyairnya. Lalu apa maksud AS, Korsel dan Korut berkubang di Kualalumpur? Untuk itu kita mesti memiliki pengetahuan peristiwa sejarah yang sudah dan sedang berlangsung.
Suatu misal kita sudah memahami kode bahasa dan sekaligus kode budaya mampukah kita memahami makna baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita? Ternyata tetap saja tidak mudah menafsirkan makna baris tersebut.
Puisi memiliki kekhasan ekspresi. Dia memiliki kode-kode tertentu yang membedakannya dengan cerita pendek, teks drama, maupun esei. Puisi merupakan ekspresi yang padat. Puisi dibangun oleh kata yang berkonotasi tinggi dan memanfaatkan potensi bahasa dalam rupa majas dan irama. Baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita hendaknya kita dudukkan pada koridor estetik dan puitik, penuh simbol dan metafor-metafor. Jadi kita mesti memahami perihal kode sastra, dalam hal ini kode puisi, untuk mampu menafsirkan makna sebuah puisi. Kerikil dalam puisi di atas jelas merupakan metafor dari pengertian lain yang mesti kita tafsirkan. Mungkin saja dalam konteks bahasa sehari-hari orang tidak mengucapkan kalimat seperti dalam baris itu, tetapi dalam puisi ungkapan semacam itu dengan pelbagai ragam dan variasinya sering terjadi.
Nah, akhirnya dapat kita simpulkan bahwa untuk menafsirkan makna sebuah puisi seorang apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.

B. Penafsiran Puisi
Ada bebrapa hal yang mesti dicermati saat kita berkehendak menafsirkan makna sebuah puisi. Sebelum kita mempelajari hal-hal itu simaklah terlebih dahulu puisi berikut ini.
APA KAU TELAH DAPAT GANTI RUGI
Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Materai dan kertas berhuruf kanji
Tak seindah bunga bakung di tepi kali
Meterai dan kertas yang digores belati
Tak seindah jerami menoreh pasir di bumi

Telah ditebang pohon kedondong dan maoni
Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi
Telah ditebang pohon-pohon pakisaji
Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi

Aku sebagai saksi
Aku semut yang bersarang di daun pakisaji
Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi
Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni

Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Aku sebagai saksi

(Suripan Sadi Hutomo, 27 Mei 1990)

1. Memahami judul
Sebuah puisi pada umumnya memiliki judul. Dalam sebuah puisi judul bukan sekedar tanda, tetapi gerbang untuk menuju ke kedalaman puisi tersebut. Judul menjadi semacam lorong yang mengarahkan pembaca kepada pusat makna.
Memahami judul menjadi sangat penting karena dengan memahami judul kita memasuki wilayah wacana dengan lebih terbatas, lebih memusat, tidak begitu menyebar atau tidak begitu membias.
Puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berjudul Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi. Judul tersebut bernada tanya, si aku lirik bertanya kepada seseorang perihal apakah orang itu telah mendapatkan ganti rugi (atas tanahnya yang telah diserahkan kepada pemerintah demi pembangunan). Pertanyaan tersebut lahir dari kenyataan bahwa banyak rakyat yang tidak mendapatkan ganti rugi atau andaikan mendapatkannya tanah itu dihargai sangat murah. Judul itu telah mengarahkan kita pada makna atau persoalan tertentu.
Dengan memahami judul kita lebih mudah memahami baris-baris yang terdapat dalam puisi.


2. Memahami latar
Latar ialah piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah dan sebagainya yang menempatkan puisi ke dalam matra tertentu. Puisi sebagai perwujudan kepekaan penyair dalam membaca lingkungan sekitarnya tak dapat dilepaskan dari matra ruang, waktu, zaman, sejarah, dan sebagainya.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas. Baris Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami terpancar kesan industrialisasi: dari kultur agraris diarahkan menjadi kultur industri, dari tanah menjadi pabrik. Perubahan latar sosial semacam itu, disadari atau tidak, akan berdampak pada tata kehidupan masyarakat.
Materai dan kertas berhuruf kanji menempatkan kita pada latar tertentu, latar yang amat asing bagi penduduk desa (yang buta huruf). Kertas behuruf kanji membawa kita untuk membayangkan suatu kekuasaan asing di bidang ekonomi, yakni Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Telah kita jual tanah kita kepada pemiliki modal asing, dan jadilah rakyat Indonesia buruh di negerinya sendiri.
Nilai-nilai tradisional yang adiluhung pun kikis oleh dinamika pembangunan dan modernisasi pohon kedondong dan maoni, daun pakisaji, hijau trembesi, dan sebagainya sebagai perwujudan latar tradisional tiba-tiba telah menjadi masa lalu.

3. Memahami kata ganti
Menurut Harimurti Kridalaksana (1983:138) kata ganti atau pronomina ialah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pronomina demonstratif yaitu kata yang dipakai untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang, benda atau peristiwa, misalnya ini atau itu. Di samping itu dikenal pula pronomina persona yaitu kata yang menggantikan kategori deiksis yang berhubungan dengan partisipan dalam sebuah situasi bahasa, misalnya saya, ia, mereka, dan sebagainya.
Siapakah kau dalam baris Apa kau telah dapat ganti rugi? Jawabannya ialah ia yang tanahnya dibuat pabrik jerami. Dengan demikian kau ialah orang-orang tak berdaya yang harus merelakan tanahnya dijual dengan harga murah demi pembangunan.
Siapakah aku yang terdapat dalam baris pertama bait keempat? Semut, ulat, dan burung pelatukkah aku tersebut? Ataukah justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis?
Andaikan aku itu ialah semut, ulat, dan burung pelatuk maka saksi atas tindakan perampasan tanah rakyat itu justru para binatang yang bukan manusia. Terjadilah sindiran yang amat tajam atas perilaku manusia: saat manusia tidak memiliki rasa kemanusiaan, justru binatanglah yang bisa merasakan kepedihan hati manusia karena tanahnya yang dirampas itu.
Andaikan aku itu justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis maka puisi di atas menjadi semacam suara yang lahir dari kejujuran seseorang yang peduli terhadap lingkungannya. Kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran yang semakin pudar itu ternyata masih bisa lahir dari suara-suara penyair.

4. Memahami majas
Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik.
Secara umum terdapat majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Personifikasi, metafora, asosiasi, metonimia, simbolik, tropen, litotes, eufemisme, hiperbola, sinekdok, alusio, dan perifrasis tergolong majas perbandingan. Sedangkan pleonasme, repetisi, tautologi, paralelisme, simetri, klimaks, antiklimaks, inversi, retoris, dan eksklamasio termasuk majas penegasan. Yang dikategorikan majas sindiran ialah ironi, sinisme, dan sarkasme. Sedangkan yang tergolong majas pertentangan ialah paradoks, kontradiksio in terminis, dan antitesis.
Menganalisis majas dalam puisi berarti kita menanyakan: (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi; (2) alasan penyair memilih majas tersebut; dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas itu.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas.
Pada bait pertama puisi tersebut ada baris Apakah kau hanya dibohongi? Baris tersebut bermajas retoris. Mengapa demikian? Sebenarnya pernyataan tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena pertanyaannya tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena jawabannya sudah amat jelas bahwa pemilik tanah itu memang dibohongi. Pertanyaan di atas semakin mempertegas posisi si lemah dan posisi si kuat.
Dalam bait ketiga terdapat majas paralelisme anafora yaitu perulangan frase telah ditebang pada awal setiap baris. Perulangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan kesan intensitas tinggi terhadap frase telah ditebang itu. Itu berarti bahwa sudah begitu banyak yang ditebang dan dipangkas atas nama pembangunan yang justru menyengsarakan sebagian besar rakyat. Paralelisme semacam itu juga mampu menciptakan irama tertentu karena kemerduan bunyi yang ditimbulkannya.
Penegasan itu juga terdapat pada majas klimaks yang terdapat pada bait ketiga tersebut. Perhatikan urutan telah ditebang pohon kedondong dan maoni, pohon-pohon hijau trembesi, pohon-pohon pakisaji, dan puncaknya ialah telah ditebang jiwa manusia.
Bentuk telah ditebang pohon kedondong dan maoni juga bermajas inversi karena predikat terletak di depan subjek. Meletakkan predikat (dalam hal ini frase telah ditebang) pada awal baris jelas untuk memberikan tekanan pada frase tersebut. Mengapa demikian? Karena persoalan kesewenang-wenangan semacam itu amatlah terlihat dan menonjol pada saat puisi itu disusun.

5. Memahami baris dan bait
Baris merupakan ciri visual puisi, sedangkan bait merupakan perwujudan kesatuan makna dalam puisi. Fungsi bait mirip fungsi paragraf dalam karangan paparan. Setiap bait mengandung satu pokok pikiran.
Bait pertama puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berisi sebuah pertanyaan apakah tanah milik rakyat yang dijual demi pembangunan itu telah mendapatkan ganti rugi secara layak atau justru tidak mendapatkannya sama sekali.
Bait kedua mengandung gagasan bahwa persekutuan kita dengan orang-orang asing yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu justru hanya akan menyengsarakan rakyat.
Bait ketiga menegaskan bahwa rakyat telah ditebang kemanusiaannya, juga jiwanya.
Bait keempat menunjukkan justru alamlah, justru binatanglah yang telah menjadi saksi kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia. Hati manusia telah beku untuk saling peduli.
Bait kelima menanyakan sekali lagi secara sinis bahwa benarlah rakyat telah mendapatkan ganti rugi atas tanahnya yang dikorbankan dalam pembangunan.
Bait keenam secara sunyi penyair menegaskan bahwa ia siap menjadi saksi.

6. Memahami tipografi dan enjambemen
Tipografi ialah ukiran bentuk, artinya ialah bagaimana puisi itu diungkapkan secara grafis oleh penyairnya. Pemakaian huruf kapital dan tanda baca juga merupakan bagian dari ikhwal tipografi.
Baris-baris puisi Suripan Sadi Hutomo itu selalu dimulai dengan huruf kapital dan tanpa titik pada setiap akhir baris, kecuali tanda tanya pada akhir baris Apakah kau hanya dibohongi?
Mengapa Suripan menulis grafis puisinya semacam itu? Bisa jadi huruf kapital pada awal baris menandai bahwa kehidupan (rakyat) itu sebenarnya telah dimulai dengan langkah atau program yang serba pasti. Lalu mengapa tidak diakhiri dengan tanda titik? Karena hari esok tetap saja merupakan teka-teki, muara kehidupan mereka belumlah jelas.
Puisi tersebut dikemas dengan pola kwatren (puisi empat seuntai). Pola semacam itu mengingatkan kita pada pola-pola klasik. Akibatnya ada kesan lama dan amat tradisional. Kesan semacam itu sengaja dibangun oleh Suripan Sadi Hutomo untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat miskin. Nah, itulah hubungan tipografi dengan makna puisi.
Sedangkan enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi, dan hubungan antarbaris dalam puisi itu.
Suripan Sadi Hutomo dalam puisinya di atas memang tidak melakukan pemenggalan yang tak berdasarkan kaidah bahasa. Pemenggalan yang terdapat pada baris Apa kau telah dapat ganti rugi/ Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami merupakan pemenggalan secara fraselogis. Keliaran tidak terdapat dalam puisi Suripan Sadi Hutomo itu karena, sekali lagi, Suripan dalam konteks masyarakat tradisional dalam puisi di atas ingin menunjukkan bahwa masyarakat itu pada umumnya amatlah patuh dan taat pada aturan yang telah disepakati bersama, pada konvensi yang berlaku. Bandingkan dengan puisi berikut ini.

MENGEMBARAKAN RUH
Seharusnya aku kembarakan ruhku
Di rimba-rimba angkasa. Rambahi
Rumput luntas segar dan mata air
Mencari ganti air susu ibu
Sebelum kering

Adik, kenalilah namaku ini
Perahlah isi ruhku setibaku kembara
Dan kita menghisap payudara laut
Sambil membaca lintasan kabut

(Leres Budi Santoso, 1989)

Perhatikan pemenggalan yang dilakukan Leres dalam puisinya. Simak saja bait apertama: Kalimat seharusnya aku kembarakan ruhku di rimba-rimba angkasa dipenggal menjadi seharusnya aku kembarakan ruhku/ di rimba-rimba. Dan kalimat Rambahi rumput luntas segar dan mata air dipenggal manjadi rambahi/ rumput luntas segar dan mata air. Untuk apa itu semua? Untuk menonjolkan unsur bahasa yang dianggap penting karena makna dan pesannya yaitu unsur di rimba-rimba dan unsur rumput luntas segar.

7. Memahami makna dan amanat
Berdasarkan analisis kita terhadap judul, latar, kata ganti, majas, baris dan bait, serta tipografi dan enjambemen barulah kita dapat menyimpulkan makna dan amanat puisi.
Sebagai contoh kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo.
Puisi Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi di atas menempatkan si aku lirik (bisa penyair atau pribadi lain yang peduli terhadap lingkungan masyarakat tertindas) bersama dengan alam menjadi saksi atas korban pembangunan. Penebangan kemanusiaan sangat memprihatinkan, tetapi anehnya terus berlangsung tanpa putus-putusnya. Itulah kurang lebih makna puisi tersebut. Lalu apa amanatnya, yaitu pesan penyair yang secara implisit terkandung dalam puisi itu? Tentu saja kita diharapkan untuk lebih memperhatikan nasib masyarakat kecil yang dengan dalih pembangunan tanah sedikit yang mereka miliki tergusur tanpa ganti rugi yang pantas.

8. Contoh Penafsiran Puisi

SETELAH KEMATIAN ISTRI
Oleh Tengsoe Tjahjono

Syahrir Latif adalah penyair kelahiran Silungkang Sumatera Barat, 3 Juni 1940. Saat istrinya wafat ia amat kehilangan. Kesedihannya ia tuliskan dalam beberapa puisinya. Berikut ini salah satu puisi yang ditulisnya.
SENJA PERTAMA SETELAH KAU BERANGKAT

Lepas lohor, siang tadi, kau berangkat ke Karet (1)
Aku mengantarmu ke ujung jalan (2)

Waktu senja lampu-lampu menyala (3)
Masih seperti sediakala (4)
Lalu, azan magrib (5)
Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah (6)
Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana (7)

(Syahril Latif, 1978)

Puisi Latif ini berjudul Senja Pertama Setelah Kau Berangkat. Ada dua hal yang perlu ditanyakan atas judul itu, pertama: siapa kau dalam judul itu; kedua: kau itu berangkat ke mana.
Dalam baris (1) ada kalimat kau berangkat ke Karet. Karet adalah kuburan di Jakarta. Jadi, tampaknya kau berangkat ke pemakaman, atau kau dimakamkan karena sudah meninggal. Lalu siapa kau? Pada baris (6) terbaca kalimat Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah. Ungkapan ini tampak ditujukan pada seseorang yang tidak ada di antara mereka ialah istri bagi aku lirik atau ibu bagi anak-anak mereka. Dengan demikian judul di atas mengisyaratkan perihal suasana hati aku lirik sehari setelah istrinya menghadap Sang Khaliq.

Antara Kehilangan dan Syukur
Puisi Latif ini terkesan amat bersahaja. Kebersahajaan itu tampak pada pemilihan kata, majas, dan tipografinya. Kesederhanaan ini menjadikan puisi itu hanya berupa deskripsi perasaan aku lirik terhadap kematian istrinya.
Puisi ini terdiri atas dua bait, bait pertama merekam keadaan lepas lohor saat sang istri diberangkatkan ke pemakaman; bait kedua menuliskan suasana senja saat aku lirik shalat berjamaah bersama anak-anaknya. Pada bait pertama sang istri hadir sebagai jenasah yang akan dimakamkan, pada bait kedua sang istri hadir dalam bentuk bayangan dalam kenangan.
Ada dua latar waktu yang memiliki sugesti suasana berbeda yaitu: lepas lohor dan senja. Lepas lohor memberikan suasana saat matahari mulai tergelincir menuju ufuk barat. Matahari baru saja terik. Artinya, sang istri aku lirik wafat pada usia yang masih amat produktif. Matahari sedang terang-terangnya memberikan cahayanya kepada bumi. Kepergian matahari atau sang istri yang begitu tiba-tiba tentu amat menyedihkan.
Latar waktu yang lain ialah senja. Pergeseran dari sore ke malam. Suasananya cenderung remang dan lembut. Saat itu manusia mulai istirahat. Bahkan, saat itu dengan sholat magrib manusia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang diterimanya hari itu. Senja memberikan sugesti romantis dan sekaligus religius. Dalam konteks kematian sang istri tampaknya aku lirik pada akhirnya menerima takdir itu dengan syukur. Dia menyadari bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Betapa sederhananya ungkapan Waktu senja lampu-lampu menyala. Tampaknya lampu bukan sekadar bermakna alat penerangan, tetapi bisa jadi Cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa aku lirik saat ditinggal mati istrinya. Mirip ungkapan Amir Hamzah tentang Tuhan: Kaulah kandil kemerla/ pelita jendela di malam gelap.
Ungkapan Aku mengantarmu ke ujung jalan juga amat sederhana. Ujung jalan bukan sekadar bermakna bagian ujung dari sebuah jalan, tetapi peristiwa kematian itu sendiri, akhir hayat. Aku lirik terkesan setia mendampingi sang istri saat sakit bahkan sampai saat sang maut menjemput. Aku lirik terkesan selalu memberikan motivasi kepada sang istri, memberikan semangat kepada sang istri apa pun yang akan menimpanya. Puisi ini, banyak memakai metafora-metafora sederhana.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam penggarapan irama. Penyair membangun irama puisinya dengan mengulang bunyi /a/ berkali-kali, amat linear. Jarang muncul bunyi-bunyi kontras yang melahirkan kejutan-kejutan irama. Hal itu tampak misalnya dalam baris-baris: Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah/Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana. Perulangan bunyi /a/ memberikan nuansa pasrah dan berserah.


BAHAN PELATIHAN
1. Sebagai sebuah dunia lambang puisi menewarkan pelbagai kemungkinan makna. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.
2. Mampukah pembaca atau apresiator menafsirkan makna puisi sesuai dengan makna yang diharapkan oleh penyair? Jelaskan!
3. Untuk mampu memahami puisi, pembaca atau apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Jelaskan maksud pernyataan itu!
4. Apakah maksud pernyataan bahwa judul merupakan lorong untuk menuju makna puisi?
5. Mengapa kia perlu memahami latar yang terdapat dalam puisi saat kita menafsirkan puisi?
6. Tanpa memahami kata ganti yang terdapat dalam puisi apresiator dapat terjebak pada penafsiran yang kurang tepat. Mengapa demikian?
7. Bait merupakan kesatuan makna. Bagaimana dengan puisi yang hanya terdiri atas satu baris saja?
8. Analisislah puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

DIMENSI SAMUDRA
Ikan paling besar makan yang besar
ikan besar makan yang kecil
ikan kecil makan yang terkecil
sedang yang terkecil lebih siap dimakan
daripada cari makan
(Saiful Hadjar, 1992)

9. Analisislah pula puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

LANSKAP KESEDIHAN
Tak kuingat bagaimana hari kemarin bermula
dirimu hanyut dalam kepekatan,
lumpur yang menggila
dan perasaan hidup seperti padang pasir kering

Apa yang tersisa dari keheningan,
pisau-pisau menghunus pada wajahmu,
betapa bayang-bayang tubuh terkoyak kemunafikan
Di jantungmu, isyarat-isyarat yang kugemakan
tumbuh dan terhancurkan,
anganku gagal melawan pusaran angin

Musim panas terbunuh oleh lagu-lagu keajaiban,
tentang kenangan lekuk tubuh dan kecantikanmu,
kini hanya sebuah kamar kosong,
semua bendera masa lalu membakar fantasiku
pada bukit-bukit keinginan
menjadi matahari yang buta dan terasing

Betapa maut datang dengan keagungannya,
monumen-monumen ganjil dari semua jalan raya,
karena hari esok adalah sampah dari pikiran,
menjadi pembunuh atau yang terbunuh

Tetapi mengapa pisau tak bermakna,
kekejaman tak terucapkan lewat kata-kata,
hari-hari kemarin yang kugali
kini menjadi pintu-pintu yang tertutup

Manakala kupejamkan mata, angan-anganku
bersayap
menuju angkasa kelam
sebuah ketakutan yang nyaris runtuh,
siang hari seperti burung-burung di langit lepas

Kukekalkan gairah dalam surga
betapa semua kesedihan kini terkepung
oleh lolong-lolong anjing.

(W.Haryanto, 1997-1998)

Biografi Prof. H. Budi Darma, M.A, Ph.D

Budi Darma lahir tanggal 25 April 1937 di Rembang, Jawa Tengah. Karena pekerjaan ayahnya, Budi darma sering berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti orang tuanya, antara lain di bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai tiga orang anak, yaitu Diana (lahir di Banyuwangi, 15 Mei 1969), Guritno (lahir di Banyuwangi, 4 Februari 1972), dan Hannato Widodo (lahir di Surabaya, 3 Juni 1974).Setamat SMA, Budi Darma meneruskan kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1963. Pada tahun 1970---1971 ia mendapat beasiswa dari East West Centre untuk belajar ilmu budaya dasar (basic humanities) di Universitas Hawai, Honolulu, Amerika Serikat. Pada tahun 1975 meraih gelar M.A. dari Universitas Indiana, Bloomington, Indiana, Amerika Serikat, yang judul tesisnya adalah Tha Death and The Alive, dan tahun 1980 di universitas yang sama ia meraih gelar Ph.D. dengan judul disertasinya Character and Moral Jugment in Jane Austin’s Novel. Setelah tamat dari Jurusan Satra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, (1963) sampai sekarang, Budi Darma mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) (dahulu IKIP Surabaya). Selain sebagai dosen, Budi Darma juga pernah menjabat Ketua Jurusan Sastra Inggris (1966—1970 dan 1980—1984), Dekan Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (1963—1966 dan 1970—1974), dan Rektor IKIP Surabaya (1984—1988). Dalam kerangka kerja sama Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi Darma membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam wadah Program Penulisan Mastera (1998—1999). Budi Darma juga terlibat dalam pembimbingan berbagai lokakarya dan penataran sastra bagi pegawai Pusat Bahasa dan dosen muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. Hasil karya Budi Darma berbentuk cerita pendek, novel, esai, dan puisi yang tersebar di berbagai media massa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Budi Darma dianggap memelopori penggunaan teknik kolase, yaitu teknik penempelan potongan iklan bioskop dan tiket pertunjukan dalam karya-karyanya, seperti Orang-Orang Bloomington dan Olenka.

Jumat, 17 Desember 2010

Fenomenologi

Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert (1728 - 1777), seorang filsuf Jerman. Dalam bukunya Neues Organon (1764). ditulisnya tentang ilmu yang tak nyata.
Dalam pendekatan sastra, fenomenologi memanfaatkan pengalaman intuitif atas fenomena, sesuatu yang hadir dalam refleksi fenomenologis, sebagai titik awal dan usaha untuk mendapatkan fitur-hakekat dari pengalaman dan hakekat dari apa yang kita alami. G.W.F. Hegel dan Edmund Husserl adalah dua tokoh penting dalam pengembangan pendekatan filosofis ini.
Menurut the oxford english dictionary, yang dimaksud dengan fenomenologi adalah
• the science of phenomena as distict from being (ontology)
• division of any science which describes and classifies its phenomena
Jadi, fenomenologi adalah ilmu mengenai fenomena yang dibedakan dari sesuatu yang sudah menjadi, atau disiplin, atau disiplin ilmu yang menjelaskan dan mengklasifikasikan fenomena, atau studi tentang fenomena. Dengan kata lain, fenomenologi mempelajari fenomena yang tampak di depan kita, dan bagaimana penampakannya.
Tujuan
Tujuan utama fenomenologi adalah mempelajari bagaimana fenomena dialami dalam kesadaran, pikiran dan dalam tindakan, seperti bagaimana fenomena tersebut bernilai atau diterima secara estetis. Fenomologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting, dalam kerangka intersubjektivitas.
Sejarah fenomenologi
Ahli matematika Jerman Edmund Husserl, dalam tulisannya yang berjudul Logical Investigations (1900) mengawali sejarah fenomenologi. Fenomenologi sebagai salah satu cabang filsafat, pertama kali dikembangkan di universitas-universtas Jerman sebelum Perang Dunia I, khususnya oleh Edmund Husserl, yang kemudian di lanjutkan oleh Martin Heidehher dan yang lainnya, seperti Jean Paul Sartre. Selanjutnya Sartre, Heidegger, dan Merleau-Ponty memasukkan ide-ide dasar fenomenologi dalam pandangan eksistensialisme. Adapun yang menjadi fokus dari eksistensialisme adalah eksplorasi kehidupan dunia mahluk sadar, atau jalan kehidupan subjek-subjek sadar.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwa fenomenologi tidak dikenal setidaknya sampai menjelang abad ke-20. Abad ke-18 menjadi awal digunakannya istilah fenomenologi sebagai nama teori tentang penampakan, yang menjadi dasar pengetahuan empiris (penampakan yang diterima secara inderawi). Istilah fenomenologi itu sendiri diperkenalkan oleh Johann Heinrich Lambert, pengikut Christian Wolff. Sesudah itu, filosof Immanuel Kant mulai sesekali menggunakan istilah fenomenologi dalam tulisannya, seperti halnya Johann Gottlieb Fichte dan G.W.F.Hegel. Pada tahun 1889, Franz Brentano menggunakan fenomenologi untuk psikologi deskriptif. Dari sinilah awalnya Edmund Hesserl mengambil istilah fenomenologi untuk pemikirannya mengenai “kesengajaan”.
Tokoh-tokoh Fenomenologi
1. Edmund Husserl (1859-1938)
• Fenomenologi adalah ilmu yang fundamental dalam berfilsafat.
• Fenomenologi adalah ilmu tentang hakikat dan bersifat a priori.
• Bagi Husserl fenomena mencakup noumena (pengembangan dari pemikiran Kant).
• Kesadaran lebih bersifat terbuka.
• Pengamatan Husserl mengenai struktur intensionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yang inheren dalam kesadaran, yaitu (1) objektifikasi (2) identifikasi (3) korelasi (4) konstitusi.
• Fenomenologi Husserl pada prinsipnya bercorak idealistik, karena menyerukan untuk kembali kepada sumber asli pada diri subjek dan kesadaran. Konsepsi Husserl tentang “aku transedental” dipahami sebagai subjek absolut, yang seluruh aktivitasnya adalah menciptakan dunia.
• Pokok-pokok pemikiran Husserl:
1.Fenomena adalah realitas sendiri yang tampak.
2.Tidak ada batas antara subjek dengan realitas
3.Kesadaran bersifat intensional.
4.Terdapat interaksi antara tindakan kesadaran (neosis) dengan objek yang disadari
( neoma).



2. Martin Heidegger
• Konsep “destuksi fenomenologis”, menyerukan agar kembali pada realitas yang sesungguhnya atau “gejala pertama dan yang sebenarnya”.
• Cara kita terhubung dengan sesuatu itu, seperti palu yang memasukkan paku. Fenomenologi berfungsi sebagai alat pembuka berkenaan dengan situasi yang kita hadapi, tentu saja dalam konteks sosial.
• Fenomenologi didefinisikan sebagai pengetahuan dan keterampilan membiarkan sesuatu seperti apa adanya.
• Pemikirannya yang paling inovatif, adalah mencari “cara untuk menjadi” lebih penting ketimbang mempertanyakan apa yang ada di sekitar kita. Pemahaman mengenai “menjadi” didapatkan dengan fenomenologi.
3. Jean Paul Satre
• Kesadaran adalah kesadaran akan objek, hal ini sejalan dengan pemikiran Husserl. Dalam model kesengajaan versi Satre, pemain utama dari kesadaran adalah fenomena. Kejadian dalam fenomena adalah kesadaran dari objek. Sebatang pohon hanyalah satu fenomena dalam kesadaran, semua hal yang ada di dunia adalah fenomena, dan di balik sesuatu itu ada “sesuatu yang menjadi. Kesadaran adalah menyadari “sesuatu di balik demikian, “aku” bukanlah apa-apa, melainkan hanya sebuah bagian dari tindakan sadar, termasuk bebas untuk memilih.
• Metode dapat dilihat dari gaya penulisan dalam deskripsi interpretatif mengenai tipe-tipe pengalaman dalam situasi yang relevan.
4. Maurice Merleau Ponty
• Berfokus pada “body image”, yakni pengalaman akan tubuh kita sendiri dan bagaimana pengalaman itu berpengaruh pada aktivitas yang kita lakukan.
• Body image bukanlah bidang mental, juga bukan bidang fisik mekanis, melainkan sesuatu yang terikat tindakan, di mana ada penerimaan terhadap kehadiran orang lain di dalamnya. Ia membahas mengenai peranan perhatian dalam lapangan pengalaman, pengalaman tubuh, ruang dalam tubuh, gerakan tubuh, tubuh secara seksual, orang lain, dan karakteristik kebebasan.
5. Max Scheler (1874-1928)
• Menerapkan metode fenomenologi dalam penyelidikan hakikat teori pengenalan, etika, filsafat kebudayaan, keagamaan, dan nilai.
• Secara skematis, pandangan Scheler mengenai fenomenologi dibedakan ke dalam tiga bagian, yakni:
1.Penghayatan (erleben), atau pengalaman intuitif yang langsung menuju ke “yang diberikan”. Setiap manusia menghadapi sesuatu dengan aktif, bukan dalam bentuk penghayatan yang pasif.
2.Perhatian kepada “apanya” (washiet, whatness, esensi), dengan tidak memperhatikansegi eksistensi dari sesuatu. Hasserl menyebut hal ini dengan “reduksi transedental”.
3.Perhatian kepada hubungan satu sama lain (wesenszusammenhang) antar esensi. Hubungan ini bersifat a priori (diberikan) dalam institusi, sehingga terlepas dari kenyataan. Hubungan antar esensi ini dapat bersifat logis maupun non logis.
• Berdasarkan pemahaman fenomenologi-nya, Scheler menggolongkan nilai ke dalam empat kelompok, yaitu:
1.Nilai meterial, atau nilai yang menyangkut kesenangan dan ketidaksenangan. Misalnya kenikmatan yang bersifat lahiriah dan inderawi, seperti rasa enak, pahit, manis, dsb.
2.Nilai vital, atau nilai yang menyangkut kesehatan. Misalnya perasaan lelah, segar, stress, dsb.
3.Nilai rohani atau nilai estetis, seperti nilai benar dan salah. Nilai rohani ini biasanya berhubungan dengan pengetahuan murni atau pengetahuan yang dijalankan tanpa pamrih.
4.Nilai kudus atau nilai yang menyangkut objek-objek absolut yang terdapat dalam bidang religius. Misalnya nilai kitab suci, utusan Tuhan, dosa, dsb.
• Kemudian Scheler mengemukakan lima kriteria untuk menentukan hierarki dari nilai-nilai tersebut. Berikut ini adalah kriteria tersebut:
1.Berdasarkan lamanya nilai itu dirasakan. Nilai kebahagian dipandang lebih tinggi daripada nilai kenikmatan.
2.Berdasarkan dapat dibagi atau tidaknya suatu nilai. Misalnya barang seni akan dipandang lebih bernilai ketimbang makanan, karena barang seni tidak bisa dibagi-bagi.
3.Berdasarkan ketergantungannya pada nilai yang lain. Sesuatu akan kembali tinggi bila ia tidak bergantung pada yang lain.
4.Berdasarkan kepuasan yang ditimbulkannya.
5.Berdasarkan pengalaman organisme subjek.